Selasa, 13 Agustus 2013

Allah Memberi Rizki dari Jalan yang Tak Disangka-Sangka



Allah Memberi Rizki dari Jalan yang Tak Disangka-Sangka

Sebagian besar manusia, baik yang beriman maupun yang tidak, meyakini bahwa rizki itu di tangan Allah, Dialah yang mengatur, Dialah yang memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dialah pula yang menahan rizki itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Namun, untuk mendapatkan rizki tersebut memerlukan beberapa sebab, baik yang bisa dijangkau maupun yang di luar batas kemampuan akal. Berikut ini, sebagian kunci-kunci rizki yang dipaparkan oleh Syaikh Dr. Fadhl Ilahi dalam bukunya “Mafaatiihu ar-Rizqi Fii Dhau-i al-Kitab wa as-Sunnah.” Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan, amien. Dan berikut ini adalah  ringkasannya.
Istighfar dan Taubat
Beliau mengatakan, “Di antara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampun) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan).” Allah menyebutkan tentang Nuh yang berkata kepada kaumnya, “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’” (QS. Nuh: 10-12)
Imam al-Qurthubi mengatakan, “Dalam ayat ini, juga dalam surat Hud (ayat: 3-ed) adalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkannya rizki dan hujan” (Tafsir al-Qurthubi, 18/302).
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, maknanya, “Jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya dan senantiasa menaati-Nya niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, melimpahkan air susu perahan, membanyakkan harta dan anak-anak, menjadikan kebun-kebun dengan bermacam-macam buah-buahan serta mengalirkan sungai di antara kebun-kebun untuk kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/449)
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,
مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan baginya pada setiap kesedihannya jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
Takwa

Definisi Takwa

Definisi kata takwa dapat dilihat dari percakapan antara sahabat Umar bun Khattab dan Ubay bin Ka'ab.
Suatu ketika sahabat Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka'ab apakah takwa itu.

Ubay menjawab,"Pernahkah kamu melalui jalan berduri?"
Umar menjawab,"Pernah."
Ubay menyambung,"Lalu apa yang kamu lakukan?"
Umar menjawab,"Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan."

Maka Ubay berkata,
"Maka demikian pulalah takwa."

Sedangkan menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya, Fi Zhilal al-Qur'an, Takwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati0hati terhadap semua duri atau halangan dalam kehidupan.

Sedangkan perintah takwa kapan saja terdapat dalam surat Ali Imron 102,
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."

Jadi dimanapun dan kapanpun kita harus menjaga ketkwaan kita.
Takwa dimana saja memang sulit untuk dilakukan dan dibutuhkan usaha eksra keras.

Untuk menjaga ketkwaan kita dimanapun saja, maka perlunya kita menyadari akan pengawasan Allah SWT baik secara langsung maupun melalui malaikatNya.
Takwa menurut Imam Nawawi adalah, ‘menaati Allah dalam hal perintah dan larangan-Nya, maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah.
Beliau mengatakan, “Termasuk sebab turunnya rizki adalah takwa.” Di antara nash yang menunjukkan bahwa takwa termasuk di antara sebab turunnya rizki adalah, firman Allah, yang artinya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 2-3)
Dalam Ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan takwa akan dibalas dengan dua hal. Pertama, “Allah akan mengadakan jalan keluar baginya. Artinya, Allah akan menyelamatkannya- sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas- dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat (Tafsir al-Qurthubi, 18/159). Kedua, Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Artinya, Allah akan memberinya rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan (Zaadul Masir, 8/291-292)
Bertawakkal Kepada Allah
Tawakal menurut Imam al-Ghazali adalah, ‘Penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ‘ditawakkali’) semata.’
Beliau mengatakan, “Termasuk di antara sebab diturunkannya rizki adalah bertawakkal kepada Allah.” Rasulullah bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, di dalam al-Musnad, no. 205)
Beribadah kepada Allah sepenuhnya
Beliau mengatakan, “Di antara kunci-kunci rizki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya.” Yakni, hendaklah seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Esa, menghadirkan (dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasakan kedekatan ketika sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni, beribadah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, “Hendaklah, kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim). Rasulullah bersabda, “Tuhan kalian berfirman, ‘Wahai anak Adam, beribadahlah kepada-Ku sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam!, jangan jauhi Aku sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan.”(HR. al-Hakim di dalam al-Mustadrak ‘alash Shahihain, Syaikh Albani menshahihkannya dalam Silsilatul Ahadits ash-Shahihah)
Silaturrahim
Beliau mengatakan, “Di antara pintu-pintu rizki adalah silaturrahim.” Rasulullah bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim.” (HR. al-Bukhari, no.5985)
Berinfak di Jalan Allah
Beliau mengatakan, “Di antara kunci-kunci rizki lain adalah berinfak di jalan Allah.”
Allah berfirman, artinya, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)
Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, “Wahai anak adam, berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu.”(HR. Muslim)
Memberi Nafkah Kepada Orang yang Sepenuhnya Menuntut Ilmu Syari’at (Agama)
Beliau mengatakan, “Termasuk kunci-kunci rizki adalah memberi nafkah kepada orang yang sepenuhnya menuntut ilmu syari’at (agama).” Anas bin Malik mengatakan, “Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah. Salah seorang darinya mendatangi Nabi (yakni: untuk mencari ilmu dan pengetahuan-ed) dan (saudaranya) yang lain bekerja. Lalu, saudaranya yang bekerja itu mengadu kepada Nabi maka beliau bersabda, “Mudah-mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia.” (HR. at-Tirmidzi, no.2448)
Berbuat Baik Kepada Orang-Orang Lemah
Beliau mengatakan, “Termasuk di antara kunci-kunci rizki adalah berbuat baik kepada orang-orang miskin.” Rasulullah bersabda, “Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki lantaran orang-orang lemah di antara kalian?” (HR. al-Bukhari, no.108)
Hijrah di Jalan Allah
Allah berfirman, artinya, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak.” (QS. an-Nisa: 100)
Saudaraku…Demikian paparan Syaikh Dr. Fadhl Ilahi dalam bukunya “Mafaatiihu ar-Rizqi Fii Dhau-I al-Kitab wa as-Sunnah.” Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita dalam mencari karunianya dengan meniti jalan yang telah ditunjukkan oleh Allah dan yang telah diterangkan oleh nabi-Nya yang mulia Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Muhammad, keluarga, dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Amien.

Sumber: “Mafaatiihu ar-Rizqi Fii Dhau-I al-Kitab wa as-Sunnah” , edisi Indonesia “Kunci-Kunci Rizki Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah”, Dr. Fadl Ilahi, Darul Haq, Jakarta

KEUTAMAAN SILATURAHIM DAN ANCAMAN MENINGGALKANNYA



KEUTAMAAN SILATURAHIM DAN ANCAMAN MENINGGALKANNYA
Manusia adalah mahluk sosial; yang selalu membutuhkan perhatian, teman dan kasih sayang dari sesamanya. Setiap diri terikat dengan berbagai bentuk ikatan dan hubungan, diantaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi dan hubungan kemanusiaan lainnya. Maka demi mencapai kebutuhan tersebut adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesamanya. Islam sangat memahami hal tersebut, oleh sebab itu silaturahmi harus dilaksanakan dengan baik.
Sesungguhnya silaturahim merupakan amal shalih yang penuh berkah, dan memberikan kepada pelakunya kebaikan di dunia dan akhirat, menjadikannya diberkahi di manapun ia berada, Allah swt memberikan berkah kepadanya di setiap kondisi dan perbuatannya, baik yang segera maupun yang tertunda. Keutamaannya sangat banyak, profitnya melimpah, buahnya matang, pohon-pohonnya baik yang memberikan makanannya di setiap waktu dengan izin Rabb-nya
Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini.

Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum muslimin bersilaturahmi. Bukankah silaturahmi merupakan satu kebutuhan yang dituntut fitrah manusia?
Sesungguhnya sempurnalah dengannya keakraban, tersebar kasih sayang dengan perantaraannya, dan merata rasa cinta. Ia adalah bukti kemuliaan, tanda muru`ah, mengusahakan bagi seseorang kemuliaan, pengaruh, dan wibawa. Karena alasan itulah berlomba-lomba padanya orang-orang mulia yang berakal, maka mereka menyambung (tali silaturrahim) kepada orang yang memutuskan dan memberi kepada orang yang tidak mau memberi, serta bersifat santun kepada yang bodoh. Tidaklah nampak muru`ah kecuali ada padanya tali kekeluargaan yang disambung kembali, kebaikan yang diberikan, kesalahan yang dimaafkan, dan uzur yang diterima.
Silaturahim termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh Islam. Diperingatkan untuk tidak memutuskannya. Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam sembilan belas ayat di kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya : “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad :22-23).
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An Nisaa’:1).

