Mensyukuri Nikmat Allah dengan Menuntut Ilmu Agama
Oleh: Ust. Kholid Syamhudi
Kewajiban kita atas karunia yang kita terima
Sesungguhnya wajib bagi kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan cara melaksanakan kewajiban terhadap-Nya. Merupakan kewajiban karena nikmat yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita. Seseorang yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya, ia adalah orang yang yang tidak tahu berterima kasih. Maka manusia yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih.
Apakah kewajiban yang harus kita laksanakan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan karuniaNya kepada kita? Jawabannya adalah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan karuniaNya kepada kita dengan petunjuk ke dalam Islam dan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa salam, maka bukti terima kasih kita yang paling baik adalah dengan beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala secara ikhlas, mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, menjauhkan segala bentuk kesyirikan, ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa salam, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan RasulNya Shallallahu'alaihi wa salam, yang dengan hal itu kita menjadi muslim yang benar.
Muslim sejati ialah muslim yang mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, serta ittiba’ hanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa salam. Oleh karena itu untuk menjadi seorang muslim yang benar, ia harus menuntut ilmu syar’i. Ia harus belajar agama Islam, karena Islam adalah ilmu dan amal shalih. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa salam diutus Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk membawa keduanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
)هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ(
Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS At Taubah:33 dan Ash Shaf : 9).
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman :
) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا(
Dia-lah yang telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkanNya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS Al Fath : 28).
Yang dimaksud dengan الهُدَى (petunjuk) ialah ilmu yang bermanfaat, dan دِيْنُ الْحَقِ (agama yang benar) ialah amal shalih. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa salam untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, menjelaskan tentang nama-nama Allah Subhanahu wa Ta'ala, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya, hukum-hukum dan berita yang datang dariNya, memerintahkan semua yang bermanfaat untuk hati, ruh dan jasad. Beliau Shallallahu'alaihi wa salam memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, mencintaiNya, berakhlak dengan akhlak yang mulia, beramal shalih, beradab dengan adab yang bermanfaat. Beliau Shallallahu'alaihi wa salam melarang perbuatan syirik, amal dan akhlak yang buruk yang berbahaya untuk hati dan badan, dunia dan akhirat.1
Cara untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Menuntut ilmu sebagai jalan yang lurus (ash shirathal mustaqim), untuk memahami antara yang haq dan bathil, yang bermanfaat dengan yang mudaharat (membahayakan), yang dapat mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Seorang muslim tidaklah cukup hanya menyatakan ke-Islamannya, tanpa memahami Islam dan mengamalkannya. Pernyataannya itu harus dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam.
Untuk itu, menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi. Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syar’i. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa salam bersabda :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه ابن ماجه 224 عن أنس بن مالك t )
Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim. (HR Ibnu Majah No. 224 dari shahabat Anas bin Malik t, lihat Shahih Jamiush Shagir, no. 3913)2
Keutamaan Ilmu dan Menuntutnya
Ilmu memiliki keutamaan, diantaranya :
1. Menuntut ilmu adalah jalan menuju Surga. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa salam bersabda :
…مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
(رواه مسلم4/2074 رقم 2699 و غيره عن أبي هريرة t )
Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. (HR Muslim 4/2074 no. 2699 dan yang lainnya dari shahabat Abu Hurairah t).
2. Warisan para Nabi, sebagaimana sabda Rasululloh :
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ رَوَاه التِّرْمِذِيْ
Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, namun hanya mewariskan ilmu. Sehingga siapa yang mengambil ilmu tersebut maka telah mengambil bagian sempurna darinya (dari warisan tersebut). (HR At Tirmidzie )
3. Allah mengangkat derajat ahli ilmu didunia dan akherat, sebagaimana firmanNya:
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.Dan apabila dikatakan:”Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 58:11)
4. Ilmu Pintu kebaikan dunia dan akherat, sebagaimana sabda Rasululloh :
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Barang siapa yang Allah inginkan padanya kebaikan maka Allah fahamkan agamanya.
Pentingnya ilmu syar’i
Kita senantiasa ditambahkan ilmu, hidayah dan istiqamah di atas keta’atan, bila kita menuntut ilmu syar’i. Hal ini tidak boleh diabaikan dan tidak boleh juga dianggap remeh. Kita harus selalu bersikap penuh perhatian, serius serta sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i. Kita akan tetap berada di atas ash-Shirathal Mustaqiim bila kita selalu belajar ilmu syar’i dan beramal shalih. Kalau kita tidak perhatikan dua hal penting ini bukan mustahil Iman dan Islam kita akan terancam bahaya. Iman kita akan terus berkurang dengan sebab ketidaktahuan kita tentang Islam, Iman, Kufur, Syirik, dan dengan sebab banyaknya dosa dan maksiyat yang kita lakukan ! Bukankah Iman kita jauh lebih berharga daripada hidup ini ? Dari sekian banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja, berusaha, bisnis, berdagang, kuliah dan lainnya, apakah tidak bisa kita sisihkan sepersepuluhnya untuk hal-hal yang dapat melindungi Iman kita ?
Saya tidaklah mengatakan bahwa setiap muslim harus menjadi ulama, membaca kitab-kitab yang tebal dan menghabiskan waktu sepuluh atau belasan tahun untuk usaha tersebut. Minimal setiap muslim harus bisa menyediakan waktunya satu jam saja setiap hari untuk mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam. Itulah waktu yang paling sedikit yang harus disediakan oleh setiap muslim, baik remaja, pemuda, orang dewasa maupun yang sudah lanjut usia. Setiap muslim harus memahami esensi ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman salafush shalih. Oleh karena itu ia harus tahu agama Islam dengan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga ia dapat mengamalkan Islam ini dengan benar. Tidak banyak waktu yang dituntut untuk memperoleh pengetahuan agama Islam. Bila Iman kita lebih berharga dari segalanya, maka tidak sulit bagi kita untuk menyediakan waktu 1 jam ( enam puluh menit ) untuk belajar tentang Islam setiap hari dari waktu 24 jam ( seribu empat ratus empat puluh menit).
Ilmu syar’i mempunyai keutamaan yang sangat besar dibandingkan dengan harta yang kita miliki. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullahu (wafat tahun 751 H) menjelaskan perbedaan antara ilmu dengan harta.
Kemuliaan ilmu atas harta3
Ilmu adalah warisan para Nabi, sedang harta adalah warisan para raja dan orang kaya.
Ilmu itu menjaga yang empunya, sedang pemilik harta menjaga hartanya.
Ilmu adalah penguasa atas harta, sedang harta tidak berkuasa atas ilmu.
Harta bisa habis dengan sebab dibelanjakan, sedang ilmu justru bertambah dengan diajarkan.
Pemilik harta jika telah meninggal dunia, ia berpisah dengan dengan hartanya, sedang ilmu mengiringinya masuk ke dalam kubur bersama para pemiliknya.
Harta bisa didapatkan oleh siapa saja baik orang beriman, kafir, orang shalih dan orang jahat, sedang ilmu yang bermanfaat hanya didapatkan oleh orang yang beriman saja.
Sesungguhnya jiwa menjadi lebih mulia dan bersih dengan mendapatkan ilmu, itulah kesempurnaan dirinya dan kemuliaannya. Sedang harta, ia tidak membersihkan dirinya, tidak pula menambahkan sifat kesempurnaan dirinya, malah jiwanya menjadi berkurang dan kikir dengan mengumpulkan harta dan menginginkannya. Jadi keinginannya kepada ilmu adalah inti kesempurnaannya dan keinginannya kepada harta adalah ketidaksempurnaannya dirinya.
Sesungguhnya mencintai ilmu dan mencarinya adalah akar semua ketaatan, sedangkan mencintai harta dan dunia adalah akar semua kesalahan.
Sesungguhnya orang berilmu mengajak manusia kepada Allah U dengan ilmunya dan akhlaknya, sedang orang kaya itu mengajak manusia ke neraka dengan harta dan sikapnya.
Sesungguhnya yang dihasilkan dengan kekayaan harta adalah kelezatan binatang. Jika pemiliknya mencari kelezatan dengan mengumpulkannya, itulah kelezatan ilusi. Jika pemiliknya mengumpulkan dengan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhannya syahwatnya, itulah kelezatan binatang. Sedang kelezatan ilmu, ia adalah kelezatan akal plus ruhani yang mirip dengan kelezatan para malaikat dan kegembiraan mereka. Antara kedua kelezatan tersebut (kelezatan harta dan ilmu) terdapat perbedaan yang mencolok.
Faktor Pembantu Dalam Menuntut Ilmu
Faktor pembantu dalam keberhasilan menuntut ilmu sangat banyak sekali, diantaranya:
Taqwa
Do’a
konsistensi dan kontinyuitas dalam menuntut ilmu
Menghafal
Mulazamah ulama
Cara Tahshiel Ilmu
Ada dua cara mendapatkan ilmu :
dengan menelaah dan mangambilo ilmu dari kitab-kitab yang terpercaya yang telah ditulis para ulama yang sudah dikenal aqidah dan amanahnya
Dengan menerima langsung dari guru yang terpercaya kelilmuan dan kesholehannya. Cara inilah yang paling cepat dan gampang dalam mengambil ilmu agama.
Demikianlah ringkasan makalah ini, mudah-mudahan bermanfaat.
(makalah ini wakaf dan diperbolehkan siapa saja yang mau mengcopi, menukil dan menyebarkannya baik dengan nama penulis ataupun tidak)
"Al Islam adalah agama Allah yang diperintahkan mempelajari aqidah dan syariatnya kepada Nabi Muhammad dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia, serta mengajak mereka untuk menganutnya. "Aqidah artinya sesuatu yang menjadi pengikat hati dan batin manusia. "Syari'at adalah undang-undang yang diturunkan Allah yang mengatur hubungan Allah dengan manusia, mengatur hubungan sesama muslim,dgn manusia lainnya, dgn kehidupan dan alam semesta.
