Minggu, 29 Januari 2012

Cinta Allah SWT

Cinta Allah SWT

Cinta Yang Syari Dasarnya Iman
alhikmah.ac.id – Cinta seorang mukmin itu lahir dari ketulusan imannya kepada Allah Swt, bukan semata-mata memenuhi runtunan nafsu dan iblis karena iblis membawa manusia kepada kehancuran sedang Allah mengajak manusia kepada Syurga dan jalan yang lurus.
Dalil:
Q.3: 15, Katakanlah (wahai Muhammad): “Maukah supaya aku kabarkan kepad kamu akan yang lebih baik daripada semuanya itu? Yaitu bagi orang-orang yang bertakwa disediakan disisi Tuhan mereka beberapa Syurga, yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Disediakan juga pasangan-pasangan/isteri-isteri yang suci bersih, serta (beroleh pula) keridhaan dari Allah”. Dan (ingatlah), Allah senantiasa Melihat akan hamba-hambaNya.
Q.52: 21, Dan orang-orang yang beriman yang diturut oleh zuriat keturunannya dengan keadaan beriman, Kami hubungkan (himpunkan) zuriat keturunannya itu dengan mereka (di dalam Syurga), dan Kami (dengan itu) tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal-amal mereka, tiap-tiap seorang manusia terikat dengan amal yang dikerjakannya.
Q.3: 170, (Dan juga) mereka bersuka cita dengan kurniaan Allah (balasan mati syahid) yang telah dilimpahkan kepada mereka, dan mereka bergembira dengan berita baik mengenai (saudara-saudaranya) orang-orang (Islam yang sedang berjuang), yang masih tinggal di belakang, yang belum (mati dan belum) sampai kepada mereka, (yaitu) bahwa tidak ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berduka cita.
Cinta Yang Tidak Benar Dasarnya Syahwat.
Tanpa sandaran kepada iman dan kecintaan kepada Allah, manusia akan melakukan sesuatu berdasarkan tuntutan nafsu semata-mata. Oleh itu cinta tanpa iman adalah memenuhi tuntutan syahwat semata-mata. Ini bukanlah ciri-ciri peribadatan mukmin yang yakinkan pembalasan Hari Akhirat.
Dalil:
Q.3: 14, Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia, kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, yaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak, harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak, kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih, dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (yaitu Syurga).
Q.80: 34-37, Pada hari seseorang itu lari dari saudaranya, dan ibu serta bapaknya, dan isterinya serta anak-anaknya, karena tiap-tiap seorang dari mereka pada hari itu ada perkara-perkara yang cukup untuk menjadikannya sibuk dengan hal dirinya saja.
Q.43: 67, Pada hari itu sahabat-sahabat karib setengahnya akan menjadi musuh kepada setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan takwa (iman dan amal soleh).
Ciri-Ciri Cinta.
1. Selalu Teringat-ingat.
Antara alamat cinta sebenar ialah seseorang itu senantiasa mengingati orang yang dicintainya. Apa juga yang dilakukan mesti dipikirkan apakah manfaat kepada yang dicintai, apakah pandangan yang dicintai dan seterusnya sehingga apa pendirian yang hendak diambil, mesti mengambil kira orang yang dicintai.
Dalil:
Q.8: 2, Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman, dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah.
2. Mengkagumi.
Mencintai sesuatu adalah karena ada aspek-aspek yang dikagumi pada orang yang dicintai. Sama ada karena pemurah atau cantik atau penyayang atau sebagainya. Begitulah dalam hubungan cinta dengan Allah, kita senantiasa mengkagumi kehebatan yang Allah miliki.
Dalil:
Q.1: 1, Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.
3. Ridha
Ciri cinta juga ialah hati kecil kita meridhai kepada orang yang dicintai.
Dalil:
Q.9: 61, Dan diantara mereka (yang munafik itu) ada orang-orang yang menyakitas Nabi sambil mereka berkata: “Bahwa dia (Nabi Muhammad) orang yang suka mendengar (dan percaya pada apa yang didengarnya)”. Katakanlah: “Dia mendengar (dan percaya) apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan percaya kepada orang mukmin, dan ia pula menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakitas Rasulullah itu, bagi mereka azab siksa yang tidak terperi sakitnya.
4. Siap Berkorban.
Dalil:
Q.2: 207, Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah semata-mata dan Allah pula amat belas kasihan akan hamba-hambanya.
5. Takut.
Dalil:
Q.21: 90, Maka Kami perkenankan doanya, dan Kami kurniakan kepadanya (anaknya) Yahya dan Kami perelokkan keadaan isterinya yang mandul (untuk melahirkan anak) baginya. (Kami limpahkan berbagai ihsan kepada Rasul-rasul itu ialah karena) sesungguhnya mereka senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan senantiasa berdoa kepada kami dengan penuh harapan serta gerun takut dan mereka pula senantiasa khusyuk (dan taat) kepada Kami.
6. Mengharap.
Dalil:
Q.21: 90, Maka Kami perkenankan doanya dan Kami kurniakan kepadanya (anaknya) Yahya dan Kami perelokkan keadaan isterinya yang mandul (untuk melahirkan anak) baginya. (Kami limpahkan berbagai ihsan kepada Rasul-rasul itu ialah karena) sesungguhnya mereka senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan senantiasa berdoa kepada kami dengan penuh harapan serta gerun takut, dan mereka pula senantiasa khusyuk (dan taat) kepada Kami.
7. Mentaati.
Dalil:
Q.4: 80, Sesiapa yang taat kepada Rasulullah, maka sesungguhnya ia telah taat kepada Allah dan sesiapa yang berpaling ingkar, maka (janganlah engkau berduka cita wahai Muhammad), karena Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pengawal (yang memelihara mereka dari melakukan kesalahan).
Hal ini Didapati Pada Manusia Dalam Mencintai Allah atau Mencintai Selain Allah.

