Jumat, 07 Oktober 2011

MAQAM-MAQAM WARA'

 Maqam 2 - Wara'

Syaikh Abu Nashr as-Sarraj -rahimahullah- berkata: Maqam wara' adalah kedudukan spiritual yang mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: ''Tiang penyanggah agamamu adalah wara'.'' (HR. Bazzar, ath-Thabrani, dan as-Suyuthi dari Hudzaifah). *

Sementara itu, orang-orang yang wara' ada tiga tingkatan: Pertama, orang yang menjauhkan diri (wara') dari sesuatu yang syubhat, dimana hukumnya masih belum jelas antara yang benar-benar halal dengan yang benar-benar haram. Ia juga berusaha menjauhkan diri dari sesuatu yang tak bisa diharamkan atau dihalalkan secara mutlak. Untuk menyikapi di antara dua hal ini, maka ia mengambil langkah untuk menjaga diri (wara') dari keduanya. Ini sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Ibnu Sirin, ''Tak ada sesuatu yang lebih ringan bagiku daripada wara'. Sebab tatkala ada sesuatu yang meragukan, maka aku tinggalkan.'' *
---
Kedua, orang yang menjauhkan diri dari sesuatu yang menjadi keraguan hatinya dan ganjalan di dadanya ketika mengonsumsi atau mendapatkannya. Ini tentu tak bisa diketahui kecuali oleh mereka yang hatinya bersih dan orang-orang yang sanggup mengaktualisasikan kebenaran secara hakiki. Sabda Rasulullah saw.: ''Dosa adalah apa yang membekas (dan menjadi ganjalan) di dadamu.'' (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi dari Nuwas bin Sam'an). *
---
Abu Said al-Kharraz -rah- berkata: ''Wara' adalah tindakan membersihkan diri dari perbuatan zalim terhadap makhluk sekalipun sebesar atom. Sehingga tak ada seorangpun di antara mereka menuntut dari suatu tindakan zalim atau tuduhan yang dialamatkan pada dirimu.'' Dikisahkan dari Abu Abdillah al-Harits bin Asad al-Muhasibi bahwa tangannya tak pernah menjamah makanan yang syubhat. *
---
Sebagaimana dikisahkan dari Bisyr al-Hafi -rah-, bahwa ia pernah diajak ke suatu undangan. Kemudian di depannya dihidangkan suatu makanan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengambil makanan yang ada di depannya, namun tangannya tak juga sampai. Kemudian ia berusaha lagi sekuat tenaga, ia paksa sampai tiga kali, namun tak sampai juga. Maka seseorang yang mengenalnya berkata, ''Sesungguhnya tangannya tak pernah menyentuh makanan haram atau yang didalamnya ada syubhat. Semestinya tuan rumah tak perlu mengundang orang ini ke rumahnya.'' *
---
Sahl bin Abdullah pernah ditanya tentang sesuatu yang halal, lalu ia menjawab: ''Sesuatu yang halal ialah sesuatu yang di dalamnya tidak ada tindakan maksiat kepada Allah.'' Syaikh Abu Nashr as-Sarraj -rah- berkata: Sesuatu yang di dalamnya tidak ada tindakan maksiat kepada Allah, tidak bisa disiapkan untuk seseorang sehingga bisa memahaminya kecuali dengan isyarat hati. *
---
Apabila ada orang bertanya, ''Apakah Anda punya dalil atau argumentasi ilmiah yang berkaitan dengan ini?'' Maka Anda bisa menjawabnya, ''Ya, yaitu sabda Rasulullah saw. kepada Wabishah: 'Mintalah fatwa pada hatimu, meskipun banyak orang memberi fatwa kepadamu.' (HR. Ahmad, Bukhari, ad-Darimi, dan ath-Thabrani). Kemudian sabda beliau: 'Dosa adalah apa yang membekas (dan menjadi ganjalan) di dadamu.' Tidakkah Anda melihat bahwa Nabi mengembalikan semua itu pada isyarat hati nurani?'' *
---
Ketiga, orang-orang arif dan sanggup menghayati dengan hati nuraninya. Mereka menjaga diri meskipun dari yang halal, jika itu akan menyibukkan hati dan membuatnya lalai dari mengingat Allah. Ini sebagaimana yang dikatakan Abu Sulaiman ad-Darani, ''Segala sesuatu yang menjadikanmu lalai dengan Allah, maka itu merupakan bencana bagimu.'' Sebagaimana jawaban Sahl bin Abdullah saat ditanya tentang halal yang murni, ''Sesuatu yang halal adalah sesuatu yang tidak untuk bermaksiat kepada Allah. Sedangkan halal yang murni adalah sesuatu yang di dalamnya Allah tidak dilupakan.'' *
---
Sementara wara' terhadap sesuatu yang tidak akan melupakan Allah adalah wara' yang ditanyakan kepada Abu Bakar Dulaf bin Jahdar asy-Syibli -rah- ''Wahai Abu Bakar, apakah wara' itu?'' Ia menjawab, ''Engkau bisa menjaga diri (wara') dengan cara hatimu tak terpencar untuk mengingat Allah meskipun hanya sekejap mata.'' *
---
Dengan demikian, maka tingkatan wara' yang pertama adalah tingkatan wara' kaum awam (pemula), yang kedua adalah wara' kaum khusus (khawas), dan yang ketiga adalah wara' kaum yang lebih khusus dari mereka yang khusus (khawasul khawas). Sedangkan wara' mengharuskan berperilaku zuhud. *
---
Demikian ringkasan tentang wara' dari kitab Al-Luma'. Bahasan tentang wara' sesungguhnya masih sangat luas dan panjang. *
---