Minggu, 17 Oktober 2010
Jumat, 20 Agustus 2010
SHAUM & KECERDASAN INTEGRATIF
Kalau Anda ingin mengetahui hubungan antara shaum dengan kecerdasan emosi, maka harus dibedah terlebih dahulu anatomi kecerdasan. Dari sana akan diketahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, “Apakah kecerdasan spiritual mirip dengan kecerdasan sosial atau yang lainnya?” atau “Apa hubungan antara kecerdasan spiritual dengan kecerdasan intelektual?” atau “Bagaimana shaum dapat melejitkan kecerdasan emosi?”Dalam salah satu firman-Nya, Allah Swt. berfirman,
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S. As-Sajdah [32]:9)Dalam ayat tersebut di atas, Allah Swt. menyinggung tentang kecerdasan fisik dalam kesempurnaan wujud penciptaan manusia. Salah satu contoh kesempurnaan tersebut adalah bahwa tubuh kita terdiri dari sekumpulan sel (100 triliun lebih) yang dikaruniai kercerdasan berkumpul dan mengorganisasi diri dengan sempurna. Tidak hanya itu, sel-sel kecil yang ukurannya hingga 10-50 mikron tersebut ternyata bisa berkomunikasi dengan baik. Ini menunjukkan bahwa pada manusia terdapat satu sistematika kecerdasan, mulai dari yang bersifat mikro sampai makro.Di samping dikaruniai kesempurnaan fisik, manusia juga memiliki tiga kecenderungan negatif (yang tidak disukai) dan telah disinyalir oleh Allah Swt. dalam beberapa firman-Nya. Ketiga kecenderungan tersebut adalah pertama, tergesa-gesa dalam mengambil keputusan sehingga secara otomatis membuat manusia kehilangan momentum untuk melakukan perbuatan secara rasional, sistematis, dan berpikir secara tenang. Kedua, manusia acap kali berbuat melampaui batas. Dan ketiga, bila hasil perbuatan yang dilakukan manusia tidak sesuai harapannya, maka hal itu disikapi dengan kufur nikmat dan berkeluh kesah. Di sinilah kecerdasan fisik harus kita jaga dan shaum merupakan titik singgung sekaligus penyeimbang agar manusia tidak terjebak pada kekufuran.Ada orang yang memaknai shaum dari segi fisik, seperti shaum sebagai sarana untuk mengurangi makan, shaum sebagai kendali pola hidup lebih teratur, serta shaum sebagai latihan agar pola hidup lebih ritmis. Selain itu, kegiatan ibadah di bulan Ramadhan sangat membantu latihan gerak tubuh seperti ketika pergi berjalan kaki untuk melaksanakan shalat wajib atau shalat taraweh berjamaah di masjid. Apakah ini salah? Tidak juga karena orang tersebut hanya mengartikan shaum sebagai sarana peningkatan kecersasan fisik.Namun demikian, ayat ke-9 surat As-Sajdah tersebut di atas tidak berhenti pada kesempurnaan fisik atau kecerdasan fisik semata. Di sana juga di sebutkan selain dikaruniai wujud yang sempurna, dalam diri manusia juga dihembuskan ruh. Ruh di sini menandakan adanya sesuatu yang bersifat transendental atau ketuhanan.Pada dasarnya, potensi ruh yang dimiliki setiap manusia adalah sama. Kalau boleh diibaratkan, ruh adalah ikan hias yang ditaruh di akuarium yang tidak lain adalah tubuh sempurna yang dimiliki manusia. Untuk bisa menampakkan keindahan ikan hias di dalamnya, maka akuarium tersebut harus dijaga agar senantiasa dalam keadaan bersih. Di sinilah fungsi ibadah yang tidak lain adalah sarana untuk membersihkan ‘akuarium’ manusia yang dari sononya sudah diciptakan secara sempurna. Kalau manusia hanya mengandalkan kesempurnaan fisiknya tanpa disertai pelaksanaan shalat, shaum, dan zakat; maka ‘akuarium’nya akan keruh sehingga keindahan qolbunya tidak dapat terlihat jelas. Jadi, meski shaum pada awalnya dipahami hanya dari segi fisik, hendaknya hal tersebut juga dapat diterjemahkan sebagai sarana untuk menjernihkan qolbu.Pernahkah Anda bertanya mengapa shaum diberlakukan selama 30 hari? Ternyata, perilaku manusia (menurut teori behavior) baru akan terlihat perubahannya (dan besifat permanen) setelah sebuah kebiasaan diulang-ulang hingga melewati masa 21 hari. Namun demikian, rentang waktu tersebut masih tergolong riskan (untuk kembali ke kebiasaan semula), sehingga tepat adanya bila pembiasaan tersebut digenapkan menjadi 30 hari. Dan ini adalah ambang batas aman yang ditetapkan oleh Islam berkenaan dengan shaum untuk mengubah perilaku penganutnya. Tentu saja, daya ubah tersebut sangat tergantung pada ke-kaffah-an shaum yang dilakukan masing-masing orang.Selain ruh, manusia juga dikaruniai panca indra dalam hal ini mata dan telinga. Allah kemudian memberikan penegasan bahwa dengan penglihatan dan pendengaran (yang dimiliki manusia tersebut) hendaknya melahirkan pengetahuan yang kemudian akan bermuara pada daya nalar yang dimiliki otak. Dari pengetahuan yang diolah dalam otak tersebut, hendaknya manusia memiliki pemahaman atau persepsi (driving period from knowledge to perception). Karena itulah, ayat ke-9 surat As-Sajdah tersebut di atas ditutup dengan resume yang sangat indah mengenai manusia yang juga dikarunia hati atau qolbu.Dari situ kita dapat melihat bahwa kecerdasan spiritual tentu harus disertai dengan kebersihan qolbu. Ketika kita lakukan eksplorasi pada qolbu, kita akan menemukan bahwa qolbu adalah akumulasi dari kecerdasan fisik dan kecerdasan kognitif. Di sini, kecerdasan kognitif tersebut akan saya bagi menjadi tiga cabang, yaitu: intellectual quotient, social quotient (yang salah satu contohnya adalah kemampuan untuk berkomunikasi), serta emotional quotient (beberapa ahli menambahkan bahwa intuisi termasuk kecerdasan emosional).Mekanisme ibadah seperti shalat, shaum, dan zakat yang dilakukan dengan benar pada dasarnya akan membuka sirkuit neuronal atau sirkuit-sirkuit syaraf yang dapat membangkitkan kecerdasan intuitif atau kecerdasan bawah sadar. Menurut sains, kecerdasan intuisi ini sebenarnya kecerdasan yang kita sadari, hanya saja kita tidak mempedulikannya. Contohnya adalah metoda aktivitasi otak tengah. Meski beberapa orang menganggap aktivasi otak tengah ini sebagai sesuatu yang musyrik, tapi jika dilakukan dengan benar, hal tersebut memang dapat dibangkitkan. Nah bagi kaum mukmin, cara untuk membangkitkan kecerdasan tersebut adalah dengan melakukan ibadah-ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah Swt. Pertanyaannya, mengapa orang yang sudah rajin melaksanakan ibadah-ibadah wajib tersebut masih juga belum bisa mengaktifkan kecerdasan intuisinya? Di sini, berlakulah auto-correction. Bisa jadi, shalat atau shaum yang kita kerjakan belum sampai ke maqam itu. Bisa jadi, shaum kita masih ingin dilihat oleh orang lain dan bukan benar-benar ikhlas karena Allah.
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S. As-Sajdah [32]:9)Dalam ayat tersebut di atas, Allah Swt. menyinggung tentang kecerdasan fisik dalam kesempurnaan wujud penciptaan manusia. Salah satu contoh kesempurnaan tersebut adalah bahwa tubuh kita terdiri dari sekumpulan sel (100 triliun lebih) yang dikaruniai kercerdasan berkumpul dan mengorganisasi diri dengan sempurna. Tidak hanya itu, sel-sel kecil yang ukurannya hingga 10-50 mikron tersebut ternyata bisa berkomunikasi dengan baik. Ini menunjukkan bahwa pada manusia terdapat satu sistematika kecerdasan, mulai dari yang bersifat mikro sampai makro.Di samping dikaruniai kesempurnaan fisik, manusia juga memiliki tiga kecenderungan negatif (yang tidak disukai) dan telah disinyalir oleh Allah Swt. dalam beberapa firman-Nya. Ketiga kecenderungan tersebut adalah pertama, tergesa-gesa dalam mengambil keputusan sehingga secara otomatis membuat manusia kehilangan momentum untuk melakukan perbuatan secara rasional, sistematis, dan berpikir secara tenang. Kedua, manusia acap kali berbuat melampaui batas. Dan ketiga, bila hasil perbuatan yang dilakukan manusia tidak sesuai harapannya, maka hal itu disikapi dengan kufur nikmat dan berkeluh kesah. Di sinilah kecerdasan fisik harus kita jaga dan shaum merupakan titik singgung sekaligus penyeimbang agar manusia tidak terjebak pada kekufuran.Ada orang yang memaknai shaum dari segi fisik, seperti shaum sebagai sarana untuk mengurangi makan, shaum sebagai kendali pola hidup lebih teratur, serta shaum sebagai latihan agar pola hidup lebih ritmis. Selain itu, kegiatan ibadah di bulan Ramadhan sangat membantu latihan gerak tubuh seperti ketika pergi berjalan kaki untuk melaksanakan shalat wajib atau shalat taraweh berjamaah di masjid. Apakah ini salah? Tidak juga karena orang tersebut hanya mengartikan shaum sebagai sarana peningkatan kecersasan fisik.Namun demikian, ayat ke-9 surat As-Sajdah tersebut di atas tidak berhenti pada kesempurnaan fisik atau kecerdasan fisik semata. Di sana juga di sebutkan selain dikaruniai wujud yang sempurna, dalam diri manusia juga dihembuskan ruh. Ruh di sini menandakan adanya sesuatu yang bersifat transendental atau ketuhanan.Pada dasarnya, potensi ruh yang dimiliki setiap manusia adalah sama. Kalau boleh diibaratkan, ruh adalah ikan hias yang ditaruh di akuarium yang tidak lain adalah tubuh sempurna yang dimiliki manusia. Untuk bisa menampakkan keindahan ikan hias di dalamnya, maka akuarium tersebut harus dijaga agar senantiasa dalam keadaan bersih. Di sinilah fungsi ibadah yang tidak lain adalah sarana untuk membersihkan ‘akuarium’ manusia yang dari sononya sudah diciptakan secara sempurna. Kalau manusia hanya mengandalkan kesempurnaan fisiknya tanpa disertai pelaksanaan shalat, shaum, dan zakat; maka ‘akuarium’nya akan keruh sehingga keindahan qolbunya tidak dapat terlihat jelas. Jadi, meski shaum pada awalnya dipahami hanya dari segi fisik, hendaknya hal tersebut juga dapat diterjemahkan sebagai sarana untuk menjernihkan qolbu.Pernahkah Anda bertanya mengapa shaum diberlakukan selama 30 hari? Ternyata, perilaku manusia (menurut teori behavior) baru akan terlihat perubahannya (dan besifat permanen) setelah sebuah kebiasaan diulang-ulang hingga melewati masa 21 hari. Namun demikian, rentang waktu tersebut masih tergolong riskan (untuk kembali ke kebiasaan semula), sehingga tepat adanya bila pembiasaan tersebut digenapkan menjadi 30 hari. Dan ini adalah ambang batas aman yang ditetapkan oleh Islam berkenaan dengan shaum untuk mengubah perilaku penganutnya. Tentu saja, daya ubah tersebut sangat tergantung pada ke-kaffah-an shaum yang dilakukan masing-masing orang.Selain ruh, manusia juga dikaruniai panca indra dalam hal ini mata dan telinga. Allah kemudian memberikan penegasan bahwa dengan penglihatan dan pendengaran (yang dimiliki manusia tersebut) hendaknya melahirkan pengetahuan yang kemudian akan bermuara pada daya nalar yang dimiliki otak. Dari pengetahuan yang diolah dalam otak tersebut, hendaknya manusia memiliki pemahaman atau persepsi (driving period from knowledge to perception). Karena itulah, ayat ke-9 surat As-Sajdah tersebut di atas ditutup dengan resume yang sangat indah mengenai manusia yang juga dikarunia hati atau qolbu.Dari situ kita dapat melihat bahwa kecerdasan spiritual tentu harus disertai dengan kebersihan qolbu. Ketika kita lakukan eksplorasi pada qolbu, kita akan menemukan bahwa qolbu adalah akumulasi dari kecerdasan fisik dan kecerdasan kognitif. Di sini, kecerdasan kognitif tersebut akan saya bagi menjadi tiga cabang, yaitu: intellectual quotient, social quotient (yang salah satu contohnya adalah kemampuan untuk berkomunikasi), serta emotional quotient (beberapa ahli menambahkan bahwa intuisi termasuk kecerdasan emosional).Mekanisme ibadah seperti shalat, shaum, dan zakat yang dilakukan dengan benar pada dasarnya akan membuka sirkuit neuronal atau sirkuit-sirkuit syaraf yang dapat membangkitkan kecerdasan intuitif atau kecerdasan bawah sadar. Menurut sains, kecerdasan intuisi ini sebenarnya kecerdasan yang kita sadari, hanya saja kita tidak mempedulikannya. Contohnya adalah metoda aktivitasi otak tengah. Meski beberapa orang menganggap aktivasi otak tengah ini sebagai sesuatu yang musyrik, tapi jika dilakukan dengan benar, hal tersebut memang dapat dibangkitkan. Nah bagi kaum mukmin, cara untuk membangkitkan kecerdasan tersebut adalah dengan melakukan ibadah-ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah Swt. Pertanyaannya, mengapa orang yang sudah rajin melaksanakan ibadah-ibadah wajib tersebut masih juga belum bisa mengaktifkan kecerdasan intuisinya? Di sini, berlakulah auto-correction. Bisa jadi, shalat atau shaum yang kita kerjakan belum sampai ke maqam itu. Bisa jadi, shaum kita masih ingin dilihat oleh orang lain dan bukan benar-benar ikhlas karena Allah.
Senin, 09 Agustus 2010
Manajemen Ramadhan
Berikut beberapa hal yang kurang lebih tertangkap dalam khutbah Rasulullah tsb:
1. Manajemen Ruhiyah
Rasulullah saw. membagi Ramadhan menjadi tiga bagian. Masing-masing berjumlah 10 hari. Di tahap awal Ramadhan, kita perlu memasang target ibadah Ramadhan kita. Setelah 10 hari berlalu, dimuhasabah untuk kemudian diperbaiki dan ditingkatkan di babak kedua dan ketiga. Tensi dan derajat ruhiyah ditingkatkan sampai pada tingkat yang maksimal.
Di awal-awal Syawal, kita melakukan recovery terhadap hati kita yang telah sangat suka dengan ibadah. Hasil yang kita harapkan setelah itu, adalah tercapainya kestabilan ruhiyah sebagai bekal kita untuk menghadapi kehidupan pasca Ramadhan. Kegagalan kita dalam mengurus ruhiyah akan berdampak kepada goyahnya ruhiyah pasca Ramadhan.
2. Manajemen Amal
Di bulan Ramadhan, setiap amalan dilipatgandakan oleh Allah. Untuk amalan sunnah akan bernilai wajib di sisi Allah. Dan amalan wajib akan Allah lipat gandakan menjadi 70 kali ganda. Bahkan amalan yang mubah seperti tidur , jika niatnya benar, pun bernilai ibadah di sisi-Nya.
Di bulan ini kita berbisnis dengan Allah. Makin besar amalan yang kita lakukan, akan makin besar nilainya di sisi Allah. Selain itu juga karena waktu yang hanya terbatas 30 hari; dengan waktu yang sangat singkat ini, kita diharapkan mencapai derajat taqwa. Maka kita harus pandai-pandai menentukan prioritas dalam beramal. Amalan wajib kita dahulukan dari yang sunnah; amalan sunnah kita dahulukan dari yang mubah. Nilai ibadah sunnah yang tertinggi sangat kita utamakan dibanding dengan amalan sunnah yang lain, dan seterusnya.
3. Manajemen Doa
Rasulullah bersabda bahwa waktu yang paling berbahagia bagi orang yang berpuasa adalah ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Ketika Allah membuka tabirNya dan kita melihat wajah Allah dalam syurga, maka itu adalah waktu bertemunya seorang hamba dengan Allah di akhirat. Dan waktu bertemunya seorang hamba dengan Allah di dunia adalah saat berbuka puasa. Karena saat itulah Allah memberikan hak orang yang berpuasa setelah melaksanakan kewajibannya menahan nafsu di siang hari. Karena do’a yang dilantunkan saat itu adalah do’a yang mustajabah.
Ketika kita berpuasa seharian penuh dan kita tidak berbuka karena Allah; maka saat berbuka tentunya kita ingin membuktikan kebenaran puasa kita padaNya, dan saat itulah Allah ingin memberikan hadiahNya kepada hamba-hamba yang benar-benar dalam puasanya.
TAPI? berapa banyak dari kita yang tidak menyadari hal ini? Berapa banyak dari kita yang melalaikan waktu yang sangat utama ini? Berapa banyak orang yang menyempatkan berdo’a (selain do’a berbuka) ketika berbuka? Berapa banyak orang yang menangis ketika berbuka? Tanpa menyedari bahwa kita telah melepaskan kesempatan berharga memohon kepada Allah terhadap keinginan kita, yang sangat mustajabah itu?
Berapa banyak yang bertafakkur saat berbuka? Dengan tegukan pertama, ia ingat seluruh dosa-dosanya yang telah lalu, dan mengingat seharian penuh dia berpuasa, menahan seluruh nafsunya hanya untuk Allah? dan ketika berbuka, ia meminta haknya, memohon sesuatu pada Allah, dengan do’a yang mustajabah tadi, seraya menangis untuk do’a dan dosanya?
Hari pertama do’anya dikhususkan untuk orangtuanya agar terhindar dari api neraka. Hari kedua, do’anya dikhususkan untuk pengampunan seluruh dosanya yang telah lalu. Hari ketiga do’anya dikhususkan bagi saudara-saudaranya yang sedang berjuang dan syahid di medan laga melawan kaum kuffar durjana, ?? Sehingga setelah keluar dari bulan Ramadhan, seluruh permintaannya telah terpenuhi, kewajibannya dilaksanakan dengan berpuasa, dan haknya dipenuhi Allah dengan makbulnya seluruh do’anya.
Merugilah orang yang tidak menyadari hal ini. Karenanya tentu kita harus melist permohonan kita selama 30 kali kesempatan. Apa keinginan kita di bulan sebelum Ramadhan, maka saat berbukalah keinginan itu kita utarakan. Itulah manajemen do’a.
4. Manajemen Infaq
Jika kita memiliki dana sekian ratus ribu atau sekian juta rupiah misalnya, apa amalan utama yang dapat melipatgandakan dana kita di akhirat dan menjadi berharga di yaumil akhir? Jawabnya adalah memberi makan orang berbuka.Memberi makan orang yang berbuka, dapat melumerkan hati dan memperat tali silaturahmi. Mereka yang kita berikan makanan berbuka akan sangat berterima kasih, dan lunturlah semua kekasatan hati yang pernah ada. Maka perlu manajemen infaq (baca: traktir), terutama bagi kaum fukoro dan masakin.
5. Manajemen Waktu
Tidak lewat setiap detik –dalam bulan Ramadhan, kecuali di dalamnya bernilai ibadah. Namun ada waktu-waktu utama yang dianjurkan untuk melebihkan prioritasnya dibandingkan waktu-waktu yang lain.
Oleh Rasulullah saw., bulan Ramadhan dibahagi tiga bahagian. Awalnya adalah rahmat; pertengahannya adalah maghfiroh; dan bagian akhirnya adalah perlindungan dari api neraka. Waktu-waktu di bagian awal (sepuluh hari pertama), urusan duniawi masih memiliki porsi yang besar. Di bagian kedua, untuk urusan duniawi menurun. Dan di bahagian ke tiga, kita memfokuskan diri meninggalkan kehidupan dunia untuk sibuk dengan urusan akhirat. Mereka yang bersungguh-sungguh dalam hal ini, pasti telah mempersiapkannya jauh-jauh hari.
Bagi mereka yang memiliki pekerjaan tetap, mungkin melokasikan waktu cutinya pada saat terakhir bulan Ramadhan. Mereka yang berdagang, meninggalkan dagangannya untuk sejenak beristirahat dari segala keseronokan dunia. Mereka yang memiliki aktivitas lain, atau kesulitan lain, telah disiapkan sebelum datangnya waktu i’tikaf (misal: banyak tugas; persiapan kuis; laporan yang harus diselesaikan). Sehingga saat beri’tikaf (sepuluh hari terakhir Ramadhan), seluruh permasalahan duniawi tak dapat mengganggu kesempatan ibadah kita ini.