Silaturahim merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya, apa bila kita melaksanakan perintah tersebut disamping kita mendapatkan pahala juga akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang sangat banyak sekali, diantara keutamaan tersebut adalah :
1. Silaturahim merupakan sebagian dari konsekuensi iman dan tanda-tandanya
Dari Abu Hurairah ra oa berkata, Rasulullah saw bersabda : "Barang siapa yang beriman kepada Allah I dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah I dan hari akhir maha hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim". (HR Bukhori dan Muslim)
2. Silaturahmi adalah penyebab bertambah umur dan luas rizqi
Dari Abu Hurairah t ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi" (HR Bukhori dan Muslim)
3. Silaturahim menyebabkan adanya hubungan Allah swt bagi orang yang  menyambungnya
"Sesungguhnya Allah swt menciptakan makhluk, hingga apabila Dia swt selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan.' Dia swt berfirman: 'Benar, apakah engkau ridha bahwa Aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau? Ia menjawab, 'Bahkan.' Dia I berfirman, 'Itulah untukmu.'
4. Akan selalu berhubungan dengan Allah swt.
Dari Aisyah ra berkata, Rosulullah saw bersabda, "Silaturahim itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: "Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya" (HR. Bukhari dan Muslim).
5. Silaturahim merupakan salah satu penyebab utama masuk surga dan jauh dari neraka
Dari Abu Ayyub al-Anshari ra, sesungguhnya seorang laki-laki berkata: Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka. Maka Nabi saw bersabda : "Engkau menyembah Allah swt dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahim" (HR Bukhari dan Muslim)
6. Silaturahim merupakan ketaatan kepada Allah swt dan ibadah besar, serta petunjuk takutnya hamba kepada Rabb-Nya, sehingga ia menyambung tali silaturahim tatkala Allah swt menyuruh untuk disambung
Firman Allah swt : "Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk" (QS. Ar-Ra'd :21)
7. Silaturahim merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.
Dari seorang laki-laki dari Khos’amm berkata : saya mendatangi Rasulullah sawsedangkan beliau sedang bersama salah seorang sahabatnya, aku berkata : kamu mengaku bahwa engkau adalah Rasulullah? Rasulullah saw menjawab : “iya”, aku bertanya : amalan apa yang paling dicintai Allah swt. Beliau menjawab ; “Beriman kepada Allah swt ”, aku bertnya lagi, kemudian apa lagi ? beliau menjawab : “kemudian menyambung silaturahim”. (HR Abu Ya’la dengan sanan Jayyid)
8. Sesungguhnya ganjaran silaturahim lebih besar dari pada memerdekakan budak
dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiyallahu 'anha, bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi saw sebelumnya, maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya: "Apakah sudah engkau lakukan?" Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: "Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu." (HR Bukhori dan Muslim)
9. Di antara besarnya ganjaran silaturahim, sesungguhnya sedekah terhadap keluarga sendiri tidak seperti sedekah terhadap orang lain
Dari Salman bin 'Amir ra, dari Nabi saw beliau bersabda: "Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala: sedekah dan silaturahmi." (HR Tirmidzi)
demikian pula dengan hadits Zainab ats-Tsaqafiyah, istri Abdullah bin Mas'ud ra, ketika ia pergi dan bertanya kepada Nabi saw: Apakah boleh dia bersedekah kepada suaminya dan anak-anak yatim yang ada dalam asuhannya? Maka Nabi saw bersabda: "Untuknya dua pahala, pahala kekeluargaan dan pahala sedekah." (HR Bukhari dan Muslim)
Dan sebaliknya apabila meninggalkan silaturahmi maka akan mendapatkan ancaman dan akibat yang diperoleh. Diantara ancaman memutuskan silaturahim adalah :
1. Tidak akan diterima amalnya
Dari Abu Hurairah ra berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda “ “sesungguhnya perbuatan anak cucu adam diperlihatkan pada setiap kamis malam jumat, maka tidak akan diterima amalnya orang yang memutus tali silaturahim”. (HR Ahmad)
2. Akan terputus hubungannya dengan Allah swt.
Rosulullah saw bersabda, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya" HR. Bukhari, dan Muslim.
3. Tidak termasuk golongan yang beriman kepada Allah swt dan hari akherat. 
Karena salah satu tanda keimanan seseorang adalah senantiasa meghubungkan silaturahim.
4. Akan dilaknat oleh Allah dan dimasukan kedalam neraka jahanam.
Allah swt berfirman : “ orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan Mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang Itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam) (QS Ar’Rad : 25)
“ Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? mereka Itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”(QS Muhammad 22-23)
5. Tidak masuk surga
Dari Jubair bin Mut?im ra sesungguhnya Rosulullah saw bersabda, " Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan.". Sufyan berkata : “yaitu yang memutus hubungan tali silaturahim” (HR. Bukhari dan Muslim)
Itulah beberapa keutamaan bagi orang yang melakukan silaturahmi dan ancaman bagi orang yang meninggalkannya.
Referensi:
1. Shilatu ar-rahim fadhluha walhatstsu ‘alaiha karya Syaikh Khalid bin Husain bin Abdurrahman
2. Shilatu al-arham wattahdzir min qati’atiha fatawa hukmu mawaidh oleh al-qism al-ilm bimadar al-wathan

Rabu, 07 Agustus 2013

Makna Idul Fitri

 Makna Idul Fitri

Bagi muslim yang diterima puasanya karena mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan, maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, dimana hari ini Allah Swt akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para nabi dan orang-orang shaleh, yaitu ridha dan magfirahNya, sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya. Allah Swt juga pernah berjanji, tak satupun kaum muslimin yang berdoa pada hari raya Idul Fitri, kecuali akan dikabulkan.
Pertanyaannya, kira-kira puasa kita diterima apa tidak? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti yang pernah disinyalir Nabi Muhamad Saw? Jawabnya, Allahu ‘alam, kita tak tahu sejatinya. Tapi menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil dalam menjalankan ibadah puasa: ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat. Ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan. Ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana. Artinya penghayatan mendalam atas Ramadhan akan membawa efek fantastik, individu, maupun sosial.
Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya? Itulah rahasia kenapa selamat hari raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan Minal ‘Âidîn wal Faizîn (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat). Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga bak pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).
Makna Idul Fitri
Sejak Idul Fitri resmi jadi hari raya nasional umat Islam, tepatnya pada tahun II H. kita disunahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan syukur atas kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Ramadhan. Tapi Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan kita selama ini.
Syeikh Abdul Qadir al-Jailany dalam al-Gunyah-nya berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah Swt. Momen mengasah kepekaan sosial kita. Ada pemandangan paradoks, betapa disaat kita berbahagia ini, saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak menangis menahan lapar. Bersyukurlah kita! Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 H. Mohon maaf lahir dan bathin.

Muhammadiyah Tidak Hadir dalam Sidang Isbat

Muhammadiyah Tidak Hadir dalam Sidang Isbat

islampos_din_syamsuddin
KETUA Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin memastikan bahwa Muhammadiyah tidak akan mengirim utusan untuk menghadiri siding Itsbat yang direncanakan akan dilaksanakan sore ini, Rabu (7/8/2013). Hal tersebut menurutnya dikarenakan Sidang Isbat  lebih syarat politis dibanding bermusyawarah mencari titik temu.
Hal tersebut disampaikan Din Syamsuddin seusai menerima rombongan dari Dewan Pengurus Pusat Partai Golkar yang dipimpin Oleh Abu Rizal Bakrie di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Menteng Raya No.62, Jakarta Pusat, Selasa (06/08/2013).
Din menilai, sejak Kementerian Agama dipimpin oleh Suryadharma Ali, sidang isbat menjadi sangat politis karena Menteri Agama RI saat ini memang dijabat dari kalangan Partai Politik.
Alasan lain menurut Din Syamsuddin, adalah perbedaan metode yang dipakai pemerintah yang tidak mungkin mengakomodasi metode lain yang berbeda dengan pemerintah.
“Kami berpendapat karena pendekatannya (Pemerintah) harus melihat posisi Hilal atau bulan. Artinya, yang kami sampaikan (etode Muhammadiyah) pasti tidak dilihat pendapatnya. Kami datang jadi hanya sebagai pemanis saja,” tegasnya.
Sebelumnya ketua PP Muhammdiyah Haedar Nashir Menanggapi undangan Kementerian Agama RI untuk diskusi dan sarasehan mengenai penetapan Ramadhan dan Syawal mengatakan, perlunya waktu yang lebih baik agar lebih leluasa dan bukan malah seperti mengejar setoran.
“Jika mau membahas dan mencari titik temu atas perbedaan penetapan Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, lebih baik lakukan di waktu dan forum lain yang lebih leluasa, jangan seperti ingin ngejar setoran,” tegasnya.

MARI BERUPAYA MENTADABURI AL-QURAN

Mentadaburi Al-Quran


Allah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk kepada jalan kebenaran, cahaya yang menerangi kegelapan, pelita yang membimbing di tengah perjalanan menuju akherat, kurikulum kehidupan, nasehat yang penuh manfaat, semakin dikaji semakin bertambah keimanan, semakin mendalam keilmuan, maka semakin memperkuat motivasi untuk beramal. Di dalamnya terdapat makna-makna yang lebih segar dan lebih nikmat dari air dingin bagi orang yang kehausan, lebih lembut dari hembusan angin di taman bunga, lebih terang dari sinar mentari yang menyinari alam.


Begitulah diantara ungkapan para ulama tafsir yang mengkaji ayat-ayat Al-Quran, mereka semua ketemu kepada satu kesimpulan bahwa Al-Quran adalah kitab yang selalu baru ayat-ayatnya walau dibaca berulang-ulang, tidak akan pernah bosan mengkajinya, ia akan selalu menghadirkan suatu yang baru berupa iman, ilmu dan kefahaman, karena ia adalah mu’jizat dari sisi Alllah, kitab yang mengandung keberkahan, kemudian kita diperintahkan untuk mentadaburinya. Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ص : 29
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shaad: 29)

Imam As-Sa’di dalam tafsirnya Taisir Karimir Rohman beliau menjelaskan, “bahwa makna ‘Mubarokun’ ialah di dalam Al-Quran terdapat keberkahan yang banyak, ilmu yang melimpah, hikmah diturunkan Al-Quran ini adalah untuk mentadaburinya, karena dengan mentadaburi dan mentafakurinya secara berulang-ulang akan mendapatkan keberkahan dan kebaikan yang banyak.” 

Imam Qusyairi dalam tafsirnya mengatakan: "Mubarokun adalah Al-Quran, yang berarti besar manfaatnya, selalu kekal dan tidak tergantikan dengan kitab yang lain, kemudian dijelaskan bahwa keberkahan itu ada dalam mentadaburi dan mentafakuri makna-maknanya.”

Lalu yang menjadi pertanyaan kita bersama adalah: mengapa keberkahan, ketenangan, kebahagiaan, keindahan akhlak, kemuliaan, kemenangan, itu belum dapat dirasakan oleh sebagian besar umat islam, padahal Al-Quran ada di tengah-tengah mereka, sedangkan Al-Quran yang ada saat ini seperti halnya juga Al-Quran yang diturunkan kepada Rosulullah ketika itu dan dipelajari oleh para sahabat. Kemudian mereka menjadi teladan dalam keimanan mereka, dalam ibadah mereka, dalam akhlak mereka, dalam kehidupan mereka secara nyata, walaupun saat itu dengan keterbatasan yang ada, zaman yang tidak memiliki kecanggihan seperti  saat ini?.

Bukan Al-Qurannya yang salah, namun pengambilan Al-Quran itu yang berbeda, rasa kebutuhan yang kurang terhadap Al-Quran, keingianan untuk menjadikan Al-Quran sebagai satu-satunya pedoman yang membimbing kepada kehidupan yang benar itu masih belum banyak disadari, bahkan sebagian orang menganggap Al-Quran tidak penting dan tidak relevan dengan zaman sekarang bahkan berpaling darinya, lebih suka produk-produk pemikiran yang sangat tidak sejalan dengan Al-Quran.

Ketika Allah mengatakan pada ayat:
 لَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ  الأنبياء: 10 
 Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (QS. Al-Anbiya: 10)

Imam Al-Qurthubi mengatakan dalam tafsirnya Al-Jami’ li ahkamil Quran, “pendapat yang paling kuat dari ayat ini adalah seperti ayat:  وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ

“Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu.”. (Az-Zukhruf: 44)
 “yaitu ia merupakan kemuliaan bagi siapa yang mengamalkannya baik dari orang quraisy ataupun buhkan orang quraisy. “
Tenyata di sinilah kuncinya, kemuliaan itu ada pada pengamalan isi Al-Quran.
Al-Quranul karim mempunyai pengaruh yang agung dalam proses perbaikan diri dan mensucikannya. Rosulullah memiliki perhatian yang besar dalam membina sahabat-sahabatnya. Sahabat Rosulullah, Jundub bin Abdullah ra mengatakan:
 قاله جندب بن عبدالله -رضي الله عنه- قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فتيان حزاورة فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن، ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيماناً
“Kami bersama Rosulullah saat kami masih belia, kami mempelajari keimanan sebelum mempelajari Al-Quran, kemudian kami mepelajari Al-Quran maka bertambahlah keimanan kami." 
Begitulah Al-Quran, bahwa ia memang bersumber dari yang Maha Kuasa, berapa banyak kisah-kisah, novel-novel, yang mungkin membuat kita terpesona dengan kisah-kisahnya, bahkan berderai air mata, haru, tersenyum, puas, namun banyak yang tak berminat lagi untuk membacanya ulang  dua sampai tiga kali bahkan sampai 10 kali. Adapun Al-Quran, semakin dibaca semakin nikmat, semakin diulangi semakin bertambah kelezatannya, bahkan tak pernah bosan walau dibaca lebih dari 17 kali sehari. 