Tingkatan Mahabbah
1. Hubungan hati, cinta ini terhadap benda
2. Simpati
3.Curahan hati, untuk kaum muslimin pada umumnya
4.Rasa rindu, untuk sesama mukmin
5.Mesra, untuk Rasulullah dan Islam
6.Tatayyum (cinta menghamba), hanya untuk Allah

Kosekwensi Mahabbah
  1. Mencintai siapa-siapa yang dicintai kekasih
  2. Mencintai apa saja yang dicintai kekasih
  3. Menghasilkan wala’
  4. Membenci siapa saja yang dibenci kekasih
  5. Membenci apa saja yang dibenci kekasih

Ihsan

Ihsan

1.         Pengawasan Allah.
Dalil:
·          Q.50: 16-18, Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang (pengetahuan) Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Semasa dua malaikat (yang mengawal dan menjaganya) menerima dan menulis segala perkataan dan perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan nya, dan yang satu lagi disebelah kirinya. Tidak ada sembarang perkataan yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan ada disisinya malaikat pengawas yang senantiasa sedia (menerima dan menulisnya).
·           Q.80: 14, Yang tinggi derajatnya lagi suci (dari segala gangguan).
·           Q.2: 284, Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi adalah kepunyaan Allah. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hati kamu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan menghitung dan menyatakannya kepada kamu. Kemudian Ia mengampunkan bagi sesiapa yang dikehendakiNya dan menyiksa sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya). Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
2.         Kebaikan Allah.
Dalil:
·           Q.28: 77, Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari dunia dan berbuat baiklah (kepada hamba-hamba Allah) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmatNya yang melimpah-limpah) dan janganlah engkau melakukan kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan.
·           Q.1: 3, Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.
·           Q.2: 29, Dialah (Allah) yang menjadikan untuk kamu segala yang ada di bumi, kemudian Ia menuju dengan kehendakNya kearah (bahan-bahan) langit, lalu dijadikannya tujuh langit dengan sempurna dan Ia Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.
·           Q.31: 20, Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah memudahkan untuk kegunaan kamu apa yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan telah melimpahkan kepada kami nikmat-nikmatNya yang zahir dan yang bathin. Dalam pada itu ada diantara manusia orang yang membantah mengenai (sifat-sifat) Allah dengan tidak berdasarkan sembarang pengetahuan atau sembarang petunjuk dan tidak juga berdasarkan nama-nama Kitab Allah yang menerangi kebenaran.
3.         Niat Yang Ihsan.
Dalil:
·           Q.2: 207, Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah semata-mata dan Allah pula amat belas kasihan akan hamba-hambanya.
4.         Niat Yang Ikhlas.
Dalil:
·           Q.98: 5, Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh diatas tauhid dan supaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan demikian itulah agama yang benar.
5.         Pekerjaan Yang Tertib dan Penyelesaian Yang Baik.
6.         Amal Yang Ihsan.