Dalam sehari semalam, Allah membagi waktu siang untuk bekerja, dan waktu malam untuk beribadah, karena beribadah di waktu malam jauh lebih utama (QS. Al-Muzammil). Oleh karenanya, pengaturan waktu harian dibagi berdasarkan panduan ini. (Yang belum, atau tidak pernah buat?rencana harian khusus untuk bulan Ramadhan, dibuat yaa? Sisakan sedikit space buat jaga-jaga kalau ada kegiatan yang tidak terencana, such as: kuliah tambahan tiba-tiba; persidangan atau mesyuarat mengejut, sesak di jalan, dan lain-lain yang unpredictable (yang sulit diramal). Kalau ternyata tidak ada, acara tiba-tiba, space yang kosong itu bisa digunakan untuk, kau tahu yang kau mau. Love Allah, know Islam.
6. Manajemen Hawa Nafsu
Bulan Ramadhan sebagai bulan latihan, menuntut kita untuk bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuan/target. Target yang paling rendah adalah diampuninya seluruh dosa. Dan target tertingginya adalah mendapatkan taqwa. Latihan mengendalikan hawa nafsu dari dosa dan kemaksiatan sangatlah penting artinya.
Di bulan ini kita membuat list dosa yang mungkin kita perbuat (misal: tidak bersabar atas kelakuan teman/tetangga, tidak sabar atas keadaan yang terjadi, kesel sama guru yang memberi tugas banyak padahal masih bulan Ramadhan? sabar aja, ya… Yang terasa; maaf yaa?).
Setiap berbuat dosa, beri nilai atau check point pada lembar muhasabah itu. Dan insya Allah kita akan takjub (asal jangan jadi ujub) dengan diri kita sendiri, manakala ini dilakukan dengan benar. Karena di hari-hari awal Ramadhan, ketika mengisi lembar ini, kita sibuk mengucapkan istighfar (dengan lisan dan qalbu) lalu mengevaluasinya. Di akhir Ramadhan, kita periksa ulang. Sehingga paling tidak, jumlahnya sudah banyak berkurang.
7. Manajemen Amal
Di lembar berikutnya, kita buat form amal yang mungkin kita lakukan. Sebenarnya ada banyak, sih. Hanya kadang kita sendiri yang kurang mengeksplore hal ini; atau kurang sering melakukan muhasabah (renungan).Keberhasilan Ramadhan ditunjukkan dengan menaiknya grafik amal dan menurunnya dosa den kemaksiatan. Dan kestabilan ruhiyah yang tercapai sebagai bekal kita untuk menghadapi kehidupan pasca Ramadhan.Marhaban ya, Ramadhan…
1. Manajemen Ruhiyah
Rasulullah saw. membagi Ramadhan menjadi tiga bagian. Masing-masing berjumlah 10 hari. Di tahap awal Ramadhan, kita perlu memasang target ibadah Ramadhan kita. Setelah 10 hari berlalu, dimuhasabah untuk kemudian diperbaiki dan ditingkatkan di babak kedua dan ketiga. Tensi dan derajat ruhiyah ditingkatkan sampai pada tingkat yang maksimal.
Di awal-awal Syawal, kita melakukan recovery terhadap hati kita yang telah sangat suka dengan ibadah. Hasil yang kita harapkan setelah itu, adalah tercapainya kestabilan ruhiyah sebagai bekal kita untuk menghadapi kehidupan pasca Ramadhan. Kegagalan kita dalam mengurus ruhiyah akan berdampak kepada goyahnya ruhiyah pasca Ramadhan.
2. Manajemen Amal
Di bulan Ramadhan, setiap amalan dilipatgandakan oleh Allah. Untuk amalan sunnah akan bernilai wajib di sisi Allah. Dan amalan wajib akan Allah lipat gandakan menjadi 70 kali ganda. Bahkan amalan yang mubah seperti tidur , jika niatnya benar, pun bernilai ibadah di sisi-Nya.
Di bulan ini kita berbisnis dengan Allah. Makin besar amalan yang kita lakukan, akan makin besar nilainya di sisi Allah. Selain itu juga karena waktu yang hanya terbatas 30 hari; dengan waktu yang sangat singkat ini, kita diharapkan mencapai derajat taqwa. Maka kita harus pandai-pandai menentukan prioritas dalam beramal. Amalan wajib kita dahulukan dari yang sunnah; amalan sunnah kita dahulukan dari yang mubah. Nilai ibadah sunnah yang tertinggi sangat kita utamakan dibanding dengan amalan sunnah yang lain, dan seterusnya.
3. Manajemen Doa
Rasulullah bersabda bahwa waktu yang paling berbahagia bagi orang yang berpuasa adalah ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Ketika Allah membuka tabirNya dan kita melihat wajah Allah dalam syurga, maka itu adalah waktu bertemunya seorang hamba dengan Allah di akhirat. Dan waktu bertemunya seorang hamba dengan Allah di dunia adalah saat berbuka puasa. Karena saat itulah Allah memberikan hak orang yang berpuasa setelah melaksanakan kewajibannya menahan nafsu di siang hari. Karena do’a yang dilantunkan saat itu adalah do’a yang mustajabah.
Ketika kita berpuasa seharian penuh dan kita tidak berbuka karena Allah; maka saat berbuka tentunya kita ingin membuktikan kebenaran puasa kita padaNya, dan saat itulah Allah ingin memberikan hadiahNya kepada hamba-hamba yang benar-benar dalam puasanya.
TAPI? berapa banyak dari kita yang tidak menyadari hal ini? Berapa banyak dari kita yang melalaikan waktu yang sangat utama ini? Berapa banyak orang yang menyempatkan berdo’a (selain do’a berbuka) ketika berbuka? Berapa banyak orang yang menangis ketika berbuka? Tanpa menyedari bahwa kita telah melepaskan kesempatan berharga memohon kepada Allah terhadap keinginan kita, yang sangat mustajabah itu?
Berapa banyak yang bertafakkur saat berbuka? Dengan tegukan pertama, ia ingat seluruh dosa-dosanya yang telah lalu, dan mengingat seharian penuh dia berpuasa, menahan seluruh nafsunya hanya untuk Allah? dan ketika berbuka, ia meminta haknya, memohon sesuatu pada Allah, dengan do’a yang mustajabah tadi, seraya menangis untuk do’a dan dosanya?
Hari pertama do’anya dikhususkan untuk orangtuanya agar terhindar dari api neraka. Hari kedua, do’anya dikhususkan untuk pengampunan seluruh dosanya yang telah lalu. Hari ketiga do’anya dikhususkan bagi saudara-saudaranya yang sedang berjuang dan syahid di medan laga melawan kaum kuffar durjana, ?? Sehingga setelah keluar dari bulan Ramadhan, seluruh permintaannya telah terpenuhi, kewajibannya dilaksanakan dengan berpuasa, dan haknya dipenuhi Allah dengan makbulnya seluruh do’anya.
Merugilah orang yang tidak menyadari hal ini. Karenanya tentu kita harus melist permohonan kita selama 30 kali kesempatan. Apa keinginan kita di bulan sebelum Ramadhan, maka saat berbukalah keinginan itu kita utarakan. Itulah manajemen do’a.
4. Manajemen Infaq
Jika kita memiliki dana sekian ratus ribu atau sekian juta rupiah misalnya, apa amalan utama yang dapat melipatgandakan dana kita di akhirat dan menjadi berharga di yaumil akhir? Jawabnya adalah memberi makan orang berbuka.Memberi makan orang yang berbuka, dapat melumerkan hati dan memperat tali silaturahmi. Mereka yang kita berikan makanan berbuka akan sangat berterima kasih, dan lunturlah semua kekasatan hati yang pernah ada. Maka perlu manajemen infaq (baca: traktir), terutama bagi kaum fukoro dan masakin.
5. Manajemen Waktu
Tidak lewat setiap detik –dalam bulan Ramadhan, kecuali di dalamnya bernilai ibadah. Namun ada waktu-waktu utama yang dianjurkan untuk melebihkan prioritasnya dibandingkan waktu-waktu yang lain.
Oleh Rasulullah saw., bulan Ramadhan dibahagi tiga bahagian. Awalnya adalah rahmat; pertengahannya adalah maghfiroh; dan bagian akhirnya adalah perlindungan dari api neraka. Waktu-waktu di bagian awal (sepuluh hari pertama), urusan duniawi masih memiliki porsi yang besar. Di bagian kedua, untuk urusan duniawi menurun. Dan di bahagian ke tiga, kita memfokuskan diri meninggalkan kehidupan dunia untuk sibuk dengan urusan akhirat. Mereka yang bersungguh-sungguh dalam hal ini, pasti telah mempersiapkannya jauh-jauh hari.
Bagi mereka yang memiliki pekerjaan tetap, mungkin melokasikan waktu cutinya pada saat terakhir bulan Ramadhan. Mereka yang berdagang, meninggalkan dagangannya untuk sejenak beristirahat dari segala keseronokan dunia. Mereka yang memiliki aktivitas lain, atau kesulitan lain, telah disiapkan sebelum datangnya waktu i’tikaf (misal: banyak tugas; persiapan kuis; laporan yang harus diselesaikan). Sehingga saat beri’tikaf (sepuluh hari terakhir Ramadhan), seluruh permasalahan duniawi tak dapat mengganggu kesempatan ibadah kita ini.
Dalam sehari semalam, Allah membagi waktu siang untuk bekerja, dan waktu malam untuk beribadah, karena beribadah di waktu malam jauh lebih utama (QS. Al-Muzammil). Oleh karenanya, pengaturan waktu harian dibagi berdasarkan panduan ini. (Yang belum, atau tidak pernah buat?rencana harian khusus untuk bulan Ramadhan, dibuat yaa? Sisakan sedikit space buat jaga-jaga kalau ada kegiatan yang tidak terencana, such as: kuliah tambahan tiba-tiba; persidangan atau mesyuarat mengejut, sesak di jalan, dan lain-lain yang unpredictable (yang sulit diramal). Kalau ternyata tidak ada, acara tiba-tiba, space yang kosong itu bisa digunakan untuk, kau tahu yang kau mau. Love Allah, know Islam.