Imam Ibnul Qayyim mengatakan: “Kalau sekiranya orang-orang mengetahui apa-apa yang di dalam Al-Quran mereka akan sibuk dengannya dari pada urusan lainnya.  Apabila engkau baca dengan tafakur, kemudian engkau temui ayat yang mengobati hatimu engkau akan ulang-ulangi ayat itu walaupun sampai seratus kali, walaupun sepanjang malam. Membaca ayat dengan tafakur lebih baik dari menghatamkannya tanpa tadabur dan pemahaman, dan lebih memberi manfaat bagi hati, menghantarkan kepada keimanan dan merasakan manisnya Al-Quran.” (Kitab Miftah Darus Sa’dah 1/553-554) 

Begitulah para salafusholih dalam mentadaburi Al-Quran. Suatu malam Rosulullah saw sholat dan mengulangi-ulangi ayat yang sama إن تعذبهم فإنهم عبادك و إن تغفرلهم فإنك أنت العزيز الحكيم sampai shubuh menjelang.” 

Begitulah juga kisah Imam Abu Hanifah yang diceritakan oleh Yazid bin Al-Kimyat, ia berkata: “Abu Hanifah adalah seorang yang sangat  takut kepada Allah SWT, suatu  malam  Ali bin  Al-Husain membaca Surat Al-Zilzalah (Idza Dzul zilatil ardhu zil zalaha)  ketika sholat isya, dan Abu Hanifah berada di belakangnya. Ketika selesai sholat, orang-orang keluar dari masjid dan aku melihat kepada Abu Hanifah sedang duduk, berdzikir kemudian ia sholat dan  mengulangi  membaca surat Al-Zilzalah. Aku  memutuskan  untuk pergi  meninggalkannya  sehingga beliau tidak terganggu  dengan keberadaanku. Lalu aku keluar dari masjid. Ketika aku keluar, aku tinggalkan sebuah lampu yang minyaknya  tinggal sedikit. Ketika  aku tiba kembali saat fajar,  lalu aku mengumandangkan azan dan menyalakan lampu. Ketika itu aku melihat  Abu Hanifah masih berdiri  sambil membaca surat  Al-Zilzalah berulang-ulang. Ketika melihatku ia bertanya, “Apakah engkau akan mengambil lampu?” lalu ku jawab: “Aku telah mengumandangkan azan shubuh.” Kemudian ia berkata: “Sembunyikan apa yang engkau lihat dariku”.  Lalu ia sholat dua rakaat, kemudian duduk menunggu iqomat, dan sholat shubuh bersama  kami masih dengan wudhu tatkala  ia sholat isya malam  sebelumnya. 

Maka ‘tidak mengkaji dan mentadaburi Al-Quran’ merupakan salah satu tanda bahwa ada pintu yang terkunci rapat sehingga menutupi hati ini. Tutup itu harus dibuka, dan kuncinya adalah mentadaburi Al-Quran, agar cahaya iman masuk ke dalamnya. Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا 24
 “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24) 

Syeikh Muhammad Sayyid Thotowi dalam tafsir Al-Wasith mengomentari ayat ini dengan mengatakan: “ayat ini adalah pengingkaran kepada orang-orang munafik yang mereka berpaling dari Al-Quran, bahkah mereka tidak mau mentadaburinya, walaupun di dalamnya penuh dengan pelajaran, perintah dan larangan, karena di hati mereka ada tutup yang menghalangi antara mereka dan tadabur. ‘Al-Aqfalun’ bentuk jama’ dari Quflun, yaitu berupa alat untuk mengunci pintu atau sejenisnya, maksud ayat ini adalah penjelasan bahwa hati mereka tertutup dan terkunci rapat, tidak masuk keimanan ke dalamnya dan tidak keluar darinya kemunafikan dan kekufuran.” 

Begitu juga penjelasan ayat diatas dalam tafsir Al-Kasyaf, “bahwa maksud hati di sini ada dua, pertama hati yang keras, dan kedua hati sebagian orang munafik, adapun kunci di sini  adalah kekufuran yang mengunci rapat hati mereka.”

Imam Sayyid Thontowi melanjutkan, “bahwa para ulama mengatakan ayat di atas menunjukkan wajib hukumnya mentadaburi dan mentafakuri ayat-ayat Al-Quran, kemudian mengamalkan apa yang di dalamnya, dari petunjuk, perintah dan larangan, adab dan hukum-hukumnya, karena tidak mentadaburinya akan menyebabkan kepada kekerasan hati serta kesesatan jiwa, sebagimana keadaan orang-orang munafik.” 

Hal senada diungkapkan oleh Ustadz Sayyid Qutb dalam tafsirnya, ketika mengomentari ayat ini beliau mengatakan:  “Tadabur Al-Quran menghilangkan penutup hati, membuka jendelanya, memperoleh cahaya, menggerakan perasaan (indera), menguatkan hati, mengikhlaskan nurani (batin), menumbuhkan kehidupan di dalam jiwa, berkilau dengannya, kemudian terbit dan menyinari.” 

Bahkan Syeikh Syinqithi dalam tafsir beliau Adhwa’ul Bayan, ketika menjelas ayat di atas beliau dengan agak keras mengatakan bahwa, “Allah mencela orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Allah sebagaimana dijelaskan dalam firmannya:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَى فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا  الكهف : 57

“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (Al-Kahfi: 57) 

Maka kata beliau melanjutkan, “ayat di atas menunjukkan bahwa mentadaburi Al-Quran, memahaminya dan mempelajarinya adalah suatu keharusan bagi kaum muslimin. Siapa saja yang tidak disibukkan dengan mentadaburi ayat-ayat Allah, atau memahaminya, mempelajari makna-maknanya kemudian mengamalkannya, maka ia termasuk ‘mu’ridh’ atau orang yang berpaling, dan termasuk orang yang dicela dalam ayat di atas jika Allah telah memberinya kefahaman untuk dapat mentadaburinya.” 

Rosulullah pernah mengadu kepada Allah bahwa kaumnya telah meninggalkan Al-Quran, sebagaimana firman-Nya:
وَقَالَ الرسول يارب إِنَّ قَوْمِي اتخذوا هذا القرآن مَهْجُوراً

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan." (QS.  Al-Furqan : 30)

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan ayat ini dalam kitab Al-Fawaid: “Tidak mengacuhkan Al-Quran memiliki beberapa macam pengertian: Pertama, tidak mendengarkan dan mengimaninya. Kedua, tidak mengamalkannya, tidak peduli dengan halal dan haramnya, walaupun ia membaca dan mengimaninya. Ketiga, meninggalkannya ialah tidak menjalankan hukum-hukumnya. Keempat, meninggalkannya dengan tidak mentadaburi, memahaminya dan mengetahui maksud dari apa yang disampaikan Allah dalam ayat-ayat-Nya. Kelima, meninggalkan al-Quran dalam arti tidak menjadikan Al-Quran sebagai obat dari penyakit-penyakit hati.”

Apa buah dari mentadaburi Al-Quran? Diantara hasil yang didapat dari mentadaburi Al-Quran antara lain:


Pertama, menghasilkan keyakinan yang semakin mantap di dalam hati, rasa takut dan harap serta merasakan keagungan Allah.

Al-Quran adalah laksana air yang hati sebagai mana air hujan menyirami tumbuhan. Pohon tidak dapat hidup, bahkan ia akan kering dan mati jika tidak disirami oleh air. Begitu juga hati akan mati dan dan keras jika  jika tidak pernah disirami Al-Quran, hilang rasa sensitifnya, halal dan haram sama saja, bahkan menjadi remang, dosa atau tidak dosa sudah tidak dapat lagi dibedakan, bahkan memandang kemaksiatan adalah satu hal yang biasa. Hati yang selalu disirami Al-Quran akan selalu hidup, mempunyai pengaruh, sehingga bergetarlah jiwanya ketika mendengar ayat-ayat Allah. Begitulah ungkapan tadabur yang indah di dalam ayat 21-23 surat Az-Zumar, sebagaimana artinya:

Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.


Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.


Allah telah
menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang yang dapat memberi petunjuk.” (QS. Az-Zumar 21-23).

Kedua, b
ertambahnya keimanan dan merasakan kelapangan hati. 


وإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَاناً فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ  سورة التوبة 9/124

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124)
Orang-orang yang beriman selalu merasa gembira dan lapang hatinya ketika ayat-ayat Allah disampaikan.

Ketiga, kemenangan umat muslimin dengan Al-Quran.


Sebagaimana telah dibuktikan oleh kemenangan umat islam pada masa-masa keemasannya, yang menjadikan Al-Quran sebagai satu-satunya sumber inspirasi yang mereka mempelajarinya tidak lebih dari 10 ayat dan tidak pindah kepada ayat selanjutnya sebelum mereka mengamalkannya.


Seorang pemimpin Prancis mengatakan dalam peringatan 100 tahun penjajahan Al-Jazair: “Sesungguhnya kita tidak akan menang terhadap orang-orang Al-Jazair, selagi mereka membaca Al-Quran dan berbahasa arab, maka wajib bagi kita untuk menghilangkan Al-Quran yang berbahasa arab dari keberadaannya dan mencabut ucapan bahasa arab dari lisan mereka.”


Hal itupun telah mereka perbuat terhadap Turki dan Negara islam lainnya.

Bagaimana mentadaburi Al-Quran? Diantara cara mentadaburi Al-Quran sebagai berikut:

Pertama,
menghadirkan hati dan fikiran. Kemudian bacalah Al-Quran dengan tartil, dengan bacaan terbaik yang kita mampu, karena kekhusyu’an dalam membaca Al-Quran sangat membantu dalam mentadaburi dan memahaminya.
 


Kedua, merasakan keagungan Allah seakan-akan Allah sedang berbicara dengan kita melalui Al-Quran. Imam Ali berkata; “Jika aku ingin Allah berkata-kata denganku maka aku membaca Al-Quran, jika aku ingin berbicara dengan Allah maka aku lakukan sholat.”

Ketiga,
berusaha memahami arti dan maksudnya, sambil menggunakan kitab tafsir dan Al-Quran terjemah, kitab tafsir yang dapat membantu seperti Tafsir Ibnu Katsir, tafsir Fi Zhilalil Quran, dan tafsir Syeikh Sa’di.
 


Keempat, menghubungkan Al-Quran dengan realitas kehidupan yang sedang kita rasakan, kemudian berusaha untuk mengamalkan apa yang dapat difahami dari ayat-ayat tersebut. Sebagaimana para sahabat yang mempelajari Al-Quran dengan satu tujuan, yaitu untuk mengamalkan isinya, bukan untuk menambah wawasan ataupun sekedar menikmati cerita, kisah dan bacaannya. Mereka mempelajari sepuluh ayat, setelah mereka mengamalkannya mereka melanjutkanya pada ayat-ayat selanjutnya.
Wallahu a’lam bishowab.