“TAWADHU’ (RENDAH HATI)”

“TAWADHU’ (RENDAH HATI)”

Pengertian Tawadhu’ adalah rendah hati, tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya. Orang yang tawadhu’ adalah orang menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT.  Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potrensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.
Tawadhu ialah bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan takabbur (sombong), ataupun sum’ah ingin diketahui orang lain amal kebaikan kita.
Tawadhu merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia, jadi sudah selayaknya kita sebagai umat muslim bersikap tawadhu, karena tawadhu merupakan salah satu akhlak terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat islam. Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini : 
 
Rasulullah SAW bersabda: yang artinya "Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat izzah) oleh Allah. (HR. Muslim).
 
Iyadh bin Himar ra. berkata: Bersabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku: "Bertawadhu'lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.(HR. Muslim).
 
Rasulullah SAW  bersabda,    “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)
 
Ibnu Taimiyah, seorang ahli dalam madzhab Hambali menerangkan dalam kitabnya, Madarijus Salikin bahwa tawadhu ialah menunaikan segala yang haq dengan bersungguh-sungguh, taat menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar hamba Allah, (bukan hamba orang banyak, bukan hamba hawa nafsu dan bukan karena pengaruh siapa pun) dan tanpa menganggap dirinya tinggi.
 
Tanda orang yang tawadhu’ adalah disaat seseorang semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.. Ini karena orang yang tawadhu menyadari akan segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah SWT, untuk mengujinya apakah ia bersykur atau kufur.
 
Perhatikan firman Allah berikut ini : "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (QS. An Naml: 40).”
 
Berikut beberapa ayat-ayat Al Quran yang menegaskan perintah Allah SWT untuk senantiasa bersikap tawadhu’ dan menjauhi sikap sombong, sebagai berikut :
 
 ”Dan janganlah kalian berjalan di atas bumi ini dengan menyombongkan diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung” (QS al-Isra-37). 
 
Firman Allah SWT lainnya: ”Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di muka bumi dan kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS al-Qashshash-83.)
 
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS. Al Furqaan: 63)
 
Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS: an-Nahl: 23)
 
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langitdan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS: al-Araf: 40)
 
Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS.Al-Baqarah : 206)

 
Berikut  beberapa contoh Ketawadhu’an Rasulullah SAW
 
1.      Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam pada mereka, ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat kekasihku Nabi SAW senantiasa berbuat demikian. (HR Bukhari, Fathul Bari’-6247).
 
2.      Dari Anas ra berkata: Nabi SAW memiliki seekor unta yang diberi nama al-’adhba` yang tidak terkalahkan larinya, maka datang seorang ‘a’rabiy dengan untanya dan mampu mengalahkan, maka hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut sampai hal itu diketahui oleh nabi SAW, maka beliau bersabda: Menjadi haq Allah jika ada sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-Nya. HR Bukhari (Fathul Bari’-2872).
 
3.      Abu Said al-Khudarii ra pernah berkata: Jadilah kalian seperti Nabi SAW, beliau SAW menjahit bajunya yang sobek, memberi makan sendiri untanya, memperbaiki rumahnya, memerah susu kambingnya, membuat sandalnya, makan bersama-sama dengan pembantu-pembantunya, memberi mereka pakaian, membeli sendiri keperluannya di pasar dan memikulnya sendiri ke rumahnya, beliau menemui orang kaya maupun miskin, orang tua maupun anak-anak, mengucapkan salam lebih dulu pada siapa yang berpapasan baik tua maupun anak, kulit hitam, merah, maupun putih, orang merdeka maupun hamba sahaya sepanjang termasuk orang yang suka shalat.
Dan beliau SAW adalah orang yang sangat rendah hati, lembut perangainya, dermawan luar biasa, indah perilakunya, selalu berseri-seri wajahnya, murah senyum pada siapa saja, sangat tawadhu’ tapi tidak menghinakan diri, dermawan tapi tidak berlebih-lebihan, mudah iba hatinya, sangat penyayang pada semua muslimin. Beliau SAW datang sendiri menjenguk orang sakit, menghadiri penguburan, berkunjung baik mengendarai keledai maupun berjalan kaki, mengabulkan undangan dari para hamba sahaya siapapun dan dimanapun. Bahkan ketika kekuasaannya SAW telah meliputi jazirah Arabia yang besar datang seorang ‘A’rabiy menghadap beliau SAW dengan gemetar seluruh tubuhnya, maka beliau SAW yang mulia segera menghampiri orang tersebut dan berkata: Tenanglah, tenanglah, saya ini bukan Raja, saya hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa makan daging kering. (HR Ibnu Majah-3312 dari abu Mas’ud al-Badariiy)
 