6. Manajemen Hawa Nafsu
Bulan Ramadhan sebagai bulan latihan, menuntut kita untuk bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuan/target. Target yang paling rendah adalah diampuninya seluruh dosa. Dan target tertingginya adalah mendapatkan taqwa. Latihan mengendalikan hawa nafsu dari dosa dan kemaksiatan sangatlah penting artinya.
Di bulan ini kita membuat list dosa yang mungkin kita perbuat (misal: tidak bersabar atas kelakuan teman/tetangga, tidak sabar atas keadaan yang terjadi, kesel sama guru yang memberi tugas banyak padahal masih bulan Ramadhan? sabar aja, ya… Yang terasa; maaf yaa?).
Setiap berbuat dosa, beri nilai atau check point pada lembar muhasabah itu. Dan insya Allah kita akan takjub (asal jangan jadi ujub) dengan diri kita sendiri, manakala ini dilakukan dengan benar. Karena di hari-hari awal Ramadhan, ketika mengisi lembar ini, kita sibuk mengucapkan istighfar (dengan lisan dan qalbu) lalu mengevaluasinya. Di akhir Ramadhan, kita periksa ulang. Sehingga paling tidak, jumlahnya sudah banyak berkurang.
7. Manajemen Amal
Di lembar berikutnya, kita buat form amal yang mungkin kita lakukan. Sebenarnya ada banyak, sih. Hanya kadang kita sendiri yang kurang mengeksplore hal ini; atau kurang sering melakukan muhasabah (renungan).Keberhasilan Ramadhan ditunjukkan dengan menaiknya grafik amal dan menurunnya dosa den kemaksiatan. Dan kestabilan ruhiyah yang tercapai sebagai bekal kita untuk menghadapi kehidupan pasca Ramadhan.Marhaban ya, Ramadhan…
Rabu, 04 Agustus 2010
“KEUTAMAAN DAN KEKUATAN DZIKRULLAH”
" Nabi termulia, Rasul paling Agung, Baginda Rosulullah Muhammad SAW bersabda:“Maukah saya tunjukkan tentang penyakitmu dan obatnya ? Sesungguhnya penyakitmu itu adalah perbuatan dosa dan obatnya adalah Istighfar” (HR. Dailami) "Dari Sa’d Ibnu Abu Waqqash ra yang menceritakan:“Ketika kamu berada dihadapan Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Apakah seorang diantara kalian tidak mampu menghasilkan 1000 (seribu) kebaikan setiap harinya?” Maka ada seseorang dari kalangan orang-orang yang duduk bersamanya bertanya: “Bagaimana caranya untuk menghasilkan 1000 (seribu) kebaikan?” Nabi SAW bersabda: “Hendaknya ia membaca 1000 (seribu) kali tasbih, maka dicatatkan baginya 1000 (seribu) kali kebaikan atau dihapus darinya 1000 (seribu) kesalahan (dosa).” (HR. Muslim)• Dari Abdullah Ibnu Mas’ud ra, menceritakan:“Rasulullah SAW menyukai berdo’a sebanyak 3 (tiga) kali dan beristighfar 3 (tiga) kali.: (HR Abu Daud) "Dari Syaddad Ibnu Aus ra, menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda setentang Sayyidul Istighfar:“Raja Istighfar ialah ucapan seorang hamba: Allahumma anta robbi la ilaha illa anta khalaqtani wa ana abduka wa ana ala abdika wawa’dika maaststatho’tu audzubika min sari maa sona’tu abu ulaka bini’matika alayya wa abu ulaka bini’matika alayya wa abu u’bidzambi faqfirli fainahu layaghfirudzunuuba illa anta. Barang siapa yang mengucapkannya disiang hari dengan penuh keyakinan lalu ia mati (meninggal dunia) para siang hari itu juga sebelum petang hari maka ia termasuk ahli Syorga. Barang siapa yang mengucapkannya dimalam hari dengan penuh keyakinan kepada-Nya, lalu ia meninggal sebelum pagi hari maka ia termasuk ahli Syorga.” (HR Bukhari) "Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda:“Barang siapa yang mengucapkan ketika keluar dari rumahnya: Bismillahi Tawakaltu ‘alallahu, wa laa haula walaa quwwwata illa billa, dikatakanlah untuknya:“Cukuplah itu untukmu, engkau diberi petunjuk dan dipelihara. Dan Syetan akan menyingkir.” (HR. Abu Daud, Nasai dan Turmudzi)• Hadist dari Abi Hurairoh ra, Nabi SAW bersabda:“Tidak sempurna wudhu orang yang tidak menyebut nama Allah (Bismillahirrohmanirrohiim) dipermulaannya.” (HR. Abu Daud)• Dari Umar Ibnu Khathab ra, katanya bersabda Rasulullah SAW:“Tidak seorangpun diantara kamu yang berwudhu lantas disempurnakannya wudhunya itu, kemudian ia mengucapkan: Ashaduan laa ilaaha illallaahu wahdahulaa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh. Melainkan akan dibukakan untuknya pintu Syurga yang delapan, ia boleh masuk dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” (HR. Muslim) "Dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:“Barangsiapa yang membaca ketika mendengar Adzan: Allahumma robba haadzihid dawatit taammati wash shalaatil qodimmati aati Muhammadanil wasiilata wal fadhiilata wab’atshu maqoomam mahmudamil ladzii wa ‘attahu, wajiblah untuknya syafaatku.” (HR. Jama’ah) Dari Abi Umamah, ujarnya:“Sesungguhnya Nabi SAW berkata: Barangsiapa yang membaca ayat kursi dibelakang tiap-tiap sholat tidak ada lagi yang menghalanginya masuk syorga, kecuali mati.” (HR. An-Nasai dan Thabrani) "Hadist dari Ali bin Abi Thalib ra dinyatakan:“Bahwasanya Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang membaca ayat kursi dibelakang setiap sholat yang wajib, adalah ia dalam pemeliharan Allah hingga shalat berikutnya.” (HR Thabrani) "Dari Abi Hurairoh ra bahwasannya Rasulullah SAW bersabda:“Barang siapa yang bertasbih (Maha Suci Allah) dibelakang setiap sholat 33 x dan bertahmid (Alhamdulillah) 33 x dan bertakbir (Allahuakbar) 33 x dan jumlah 99 x. Kemudian ia membaca (untuk) menyempurnakannya menjadi 100 (seratus) yaitu kalimat: Laa ilaahaillal laahu wahdahulaa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa alaa kulli syai’in qodir, niscaya diampunilah dosa-dosanya walaupun sebanyak (seperti) buih dilautan.” Masih Hadist dari Abi Hurairoh ra tetapi tanpa ditutup dengan tahlil:“Kamu bertasbih , bertakbir dan bertahmid tiga puluh tiga kali dibelakang setiap sholat.” (HR Muttafaq ‘Alaihi) "Dari Ka’ab bin Ujrah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:“Pengiring sesudah sholat yang wajib tidak akan kecewa orang yang mengucapkannya atau yang melaksanakannya. Yaitu tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid, tiga puluh empat kali takbir.” (HR Muslim) Berdasar riwayat yang shahih (Lihat Sayid Sabiq: FIQHUS SUNNAH):“Bertasbih dua puluh lima kali dan bertahmid serupa, bertakbir serupa. Kemudian mengucapkan: Laa ilaaha illa laahu wahdahulaa syarikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahua ‘alaa kulli syai’in qodir, serupa (maksudnya dua puluh lima kali.)” Berdasar riwayat yang shahih (lihat Sayid Sabiq: FIQHUS SUNNAH) "Dari Abdullah bin ‘Amar, bersabda Rasulullah SAW:“Dua perkara, barang siapa yang dapat memelihara (mengamalkannya) akan dimasukkan kedalam syorga. Keduanya mudah dan yang mengamalkannya sedikit. Mereka (Para Sahabat) bertanya: “Apa yang dua perkara itu ya Rasulullah ?” Jawab Rasul: “Bahwa kamu memuji Allah (Alhamdulillah) dan bertakbir membesarkan-Nya (Allahu Akbar) dan bertasbih (Subhanallah) dibelakang setiap sholat yang wajib sepuluh, sepuluh.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi) "Dzikir khusus dibaca sesudah Shalat Subuh dan sesudah Shalat Maghrib, yaitu:“Laa ilaaha illal laahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodiirun.” (Rawaahu Ahmad wat Turmudzi)Ket: Barang siapa membacanya sepuluh kali, dituliskan baginya sepuluh kali kebajikan, dihapuskan sepuluh kejahatan dan ditinggikan (kedudukannya) sepuluh derajat. Ia terpelihara pada hari itu dari segala yang tidak disukai dan terpelihara dari gangguan Syetan. Dibacanya setiap selesai sholat Shubuh dan sholat Magrib. "Dzikir lain khusus dibaca sesudah shalat Subuh dan sesudah shalat Maghrib Hadist dari Muslim bin Harits:“Berkata Nabi kepada saya: Apabila engkau telah selesai halat Subuh maka bacalah sebelum engkau berbicara kepada orang lain (seseorang): Allahumma ajirnii minan naar, sebanyak 7 (tujuh) kali. Maka sesungguhnya jika engkau mati pada hari itu, Allah SWT menuliskan untuk kebebasan dari api neraka. Dan jika engkau telah selesai dari Shalat Maghrib, maka bacalah sebelum engkau berbicara dengan seseorang: Allahumma innii as’alukal jannah, Allahumma ajirni minan naar, yaitu sebanyak 7 (tujuh) kali. Maka sesungguhnya engkau jika meninggal (mati) pada malam itu, Allah SWT telah menulis engkau bebas dari api neraka.” (HR Ahmad dan Abu Daud) "Dzikir (do’a) setelah shalat sunnat Subuh (qobliyah Subuh):“Allahumma rabba jibriila wa miikaiila wa Israafila wa Muhammadin Nabiyyi a’udzu bika minan naari.” Dibaca 3 (tiga) kali. (HR. Ibnu Sunny) "Kemudia dzikir (do’a) ini:Barang siapa yang membaca pada Subuh hari Jum’at, sebelum sholat Subuh (qobliyah Subuh):“Astaghfirullah, alladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuumu wa utuubu ilaihi, sebanyak tiga kali. Niscaya diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT walaupun sebanyak buih dipermukaan laut.” (HR Ibnu Sunny) " Dzikir (do’a) yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Mu’adz:“Sesungguhnya Nabi SAW memegang tangan Mu’adz bin Jabal pada suatu hari, kemudian nabi berkata: Wahai Mu’adz! Sesunguhnya aku sangat sayang kepadamu. Maka Mu’adz menjawab: Yaa Rasulullah, demi ibu dan bapakku, aku juga sangat mencintaimu. Lalu Nabi SAW berkata: Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, jangan engkau tinggalkan dibelakang setiap shalat membaca:“Ya Allah! Tolonglah aku untuk mengingat-Mu (menyebut-Mu) mensyukuri nikmat-Mu dan membaguskan ibadah kepada-Mu.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim.)Saudaraku sesama muslim, seaqidah seiman, sebenarnya masih terlalu banyak keutamaan, faedah, kelebihan, kekuatan dzikrullah, namun saya sudahi (batasi) dulu tulisan (artikel) religius saya ini sampai disini." Dzikir (wiridan) pengarang (Ulama besar) kitab-kitab terkenal, antara lain Ihya Ulumuddin, Sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghozali :
" Keutamaan Dzikrullah "
Allah Ta’ala berfirman:
“Maka ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu, bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu kufur” (Al Baqarah: 152)
“Hai orang-orang yang beriman, Ingatlah Allah dengan dzikir yang banyak” (Al-Ahzaab: 41)
“Dan bagi laki-laki dan perempuan yang mengingat Allah, kepada mereka Allah berikan ampunan dan balasan yang besar” (Al-Ahzab: 35)
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mngeraskan suar, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al-A’raaf: 205)
Rasulullah shallalhu ‘alahi wasallam bersabda:
“Perbandingan antara orang yang mengingat Allah dengan yang tidak mengingat Allah adalah seperti perbandingan orang hidup dengan orang mati” (Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Fath 11/208 dan Muslim 1/539 dengan lafaz berikut perbandingan antara rumah yang didalamnya nama Allah disebut dan dengan yang tidak adalah seperti perbandingan antara yang hidup dengan yang mati).