Wejangan Spiritual Maulana Syaikh Ghauts Hasan

Wejangan Spiritual Maulana Syaikh Ghauts Hasan

(Dikutip dari kitab"Irsyad 'ala Salikin - Bimbingan Bagi Para Penempuh Jalan Ruhani)



A’udzubillahi minasysyaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad wa Ashabihil Akhyaar.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
(Qur’an surah an Nisaa ayat 69)

Secara garis besar, Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa seluruh maqam spiritual yang ada dikelompokkan menjadi empat golongan ; Yang pertama adalah maqam Nubuwwah (Kenabian), mereka adalah para Rasul dan Anbiya Alahimu Shalatu wa Salam yang diutus Allah kepada umat manusia untuk menyampaikan risalah-Nya, tidak ada seorangpun yang dapat mencapai maqam ini setelah Rasulullah Saww, karena beliau adalah Khatamul Anbiya’u wal Mursalin, beliau adalah penutup bagi maqam nubuwwah ; Yang kedua adalah maqam Shiddiqin, mereka adalah orang-orang yang selalu bersama kebenaran, mereka adalah pengikut setia daripada maqam Nubuwwah, merekalah orang-orang yang senantiasa ada pertama kali dalam mengikuti kebenaran, dan melalui merekalah kebenaran akan dikenali ; Yang ketiga adalah maqam Syuhada, mereka adalah orang-orang yang bersaksi akan kebenaran Allah Ta’ala, mereka mengarahkan pandangannya hanya kepada Nya. Tidak ada sesuatu yang mereka harapkan melebihi harapan mereka akan ridha Allah Ta’ala ; Yang keempat adalah maqam Shalihin, mereka adalah orang-orang terbaik dari umat manusia didalam ketaatan kepada Allah. Mereka senantiasa mengikuti petunjuk dan tuntunan dari orang-orang yang terdahulu didalam ketakwaan, mereka inilah yang menjadi permata dari hamba-hamba Allah.

Golongan umat Islam telah keliru menilai bahwa Sayyidina Abu Bakar adalah pemimpin shiddiqin, padahal sayyidina Abu Bakar sendiri berkata,“Aku bukanlah yang terbaik diantara kalian selama ada Ali bin Abi Thalib ditengah-tengah kalian.” Sesungguhnya Imam Ali kw adalah satu-satunya yang menyandang gelar pemimpin shiddiqin, tidak ada seorangpun yang melebihi Imam Ali diantara seluruh umat Rasulullah Muhammad Saww. Tidak ada seorangpun diantara umat Islam ini dapat menyamai atau melebihi derajat Ahlulbait Rasulullah Saww dalam kedudukan disisi-Nya, apalagi melebihi Imam Ali kw sebagai penghulu dari Ahlulbait. Hal ini adalah kebenaran yang tidak dapat dibantah, semua sahabat memiliki keutamaan masing-masing termasuk Sayyidina Abu Bakar, namun tidak ada seorangpunpun yang pantas untuk dibandingkan dengan Ahlulbait, karena Ahlulbait adalah sumber keutamaan. Mengenai hal ini Rasulullah Saww bersabda :

“Orang yang termasuk penghulu shiddiqin ada tiga. Pertama adalah Habib an Najjar, salah seorang keluarga Yasin yang beriman, yang mengatakan,”Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.” Yang kedua adalah Hizqil, salah seorang budak Fir’aun yang beriman yang mengatakan (Kepada Fir’aun), “Apakah engkau akan membunuh seseorang karena dia menyatakan Tuhanku adalah Allah?” Shiddiqin yang ketiga adalah Ali bin Abi Thalib, dia adalah yang terunggul diantara mereka semua.”
(HR. Ibnu Asakir ; Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam kitab “Al Marifah” dari Abu Laila, dengan tingkatan hadits hasan menurut persyaratan Bukhari dan Muslim ; Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ibn an Najjar dari Abdullah bin Abbas)

Rasulullah Saww bersabda :

“Ada tiga orang dari tiga umat yang tidak pernah menyekutukan Allah sekejap matapun. Yaitu Ali bin Abi Thalib, Shahib Yasin, dan orang yang beriman dari kalangan keluarga Fir’aun. Mereka semua adalah para Shiddiqun ; Habib an Najjar “Mu’min” atau Shahib Yasin ; Hizqil yang beriman dari keluarga Fir’aun ; dan Ali bin Abi Thalib. Ali adalah yang paling utama diantara mereka.”
(Muhammad bin Yusuf al Kanji al Qurasyi dalam kitab “Kifayat al Thalib” bab. 24)

Dan karena hadits diataslah Imam Ali bin Abi Thalib kw pernah berkata, “Aku adalah Shiddiq al Akbar, siapapun selain aku tidak berhak mengatakan menyandang maqam ini.”
(HR. Ibnu Najjar dari Abdullah bin Abbas ; Abu Nu’aim dalam kitab “Al Marifah” dari Abu Laila ; Sayyid Ismail bin Mahdi al ghurbani al Hasani dalam kitab “Nafas ar Rahman fi ma li Ahbab Allah min ‘Uluww asy Syan”, Terbitan Mu’assasah Dar al Fikr, Abu Dhabi – Uni Emirat Arab, cetakan ke 4, Ramadhan 1410H / 1990 M)

Maqam shiddiqin adalah maqam yang sangat tinggi, inilah maqam tertinggi dibawah kenabian, sehingga diantara para waliyullah pun hanya sedikit orang yang berhak menyandang derajat ini. Shiddiq artinya benar, maka mereka yang termasuk dalam kelompok shiddiqin adalah orang-orang yang senantiasa benar setiap ucapan, bersitan hati, dan perbuatannya. Mereka tidak pernah berpaling dari kebenaran, dan selalu ada untuk menegakkan kebenaran. Dalam setiap jaman mereka dipimpin oleh “Shiddiq al Akbar”, dan shiddiq al Akbar untuk umat Rasulullah Muhammad Saww adalah Imam Ali kw. Tidak ada seorang waliyullah pun yang mendapatkan maqam kewalian, melainkan mereka memperolehnya karena berkah Imam Ali kw, karena beliaulah pemimpin para waliyullah, dan melalui beliaulah ilmu-ilmu Ilahiyyah mengalir kedalam hati para waliyullah, karena Imam Ali kw adalah “Babul ilmi,” gerbang dari samudera ilmu Rasulullah Saww.

Tidak diragukan lagi bahwa manusia paling agung diantara seluruh sahabat Rasulullah Saww adalah Imam Ali bin Abi Thalib kw. Beliau adalah orang yang tidak pernah menyembah berhala, beliau laki-laki yang paling pertama beriman kepada Allah dan Rasulullah Saww, beliau yang pertama kali melaksanakan shalat bersama Rasulullah Saww, beliau orang yang tidak pernah merasakan khamr, beliaulah satu-satunya orang yang lahir didalam Ka’bah, darah adalah hal yang najis, namun darah Imam Ali kw adalah darah yang suci, sehingga Allah mengijinkan beliau lahir didalam Baitullah. Imam Ali kw adalah orang yang rela mengorbankan nyawanya menggantikan Rasulullah Saww ketika hijrah. Beliau adalah lulusan terbaik dari madrasah Nubuwwah, yang dididik semenjak kecil oleh Rasulullah Saww. Sehingga beliau Saww bersabda tentang Imam Ali kw :

“Kalau keimanan Ali dan keimanan umatku ditimbang, tentu keimanan Ali lebih berat dari keimanan (seluruh) umatku hingga hari kiamat.”
(HR. Ahmad didalam Al Musnad ; Ibnu Maghazali didalam Al Manaqib ; al Khatib al Khawarizmi didalam kitab Al Manaqib ; al Hafidz Sulaiman al Qunduzi al Hanafi didalam kitab Yanabi al Mawaddah)

Diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, bahwa Rasulullah Saww bersabda :

“Kalau tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi diletakkan pada satu piringan timbangan, dan keimanan Ali diletakkan pada piringan timbangan yang lain, tentu keimanan Ali lebih berat.”
(Imam at Tsa’labi didalam kitab tafsirnya ; al Khawarizmi didalam kitab Al Manaqib ; Mir Sayyid Ali al Hamdani didalam Mawaddah al Qurba pada mawaddah ketujuh)

Rasulullah Saww bersabda kepada Imam Ali kw :
“Engkaulah saudaraku, penerima wasiatku, pembantuku, ahli warisku, hakim bagi agamaku, dan penerus kepemimpinan sepeninggalku.”
(HR. Ahmad didalam kitab “Al Musnad” ; Ibnu al Maghazali asy Syafi’i didalam kitab “Al Manaqib” ; at Tsa’labi didalam kitab tafsirnya)

Jabir bin Abdullah al Anshari meriwayatkan bahwa ketika kaum muhajirin dan anshar berkumpul, Rasulullah Saww bersabda kepada Imam Ali ditengah-tengah hadirin :
“Wahai Ali, kalau ada seseorang yang menyembah Allah dengan sungguh-sungguh beribadah, namun kemudian dia ragu-ragu kepadamu dan kepada Ahlulbaitmu karena kalian adalah manusia yang paling utama, maka orang itu berada didalam neraka.” Kemudian sebagian besar orang-orang yang ada di majelis itu mengucapkan istighfar kepada Allah Ta’ala, karena mereka mengira ada orang lain yang lebih utama dari Imam Ali kw.
(Allamah Mir Sayyid Ali al Hamdani didalam Mawaddah al Qurba pada mawaddah ketujuh ; Sayyid Ismail bin Mahdi al ghurbani al Hasani dalam kitab “Nafas ar Rahman fi ma li Ahbab Allah min ‘Uluww asy Syan”, Terbitan Mu’assasah Das al Fikr, Abu Dhabi – Uni Emirat Arab, cetakan ke 4, Ramadhan 1410H / 1990 M)

Rasulullah Saww bersabda :
“Ali adalah manusia yang terbaik, barangsiapa yang menolaknya (Dalam riwayat lain siapa yang meragukannya) maka dia benar-benar kafir.”
(al Muttaqi dalam kitab Kanzul Ummal juz.6, hal.159 dari Imam Ali, Abdullah bin Abbas, Ibnu Mas’ud, dan Jabir bin Abdullah ; Jalaluddin al Suyuthi dalam kitab al Jami ash Shagir juz.2, hal. 20-21 ; Allamah al Kanzi al Syafi’i dalam kitab Kifayat al Thalib bab.62, hal.119 cetakan al Ghur, th.1356H dari Imam Ali, Aisyah, Hudzaifah, Jabir bin Abdullah, dan Atha ; Al Hafizh Ibnu Asakir dalam kitab tarikh juz.50 ; Abu Khatib didalam Tarikh Baghdad)