Berbicara lebih jauh tentang tawadhu’, sebenarnya tawadhu’ sangat diperlukan bagi siapa saja yang ingin menjaga amal shaleh atau amal kebaikannya, agar tetap tulus ikhlas, murni dari tujuan selain Allah.  Karena memang tidak mudah menjaga keikhlasan amal shaleh atau amal kebaikan kita agar tetap murni, bersih dari tujuan selain Allah. Sungguh sulit menjaga agar segala amal shaleh dan amal kebaikan yang kita lakukan tetap bersih dari tujuan selain mengharapkan ridha-Nya. Karena sangat banyak godaan yang datang, yang selalu berusaha mengotori amal kebaikan kita. Apalagi disaat pujian dan ketenaran mulai datang menghampiri kita, maka terasa semakin sulit bagi kita untuk tetap bisa menjaga kemurnian amal shaleh kita, tanpa terbesit adanya rasa bangga dihati kita. Disinilah sangat diperlukan tawadhu’ dengan menyadari sepenuhnya, bahwa sesungguhnya segala amal shaleh, amal kebaikan yang mampu kita lakukan, semua itu adalah karena pertolongan dan atas ijin Allah SWT.
 
Tawadhu’ juga mutlak dimiliki bagi para pendakwah yang sedang berjuang meninggikan Kalimatullah di muka bumi ini, maka sifat tawadhu' mutlak diperlukan untuk kesuksesan misi dakwahnya. Karena bila tidak, maka disaat seorang pendakwah mendapatkan pujian, mendapatkan banyak jemaah, dikagumi orang dan ketenaran mulai menghampirinya, tanpa ketawadhu’an, maka seorang pendakwah pun tidak akan luput dari berbangga diri atas keberhasilannya.

Pengetahuan Tentang Haji

Pengertian Haji dan Umroh
Pengertian Haji
Haji adalah salah satu rukun Islam yang lima. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan bagi kaum muslim yang mampu secara material, fisik, maupun keilmuan dengan berkunjung ke beberapa tempat di Arab Saudi dan melaksanakan beberapa kegiatan pada satu waktu yang telah ditentukan yaitu pada bulan Dzulhijjah.
Secara estimologi (bahasa), Haji berarti niat (Al Qasdu), sedangkan menurut syara’ berarti Niat menuju Baitul Haram dengan amal-amal yang khusus.Temat-tempat tertentu yang dimaksud dalam definisi diatas adalah selain Ka’bah dan Mas’a (tempat sa’i), juga Padang Arafah (tempat wukuf), Muzdalifah (tempat mabit), dan Mina (tempat melontar jumroh).
Sedangkan yang dimaksud dengan waktu tertentu adalah bulan-bulan haji yaitu dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Amalan ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumroh, dan mabit di Mina.
Pengertian Umroh
Umrah adalah berkunjung ke Ka’bah untuk melakukan serangkaian ibadah dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Umroh disunahkan bagi muslim yang mampu. Umroh dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada hari Arafah yaitu tgl 10 Zulhijah dan hari-hari Tasyrik yaitu tgl 11,12,13 Zulhijah. Melaksanakan Umroh pada bulan Ramadhan sama nilainya dengan melakukan Ibadah Haji (Hadits Muslim) 
Jenis-jenis Haji
Haji Ifrad, artinya menyendiri
Pelaksanaan ibadah haji disebut ifrad jika sesorang melaksanakan ibadah haji dan umroh dilaksanakan secara sendiri-sendiri, dengan mendahulukan ibadah haji. Artinya, ketika calon jamaah haji mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, hanya berniat melaksanakan ibadah haji. Jika ibadah hajinya sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan ibadah umroh.
Haji Tamattu’, artinya bersenang-senang
Pelaksanaan ibadah haji disebut Tamattu’ jika seseorang melaksanakan ibadah umroh dan Haji di bulan haji yang sama dengan mendahulukan ibadah Umroh. Artinya, ketika seseorang mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, hanya berniat melaksanakan ibadah Umroh. Jika ibadah Umrohnya sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan ibadah Haji.
Tamattu’ dapat juga berarti melaksanakan ibadah Umroh dan Haji didalam bulan-bulan serta didalam tahun yang sama, tanpa terlebih dahulu pulang ke negeri asal.
Haji Qiran, artinya menggabungkan
Pelaksanaan ibadah Haji disebut Qiran jika seseorang melaksanakan ibadah Haji dan Umroh disatukan atau menyekaliguskan berihram untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Haji Qiran dilakukan dengan tetap berpakaian ihram sejak miqat makani dan melaksanakan semua rukun dan wajib haji sampai selesai, meskipun mungkin akan memakan waktu lama.
Rukun dan Wajib Haji
Rukun haji :
  1. Ihram
  2. Thawaf Ziyarah (disebut juga dengan Thawaf Ifadhah)
  3. Sa’ie
  4. Wuquf di padang Arafah
Apabila salah satu rukun haji di atas tidak dilaksanakan maka hajinya batal. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa rukun haji hanya ada 2 yaitu: Wuquf dan Thawaf. Ihram dan Sa’I tidak dimasukkan ke dalam rukun karena menurut beliau, ihram adalah syarat sah haji dan sa’I adalah yang wajib dilakukan dalam haji (wajib haji). Sementara Imam syafi’ie berpendapat bahwa rukun haji ada 6 yaitu: Ihram, Thawaf, Sa’ie, Wuquf, Mencukur rambut, dan Tertib berurutan).(Kitabul Fiqh Ala Madzhabil Arba’ah 1/578).
Wajib Haji
  1. Iharam dimulai dari miqat yang telah ditentukan
  2. Wuquf di Arafah sampai matahari tenggelam
  3. Mabit di Mina
  4. Mabit di Muzdalifah hingga lewat setengah malam
  5. Melempar jumrah
  6. Mencukur rambut
  7. Tawaf Wada’
Syarat-syarat Wajib Haji
  1. Islam
  2. Berakal
  3. Baligh
  4. Mampu