Beliau shallalahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“ Maukah kamu aku beritahukan amalan terbaik yang akan lebih mengangkat derajatmu, dan dari menginfakan emas dan uang, dan berperang melawan musuh?’ Para shahabat berkata: ‘Tentu! Beritahukanlah’ Beliau shallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab: ‘yaitu dzikrullah (mengingat Allah)” (Riwayat At-Tirmidzi 5/439 dan Ibnu Majah 2/1245, lihat: Shahih Ibnu Majah 2/316 dan Sahih At-Tirmidzi 3/139)
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman: sesungguhnya Aku adalah menurut persangkaat hambaKu, dan Aku bersamanya selama dia mengingatKu, jika dia mengingatKu sendirian maka Aku akan mengingatnya sendirian pula, dan jika dia mengingatKu dalam suatu kelompok, maka Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih besar. Jika dia mendekatiku sejengkal, maka Aku mendekatinya sehasta. Jika dia mendekatiKu sehasta, maka Aku mendekatinya 2 hasta. Jika dia berjalan mendekatiKu, maka Aku mendekatinya sambil berlari.” (Al-Bukhari 5/175 dan Muslim 4/2016 , lafaz di atas dari Bukhari)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr radhiallahu anhu: Seorang laki-laki datang lepada Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam dan berkata: ‘Ya Rasulullah, amalan Islam begitu banyak untukku, maka beritahukanlah suatu amalan yang aku bisa memegangnya dengan teguh’, Beliau shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan biarkan lidahmu kering dari mengingat Allah” (Riwayat At-Tirmidzi 5/458 dan Ibnu Majah 2/1246, Lihat Sahih At-Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/317)
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang membaca satu hurup dari Kitab Allah, maka akan diberi balasan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu hurup, lam satu hurup dan mim satu hurup.” (Riwayat At-Tirmidzi 5/175. Lihat sahih At-Tirmidzi 3/9 dan Sahih Jaami’ ush Shagir 5/340).
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Adakah di antara kamu yang bersedia pergi ke Buthaan atau Al-Aqiq (yaitu nama dua lembah di Madinah) setiap pagi hari dan kembali dari sana sambil membawa dua ekor unta betina tanpa ada dosa dan memutuskan hubungan?” Kami (shahabat) berkata: “Kami benar-benar gembira akan hal itu, ya Rasulullah” Beliau shallallahu ‘alahi wasallam lalu bersabda: “maka kamu harus pergi ke mesjid dan menuntut ilmu, atau membaca 2 ayat dari Kitab Allah, itu lebih baik bagi kamu dari 2 unta betina, 3 ayat lebih baik nagi kamu dari 3 unta betina, 4 ayat lebih baik bagi kamu dari 4 unta betina. Dan bilangan yang sama juga untuk unta jantan” (Riwayat Muslim 1/553)
Rasulullah shallalahu ‘alahi wasallam juga bersabda:
“Barang siapa yang duduk dan tidak mengingat Allah, maka dia telah merugi, dan barang siapa berbaring dan tidak mengingat Allah, maka dia telah merugi” (Riwayat Abu Dawud 4/264 dan yang lainnya. Lihat Sahih al-Jami’ 5/342)
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Jika ada sekelompok orang duduk dan tidak mengingat Allah dan mengucap shalawat atas Nabi, maka mereka telah merugi, jika Allah berkehendak maka Dia akan menghukumnya dan jika Dia berkehendak, Dia mengampuninya.” (Riwayat At-Tirmidzi, lihat Sahih At-Tirmidzi 3/140)
“Maka ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu, bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu kufur” (Al Baqarah: 152)
“Hai orang-orang yang beriman, Ingatlah Allah dengan dzikir yang banyak” (Al-Ahzaab: 41)
“Dan bagi laki-laki dan perempuan yang mengingat Allah, kepada mereka Allah berikan ampunan dan balasan yang besar” (Al-Ahzab: 35)
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mngeraskan suar, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al-A’raaf: 205)
Rasulullah shallalhu ‘alahi wasallam bersabda:
“Perbandingan antara orang yang mengingat Allah dengan yang tidak mengingat Allah adalah seperti perbandingan orang hidup dengan orang mati” (Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Fath 11/208 dan Muslim 1/539 dengan lafaz berikut perbandingan antara rumah yang didalamnya nama Allah disebut dan dengan yang tidak adalah seperti perbandingan antara yang hidup dengan yang mati).
Beliau shallalahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“ Maukah kamu aku beritahukan amalan terbaik yang akan lebih mengangkat derajatmu, dan dari menginfakan emas dan uang, dan berperang melawan musuh?’ Para shahabat berkata: ‘Tentu! Beritahukanlah’ Beliau shallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab: ‘yaitu dzikrullah (mengingat Allah)” (Riwayat At-Tirmidzi 5/439 dan Ibnu Majah 2/1245, lihat: Shahih Ibnu Majah 2/316 dan Sahih At-Tirmidzi 3/139)
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman: sesungguhnya Aku adalah menurut persangkaat hambaKu, dan Aku bersamanya selama dia mengingatKu, jika dia mengingatKu sendirian maka Aku akan mengingatnya sendirian pula, dan jika dia mengingatKu dalam suatu kelompok, maka Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih besar. Jika dia mendekatiku sejengkal, maka Aku mendekatinya sehasta. Jika dia mendekatiKu sehasta, maka Aku mendekatinya 2 hasta. Jika dia berjalan mendekatiKu, maka Aku mendekatinya sambil berlari.” (Al-Bukhari 5/175 dan Muslim 4/2016 , lafaz di atas dari Bukhari)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr radhiallahu anhu: Seorang laki-laki datang lepada Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam dan berkata: ‘Ya Rasulullah, amalan Islam begitu banyak untukku, maka beritahukanlah suatu amalan yang aku bisa memegangnya dengan teguh’, Beliau shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan biarkan lidahmu kering dari mengingat Allah” (Riwayat At-Tirmidzi 5/458 dan Ibnu Majah 2/1246, Lihat Sahih At-Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/317)
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang membaca satu hurup dari Kitab Allah, maka akan diberi balasan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu hurup, lam satu hurup dan mim satu hurup.” (Riwayat At-Tirmidzi 5/175. Lihat sahih At-Tirmidzi 3/9 dan Sahih Jaami’ ush Shagir 5/340).