Para waliyullah memperoleh derajat kewalian karena berkah Imam Ali kw, begitupun para sahabat memperoleh kemuliaan karena mengikuti Imam Ali. Sayyidina Umar bin Khattab mengatakan,“Kalau tidak ada Ali niscaya Umar celaka, kalau tidak ada Ali niscaya Umar binasa.” Sayyidina Umar disebut al Faruq oleh para sahabat lain karena dia mengikuti Imam Ali kw yang merupakan “Al Faruq al Azham” (Pembeda yang agung) mengenai hal ini Rasulullah Saww bersabda :

“Sepeninggalku akan terjadi fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali bin Abi Thalib. Dialah orang yang pertama melihatku, dialah yang pertama menyalamiku pada hari kiamat, dia bersamaku dilangit yang tinggi, dialah al Faruq al Azham yang menjadi pembeda antara kebenaran dengan kebatilan.”
(Al Hafidz Sulaiman al Qunduzi al Hanafi dalam kitab Yanabi al Mawaddah bab.56 yang meriwayatkan dari kitab al Sa’bin fi Fadhail Amir al Mukminin hadits no.12 dari Abu Dzar al Ghiffari ; Allamah al Kanzi al Syafi’i dalam kitab Kifayat al Thalib bab.44 dari Abu Laila al Ghifari dan Abdullah bin Abbas, menurutnya hadits ini hasan ali ; Allamah Mir Sayyid Ali al Hamdani didalam Mawaddah al Qurba pasal 6 dari Abu Laila al Ghifari)

Imam Ali kw adalah salah seorang manusia suci yang dijaga dan dipelihara oleh Allah Ta’ala dengan Firman Nya :

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
(Qur’an surah al Ahzab ayat 33)

“Alhamdulillahiladzii ja’alana minal mutamasikiina bi wilayati Ali”

Segala puji dan syukur kepada Allah yang telah mengelompokkan kita sebagai pengikut Imam Ali bin Abi Thalib kw, beliaulah Syaikh kedua didalam silsilah thariqah Hasan wa Husein yang diberkahi ini. Karena itu sudah sepatutnya kita merasa bangga akan hal ini, kemudian kita semua harus bersungguh-sungguh didalam mengikuti dan meneladani setiap jejak langkah beliau. Karena setiap murid thariqah ini yang bersungguh-sungguh didalam ketaatan dan kecintaan kepada Allah, Rasulullah dan Ahlulbaitnya – Alaihimu Shalatu wa Salam – kelak di yaumil akhir akan berada pada mimbar-mimbar cahaya bersama dengan mereka semua.

Wa minAllahu at taufik, wa salallahu ala Sayyidina Muhammad wa alihi wasallam
Alhamdulillahirabbil alamin.

WEJANGAN DAN KEUTAMAAN IMAM ALI AS

WEJANGAN DAN KEUTAMAAN IMAM ALI AS

Makalah-makalah ini dikutip dari situs Thariqah Hasan wa Husein

Wejangan Tentang Akal

Wejangan Spiritual Imam Ali bin Abi Thalib as.


Kekayaan yang paling besar adalah akal.
Akal (kecerdasan) tampak melalui pergaulan, sedangkan kejahatan seseorang diketahui ketika dia berkuasa.
Akal adalah raja, sedangkan tabiat adalah rakyatnya. Jika akal lemah untuk mengatur tabiat itu, maka akan timbul kecacatan padanya.
Akal lebih diutamakan daripada hawa nafsu karena akal menjadi­kanmu sebagai pemilik zaman, sedangkan hawa nafsu memperbu­dakmu untuk zaman.
Makanan pokok tubuh adalah makanan, sedangkan makanan pokok akal adalah hikmah. Maka, kapan saja hilang salah satu dari kedua­nya makanan pokoknya, binasalah ia dan lenyap.
Duduklah bersama orang-orang bijak, baik mereka itu musuh atau akal bertemu dengan akal.
Tidak ada harta yang lebih berharga daripada akal.
Pertalian yang paling berharga adalah akal yang berpasangan de­ngan kemujuran.
Adab adalah gambaran dari akal.
Jika akal dibiarkan menjadi kendali, tidak tertawan oleh hawa nafsu, atau melampaui batas agama, atau fanatik terhadap nenek moyang, niscaya hal itu akan mengantarkan pelakunya pada keselamatan.
Jika engkau hendak menutup sebuah kitab, maka hendaklah eng­kau teliti kembali kitab itu. Karena sesungguhnya yang kau tutup adalah akalmu.
Jika Allah hendak menghilangkan nikmat dari seorang hamba-Nya, maka yang pertama kali diubah dari hamba-Nya itu adalah akal­nya.
Akal adalah naluri, sedangkan yang mengasuhnya adalah berbagai pengalaman.
Akal adalah buah pikiran clan pengetahuan yang sebelumnya ti­dak diketahui.
Ruh adalah kehidupan badan, sedangkan akal adalah kehidupan ruh.
Akal adalah rekaman terhadap berbagai pengalaman.
Rasulmu adalah juru terjemah akalmu.
Pahamilah kabar jika kalian mendengarnya dengan akal yang pe­nuh dengan pemahaman, bukan akal yang sekadar meriwayatkan. Sesungguhnya periwayat ilmu banyak jumlahnya, sedangkan yang memahaminya sedikit.
Orang yang berakal bersaing dengan orang-orang saleh agar dapat menyusul mereka, clan dia ingin sekali dapat berserikat dengan memka karena kecintaannya terhadap mereka-meskipun amalnya tidak mampu menyamai mereka.
Orang berakal, jika berbicara dengan suatu kalimat, maka ikut ber­samanya hikmah dan nasihat.
Orang yang paling bijak akalnya dan yang paling sempurna keuta­maannya adalah yang mengisi hari-harinya dengan perdamaian, bergaul dengan saudara-saudaranya dengan rekonsiliasi, dan mene­rima kekurangan zaman.
Tidaklah patut bagi orang yang berakal kecuali berada dalam salah satu dari dua kondisi ini, yaitu berada dalam cita-cita yang paling (hubungan individu dengan masyarakat) tinggi untuk mencari dunia, atau berada dalam cita-cita yang pa­ling tinggi untuk meninggalkannya.
Tidaklah layak bagi seorang yang berakal untuk menuntut ketaatan orang lain (terhadapnya), sedangkan ketaatannya terhadap dirinya sendiri ditolak.
Orang yang berakal adalah orang yang mencurigai pendapatnya sendiri dan tidak mempercayai apa yang dipandang baik oleh diri­nya.
Orang yang berakal adalah yang menjadikan pengalaman-peng­alaman (hidup) sebagai nasihat baginya.
Sesungguhnya perkataan orang-orang berakal, jika benar, maka ia adalah obat namun jika salah, maka ia adalah penyakit.
Permusuhan orang-orang pintar adalah permusuhan yang paling berat dan paling berbahaya karena ia hanya terjadi setelah didahului dengan hujah dan peringatan, clan setelah tidak mungkin lagi ada perdamaian di antara keduanya.
Sesungguhnya sesuatu yang tidak disukai (kesialan) memiliki ba­tas yang pasti akan berakhir. Oleh karena itu, seorang yang berakal hendaknya bersikap tenang sampai kesialan itu hilang (berlalu dengan sendirinya). Sebab, menghindar darinya sebelum habis waktu­nya hanya akan menambah kesialannya.
Orang yang paling disukai oleh orang berakal adalah musuhnya juga berakal. Sebab, jika musuhnya itu berakal, maka dia akan me­rasa aman dari kejahatannya.
Celaan orang-orang yang berakal lebih berat daripada hukuman seorang penguasa.
Permulaan pendapat orang berakal adalah akhir pendapat orang bodoh.
Bagi orang yang berakal, hidup dalam kesusahan bersama orang­orang berakal lebih disenangi daripada hidup dalam kelapangan bersama orang-orang bodoh.

Rukun-rukun Islam

Wejangan Spiritual Imam Ali bin Abi Thalib as.

Allah mewajibkan iman untuk menyucikan diri dari kemusyrikan. (Mewajibkan) shalat untuk membersihkan diri dari kesombongan. Zakat sebagai sebab mendatangkan rezeki. Puasa sebagai ujian untuk keikhlasan seorang hamba Allah. Haji sebagai sar-ana pendekatan diri kepada agama. Jihad untuk kemuliaan Islam. Mengajak kepada kebaikan sebagai kemaslahatan untuk orang banyak (masyarakat). Melarang perbuatan mungkar untuk mencegah kejahatan orangorang bodoh. Menyambung silaturahim untuk menambah bilangan penduduk. Qishash untuk mencegah pembunuhan. Pelaksanaan hudud (hukuman) untuk memuliakan hal-hal yang dilarang. Meninggalkan minuman khamar untuk menjaga akal. Menjauhkan diri dari pencurian untuk menjaga kehormatan diri. Meninggalkan zina untuk membentengi nasab. Kesaksian untuk mengalahkan bantahan. Meninggalkan dusta untuk mensyariatkan kebenaran. Perdamaian sebagai keamanan dari ancaman. Menyampaikan amanat sebagai peraturan bagi umat. Ketaatan sebagai pengagungan atas kepemimpinan.
Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian beberapa kewajiban (keagamaan), maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dia telah menentukan kepada kalian hukum, maka janganlah kalian melanggarnya. Melarang atas kalian beberapa perkara, maka janganlah kalian memberanikan diri menceburkan diri ke dalamnya. Dan Dia telah mendiamkan bagi kalian banyak hal, bukan karena lupa, maka janganlah kalian menyusahkan diri kalian dengan membahasnya.
Shalat adalah sarana pedekatan (kepada Allah) bagi setiap orang yang bertakwa, sedangkan haji adalah jihad setiap orang yang lemah. Bagi segala sesuatu ada zakatnya, sedangkan zakat badan adalah puasa. Dan jihad kaum wanita adalah setia kepada suaminya.
Tidak ada pendekatan diri (kepada Allah) dengan melaksanakan ibadah yang sunnah jika hal itu memudaratkan ibadah yang wajib.
Sesungguhnya bagi hati ada saat-saat menerima (giat) dan ada pula saat-saat malas. Maka, ketika ia sedang menerima, bebankanlah padanya ibadah-ibadah yang sunnah. Akan tetapi, ketika ia malas, cukupkanlah padanya ibadah-ibadah yang wajib.

Wejangan Tentang Introspeksi

Wejangan Spiritual Imam Ali bin Abi Thalib as.