Mewakilkan Seseorang Untuk Berhaji
Tidak boleh bagi seseorang berhaji untuk orang lain kecuali setelah ia berhaji untuk dirinya sendiri. Rasulullah bersabda: Berhajilah untuk dirimu sendiri, kemudian engkau berhaji untuknya.
Haji Bagi Anak-anak yang belum Baligh
Tidaklah wajib bagi anak-anak untuk berhaji kecuali ia telah baligh. Namun jika ia telah berhaji maka hajinya sah sebagaimana yang telah diriwayatkan Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah r berjumpa dengan seorang berkendaraan dikawasan Ar-Rauha beliau bersabda: Siapakah kalian? Mereka menjawab: Kami orang-orang muslim, mereka balik bertanya: Siapa anda? Beliau menjawab: Saya Rasul Allah. Lalu ada seorang anak gadis yang masih kecil bertanya: Apakh ini yang disebut haji? Beliau menjawab: Ya dan bagimu pahala (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan An Nasa dishahihkan oleh At Tirmidzi). 
Rangkaian Ibadah Haji dan Umroh:
Rangkaian kegiatan ibadah Haji
  1. Sebelum tanggal 8 Dzulhijjah, calon jamaah haji mulai berbondong untuk melaksanakan Tawaf Haji di Masjid Al Haram, Makkah.
  2. Calon jamaah haji memakai pakaian Ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), sesuai miqatnya, kemudian berniat haji, dan membaca bacaan Talbiyah, yaitu mengucapkan Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka..
  3. Tanggal 9 Dzulhijjah, pagi harinya semua calon jamaah haji menuju ke padang Arafah untuk menjalankan ibadah wukuf. Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang Arafah hingga Maghrib datang.
  4. Tanggal 9 Dzulhijjah malam, jamaah menuju ke Muzdalifah untuk mabbit (bermalam) dan mengambil batu untuk melontar jumroh secukupnya.
  5. Tanggal 9 Dzulhijjah tengah malam (setelah mabbit) jamaah meneruskan perjalanan ke Mina untuk melaksanakan ibadah melontar Jumroh
  6. Tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah melaksanakan ibadah melempar Jumroh sebanyak tujuh kali ke Jumroh Aqobah sebagai simbolisasi mengusir setan. Dilanjutkan dengan tahalul yaitu mencukur rambut atau sebagian rambut.
  7. Jika jamaah mengambil nafar awal maka dapat dilanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram untuk Tawaf Haji (menyelesaikan Haji)
  8. Sedangkan jika mengambil nafar akhir jamaah tetap tinggal di Mina dan dilanjutkan dengan melontar jumroh sambungan (Ula dan Wustha).
  9. Tanggal 11 Dzulhijjah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  10. Tanggal 12 Dzulhijjah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  11. Jamaah haji kembali ke Makkah untuk melaksanakan Thawaf Wada’ (Thawaf perpisahan) sebelum pulang ke negara masing-masing

Rangkaian Kegiatan Ibadah Umrah
  1. Diawali dengan mandi besar (janabah) sebelum ihram untuk umrah.
  2. mengenakan pakaian ihram. Untuk lelaki 2 kain yang dijadikan sarung dan selendang, sedangkan untuk wanita memakai pakaian apa saja yang menutup aurat tanpa ada hiasannya dan tidak memakai cadar atau sarung tangan.
  3. Niat umrah dalam hati dan mengucapkan Labbaika ‘umrotan atau Labbaikallahumma bi’umrotin. Kemudian bertalbiyah dengan dikeraskan suaranya bagi laki-laki dan cukup dengan suara yang didengar orang yang ada di sampingnya bagi wanita, yaitu mengucapkan Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka.
  4. Sesampai Masjidil Haram menuju ka’bah, lakukan thawaf sebanyak 7 kali putaran.3 putaran pertama jalan cepat dan sisanya jalan biasa. Thowaf diawali dan diakhiri di hajar aswad dan ka’bah dijadikan berada di sebelah kiri. Setiap putaran menuju hajar aswad sambil menyentuhnya dengan tangan kanan dan menciumnya jika mampu dan mengucapkan Bismillahi wallahu akbar. Jika tidak bisa menyentuh dan menciumya, maka cukup memberi isyarat dan berkata Allahu akbar.
  5. Shalat 2 raka’at di belakang maqam Ibrahim jika bisa atau di tempat lainnya di masjidil haram dengan membaca surat Al-Kafirun pada raka’at pertama dan Al-Ikhlas pada raka’at kedua.
  6. Selanjutnya Sa’i dengan naik ke bukit Shofa dan menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangan dan mengucapkan Innash shofa wal marwata min sya’aairillah. Abda’u bima bada’allahu bihi (Aku memulai dengan apa yang Allah memulainya). Kemudian bertakbir 3 kali tanpa memberi isyarat dan mengucapkan Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu. Lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir. Laa ilaha illallahu wahdahu anjaza wa’dahu wa shodaqo ‘abdahu wa hazamal ahzaaba wahdahu 3x. Kemudian berdoa sekehendaknya. Sa’i dilakukan sebanyak 7 kali dengan hitungan berangkat satu kali dan kembalinya dihitung satu kali, diawali di bukit Shofa dan diakhiri di bukit Marwah.
  7. Mencukur rambut kepala bagi lelaki dan memotongnya sebatas ujung jari bagi wanita.
  8. Ibadah Umroh selesai