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Adakah di antara kamu yang bersedia pergi ke Buthaan atau Al-Aqiq (yaitu nama dua lembah di Madinah) setiap pagi hari dan kembali dari sana sambil membawa dua ekor unta betina tanpa ada dosa dan memutuskan hubungan?” Kami (shahabat) berkata: “Kami benar-benar gembira akan hal itu, ya Rasulullah” Beliau shallallahu ‘alahi wasallam lalu bersabda: “maka kamu harus pergi ke mesjid dan menuntut ilmu, atau membaca 2 ayat dari Kitab Allah, itu lebih baik bagi kamu dari 2 unta betina, 3 ayat lebih baik nagi kamu dari 3 unta betina, 4 ayat lebih baik bagi kamu dari 4 unta betina. Dan bilangan yang sama juga untuk unta jantan” (Riwayat Muslim 1/553)
Rasulullah shallalahu ‘alahi wasallam juga bersabda:
“Barang siapa yang duduk dan tidak mengingat Allah, maka dia telah merugi, dan barang siapa berbaring dan tidak mengingat Allah, maka dia telah merugi” (Riwayat Abu Dawud 4/264 dan yang lainnya. Lihat Sahih al-Jami’ 5/342)
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Jika ada sekelompok orang duduk dan tidak mengingat Allah dan mengucap shalawat atas Nabi, maka mereka telah merugi, jika Allah berkehendak maka Dia akan menghukumnya dan jika Dia berkehendak, Dia mengampuninya.” (Riwayat At-Tirmidzi, lihat Sahih At-Tirmidzi 3/140)
“KEUTAMAAN DAN KEKUATAN DZIKRULLAH”
• Nabi termulia, Rasul paling Agung, Baginda Rosulullah Muhammad SAW bersabda:“Maukah saya tunjukkan tentang penyakitmu dan obatnya ? Sesungguhnya penyakitmu itu adalah perbuatan dosa dan obatnya adalah Istighfar” (HR. Dailami)• Dari Sa’d Ibnu Abu Waqqash ra yang menceritakan:“Ketika kamu berada dihadapan Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Apakah seorang diantara kalian tidak mampu menghasilkan 1000 (seribu) kebaikan setiap harinya?” Maka ada seseorang dari kalangan orang-orang yang duduk bersamanya bertanya: “Bagaimana caranya untuk menghasilkan 1000 (seribu) kebaikan?” Nabi SAW bersabda: “Hendaknya ia membaca 1000 (seribu) kali tasbih, maka dicatatkan baginya 1000 (seribu) kali kebaikan atau dihapus darinya 1000 (seribu) kesalahan (dosa).” (HR. Muslim)• Dari Abdullah Ibnu Mas’ud ra, menceritakan:“Rasulullah SAW menyukai berdo’a sebanyak 3 (tiga) kali dan beristighfar 3 (tiga) kali.: (HR Abu Daud)• Dari Syaddad Ibnu Aus ra, menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda setentang Sayyidul Istighfar:“Raja Istighfar ialah ucapan seorang hamba: Allahumma anta robbi la ilaha illa anta khalaqtani wa ana abduka wa ana ala abdika wawa’dika maaststatho’tu audzubika min sari maa sona’tu abu ulaka bini’matika alayya wa abu ulaka bini’matika alayya wa abu u’bidzambi faqfirli fainahu layaghfirudzunuuba illa anta. Barang siapa yang mengucapkannya disiang hari dengan penuh keyakinan lalu ia mati (meninggal dunia) para siang hari itu juga sebelum petang hari maka ia termasuk ahli Syorga. Barang siapa yang mengucapkannya dimalam hari dengan penuh keyakinan kepada-Nya, lalu ia meninggal sebelum pagi hari maka ia termasuk ahli Syorga.” (HR Bukhari)• Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda:“Barang siapa yang mengucapkan ketika keluar dari rumahnya: Bismillahi Tawakaltu ‘alallahu, wa laa haula walaa quwwwata illa billa, dikatakanlah untuknya:“Cukuplah itu untukmu, engkau diberi petunjuk dan dipelihara. Dan Syetan akan menyingkir.” (HR. Abu Daud, Nasai dan Turmudzi)• Hadist dari Abi Hurairoh ra, Nabi SAW bersabda:“Tidak sempurna wudhu orang yang tidak menyebut nama Allah (Bismillahirrohmanirrohiim) dipermulaannya.” (HR. Abu Daud)• Dari Umar Ibnu Khathab ra, katanya bersabda Rasulullah SAW:“Tidak seorangpun diantara kamu yang berwudhu lantas disempurnakannya wudhunya itu, kemudian ia mengucapkan: Ashaduan laa ilaaha illallaahu wahdahulaa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh. Melainkan akan dibukakan untuknya pintu Syurga yang delapan, ia boleh masuk dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” (HR. Muslim)• Dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:“Barangsiapa yang membaca ketika mendengar Adzan: Allahumma robba haadzihid dawatit taammati wash shalaatil qodimmati aati Muhammadanil wasiilata wal fadhiilata wab’atshu maqoomam mahmudamil ladzii wa ‘attahu, wajiblah untuknya syafaatku.” (HR. Jama’ah)• Dari Abi Umamah, ujarnya:“Sesungguhnya Nabi SAW berkata: Barangsiapa yang membaca ayat kursi dibelakang tiap-tiap sholat tidak ada lagi yang menghalanginya masuk syorga, kecuali mati.” (HR. An-Nasai dan Thabrani)• Hadist dari Ali bin Abi Thalib ra dinyatakan:“Bahwasanya Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang membaca ayat kursi dibelakang setiap sholat yang wajib, adalah ia dalam pemeliharan Allah hingga shalat berikutnya.” (HR Thabrani)• Dari Abi Hurairoh ra bahwasannya Rasulullah SAW bersabda:“Barang siapa yang bertasbih (Maha Suci Allah) dibelakang setiap sholat 33 x dan bertahmid (Alhamdulillah) 33 x dan bertakbir (Allahuakbar) 33 x dan jumlah 99 x. Kemudian ia membaca (untuk) menyempurnakannya menjadi 100 (seratus) yaitu kalimat: Laa ilaahaillal laahu wahdahulaa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa alaa kulli syai’in qodir, niscaya diampunilah dosa-dosanya walaupun sebanyak (seperti) buih dilautan.”• Masih Hadist dari Abi Hurairoh ra tetapi tanpa ditutup dengan tahlil:“Kamu bertasbih , bertakbir dan bertahmid tiga puluh tiga kali dibelakang setiap sholat.” (HR Muttafaq ‘Alaihi)• Dari Ka’ab bin Ujrah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:“Pengiring sesudah sholat yang wajib tidak akan kecewa orang yang mengucapkannya atau yang melaksanakannya. Yaitu tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid, tiga puluh empat kali takbir.” (HR Muslim)• Berdasar riwayat yang shahih (Lihat Sayid Sabiq: FIQHUS SUNNAH):“Bertasbih dua puluh lima kali dan bertahmid serupa, bertakbir serupa. Kemudian mengucapkan: Laa ilaaha illa laahu wahdahulaa syarikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahua ‘alaa kulli syai’in qodir, serupa (maksudnya dua puluh lima kali.)” Berdasar riwayat yang shahih (lihat Sayid Sabiq: FIQHUS SUNNAH):• Dari Abdullah bin ‘Amar, bersabda Rasulullah SAW:“Dua perkara, barang siapa yang dapat memelihara (mengamalkannya) akan dimasukkan kedalam syorga. Keduanya mudah dan yang mengamalkannya sedikit. Mereka (Para Sahabat) bertanya: “Apa yang dua perkara itu ya Rasulullah ?” Jawab Rasul: “Bahwa kamu memuji Allah (Alhamdulillah) dan bertakbir membesarkan-Nya (Allahu Akbar) dan bertasbih (Subhanallah) dibelakang setiap sholat yang wajib sepuluh, sepuluh.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)• Dzikir khusus dibaca sesudah Shalat Subuh dan sesudah Shalat Maghrib, yaitu:“Laa ilaaha illal laahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodiirun.” (Rawaahu Ahmad wat Turmudzi)Ket: Barang siapa membacanya sepuluh kali, dituliskan baginya sepuluh kali kebajikan, dihapuskan sepuluh kejahatan dan ditinggikan (kedudukannya) sepuluh derajat. Ia terpelihara pada hari itu dari segala yang tidak disukai dan terpelihara dari gangguan Syetan. Dibacanya setiap selesai sholat Shubuh dan sholat Magrib.• Dzikir lain khusus dibaca sesudah shalat Subuh dan sesudah shalat Maghrib Hadist dari Muslim bin Harits:“Berkata Nabi kepada saya: Apabila engkau telah selesai halat Subuh maka bacalah sebelum engkau berbicara kepada orang lain (seseorang): Allahumma ajirnii minan naar, sebanyak 7 (tujuh) kali. Maka sesungguhnya jika engkau mati pada hari itu, Allah SWT menuliskan untuk kebebasan dari api neraka. Dan jika engkau telah selesai dari Shalat Maghrib, maka bacalah sebelum engkau berbicara dengan seseorang: Allahumma innii as’alukal jannah, Allahumma ajirni minan naar, yaitu sebanyak 7 (tujuh) kali. Maka sesungguhnya engkau jika meninggal (mati) pada malam itu, Allah SWT telah menulis engkau bebas dari api neraka.” (HR Ahmad dan Abu Daud)• Dzikir (do’a) setelah shalat sunnat Subuh (qobliyah Subuh):“Allahumma rabba jibriila wa miikaiila wa Israafila wa Muhammadin Nabiyyi a’udzu bika minan naari.” Dibaca 3 (tiga) kali. (HR. Ibnu Sunny)• Kemudia dzikir (do’a) ini:Barang siapa yang membaca pada Subuh hari Jum’at, sebelum sholat Subuh (qobliyah Subuh):“Astaghfirullah, alladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuumu wa utuubu ilaihi, sebanyak tiga kali. Niscaya diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT walaupun sebanyak buih dipermukaan laut.” (HR Ibnu Sunny)• Dzikir (do’a) yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Mu’adz:“Sesungguhnya Nabi SAW memegang tangan Mu’adz bin Jabal pada suatu hari, kemudian nabi berkata: Wahai Mu’adz! Sesunguhnya aku sangat sayang kepadamu. Maka Mu’adz menjawab: Yaa Rasulullah, demi ibu dan bapakku, aku juga sangat mencintaimu. Lalu Nabi SAW berkata: Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, jangan engkau tinggalkan dibelakang setiap shalat membaca:“Ya Allah! Tolonglah aku untuk mengingat-Mu (menyebut-Mu) mensyukuri nikmat-Mu dan membaguskan ibadah kepada-Mu.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim.)Saudaraku sesama muslim, seaqidah seiman, sebenarnya masih terlalu banyak keutamaan, faedah, kelebihan, kekuatan dzikrullah, namun saya sudahi (batasi) dulu tulisan (artikel) religius saya ini sampai disini."
Jumat, 30 Juli 2010
MENJADIAKN AL-QUR’AN SEBAGAI BACAAN DZIKIR
Setiap aktifitas yang dapat mengingatkan dan mengadirkan Allah Swt disebut dzikir. Dzikir dapat berupa ucapan, seperti; membaca al-Qur’an, membaca wirid-wirid, dan do’a. Dzikir juga dapat berupa tindakan, seperti; sholat, mencari ilmu, penelitian, ziarah, ta’ziyah, silaturahmi dan ibadah-ibadah lainnya. Dzikir juga dapat berupa pikiran, seperti; berpikir dan mengamati kejadian alam, mengamati ciptaan-Nya dan berpikir akan kekuasaan-Nya Yang Maha Dahsyat.
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dari Abu Darda’ r.a., berkata: Rasulallah Saw bersabda: “Tidakkah engkau semua suka kalau saya beritahukan kepadamu semua akan sebaik-baik amalanmu, juga seindah-indahnya amalanmu bagi Tuhan Yang Maha Merajaimu, serta yang tertinggi dalam derajat-derajatmu, bahkan lebih baik untukmu dari-pada menafkahkan emas dan perak, juga lebih baik untukmu daripada engkau bertemu dengan musuhmu lalu engkau tebas leher-leher mereka dan merekapun menebas lehermu?” Para sahabat berkata: “Baiklah Ya Rasulallah Saw. Kemudian Beliau Saw bersabda: “Yaitu berzikir kepada Allah Swt”.