7.         Kecintaan Dari Allah.
Dalil:
·           Q.2: 195, Dan belanjakanlah (apa yang ada pada kamu) karena (menegakkan) agama Allah, dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan (dengan bersikap bakhil), dan baikilah (dengan sebaik-baiknya segala usaha dan) perbuatan kamu, karena sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya.
·           Q.3: 134, Yaitu orang-orang yang mendermakan hartanya pada masa senang dan susah, dan orang-orang yang menahan kemarahannya dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang. Dan (ingatlah) Allah mengasihi orang-orang yang berbuat perkara-perkara yang baik.
·           Q.3: 148, Oleh itu, Allah memberikan mereka pahala dunia (kemenangan dan nama yang harum) dan pahala akhirat yang sebaik-baiknya (nikmat Surga yang tidak ada bandingannya). Dan (ingatlah) Allah senantiasa mengasihi orang-orang yang berbuat kebaikan.
8.         Pahala Dari Allah.
Dalil:
·           Q.3: 148, Oleh itu Allah memberikan mereka pahala dunia (kemenangan dan nama yang harum) dan pahala akhirat yang sebaik-baiknya (nikmat Surga yang tidak ada bandingannya). Dan (ingatlah) Allah senantiasa mengasihi orang-orang yang berbuat kebaikan.
·           Q.16: 97, Sesiapa yang beramal soleh dari lelaki atau perempuan sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik, dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka, dengan memberikan pahala yang lebih dari apa yang mereka telah kerjakan.
9.         Pertolongan Allah.
Dalil:
·           Q.16: 128, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa, dan orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya.
·           Q.29: 69, Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh karena memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keridhaan), dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah beserta orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya.

Makna Ilah

Makna Ilah

Kalimat Laa ilaha illa Allah tidak mungkin difahami kecuali dengan memahami terlebih dahulu ma’na ilah yang berasal dari ‘aliha’ yang memiliki berbagai macam pengertian. Dengan memahaminya kita mesti mengetahui motif-motif manusia mengilahkan sesuatu. Ada empat makna utama dari aliha yaitu sakana ilahi, istijaara bihi, asy syauqu ilaihi dan wull’a bihi. Aliha bermakna abaduhu (mengabdi/menyembahnya) kerana empat perasaan itu demikian mendalam dalam hatinya, maka dia rela dengan penuh kesadaran untuk menghambakan diri kepada ilah (sembahan) tersebut. Dalam hal ini ada tiga sikap yang mereka berikan terhadap ilahnya yaitu kamalul mahabah, kamalut tadzalul, dan kamalul khudu’. Al ilah dengan ma’rifat yaitu sembahan yang sejati hanyalah hak Allah saja, tidak boleh diberikan kepada selainNya. Dalam menjadikan Allah sebagai Al Ilah terkandung empat pengertian yaitu al marghub, al mahbub, al matbu’ dan al marhub. Al ma’bud merupakan sesuatu yang disembah secara mutlak. Kerana Allah adalah satu-satunya Al Ilah, tiada syarikat kepadaNya, maka Dia adalah satu-satunya yang disembah dan diabdi oleh seluruh kekuatan yang ada pada manusia. Pengakuan Allah sebagai al Ma’bud dibuktikan dengan penerimaan Allah sebagai pemilik segala loyalitas, pemilik ketaatan dan pemilik hukum.