Barangsiapa yang mengintrospeksi dirinya, maka dia telah beruntung dan barangsiapa yang lalai akan dirinya, maka dia telah merugi. Barangsiapa yang takut (akan siksa Allah), maka. dia akan aman (dari siksa-Nya). Barangsiapa yang mau mengambil pelajaran, maka dia akan terbuka pandangannya. Barangsiapa yang telah terbuka pandangannya, maka dia akan memahami. Dan barangsiapa yang telah memahami, maka dia akan mengetahui.
Semoga Allah merahmati seorang hamba yang takut kepada Tuhannya, menasihati dirinya, menyegerakan tobatnya, dan mengalahkan hawa nafsunya. Sebab, sesungguhnya ajalnya tersembunyi darinya, angan-angannya menipunya, sedangkan syetan menyertainya (berupaya menyesatkannya).
Sebaik-baik kehidupan adalah yang tidak menguasaimu dan tidak pula mengalihkan perhatianmu (dari mengingat Allah Ta’ala).
Ingatlah kalian akan berakhirnya segala kesenangan dan yang tersisa adalah pertanggungjawaban.
Amal-amal hamba terjadi dalam dunia ini, seimbang dengan perhitungannya kelak di akhirat.
Lihatlah wajahmu setiap waktu di cermin. jika wajahmu itu bagus, anggaplah ia buruk karena engkau menambahkannya dengan perbuatan. yang buruk, yang dengannya engkau telah memberi noda padanya. Dan jika (engkau dapati bahwa) wajahmu itu buruk, anggaplah. ia memang buruk karena engkau telah menggabungkan dua keburukan (buruk rupa dan amal).
Didiklah dirimu dengan apa yang engkau tidak suka pada orang lain.
Ketika seseorang mencela terhadap dirinya sendiri secara terang-terangan adalah diam-diam ia memuji dirinya.
Tidaklah kemaluanmu akan berzina jika engkau memejamkan pandanganmu.
Syetan setiap orang adalah (sepadan dengan keadaan) dirinya sendiri.

Wejangan Tentang Hati

Wejangan Spiritual Imam Ali bin Abi Thalib as.


Yang paling menakjubkan pada diri manusia adalah hatinya, padahal ia merupakan sumber hikmah sekaligus lawan kontranya :
Jika timbul harapan, maka ia ditundukkan ketamakan, ia akan dibinasakan oleh kekikiran.
Jika ia telah dikuasai keputus-asaan, penyesalan akan membunuhnya.
Jika ditimpa kemarahan, menjadi keras kepalalah ia.
Jika sedang puas, ia alpa menjaganya.
Jika dilanda ketakutan, dia disibukkan oleh kehati-hatian.
Jika sedang dalam kelapangan (kaya), bangkitlah kesombonganya.
Jika mendapatkan harta, kekayaan menjadikannya berbuat sewenang-wenang.
Jika kefakiran menimpa, ia tenggelam dalam kesusahan.
Jika laparnya menguat, kelemahan menjadikannya tidak mampu berdiri tegak.
Dan jika terlampau kenyang, perutnya akan mengganggu kenyamanannya. Sesungguhnya setiap kekurangan akan membahayakan dan setiap hal yang melampaui batas akan merusak dan membinasakan.
Ada empat hal yang mematikan hati, yaitu: dosa yang bertumpuk-tumpuk, (mendengarkan) guyunon orang tolol, banyak bersikap kasar dengan kaum perempuan dan duduk bersama orang-orang mati.Mereka bertanya , “Siapakah orang-orang mati itu, wahai Amirul Mu’minin?”Imam ‘Ali, kw, menjawab, “Yaitu setiap hamba yang hidup bergelimang dalam kemewahan.”
Ketahuilah! Sesungguhnya diantara bencana ada kefakiran, yang lebih berat daripada kefakiran adalah penyakit badan dan yang lebih berat daripada penyakit badan adalah penyakit hati. Ketahuilah! Sesungguhnya di antara kenikmatan adalah banyak harta, yang lebih utama daripada banyak harta adalah kesehatan badan dan yang yang lebih utama daripada kesehatan badan adalah ketaqwaan hati.
Tanyalah hati tentang segala perkara karena sesungguhnya ia adalah saksi yang tidak akan menerima suap.
Sebaik-baik hati adalah yang paling waspada menjaganya.
Nyalakan hatimu dengan adab, sebagaimana nyalanya api dengan kayu bakar.
Harta simpanan yang paling bemanfaat adalah cinta hati.
Sesungguhnya hati memiliki keinginan, kepedulian, dan keengganan. Maka, datangilah ia dari arah kesenangan dan kepeduliannya. Sebab jika hati itu dipaksakan, ia akan buta.
Sesungguhnya hati mengalami kejemuan, sebagaimana jemunya badan. Maka, berikanlah padanya anekdot-anekdot hikmah.
Jika engkau ragu dalam hal kecintaan seseorang, maka tanyakanlah hatimu.

Wejangan Tentang Hati

Wejangan Spiritual Imam Ali bin Abi Thalib as.


Yang paling menakjubkan pada diri manusia adalah hatinya, padahal ia merupakan sumber hikmah sekaligus lawan kontranya :
Jika timbul harapan, maka ia ditundukkan ketamakan, ia akan dibinasakan oleh kekikiran.
Jika ia telah dikuasai keputus-asaan, penyesalan akan membunuhnya.
Jika ditimpa kemarahan, menjadi keras kepalalah ia.
Jika sedang puas, ia alpa menjaganya.
Jika dilanda ketakutan, dia disibukkan oleh kehati-hatian.
Jika sedang dalam kelapangan (kaya), bangkitlah kesombonganya.
Jika mendapatkan harta, kekayaan menjadikannya berbuat sewenang-wenang.
Jika kefakiran menimpa, ia tenggelam dalam kesusahan.
Jika laparnya menguat, kelemahan menjadikannya tidak mampu berdiri tegak.
Dan jika terlampau kenyang, perutnya akan mengganggu kenyamanannya. Sesungguhnya setiap kekurangan akan membahayakan dan setiap hal yang melampaui batas akan merusak dan membinasakan.
Ada empat hal yang mematikan hati, yaitu: dosa yang bertumpuk-tumpuk, (mendengarkan) guyunon orang tolol, banyak bersikap kasar dengan kaum perempuan dan duduk bersama orang-orang mati.Mereka bertanya , “Siapakah orang-orang mati itu, wahai Amirul Mu’minin?”Imam ‘Ali, kw, menjawab, “Yaitu setiap hamba yang hidup bergelimang dalam kemewahan.”
Ketahuilah! Sesungguhnya diantara bencana ada kefakiran, yang lebih berat daripada kefakiran adalah penyakit badan dan yang lebih berat daripada penyakit badan adalah penyakit hati. Ketahuilah! Sesungguhnya di antara kenikmatan adalah banyak harta, yang lebih utama daripada banyak harta adalah kesehatan badan dan yang yang lebih utama daripada kesehatan badan adalah ketaqwaan hati.
Tanyalah hati tentang segala perkara karena sesungguhnya ia adalah saksi yang tidak akan menerima suap.
Sebaik-baik hati adalah yang paling waspada menjaganya.
Nyalakan hatimu dengan adab, sebagaimana nyalanya api dengan kayu bakar.
Harta simpanan yang paling bemanfaat adalah cinta hati.
Sesungguhnya hati memiliki keinginan, kepedulian, dan keengganan. Maka, datangilah ia dari arah kesenangan dan kepeduliannya. Sebab jika hati itu dipaksakan, ia akan buta.
Sesungguhnya hati mengalami kejemuan, sebagaimana jemunya badan. Maka, berikanlah padanya anekdot-anekdot hikmah.
Jika engkau ragu dalam hal kecintaan seseorang, maka tanyakanlah hatimu.

Wejangan tentang Shalat

Wejangan Spiritual Imam Ali bin Abi Thalib as.

Perbedaan antara seorang Mukmin dan kafir adalah shalat. Barang- siapa yang meninggalkannya, lalu dia mengaku sebagai Mukmin, maka perbuatannya itu telah mendustakannya, dan dirinya pun menjadi saksi akan hal itu.
Lakukanlah shalat subuh ketika hari masih gelap, niscaya (kelak) engkau akan bertemu dengan Allah Ta’ala dengan wajah yang putih.
Jagalah urusan shalat, peliharah ia, perbanyaklah mengerjakannya, dan dekatkanlah dirimu (kepada Allah) dengan shalat itu. Sebab, sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang yang beriman (QS 4:103). Apakah kalian tidak mendengarkan jawaban para penghuni neraka ketika mereka ditanya, 'Apakah yang memasukkan kamu kedalam Saqar(neraka)?" Merekan menjawab, "Kami dahulu tidak termasuk orang~orang yang mengerjakan shalat " (QS 74:42-43).
Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw. ketika beliau mengutusku ke Yaman, "Bagaimana aku harus mengimani mereka shalat (berjamaah)?" Maka, beliau menjawab, "Imamilah mereka shalat (berjamaah) seperti shalatnya orang yang paling lemah di antara mereka, dan jadilah orang yang amat penyayang terhadap orang-orang yang beriman."
Barangsiapa yang tidak mengambil persiapan shalat sebelum tiba waktunya, maka dia tidak menghormati shalat.

Bapak Para Sufi - Imam Ali bin Abi Thalib kw

Di antara sekian banyak sahabat Nabi, hanya Ali bin Abi Thalib-lah yang diberikan sebutan karamallahu wajhah; sebuah sebutan yang juga berarti doa "Semoga Allah memuliakan wajahnya" atau "Allah telah memuliakan wajahnya." Semua ulama sepakat bahwa doa itu hanya dikhususkan untuk Imam Ali saja seperti halnya sebutan shalallahu 'alaihi wa alihi wassalam untuk Nabi Muhammad. Ada beberapa riwayat yang menjelaskan hal ini. Salah satu riwayat diantaranya menjelaskan alasan tentang doa itu. Pertama, di antara semua sahabat Nabi saw, hanya Ali bin Abi Thalib yang tidak pernah menyembah berhala. Dia masuk Islam dalam usia yang masih kecil sehingga tak sempat beribadah kepada berhala. Artinya, wajahnya tak pernah disujudkan kepada berhala. Ali kecil langsung sujud kepada Allah swt.

Alasan kedua, Imam Ali adalah orang yang dikenal tak pernah melihat aurat, baik aurat dirinya sendiri maupun aurat orang lain. Konon, dalam sebuah pertemuan di Shiffin, pasukan Imam Ali bertemu dengan pasukan Muawiyah. Sebelum perang berkecamuk, biasanya diadakan mubarazah atau duel antara dua orang yang mewakili pasukan yang akan bertempur. Imam Ali menantang Muawiyah ber-mubarazah namun Muawiyah tak berani dan Amr bin Ash menggantikannya. Dalam duel itu, Amr terdesak dan mengalami kekalahan. Ketika Imam Ali hendak memukulkan pedangnya ke kepala Amr, Amr lalu membuka auratnya sehingga Imam Ali segera berbalik memalingkan wajahnya dan meninggalkan Amr. Karena Imam Ali tak mau melihat aurat, selamatlah Amr.

Semasa hidupnya, Imam Ali dikenal sebagai seorang pria yang gagah dan tampan. Banyak hadis yang meriwayatkan Imam Ali memiliki kepala yang agak botak sehingga orang yang tak senang pada Imam Ali memberikan julukan ashla yang berarti "Si Botak". Umar bin Khattab pernah berkata, "Sekiranya tak ada si ashla, celakalah Umar!"

Ketika banyak sahabat lain mengecam Imam Ali dengan memberikan julukan ashla, Rasulullah saw berkata, "Janganlah kalian mengecam Ali karena ia sudah tenggelam dalam kecintaan kepada Allah."Imam Ali sering menjadi fana atau larut dalam kecintaannya kepada Allah. Pernah suatu hari, Abu Darda menemukan Ali terbujur kaku di atas tanah seperti sebongkah kayu di sebuah kebun kurma milik seorang penduduk Mekkah. Dengan tergopoh-gopoh, Abu Darda mendatangi Fathimah untuk berbelasungkawa, karena ia mengira Ali telah meninggal dunia. Fathimah hanya berkata, "Sepupuku, Ali, tidak mati melainkan ia pingsan karena fana dalam ketakutannya kepada Allah. Ketahuilah, kejadian itu sering menimpanya."