Ketika seseorang selalu ingat kepada Allah Swt dan percaya bahwa segala apa yang dikerjakannya tidak pernah lepas dari pengawasan-Nya. Maka hal ini akan berakibat pada sikap dan perbuatan yang akan dilakukan oleh orang itu sendiri. Dimana ketika berniat untuk melakukan maksiat, kita malu dan takut kalau-kalau setelah melakukan maksiat Allah Swt mengambil nyawanya. Sehingga dengan kita selalu ingat kepada Allah Swt, segala perbuatan maksiat kepada-Nya akan dapat diminimalisir, bahkan dengan petunjuk-Nya kita akan mampu menghindari segala perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah Swt.
Sebagaimana kita ketahui bahwa, al-Qur’an adalah kalamullah yang mulia dan suci. Membacanya adalah sebuah ibadah, dimana setiap hurufnya sama dengan 1 kali kebaikan yang mana akan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat kebaikan. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa; Abu Umamah r.a. berkata : “Rasulallah Saw telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari al-Qur’an, setelah itu Rasulallah Saw memberitahu tentang kelebihan al-Qur’an”.
Rasulallah Saw bersabda: Belajarlah kamu akan al-Qur’an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya. Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, “Kenalkah kamu kepadaku?” Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : “Siapakah kamu?” Maka berkata al-Qur’an : “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari”.
Kemudian berkata orang yang pernah membaca al-Qur’an itu : “Adakah kamu al-Qur’an?”. Lalu al-Qur’an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah Swt. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Dan pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya: “Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?” Lalu dijawab : “Kamu diberi ini semua ini, karena anak kamu telah mempelajari al-Qur’an”. Bagaimana kalau sekiranya kita mampu mengamalkannya sebagai dzikir setiap hari?.
Adapun perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an, Rasulallah Saw bersabda: Perumpamaan orang mu’min yang suka membaca al-Qur’an ialah seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanya pun enak dan perumpamaan orang mu’min yang tidak suka membaca al-Qur’an ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Qur’an ialah seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Qur’an ialah seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit.
Dalam al-Qur’an ada beberapa ayat dan surat yang secara khusus mempunyai keutamaan-keutamaan bagi yang membacanya. Bahkan hal ini sangat dianjurakan bagi siapa saja yang menyakini akan kandungan yang ada didalamnya, yakni;
1. Pertama; surat al-Fatihah, ini adalah seagung-agung surat dalam al-Qur’an, disebut juga Assab’ul Matsani. Dan itulah al-Qur’an yang diberikan kepada Rasulallah Muhammad Saw.
2. Kedua; surat al-Baqarah, baik keseluruhan ayat-ayatnya atau pun sebagian ayatnya, yakni; ayat 1-6, ayat 255 atau yang biasa disebut ayat kursy, dan dua ayat terakhir yaitu ayat 285-286. Adapun surat al-Baqarah dan surat al-Imran, keduanya merupakan hujjah keselamatan nanti di hari kiamat.
3. Ketiga; surat al-Kahfi, as-Sajdah, ar-Rahman, al-Waqi’ah, al-Mulk, al-Zalzalah, al-Kafirun, al-Nasr dan tiga surat terakhir al-Qur’an dalam Mushaf Usmani, yakni; surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas.
Ini semua adalah anjuran yang disampaiakan Rasulallah Saw kepada sahabat-sahabatnya dan bukan berarti ayat dan surat yang lain tidak dibaca dan diamalkan. Hal ini sama sekali bukan bermaksud demikian. Dan barang siapa yang membaca al-Qur’an di masjid, yakni dengan bertadarus bersama dalam sebuah majelis, dimana satu membaca dan yang lain menyimak. Maka Allah Swt akan menurunkan rahmat-Nya kepada mereka dan menurunkan ketenangan di hati mereka.
Tsabit al-Banni pernah berkata: “Sesungguhnya aku tahu kapan Allah Swt akan mengingat-ku”. Orang-orang pun merasa terkejut dengan ucapan Tsabit tersebut, lalu mereka bertanya: “Bagaimana engkau bisa tahu akan hal itu?”. Ia menjawab: “Apabila aku mengingat-Nya, Dia akan mengingat-ku”.
Dengan dzikir gelap menjadi terang, yang berliku menjadi lurus, dan dengannya berbagai persoalan dan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh aktifitas fisik, dapat diselesaikan dengan dzikir. Dengan dzikir Allah Swt akan memberikan yang lebih baik dari apa yang diminta oleh hambanya yang berdzikir dan memohon sesuatu. Begitu besar manfaat dari dzikir kepada Allah Swt, sehingga Rasulallah Saw pernah bersabda; “Perbanyaklah dzikir kepada Allah Swt, sehingga orang-orang mengatakan kamu gila”.
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dari Abu Darda’ r.a., berkata: Rasulallah Saw bersabda: “Tidakkah engkau semua suka kalau saya beritahukan kepadamu semua akan sebaik-baik amalanmu, juga seindah-indahnya amalanmu bagi Tuhan Yang Maha Merajaimu, serta yang tertinggi dalam derajat-derajatmu, bahkan lebih baik untukmu dari-pada menafkahkan emas dan perak, juga lebih baik untukmu daripada engkau bertemu dengan musuhmu lalu engkau tebas leher-leher mereka dan merekapun menebas lehermu?” Para sahabat berkata: “Baiklah Ya Rasulallah Saw. Kemudian Beliau Saw bersabda: “Yaitu berzikir kepada Allah Swt”.
Ketika seseorang selalu ingat kepada Allah Swt dan percaya bahwa segala apa yang dikerjakannya tidak pernah lepas dari pengawasan-Nya. Maka hal ini akan berakibat pada sikap dan perbuatan yang akan dilakukan oleh orang itu sendiri. Dimana ketika berniat untuk melakukan maksiat, kita malu dan takut kalau-kalau setelah melakukan maksiat Allah Swt mengambil nyawanya. Sehingga dengan kita selalu ingat kepada Allah Swt, segala perbuatan maksiat kepada-Nya akan dapat diminimalisir, bahkan dengan petunjuk-Nya kita akan mampu menghindari segala perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah Swt.
Sebagaimana kita ketahui bahwa, al-Qur’an adalah kalamullah yang mulia dan suci. Membacanya adalah sebuah ibadah, dimana setiap hurufnya sama dengan 1 kali kebaikan yang mana akan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat kebaikan. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa; Abu Umamah r.a. berkata : “Rasulallah Saw telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari al-Qur’an, setelah itu Rasulallah Saw memberitahu tentang kelebihan al-Qur’an”.
Rasulallah Saw bersabda: Belajarlah kamu akan al-Qur’an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya. Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, “Kenalkah kamu kepadaku?” Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : “Siapakah kamu?” Maka berkata al-Qur’an : “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari”.
Kemudian berkata orang yang pernah membaca al-Qur’an itu : “Adakah kamu al-Qur’an?”. Lalu al-Qur’an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah Swt. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Dan pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya: “Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?” Lalu dijawab : “Kamu diberi ini semua ini, karena anak kamu telah mempelajari al-Qur’an”. Bagaimana kalau sekiranya kita mampu mengamalkannya sebagai dzikir setiap hari?.
Adapun perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an, Rasulallah Saw bersabda: Perumpamaan orang mu’min yang suka membaca al-Qur’an ialah seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanya pun enak dan perumpamaan orang mu’min yang tidak suka membaca al-Qur’an ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Qur’an ialah seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Qur’an ialah seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit.
Dalam al-Qur’an ada beberapa ayat dan surat yang secara khusus mempunyai keutamaan-keutamaan bagi yang membacanya. Bahkan hal ini sangat dianjurakan bagi siapa saja yang menyakini akan kandungan yang ada didalamnya, yakni;
1. Pertama; surat al-Fatihah, ini adalah seagung-agung surat dalam al-Qur’an, disebut juga Assab’ul Matsani. Dan itulah al-Qur’an yang diberikan kepada Rasulallah Muhammad Saw.
2. Kedua; surat al-Baqarah, baik keseluruhan ayat-ayatnya atau pun sebagian ayatnya, yakni; ayat 1-6, ayat 255 atau yang biasa disebut ayat kursy, dan dua ayat terakhir yaitu ayat 285-286. Adapun surat al-Baqarah dan surat al-Imran, keduanya merupakan hujjah keselamatan nanti di hari kiamat.
3. Ketiga; surat al-Kahfi, as-Sajdah, ar-Rahman, al-Waqi’ah, al-Mulk, al-Zalzalah, al-Kafirun, al-Nasr dan tiga surat terakhir al-Qur’an dalam Mushaf Usmani, yakni; surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas.
Ini semua adalah anjuran yang disampaiakan Rasulallah Saw kepada sahabat-sahabatnya dan bukan berarti ayat dan surat yang lain tidak dibaca dan diamalkan. Hal ini sama sekali bukan bermaksud demikian. Dan barang siapa yang membaca al-Qur’an di masjid, yakni dengan bertadarus bersama dalam sebuah majelis, dimana satu membaca dan yang lain menyimak. Maka Allah Swt akan menurunkan rahmat-Nya kepada mereka dan menurunkan ketenangan di hati mereka.
Tsabit al-Banni pernah berkata: “Sesungguhnya aku tahu kapan Allah Swt akan mengingat-ku”. Orang-orang pun merasa terkejut dengan ucapan Tsabit tersebut, lalu mereka bertanya: “Bagaimana engkau bisa tahu akan hal itu?”. Ia menjawab: “Apabila aku mengingat-Nya, Dia akan mengingat-ku”.
Dengan dzikir gelap menjadi terang, yang berliku menjadi lurus, dan dengannya berbagai persoalan dan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh aktifitas fisik, dapat diselesaikan dengan dzikir. Dengan dzikir Allah Swt akan memberikan yang lebih baik dari apa yang diminta oleh hambanya yang berdzikir dan memohon sesuatu. Begitu besar manfaat dari dzikir kepada Allah Swt, sehingga Rasulallah Saw pernah bersabda; “Perbanyaklah dzikir kepada Allah Swt, sehingga orang-orang mengatakan kamu gila”.
Langganan:
Postingan (Atom)