1.         Aliha.

Mereka tentram kepadanya (sakana ilaihi) yaitu ketika ilah tersebut diingat-ingat olehnya, ia merasa senang dan manakala mendengar namanya disebut atau dipuji orang ia merasa tenteram.
Merasa dilindungi oleh-Nya (istijaara bihi), karena ilah tersebut dianggap memiliki kekuatan ghaib yang mampu menolong dirinya dari kesulitan hidup.
Merasa selalu rindu kepadanya (assyauqu ilaihi), ada keinginan selalu bertemu dengannya, baik terus-menerus atau tidak. Ada kegembiraan apabila bertemu dengannya.
Merasa cinta dan cenderung kepadanya (wull’a bihi). Rasa rindu yang menguasai diri menjadikannya mencintai ilah tersebut, walau bagaimanapun keadaannya. Ia selalu beranggapan bahwa pujaannya memiliki kelayakan dicintai sepenuh hati.
Dalil:
  1. Perkataan orang Arab: “saya merasa tenteram kepadanya”, “si fulan meminta perlindungan kepadanya”, “si fulan merasa rindu kepadanya”, “anak itu cenderung kepada ibunya”.
  2. Q.10: 7-8, manusia yang mengilahkan kehidupan dunia merasa tenteram dengan hidup dunia, Q.7: 138, bani Israel yang bodoh menghendaki adanya ilah yang dapat menenteramkan hati mereka.
  3. Q.72: 6, manusia memperilah jin dengan meminta perlindungan kepadanya. Q.36: 74-75, orang-orang musyrik mengambil pertolongan dari selain Allah padahal semuanya tidak dapat menolong kita, lihat Q.7: 197.
  4. Q.2: 93, 20: 91, bani Israel larut dalam kerinduan yang berlebihan terhadap ijla (anak lembu) yang dijadikannya ilah. Q.26: 71, para penyembah berhala sangat tekun melakukan pengabdian karena selalu rindu padanya.
  5. Q.29: 25, berhala-berhala adalah menyatukan bangsa yang sangat disenangi oleh orang-orang musyrik. Q.2: 165, tandingan (andad) merupakan sembahan-sembahan selain Allah yang dicintai oleh orang-orang musyrik sama dengan mencintai Allah karena mereka sangat cenderung atau dikuasai olehnya.

2.         Abadahu.

Dia amat sangat mencintainya (kamalul mahabbah), sehingga semua akibat cinta siap dilaksanakannya. Maka dia pun siap berkorban memberi loyalitas, taat dan patuh dan sebagainya.
Dia amat sangat merendahkan diri di hadapan ilahnya (kamalut tadzulul). Sehingga menganggap dirinya sendiri tidak berharga, sedia bersikap rendah serendah-rendahnya untuk pujaannya itu.
Dia amat sangat tunduk, patuh (kamalul khudu’). Sehingga akan selalu mendengar dan taat tanpa reserve, serta melaksanakan perintah-perintah yang menurutnya bersumber dari sang ilah.
Dalil:
  1. Perkataan orang Arab aliha adalah abadahu. Seperti aliha rajulu ya-lahu (lelaki itu menghambakan diri pada ilahnya).
  2. Q.39: 45, orang kafir yang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai ilahnya demikian senangnya apabila mendengar nama kecintaannya serta tidak suka apabila nama Allah disebut. Hadits, sabda Rasulullah Saw, “Celakalah hamba dinar (wang emas), celakalah hamba dirham (wang perak), celakalah hamba pakaian (mode). Kalau diberi maka ia ridha, sedangkan apabila tidak diberi maka ia akan kesal. Ini disebabkan kecintaan yang amat sangat terhadap barang-barang tersebut.
  3. Q.71: 23, orang-orang kafir sangat mengharmati berhala-berhalanya sembahannya. Q.21: 59, 68, reaksi orang musyrik yang marah karena berhala-berhalanya dipermalukan oleh Nabi Ibrahim AS. Mereka menghukum Nabiyullah untuk membela berhala-berhala. Ini karena rasa rendah diri dan hormat terhadap berhala-berhala tersebut.
  4. Q.36: 60, orang-orang kafir pada hakikatnya mengabdi kepada syaithan yang memperdaya mereka. Q.6: 137, orang-orang kafir demikian patuhnya sehingga bersedia membunuh anak-anaknya untuk mengikuti program ilah-ilah sembahannya.