Persiapan Ibadah Haji
Beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum menunaikan ibadah Haji
  1. Membersihkan diri dari dosa dan kesalahan baik langsung kepada Allah SWT. maupun kepada sesama manusia.
  2. Karena ibadah Haji adalah ibadah fisik, maka perlu mempersiapkan mental untuk mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji yang memerlukan stamina tinggi, keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah SWT.
  3. Mempersiapkan biaya, baik selama dalam perjalanan haji, maupun untuk nafkah keluarg yang ditinggalkan.
  4. Melaksanakan kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan harta kekayaan, seperti zakat, nadzar, hutang, infaq dan shadaqah.
  5. Melaksanakan janji yang pernah diucapkan.
  6. Menyelesaikan segala urusan yang berhubungan dengan keluarga yang akan ditinggalkan.7. Memohon do’a restu kepada kedua orang tua (jika masih hidup)
  7. Mempersiapkan ilmu dan pengetahuan agama, dan mengikuti kegiatan manasik haji.
  8. Mempersiapkan obat-obatan pribadi selama menjalankan ibadah haji.
  9. Mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk keperluan selama perjalanan ibadah Haji:
Perlengkapan Pria
  1. Kain Ihram dua stel
  2. Baju sehari-hari secukupnya
  3. Ikat pinggang
  4. Keperluan mandi
Perlengkapan Wanita
  1. Mukena minimal 2 buah
  2. Pakaian ihram (rok putih dan mukena atas putih) 2 set
  3. Pakaian sehari-hari secukupnya
  4. Kaos kaki secukupnya
Perlengkapan untuk Pria dan Wanita
  1. Pakaian penghangat
  2. Selimut
  3. Sandal jepit
  4. Sepatu sandal atau sendal gunung
  5. Obat-obatan pribadi
  6. Gunting kecil utk Tahallul
  7. Payung
  8. Senter kecil (untuk penerangan saat mengambil batu di Musdalifah)
  9. Kantong kecil untuk menyimpan batu kerikil persiapan melempar jumroh
  10. Kantong sandal untuk tempat sandal saat di Masjid
  11. Pelembab atau cream, gunakan untuk tangan dan kaki
  12. Biaya untuk dam, kurban dsb.

Lokasi Utama Ibadah Haji dan Umroh
Makkah Al Mukaromah
Di kota Makkah Al-Mukaromah inilah terdapat Masjidil Haram yang didalamnya terdapat Ka’bah yang merupakan kiblat ibadah umat Islam sedunia. Dalam rangkaian perjalanan ibadah haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah haji.
Padang Arafah
Padang Arafah terdapat di sebelah timur Kota Makkah. Padang Arafah dikenal sebagai tempat pusatnya haji, sebagai tempat pelaksanaan ibadah wukuf yang merupakan rukun haji. Di Padang Arafah juga terdapat Jabal Rahmah tempat pertama kali pertemuan Nabi Adam dan Hawa. Di luar musim haji, daerah ini tidak dipakai.
Kota Muzdalifah
Kota ini tidak jauh dari kota Mina dan Arafah Mota Muzdalifah merupakan tempat jamaah calon haji melakukan Mabit (bermalam) dan mengambil batu untuk melontar Jumroh di Kota Mina.
Kota Mina
Kota Mina merupakan tempat berdirinya tugu (jumrah), yaitu tempat pelaksanaan melontarkan batu ke tugu (jumrah) sebagai simbolisasi tindakan nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Disana terdapat tiga jumrah yaitu jumrah Aqabah, Jumrah Ula, dan Jumrah Wustha.

Rabu, 05 Oktober 2011


Indahnya Berdoa


Assalamu ‘alaikum wr. wb. 
Allah SWT berfirman:“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).”
{QS. An-Naml: 62}.

Saudara-saudaraku, berbahagialah kita sekalian yang insya Allah termasuk ke dalam orang-orang yang berkata bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang maha esa. Tidak sampai di situ saja bahwa kita juga selalu berusaha mengingat-Nya di setiap kesempatan nafas kita sehingga kita menjadikan jalan hidup kita menjadi jalan untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

Berbahagialah bagi kita yang menjadikan doa sebagai senjata kita untuk menaklukkan dunia; berupaya dalam menjelajahi setiap arti penghambaan diri kita kepada Allah SWT. Disadari atau tidak bahwa sesungguhnya kekuatan doa itu sangat luar biasa. Itulah mengapa Allah SWT menyuruh hamba-hamba-Nya berdoa kepada-Nya. Di sini bukan dalam artian Allah SWT membutuhkan doa kita. Jika seluruh manusia dan jin memohon doa atau tidak berdoa kepada Allah SWT itu sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Allah - rabb semesta alam. Kemuliaan Allah tidak berubah tergantung keberadaan hamba-Nya.