Bagi Imam Ali, salat juga tidak merupakan peristiwa biasa. Baginya, salat adalah pertemuan agung dengan Allah swt. Imam Al-Ghazali mengisahkan hal ini dalam kitab Ihya Ulumuddin: Suatu hari, menjelang waktu salat, seorang sahabat menemukan Imam Ali dalam keadaan tubuh yang berguncang dan wajah yang pucat pasi. Ia bertanya, "Apa yang telah terjadi, wahai Amirul Mukminin?" Imam Ali menjawab, "Telah datang waktu salat. Inilah amanat yang pernah diberikan Allah kepada langit, bumi, dan gunung tetapi mereka menolak untuk memikulnya dan berguncang dahsyat karenanya. Sekarang, aku harus memikulnya." Dengan sikapnya itu, Imam Ali ingin mengajarkan sahabatnya bahwa salat bukanlah kejadian biasa. Salat adalah amanat yang di dalamnya mengandung perjanjian mulia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Alangkah anehnya bila kita masih belum merasakan kekhusukan itu di dalam salat kita. Tuhan berfirman, "Sungguh beruntung orang-orang mukmin itu; yaitu mereka yang khusyuk di dalam salatnya. (QS. Al-Mukminun; 1)

Imam Ali juga dikenal karena salatnya yang khusyuk. Banyak sahabat yang memuji salat Ali sebagai salat yang mirip dengan salat Rasulullah saw. Puluhan tahun sejak kematian Rasulullah, seorang sahabat bernama 'Umran bin Husain, salat di belakang Imam Ali di Basrah. 'Umran berkata, "Lelaki itu mengingatkan aku pada salat yang dilakukan Rasulullah saw." 'Umran terkesan akan salat Ali bukan karena gerakan-gerakan lahiriahnya melainkan karena kekhusyukannya.

Ibn Abi Al-Hadid, bercerita tentang ibadah Imam Ali. Ia menyebutkan Ali sebagai orang yang paling taat beribadah dan yang paling banyak salat dan puasanya sehingga dari Ali-lah orang banyak belajar tentang salat malam. Selain itu, Ali senantiasa melazimkan wirid dan menunaikan ibadah-ibadah nafilah. Dalam Perang Shiffin, Al-Hadid bercerita, "Di tengah-tengah perang yang berkecamuk, Ali masih mendirikan salat. Sesudah salat, ia membaca wirid. Dalam kesibukan perangnya, ia tak meninggalkan wiridnya padahal anak panah melintas di antara kedua belah tangan dan di antara kedua daun telinganya."

Banyak hadis meriwayatkan kehidupan Imam Ali yang teramat sederhana. Ali bekerja keras membanting tulang untuk nafkah keluarganya. Istrinya, Fathimah, setiap hari menggiling gandum sampai melepuh tangannya. Suatu saat, setelah memenangkan sebuah peperangan, kaum muslimin memiliki banyak tawanan perang. Fathimah berkata pada Ali,"Bagaimana jika kita meminta salah seorang tawanan kepada Rasulullah untuk menjadi pembantu kita?" Imam Ali enggan menyampaikan permohonan ini pada Rasulullah karena merasa sangat malu. Ia meminta Fathimahlah yang memintakan hal itu.

Pergilah Fathimah menemui Rasulullah saw. Begitu ia berada di hadapan Nabi yang mulia, Fathimah tak kuasa menyampaikan maksudnya. Ia pulang lagi ke rumahnya. Imam Ali lalu pergi untuk menyampaikan hal itu dan ia pun tak kuasa mengutarakan keinginan itu dan kembali lagi. Akhirnya keduanya memutuskan untuk pergi bersama-sama ke tempat Rasulullah. Disampaikanlah hajat itu tapi Rasulullah tak menjawab permintaan mereka. Keduanya pulang dengan perasaan malu dan takut akan kemurkaan Rasulullah.

Malam harinya Nabi datang ke rumah Ali. Nabi menyaksikan Ali hanya berselimutkan sarung yang amat pendek padahal malam teramat dingin. Jika selimut itu ditarik ke atas, terbukalah bagian bawah dan jika selimut itu ditarik ke bawah, terbukalah bagian atas. Rasulullah terharu melihat kesederhanaan Ali. Ia berkata kepada keluarga mulia itu, "Maukah kalian aku berikan pembantu yang lebih baik dari seluruh isi langit dan bumi?"

Rasulullah saw kemudian memberikan wirid untuk dibacakan oleh keluarganya itu seusai salat. Wirid itu berisi 33 kali tasbih, tahmid, dan takbir.Begitu setianya Imam Ali dengan wiridnya itu, ia tak pernah meninggalkannya bahkan saat perang sekali pun. Ia melazimkannya dalam setiap keadaan. Di masa kekuasaan Muawiyah, karena kebencian Muawiyah pada Imam Ali, para khatib Jumat diperintahkan untuk mengakhiri setiap khutbahnya dengan kecaman kepada Ali. Cacian dan makian ini berlangsung selama hampir puluhan tahun. Ketika Umar bin Abdul Aziz berkuasa, perintah ini dihapuskan. Namun meskipun Muawiyah begitu membenci Ali, ia harus mengakui keutamaan sifat-sifat Ali.

Suatu saat, Darar bin Dhamrah Al-Khazani diminta Muawiyah untuk bercerita tentang Imam Ali kw. Ia tak mau memenuhi permintaan itu. Ia takut, bila ia menceritakan keadaan Ali apa adanya, ia akan dianggap sebagai orang yang mengutamakan Ali, dan ia akan dihukum. Oleh sebab itu Darar hanya berkata, "Ampunilah aku, wahai Amirul Mukminin! Jangan perintahkan aku untuk mengungkapkan hal itu. Perintahkan aku untuk melakukan hal lain saja." "Tidak," ujar Muawiyah, "aku takkan mengampunimu." Akhirnya Darar bercerita tentang Ali dalam bahasa Arab yang teramat indah. Terjemahannya sebagai berikut:
"Ali adalah seorang yang cerdik cendekia dan gagah perkasa. Ia berbicara dengan jernih dan menghukum dengan adil. Ilmu memancar dari kedalaman dirinya dan hikmah keluar dari sela-sela ucapannya. Ia mengasingkan diri dari dunia dengan segala keindahannya untuk kemudian bertemankan malam dengan seluruh kegelapannya, di sisi Allah. Air matanya senantiasa mengalir dan hatinya selalu tenggelam dalam pikiran. Ia sering membolak-balikkan tangannya dan berdialog dengan dirinya. Ia senang dengan pakaian yang sederhana dan makanan yang keras." "Demi Allah, ia dekat kepada kami dan kami senang berdekatan dengannya. Ia menjawab bila kami bertanya. Namun betapa pun ia dekat dengan kami, kami tak sanggup menegurnya karena kewibawaannya. Jika tersenyum, giginya tampak bagai untaian mutiara. Ia memuliakan para ahli agama dan mencintai orang miskin. Orang kuat tak berdaya di hadapannya karena keadilannya sementara orang yang lemah tak putus asa di sisinya."

"Aku bersaksi demi Allah, aku sering melihatnya berada di mihrab pada sebagian tempat ibadatnya. Malam telah menurunkan tirainya dan gemintang tak tenggelam, saat itu ia memegang janggutnya dan merintih dengan rintihan orang yang sakit. Ia menangis dengan tangisan orang yang menderita. Seakan-akan kudengar jeritannya Ya Rabbana, ya Rabbana....."

"Ia menggigil di hadapan kekasihnya lalu berkata pada dunia: Kepadaku kau datang mencumbu. Kepadaku kau merayu. Enyahlah dan pergi! Tipulah orang selain aku. Aku telah menjatuhkan talak tiga kepadamu. Usiamu pendek, posisimu rendah. Betapa sedikitnya bekal dan betapa jauhnya perjalanan, dan betapa sepinya perantauan."

Muawiyah mendengar Darar yang bercerita dengan penuh perasaan. Meskipun ia amat membenci Ali, tapi ia tak kuasa menahan tangisan begitu mendengar penuturan Darar. Pada kesempatan lain, Darar pernah ditanya,"Bagaimana kerinduanmu kepada Ali?"Darar menjawab,"Aku rindu kepadanya seperti kerinduan seorang perempuan yang kekasihnya disembelih di pangkuannya. Air matanya takkan pernah kering, dukanya panjang dan takkan pernah usai."

Imam Ali selalu mengisi malamnya dengan tangisan dan orang-orang yang mengenalnya akan mengisi kisah Ali dengan tangisan pula. Dalam tasawuf, menangis termasuk salah satu hal yang harus dilatih. Imam Ali berkata,"Salah satu ciri orang yang celaka adalah ia yang memiliki hati yang keras. Dan ciri hati yang keras adalah hati yang sukar menangis." Nabi saw bersabda,"Jika engkau membaca Al-Quran, menangislah. Jika tidak bisa, berusahalah agar engkau menangis."

Pada salah satu doanya yang teramat indah, Imam Ali memohon :

"Tuhanku, berilah daku kesempurnaan ikatan kepada-Mu. Sinarilah bashirah ; hati kami dengan cahaya karena melihat-Mu sehingga kalbu kami menorehkan tirai cahaya dan sampailah ia pada sumber kebesaran; arwah kami terikat pada keagungan kesucian-Mu. Air mata tidak mengering kecuali karena hati yang keras dan hati takkan keras kecuali karena banyaknya dosa."

Belia Kufah Pembawa Pesan Ukhuwah


Lebih dari seribu tahun yang lalu di perbatasan Basrah berhenti sebuah kafilah pasukan para sahabat Nabi yang mulia, Kuda-kuda ditambatkan. pejalan-pejalan kaki diistirahatkan. tapi, lihat apa yang dilakukan sang Komandan, ia turun dari kudanya berdiri menghadap Ka'bah yang berada di seberang sahara. Ia mengangkat tangannya berkali-kali ..Allahu Akbar Allahu Akbar.. duduk dan berdiri, rukuk dan sujud.

Ia rebahkan pipinya air mata mengalir membasahi pasir yang kering dalam desah nafas dan isakan kepedihan

"Ya Allah Pemelihara langit dan yang dinaunginya pemelihara bumi dan yang ditumbuhkannya Pemilik Arasy yang Agung. Inilah Basrah, kumohon kebaikan kota ini, lindungi aku dari kejelekannya, masukkan aku ke tempat yang baik. Bukankah Engkau sebaik-baiknya yang menempatkan orang. Ya Allah Mereka berontak kepadaku, mereka tentang aku Mereka putuskan bai'at kepadaku. Ya Allah Peliharalah darah kaum Muslimin."