3.         Al Ilah.

Al Marghub yaitu dzat yang senantiasa diharapkan. Karena Allah selalu memberikan kasih sayangNya dan di tangan Nyalah segala kebaikan.
Al Mahbub, dzat yang amat sangat dicintai karena Dia yang berhak dipuja dan dipuji. Dia telah memberikan perlindungan, rahmat dan kasih sayang yang berlimpah ruah kepada hamba-hambanya.
Al Matbu’ yang selalu diikuti atau ditaati. Semua perintahNya siap dilaksanakan dengan segala kemampuan sedang semua laranganNya akan selalu dijauhi. Selalu mengikuti hidayah atau bimbinganNya dengan tanpa pertimbangan. Allah saja yang sesuai diikuti secara mutlak, dicari dan dikejar keridhaanNya.
Al Marhub, sesuatu yang sangat ditakuti. Hanya Allah saja yang berhak ditakuti secara syar’i. Takut terhadap kemarahanNya, takut terhadap siksaNya, dan takut terhadap hal-hal yang akan membawa kemarahanNya. Rasa takut ini bukan membuat ia lari, tetapi membuatnya selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Dalil:
  1. Q.2: 163-164, Allah adalah ilah yang esa tiada Ilah selain Dia, dengan rahmat dan kasih sayangnya yang teramat luas.
  2. Q.2: 186, 40: 60, 94: 7-8, hanya Allah yang sesuai diharap karena Ia maha memberi atau mengabulkan do’a hambaNya. Q.21: 90-91, orang-orang mukmin menghambakan diri kepada Allah dengan harap dan cemas.
  3. Q.2: 165, Allah adalah kecintaan orang yang mukmin dengan kecintaan yang amat sangat. Q.8: 2, sehingga ketika disebut nama Allah bergetar hatinya. Q.9: 24, Allah berada diatas segala kecintaan.
  4. Q.51: 50, perintah Allah untuk bersegera menuju Allah karena hanya Allah saja yang sesuai diikuti. Q.37: 99, menuju Allah untuk memperoleh bimbingan dan hidayahNya untuk diikuti.
  5. Q.2: 40, 9: 13, 33: 39, hanya Allah saja yang sesuai ditakuti dengan mendekatkan diri kepadaNya.

4.         Al Ma’bud.

Pemilik kepada segala loyalitas, perwalian atau pemegang otoritas atas seluruh makhluk termasuk dirinya. Dengan demikian loyalitas mukminan hanya diberikan kepada Allah dengan kesadaran bahwa loyalitas yang diberikan pada selain Nya adalah kemusyrikan.
Pemilik tunggal hak untuk ditaati oleh seluruh makhluk di alam semesta. Mukmin meyakini bahwa ketaatan pada hakikatnya untuk Allah saja. Seorang mukmin menyadari sepenuhnya bahwa mentaati mereka yang mendurhakai Allah adalah kedurhakaan terhadap Allah.
Pemilik tunggal kekuasaan di alam semesta. Dialah yang menciptakan dan berhak menentukan aturan bagi seluruh ciptaanNya. Maka hanya hukum dan undang-undangNya saja yang adil. Orang mukmin menerima Allah sebagai pemerintah dan kerajaan tunggal di alam semesta dan menolak kerajaan manusia.
Dalil:
  1. Q.109: 1-6, pernyataan mukmin bahwa pengabdianNya hanya untuk Allah saja dan sekali-kali tidak akan mengabdi selainNya. Q.16: 36, Rasul diutus dengan risalah pengabdian pada Allah saja dan menjauhi segala yang diabdi selain Allah. Q.2: 21, perintah Allah untuk mengabdi kepadaNya saja dengan tidak mengambil selain Allah sebagai tandingan-tandingan.
  2. Q.7: 196, pernyataan mukmin bahwa wali (pemimpin) nya hanya Allah saja. Q.2: 257, berwalikan kepada Allah melepaskan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
  3. Q.7: 54, hak menciptakan dan hak memerintah hanyalah milik Allah. Mukmin hanya mengakui kerajaan Allah. Hadits, mukmin hanya akan taat pada sesuatu yang diizinkan Allah, Rasul dan ulil amri. Mukmin tidaklah akan mentaati perintah maksiat kepada Allah.
  4. Q.12: 40, hak menentukan hukum dan undang-undang hanyalah hak Allah. Q.24: 1, Allah mewajibkan manusia melaksanakan hukum-hukumNya. Q.5: 44,45,47 mereka yang menolak aturan atau hukum Allah adalah kafir, zalim dan fasik. Ini artinya pemerintahan Allah saja yang boleh tegak sedang pemerintahan manusia adalah batil.