Berarti doa kebaikan doa itu sendiri kembali lagi kepada si pemohon. Terlebih lagi Allah SWT telah berfirman seperti ayat di atas bahwa doa menghantarkan kita kepada posisi khalifah di muka bumi ini. Berarti ada beberapa kebaikan yang didapati sang pemohon doa. Keabaikan yang didapatkannya untuk memelihara posisinya untuk sukses di kehidupan dunia ini.
Adapun kebaikan itu adalah:
1. Memperjelas Kedudukan Kita Sebagai Hamba dan Allah Sebagai Rabb
            Makna penting yang dapat kita tarik dari sini adalah:
a. Menjadikan kita sebagai orang yang rendah hati
Seorang pendoa yang baik akan selalu rendah hati. Otomatis jiwa sombong dalam dirinya akan padam. Bila seseorang dapat meminimalkan sifat sombong dalam dirinya maka dia semakin dekat kea rah kesuksesan. Orang yang sombong tidak akan pernah menilai dirinya seobjektif mungkin. Dan bagaimana mungkin seorang akan sukses bila tidak ada evaluasi ke arah yang lebih baik.
Bolehlah kita tengok sejarah yang menjadi bahan pertimbangan kita. Tengoklah Fir’aun, Qarun, atau Haman. Maukah kita masuk ke dalam daftar orang-orang yang gagal bersama mereka? Pasti tidak.
b. Menjadikan kita sebagai orang yang memiliki mindset proses
Pendoa yang baik akan selalu meletakkan posisinya sebagai hamba. Dia menyadari bahwa ada bagian dari rencana hidup ini yang dia tidak kuasa akan hal itu. Prinsip yang tertanam dalam dirinya adalah melaksanakan apa yang memang dia bisa laksanakan, terlepas dari hasil yang didapatkan. Ini merupakan hal penting dalam kesuksesan.
Kegagalan bagi orang sukses adalah pencetus keinginan untuk melaksanakan yang lebih baik. Kegagalan adalah penghias indahnya sebuah proses. Cobalah kita melihat orang sukses menceritakan kisah hidupnya. Dia begitu bersemangat ketika menceritakan bagian tersulit dari hidupnya. Keluar dari kesusahan dengan usaha yang keras akan menimbulkan kepuasan yang tinggi.

2. Doa Memperjelas Target
            Doa hakikatnya adalah tujuan, keinginan, atau target yang ingin kita capai. Seorang pendoa yang baik tidak akan berdoa asal-asalan. Apa yang diucapkannya adalah apa yang memang diinginkannya. Itu akan tercermin dalam kehidupan sehari-harinya. Ibarat kata pepatah: Dimana ada kemauan di situ ada jalan, maka seorang pendoa yang baik akan telah menyiapkan kemauannya menyelingi setiap doanya.
            Coba tanyakan kepada orang sukses apakah mereka pernah menghadapi proses tanpa menyiapkan kemauan. Mungkinkah Islam tersebar luas jika Rasulullah tidak mau berdakwah? Mungkinkah Napoleon menguasai Prancis jika dia tidak menginginkannya? Mungkinkah Bosnia merdeka jika para jihaders di sana tidak memiliki kemauan memperjuangkannya?

3. Doa Sebagai Sarana Dzikir
            Doa adalah penenang hati. Seorang pendoa yang baik akan selalu terlihat tenang. Segala keputusannya akan dikeluarkan dalam keadaan tenang. Keputusan-keputusan yang dikeluarkan dalam keadaan hati tenang adalah keputusan yang mendekati kebijakan. Dan orang-orang sukses adalah orang bijak menghadapi segala proses kehidupannya.
            Allah berfirman dalam QS. Ar Ra’d ayat 28:

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

4. Doa Sebagai Penyemangat
            Seorang hamba orang yang berdoa berarti kita patut yakin bahwa dia memiliki harapan akan sesuatu, tergantung apa yang dipintanya. Harapan tadi akan memungkinkan timbulnya suatu semangat untuk berusaha mewujudkannya. Sebaik-baik harapan adalah harapan yang melahirkan semangat sedangkan seburuk-buruk harapan adalah harapan yang melahirkan angan-angan.
            Seorang yang sukses bukanlah seorang yang memiliki banyak angan-angan. Tolak ukur sukses bukan dinilai dari segudang konsep, melainkan dari apa-apa yang telah direalisasikan dalam prosesnya. Satu rencana yang baru dilaksanakan lebih baik dari seribu rencana yang tidak terjalankan.
            Di sini terlihat begitu mahalnya harga semangat. Semangat itu dapat melahirkan suatu unsur untuk berubahnya kehidupan seseorang. Tidak mungkin kehidupan kita berubah kalau hanya mengandalkan semangat orang lain. Allah berfirman dalam QS. Ar Ra’d ayat 11:

…Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…

Saudaraku, perbanyaklah doa karena doa adalah senjata bagi orang-orang yang beriman serta doa juga merupakan pijakan-pijakan untuk kesuksesan. Dengan berdoa kita berarti kita menyadari keadaan diri kita sendiri sehingga kita aktif melakukan perbaikan-perbaikan. Tidak hanya itu Allah SWT telah berjanji akan memberi pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. Oleh karena itu, jika Anda ingin sukses di dunia dan akhirat maka perbanyaklah doa karena kebaikan doa itu kembali kepada diri kita sendiri.
Wallahu a’lam

Senin, 03 Oktober 2011

MOTIFASI SEMANGAT UNTUK BERQORBAN


MOTIFASI SEMANGAT UNTUK BERQORBAN

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang


Assalmu’alaikum Wr. Wb.
Maha suci Allah SWT. Rintihan kerinduan senantiasa tersenandungkan dalam qalbu hamba-hamba kepada Pemilik diri, Allah SWT yang mencipta dengan ketulusan  kasih sayang-Nya. Shalawat dan salam kepada kekasih-Nya Muhammad SAW, manusia yang hidup dalam kesempurnaan cinta-Nya. Dan salam kemanusiaan kepada semua manusia yang telah memaknai hidupnya dengan cinta Ilahi dan berevolusi kepada-Nya.
Hari Iedul Adha adalah merupakan puncak dari ibadah haji. Hari yang dirayakan tidak hanya oleh umat muslim yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci Makkah Al-Mukaromah, tetapi juga dirayakan dengan penuh suka cita oleh umat muslim di seluruh dunia. Hari raya ini disebut juga Hari Raya Qurban, dimana pada hari itu bagi setiap hamba-Nya yang mampu dianjurkan untuk menunaikan kewajibannya menyembelih hewankurban.“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syari’atkan penyembelihan (Qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al Hajj : 34)
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan ber-qurban-lah.” (QS. Al Kautsar : 1-2)
Dari dua surat di atas, secara langsung Allah SWT memberikan perintah agama (syari’at) di dalam kitab-Nya yang suci, bahwa kepada kita yang mengaku sebagai ummat-Nya diwajibkan untuk melaksanakan ibadah penyembelihan hewan qurban. Sejalan dengan tujuannya, kewajiban ini akan jatuh kepada hamba-hamba-Nya yang telah dilimpahi rezki dan membagi rezeki yang Allah berikan dengan saudara-saudara lain yang kurang (dhuafa).
Ibadah qurban yang diperintahkan kepada ummat Nabi Muhammad SAW adalah ibadah yang mengacu kepada sejarah kurbannya Nabi Ibrahim A.S. Perintah mengorbankan anak yang dicintainya, Nabi Ismail A.S. yang kemudian Allah gantikan dengan seekor gibas adalah salah satu bukti ketaatan Nabi Ibrahim A.S dalam menjalankan perintah Allah SWT. Oleh karena itu, pelaksanaan ibadah qurban harus diniatkan dalam rangka taat dan menjalankan perintah Allah, sebagaimana ayat-ayat di atas.
Ibadah qurban juga memiliki keutamaan yaitu pengampunan dan keridhaan dari Allah SWT. Amalan yang paling dicintai Allah pada hari Raya Iedul Adha adalah hewan qurban. Rasulullah SAW bersabda:
Tidak ada satu amalan yang paling dicintai Allah dari bani Adam ketika hari raya Iedul Adha selain menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) Kurban itu.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Hakim)
Imam Ali r.a berkata: “barang siapa berangkat dari rumahnya hendak membeli hewan Qurban, maka setiap langkahnya memperoleh 10 kebaikan, dihilangkan 10 keburukan dan dinaikan 10 derajat. apabila mereka bicara dianggap bertasbih dan ketika membayarkan harganya setiap dirham memperoleh 700 kebaikan dan ketika meletakkan hewan Qurban itu diatas tanah untuk disembelih maka Allah menjadikan setiap tetes darahnya itu 10 malaikat yang selalu beristighfar untuknya” Subhanallah walhamdulillah walailahaillallahu Allahuakbar, Semoga Hewan Qurban dari bapak atau Ibu mendapat barokah dari Allah SWT.
Billahittaufiq wal hidayah
Wassalamu ‘alaikum Wr.Wb.

Kamis, 29 September 2011

DO’A, UCAPAN & BACAAN KELAHIRAN ANAK/BAYI YANG SHAHIH


(TERBARU): ‘Baarokallohu laka fil mauhuubi laka wa sayakartal waahib wa balagho asyuddahu wa ruziqta birrohu’” ATAU “Ja’alallahu mubaarokan ‘alaika wa ‘ala ummati Muhammadin”