Ali bin Abi Thalib bukan komandan baru pasukan mukminin. Di Badar, Uhud, Khaibar dan lain-lain ia tak pernah ragu dalam menyerbu ia tak pernah mundur, karrar ghair farrar.

Di setiap pertempuran tubuhnya penuh luka sayatan pedang, ia tidak pernah menangis, ia tegar kekar sebagai Haidar Sang Singa.

Tapi kini ia menangis ia pandangi Basrah seakan melihat Kota Musibah, ia gumamkan kata-kata duka "Tuhan, peliharalah darah kaum muslimin."

Pasukan pembangkang datang dengan gemerincing tombak dan pedang. Ali berdiri mematung pedangnya bergantung, ia tidak segera menyambut musuh, Ali yang tegar kini ragu dan lesu "Temui mereka ajak bersatu kembali hindari pertumpahan darah," katanya kepada Abdullah bin Abbas.

Ke tengah-tengah musuh yang meradang Ali meneriakkan pesan perdamaian Ia mengangkat Al-Qur'an memandangi pengikutnya, dan air mata itu masih menggelegak di pelupuk matanya,

"Adakah di antara kalian yang mau membawa mushaf ini ke tengah-tengah mereka Sampaikan pesan perdamaian atas nama Al-Qur'an. Jika pedang memotong tangannya yang satu peganglah Al-Qur'an dengan tangan yang lain, jika tangan itupun terpotong gigit Al-Qur'an dengan gigi-giginya sampai ia terbunuh Sampaikan pesan perdamaian atas nama Al-Qur'an"

Seorang pemuda Kufah bangkit menawarkan dirinya dengan kepolosan remaja belia. Ali yang tegar kini ragu dan lesu, ia mencari yang lebih tua tetapi tidak ada. Ia serahkan Al-Qur'an ke tangan yang lembut dan indah"Bawalah Al-Qur'an ini ke tengah-tengah mereka Sampaikan pesan perdamaian atas nama Al-Qur'an, katakan jangan tumpahkan darah kami dan darah kalian."

Ia melejit ke depan musuh mengangkat Al-Qur'an dengan kedua tangannya "Atas nama Al-Qur'an pelihara darah kami dan darah kalian."Di depan pasukan demi pasukan ia mengangkat Al-Qur'an"Atas nama Al-Qur'an pelihara darah kami dan darah kalian."

Pedang menebas tangan kanannya ia angkat Al-Qur'an dengan tangan kirinya "Atas nama Al-Qur'an pelihara darah kami dan darah kalian." Pedang menebas tangan kirinya ia ambil Al-Qur'an dengan gigi-giginya Matanya yang jernih masih menyorotkan pesan perdamaian atas nama Al-Qur'an Dagunya diangkat ke atas dan darah menyiram seluruh tubuhnya, pedang menebas lehernya, darah membasahi tubuhnya, Al-Qur'an dan tanah di bawahnya. Pejuang perdamaian dan ukhuwah terbujur bersimbah darah Ali menggumamkan doa pilu di sampingnya "Ah, sampai juga saatnya kita harus berperang."

Sejak itu, abad demi abad kaum muslimin dicabik-cabik perpecahan, bahkan tak jarang darah dengan sia-sia ditumpahkan..  

Kisah Imam Ali & Sayyidina Umar

Pada masa pemerintahan Umar bin Khathab,. terjadilah suatu peristiwa yang menyangkut diri seorang wanita. Wanita itu didapati melahirkan anak, padahal, menurut pengakuannya, ia baru hamil 6 bulan.
Mendengar, penutuan itu, Umar tidak percaya begitusaja. Umar berpendapat bahwa wanita tersebut pasti telah berbohong.
“Mana mungkin orang yang baru menikah melahirkan anak dari kandungan yang berumur 6 bulan?” begitu ia berfikir, barangkali Karenanya, Umar berpendapat bahwa wanita tersebut pastilah telah hamil terlebih dahulu sebelum menikah, alias telah berzinah. Atas dasar pertimbangan itu, Khalifah memutuskan untuk menghukum rajam wanita tersebut.
Sebelum hukuman dilaksanakan, Imam Ali yang secara kebetulan sedang lewat, menghentikan langkahnya karena melihat orang-orang sedang berkerumun, termasuk didalamnya adalah Umar. Kepada Imam Ali diceritakanlah kasus yang terjadi.
Mendengar penuturan Umar, Imam Ali kemudian berkata: “Astaga…apakah engkau akan menentang firman Allah yang berkata:”Ibunya mengandung dan menyusui selama tiga puluh bulan.’ Pada ayat lain Allah berfirman: ‘Dan hendaklah para ibu itu menyusui anaknya dua tahun lamanya, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusunan.”
Kalau mengandung dan menyusui adalah tiga puluh bulan, sedang menyusui saja adalah dua tahun, alias dua puluh empat bulan, maka orang yang melahirkan anak dengan usia kandungan enam bulan adalah mungkin terjadi berdasarkan firman Allah tersebut, yakni tiga puluh dikurangi dua puluh empat bulan. Sungguh tepat sekali usia kandungan wanita itu!”
Semua yang hadir tertegun mendengar penuturan Imam Ali tersebut. Mereka merasa lega karena belum sampai menjatuhkan hukuman secara salah. Umar sendiri menjadi orang yang paling lega karena terhindar dari kesalahan yang besar. Dan wanita itu pun dibebaskan.

Kisah Imam Ali - Sang Ahli Matematika

Dua orang sehabat melakukan perjalanan bersama. Disuatu tempat, mereka berhenti untuk makan siang. Sambil duduk, mulailah masing-masing membuka bekalnya. Orang yang pertama membawa tiga potong roti, sedang orang yang kedua membawa lima potong roti.
Ketika keduanya telah siap untuk makan, tiba-tiba datang seorang musafir yang baru datang ini pun duduk bersama mereka.
“Mari, silakan, kita sedang bersiap-siap untuk makan siang,”kita salah seorang dari dua orang tadi.
“Aduh…saya tidak membawa bekal,” jawab musafir itu.
Maka mulailah mereka bertiga menyantap roti bersama-sama. Selesai makan, musafir tadi meletakkan uang delapan dirham di hadapan dua orang tersebut seraya berkata: “Biarkan uang ini sebagai pengganti roti yang aku makan tadi.” Belum lagi mendapat jawaban dari pemilik roti itu, si musafir telah minta diri untuk melanjutkan perjalanannya lebih dahulu.
Sepeninggal si musafir, dua orang sahabat itu pun mulai akan membagi uang yang diberikan.
“Baiklah, uang ini kita bagi saja,” kata si empunya lima roti.
“Aku setuju,”jawab sahabatnya.
“Karena aku membawa lima roti, maka aku mendapat lima dirham, sedang bagianmu adalah tiga dirham.
“Ah, mana bisa begitu. Karena dia tidak meninggalkan pesan apa-apa, maka kita bagi sama, masing-masing empat dirham.”
“Itu tidak adil. Aku membawa roti lebih banyak, maka aku mendapat bagian lebih banyak”
“Jangan begitu dong…”
Alhasil, kedua orang itu saling berbantah. Mereka tidak berhasil mencapai kesepakatan tentang pembagian tersebut. Maka, mereka bermaksud menghadap Imam Ali bin Abi Thalib r.a. untuk meminta pendapat.
Di hadapan Imam Ali, keduanya bercerita tentang masalah yang mereka hadapi. Imam Ali mendengarkannya dengan seksama. Setelah orang itu selesai berbicara, Imam Ali kemudian berkata kepada orang yang mempunyai tiga roti: “Terima sajalah pemberian sahabatmu yang tiga dirham itu!”
“Tidak! Aku tak mau menerimanya. Aku ingin mendapat penyelesaian yang seadil-adilnya, “Jawab orang itu.
“Kalau engkau bermaksud membaginya secara benar, maka bagianmu hanya satu dirham!” kata Imam Ali lagi.
“Hah…? Bagaimana engkau ini, kiranya.
Sahabatku ini akan memberikan tiga dirham dan aku menolaknya. Tetapi kini engkau berkata bahwa hak-ku hanya satu dirham?”
“Bukankah engkau menginginkan penyelesaian yang adil dan benar?”
“Ya”
“Kalau begitu, bagianmu adalah satu dirham!”
“Bagaimana bisa begitu?” Orang itu bertanya.
Imam Ali menggeser duduknya. Sejenak kemudian ia berkata:”Mari kita lihat. Engkau membawa tiga potong roti dan sahabatmu ini membawa lima potong roti.”
“Benar.”jawab keduanya.
“Kalian makan roti bertiga, dengan si musafir.”
‘Benar”
“Adakah kalian tahu, siapa yang makan lebih banyak?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, kita anggap bahwa setiap orang makan dalam jumlah yang sama banyak.”
“Setuju, “jawab keduanya serempak.
“Roti kalian yang delapan potong itu, masing-masingnya kita bagi menjadi tiga bagian. Dengan demikian, kita mempunyai dua puluh empat potong roti, bukan?” tanya Imam Ali.
“Benar,”jawab keduanya.
“Masing-masing dari kalian makan sama banyak, sehingga setiap orang berarti telah makan sebanyak delapan potong, karena kalian bertiga.”
“Benar.”
“Nah…orang yang membawa lima roti, telah dipotong menjadi tiga bagian mempunyai lima belas potong roti, sedang yang membawa tiga roti berarti mempunyai sembilan potong setelah dibagi menjadi tiga bagian, bukankah begitu?”
“Benar, jawab keduanya, lagi-lagi dengan serempak.
“si empunya lima belas potong roti makan untuk dirinya delapan roti, sehingga ia mempunyai sisa tujuh potong lagi dan itu dimakan oleh musafir yang belakangan. Sedang si empunya sembilan potong roti, maka delapan potong untuk dirinya, sedang yang satu potong di makan oleh musafir tersebut. Dengan begitu, si musafir pun tepat makan delapan potong roti sebagaimana kalian berdua, bukan?”
Kedua orang yang dari tadi menyimak keterangan Imam Ali, tampak sedang mencerna ucapan Imam Ali tersebut. Sejenak kemudian mereka berkata:”Benar, kami mengerti.”
“Nah, uang yang diberikan oleh di musafir adalah delapan dirham, berarti tujuh dirham untuk si empunya lima roti sebab si musafir makan tujuh potong roti miliknya, dan satu dirham untuk si empunya tiga roti, sebab si musafir hanya makan satu potong roti dari milik orang itu”
“Alhamdulillah…Allahu Akbar,” kedua orang itu berucap hampir bersamaan. Mereka sangat mengagumi cara Imam Ali menyelesaikan masalah tersebut, sekaligus mengagumi dan mengakui keluasan ilmunya.
“Demi Allah, kini aku puas dan rela. Aku tidak akan mengambil lebih dari hak-ku, yakni satu dirham,” kata orang yang mengadukan hal tersebut, yakni si empunya tiga roti.
Kedua orang yang mengadu itu pun sama-sama merasa puas. Mereka berbahagia, karena mereka berhasil mendapatkan pemecahan secara benar, dan mendapat tambahan ilmu yang sangat berharga dari Imam Ali bin Abi Thalib as.

Imam Ali Pemimpin Para Shiddiqin