Khasiat Daun Bidara Untuk Pengobatan Sihir Dan Medis

Khasiat Daun Bidara Untuk Pengobatan Sihir Dan Medis

Sinonim :
Strychnos lucida R.Br.Familia :
Loganiaceae.Uraian :
Tumbuhan semak, tinggi lebih kurang 2 meter. Berbatang kecil, berkayu keras, dan kuat. Bagian yang Digunakan Kayu dan biji.
Nama Lokal :
NAMA DAERAH: Bidara laut, Bidara pait, Bidara putih, Kayu ular. Dara laut, Dara putih (Jawa); Bidara gunong (Madura); Aju mapa, Bidara mapai (Bugis); Ai betek, Ai hedu, Hau feta (Roti); Maba putih, Elu, Ai baku moruk (Timor). NAMA ASING: NAMA SIMPLISIA: Ligustrinae Lignum; Kayu Bidara Laut. Ligustrinae Semen; Biji Bidara Laut.
Penyakit Medis Yang Dapat Diobati :
Sifat Khas Pahit, mendinginkan, melancarkan peredaran darah, rnembersihkan darah, dan beracun. Khasiat Anti inflamasi, analgesik, dan diaforetik. PENELITIAN Supriadi, 1986. Jurusan Farmasi, FMIPA UNHAS. Telah melakukan penelitian pengaruh hipoglikemik rebusan kayu Bidara Laut terhadap kelinci. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata bahwa pemberian rebusan 5, 10, 15, dan 25% dengan takaran 5 ml/kg bb, menyebabkan penurunan kadar gula darah masing-masing 16,49%; 20,23%; 36,04%; dan 43,96%. Pada pemberian tobultamid dengan takaran 250 mg/kg bb, menunjukkan penurunan kadar gula darah sebesar 44,72%. E.Y. Sukandar, Ny. N.C. Soegiarso, dan I. Payayuani. Farmakologi, Departernen Farmasi, ITB. Telah melakukan penelitian pengaruh infus Bidara Laut terhadap efek antiradang pada tikus putih Wistar. Untuk meradangkan tikus digunakan karagen. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata infus Bidara Laut pada takaran tertentu mempunyai efek antiradang yang bermakna. Peringatan Simplisia mengandung striknina dan brusina. Takaran berlebih dapat menyebabkan kaku pada leher dan muka, napas pendek, dilatasi pupil mata, dan kejang. Tidak boleh digunakan untuk waktu lama.
Mengobati Gangguan Sihir
Daun bidara tidak hanya dimanfaatkan untuk memandikan jenazah, orang yang baru masuk Islam atau mandi haidh, tapi juga memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, di antaranya, diare, kencing manis dan malaria.
Selain itu daun bidara sangat efektif untuk membantu proses penyembuhan penyakit karena gangguan jin. Ulama Wahab bin Munabih menyarankan untuk menggunakan tujuh lembar bidara yang dihaluskan. Kemudian dilarutkan dalam air dan dibacakan ayat Kursi, surat al-Kafirun, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas. (Boleh juga dibacakan ayat-ayat al-Qur’an lainnya) Lalu dipergunakan untuk mandi atau diminum. (lihat Mushannaf Ma’mar bin Rasyid 11/13)
Kaidah penggunaan daun bidara adalah :
a. Ambil daun bidara pada bilangan ganjil, paling sedikit 7 lembar daun, taruh di penggilingan/cobek dan tumbuklah hingga halus (dicampur sedikir  air)
b. Setelah halus, campurkan dalam segelas air untuk diminum
c. Atau dicampur dan diaduk dalam seember air untuk buat mandi
jangan lupa sebelum dibuat mandi atau diminun bacakan dulu ayat-ayat ruqyah. Jika dibuat untuk mandi lebih afdhol air daun bidara ditaruh di bateup dan pasien berendam selama 10 menit atau jika tidak ada pada bilasan pertama gunakan air daun bidara lalu gosok-gosok ketubuh dan diamkan selama 5 menitan lalu biilasan kedua gunakan air biasa dan sabun mandi.
Saya sudah mencoba tekhnik mandi dan minum air daun bidara ini pada pasien yang terkena Sihir Padang ” gasing tengkorak” setelah 7 hari mandi dan minum air daun bidara + ditambah minum air As-sanaa kondisinya 90% sembuh. Pada awal terkena sihir ini pasien sama sekali tidak dapat melihat suaminya dan sama sekali tidak bisa berbicara sebab mata dan mulutnya terkunci/dikunci oleh Khodam sihir gasing tengkorak.
Saya jika hanya meruqyahnya akan sangat kewalahan sebab setan ini termasuk golongan tinggi  saya pancung sama sekali ga mempan/ga mati-mati, saya tarik paksa untuk keluar selalu gagal, jika diruqyah cuma teriak kepanasan namun tetap ga mau keluar. Sayapun sempat terkena serangan berupa tusukan “ghoib” diperut dan dada hingga sempat susah bernafas dan terasa sangat sakit, ketika meruqyah saya selalu “melihat” kilasan jin berbaju hijau yang mengintai saya dan pasien, sepertinya kelompok jin itu sengaja menampakkan wujudnya pada saya, jika saya timbul ketakutan dalam hati maka akan celaka fisik dan psikis saya namun alhamdulillah saya sudah terbiasa diteror jin.