Ucapan Selamat bagi Orang tua yang Baru Lahir Anaknya

 Sering bingung mau mengucapkan apa ketika mendengar ada ikhwah yang baru mendapatkan bayi? Saya juga. Maunya sih mengucapkan doa tertentu, tapi tidak tahu ada atau tidaknya dalil syar’i dalam perkara ini. Terkadang hanya mengucapkan doa umum, “Selamat ya, barakallahu fiikum”. Tapi sekarang alhamdulillah, sudah ketemu atsar dari salaf, bagaimana ucapan selamat mereka kepada orang tua yang baru dianugerahi bayi oleh Allah ta’ala.
Di dalam buku Menyambut si Buah Hati yang ditulis oleh Salim Rasyid As-Sibli dan Muhammad Khalifah (terbitan Ash-Shaf Media, halaman 30-31), penulis buku tersebut mengatakan,
“Tidak terdapat satu hadits pun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ucapan selamat, dan tidak ada sesuatu pun kecuali atsar yang diriwayatkan dari para tabi’in. Di antaranya:
Dari Hasan Al-Bashri rahimahullah, bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Bagaimana cara saya mengucapkan ucapan selamat (kelahiran)?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah olehmu,
جَعَلَ اللهُ مُبَارَكًا عَلَيْكَ وَ عَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ
“Ja’alallahu mubaarokan ‘alaika wa ‘ala ummati Muhammadin”
Artinya, “Semoga Allah menjadikannya anak yang diberkahi atasmu dan atas umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”
(Atsar ini hasan, dikeluarkan oleh Imam Thabrani).” >>nukilan sampai di sini.
Sebenarnya masih ada atsar lain dari Ayyub As-Sikhtiyani, namun karena lafazhnya sama, kita cukupkan dengan atsar Hasan Al-Bashri. Untuk melihat atsar tersebut serta takhrij atsar yang lebih komplit bisa dilihat di buku terjemahannya.
Kemudian, penulis juga berkata,
“Atsar-atsar seperti ini jauh lebih baik daripada apa yang kami lihat berupa ucapan yang diada-adakan yang bisa digunakan pada hari ini. Dan tidak seorang pun di antara ahlul ilmi yang memperbolehkannya. Akan tetapi bersamaan dengan itu kami tidak melazimkan (membiasakan) memberi ucapan selamat seperti di atas, layaknya amalan itu disebutkan oleh sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak juga kami menjadikannya seperti dzikir-dzikir yang lain yang telah pasti di dalam as-sunnah. Maka barangsiapa yang mengucapkannya pada suatu kali, tidak mengapa. Adapun yang tidak mengucapkannya maka tidak ada ruginya.” >> Sampai di sini nukilan dari buku tersebut.
Demikianlah apa yang bisa kita bagi pada kesempatan kali ini.. Semoga bisa bermanfaat. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.


TAMBAHAN :
Selain dari ucapan tersebut, ada ucapan lainnya yang shahih,
بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ. وَيَرُدُّ عَلَيْهِ الْمُهَنَّأُ فَيَقُوْلُ: بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا، وَرَزَقَكَ اللهُ مِثْلَهُ، وَأَجْزَلَ ثَوَابَكَ
‘Baarokallohu laka fil mauhuubi laka wa sayakartal Waahib wa balagho asyuddahu wa ruziqta birrohu’.” 
“Semoga Allah memberkahimu dalam anak yang diberikan kepadamu. Kamu pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta kamu dikaruniai kebaikannya.”
Sedang orang yang diberi ucapan selamat membalas dengan mengucapkan:
Baarokallohu laka wa baaroka ‘alaika wa jazaakallohu khoiron wa rozaqokallohu mitslahu aw ajzalallohu tsawaabak.
“Semoga Allah juga memberkahimu dan melimpahkan kebahagiaan untukmu. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan, mengaruniakan kepadamu sepertinya dan melipat gandakan pahalamu.”
[Lihat Al-Adzkar, karya An-Nawawi, hal. 349, dan Shahih Al-Adzkar lin Nawawi, oleh Salim Al-Hilali 2/713

Selasa, 27 September 2011


                       ISTIFAR YUK
MOHON AMPUNAN ATAS SEGALA DOSA PADA ILLAHIROBI

Astaghfirullah Robbal Barooyaa
Astaghfirullah Minal Khotooyaa

Robbi Zidhnii 'ilman naafi'aa
Wa waafiqlii 'amalan magbuullaan
   Wa waahablii rizqon waasi'aa
Watub 'alaiya taubatan nasuuhaa
Watub 'alaiya taubatan nasuuhaa

   Hidup di dunia sebentar saja
   Sekedar mampir sekejap mata
Jangan terpesona jangan terpedaya
 Akherat nanti tempat pulang kita
  Akherat nanti hidup sebenarnya

   Barang siapa Alloh tujuannya
Niscaya dunia akan melayaninya
  Namun siapa dunia tujuannya

Niscaya kan letih dan pasti sengsara
Diperbudak dunia sampai akhir masa

 Alloh melihat Alloh mendengar
    segala sikap dan kata kita
Tiada yang luput satupun jua
Alloh takkan lupa selama-lamanya
Alloh takkan lupa selama-lamanya

Wahai Sahabat cepatlah taubat
Karena ajal kian mendekat
Takutlah siksa yang menghancurkan
Azab jahanam sepanjang Zaman
Azab jahanam sepanjang zaman

Ingatlah maut pasti kan menjemput
Putuskan nikmat dan cita-cita
Tak dapat ditolak tak dapat dicegah

Bila waktu hidup berakhir sudah
Bila waktu hidup berakhir sudah

Tubuhpun kaku terbungkus kafan
Tiada guna harta pangkat jabatan
Tinggallah ratap dan penyesalan
Menanti peradilan yang menentukan
Menanti peradilan yang menentukan

Astaghfirullah Robbal Barooyaa
Astaghfirullah Minal Khotooyaa

 K. Aburidza.