Pengobatan Nabi

Pengobatan Nabi

“Pengobatan cara Nabi memiliki perbedaan dibanding dengan metode pengobatan lainnya. Karena metode ini bersumber dari wahyu, misyakat kenabian dan akal yang sempurna, maka tentu memiliki derajat kepastian yang menyakinkan di samping memiliki nilai keilahian, berbeda dengan metode pengobatan lainnya yang umumnya hanya berdasarkan pikiran, dugaan atau pengalaman semata-mata.” [Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah, dalam Zaadul Ma’ad IV hal.33] Sesungguhnya kesehatan merupakan salah satu ni’mat besar yang Allah berikan kepada manusia, sayangnya, nikmat ini kadang-kadang kurang disukuri. Tak jarang manusia -termasuk kita- menyia-nyiakannya. Lalu, ketika penyakit mulai menghampiri kita, kita pun berkeluh kesah dan baru sadar betapa mahalnya harga sebuah kesehatan.
Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita dengan sabda beliau, “Ada dua ni’mat, banyak manusia tertipu dalam dua ni’mat ini: kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” [Shahih, Al Bukhari 11/229 Al Fath]
Ada suatu nasihat yang amat bijak “mencegah datangnya penyakit memang lebih baik dari pada mengobati.” Tetapi jikalu kehendak Allah menentukan kita untuk sakit, maka kita pun wajib untuk berikhtiayar mencari kesembuhan, tentu saja ada rambu-rambu syariat yang wajib kita perhatikan dalam hal ini.
Hadis tentang perintah berobat: “Wahai hamba-hamba Allah berobatlah kalian karena tidaklah Allah Azza wa jalla menimpakan suatu macam penyakit kecuali telah dia ciptakan obat untuknya, kecuali satu macam penyakit.” Mereka bartanya: “Apa penyakit itu ?” jawab Belau: “Penyakit tua (pikun)”. [Shahih, Ahamad 4/278, Ibnu Majah 3436, Abu Dawud 3855, At Tirmizi 2039 dari Zaadul ma’ad IV: 12 dengan tahqiq Al Arnauth]
“Setiap penyakit ada obatnya, maka jika obat untuk penyakit itu digunakan, niscaya akan sembuhlah ia dengan seizin Allah Azza wa Jalla.” [Shahih, Muslim 2204]
Thibbun Nabawi (Pengobatan Cara Nabi)
Metode pengobatan yang digunakan Nabi shallallahu ‘alaihi Wasallam saat mengobati sakit yang dideritanya, atau belau perintahkan kepada kelaurga serta para sahabat yang tengah sakit untuk melakukannya. Adapun sumber yang dapat dijadikan rujukan adalah Al Quran, hadis shahih serta atsar para sahabat yang diriwayatkan melalui jalan yang dapat dipertanggungjawabkan menurut kaidah-kaidah ilmu hadits sebagaimana dijelaskan para ulama keutamaannya:
“Pengobatan cara Nabi memiliki perbedaan dibanding dengan metode pengobatan lainnya. Karena metode ini bersumber dari wahyu, misyakat kenabian dan akal yang sempurna, maka tentu memiliki derajat kepastian yang menyakinkan di samping memiliki nilai keilahian, berbeda dengan metode pengobatan lainnya yang umumnya hanya berdasarkan pikiran, dugaan atau pengalaman semata-mata.” [Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah, dalam Zaadul Ma’ad IV hal.33]
Sifat Pengobatan
Pengobatan cara nabi bersifat holistik, artinya menyeluruh. Metode ini akan bekerja secara efektif dengan seizin Allah jika si pasien diobati melalui dua jalur terapi: psikis (jiwa) dan fisik.
a. Terapi psikis (pengobatan jiwa)
Jiwa atau hati, saat ia dalam kondisi yang prima, akan membantu memperkuat jasmani dalam menolak serta mengusir berbagai macam penyakit.
b. Pengobatan fisik
Adapun pengobatan dari jalur fisik jasmani dapat dilihat dari berbagai contoh berikut:
Habbah sauda (jinten hitam)
Khalid bin Sa’ad menuturkan: “Kami berpergian, dan bersama kami ada Ghalib bin Abjar. Di tengah perjalanan dia sakit. Sesampainya di Madinah sakitnya belum juga sembuh. Ibnu Ubay bin ‘Atiq menengoknya, lalu dia berkata kepada kami, “Cobalah kalian dengan biji jinten hitam ini. Ambilah lima atau tujuh, lalu tumbuklah sampai halus, kemudian teterkan zat (minyak Zaitun) dari arah sini dan dari arah sini, karena sesungguhnya ‘Aisyah radhiallahu’anha telah menyampaikan hadist kepadaku beliau telah mendengar Rasulullah salallullah ‘alaiwasalam bersabda: “Sesungguhnya jinten hitam ini adalah obat penyembuh dari segala macam penyakit, kecuali dari maut?” Beliau menjawab, “Mati”. [Shahih, Al Bukhari juz 7 hal.13]
Minyak Zaitun
Allah Ta’ala berfirman:
“… pohon yang diberkati, yaitu pohon zitun….” (QS. An Nuur:35)
Rasullallah shallallaahu ‘alahi wasalllam bersabda: “Makanlah zaitun dan pergunakanlah ia sebagai minyak, karena sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkati.” [HR. At Tirmidzi 1853, Ahmad 3/497, ad Darimi 2/102, lihat takhrij dan tahqiqnya dalam Zaadul Ma’ad 4/291]
Hijam (bekam) dan Madu
Hijamah ialah metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah kotor pada bagian tubuh tertentu sampai tengkuk atau yang lainnya.
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pengobatan paling utama yang kalian lakukan adalah hijamah (berbekam).” [Shahih, Al Bukahri juz 7 hal.15, Muslim juz 5 hal.39]
Dari Ibnu ‘Abbas radiallahhu’anhu, Nabi shalullah’allaihi wassalam bersabda:
“Penyembuhan itu ada pada tiga cara: minum madu, mengelaurkan darah dengan alat bekam dan kayy (memanaskan besi dengan api lalu menempelkannya pada bagian tubuh yang sakit) akan tetapi aku melarang umatku dari kayy.” [Shahih, Al Bukahri, juz 7 hal.12]

Membangun Kesalehan Personal dan Sosial

Membangun Kesalehan Personal dan Sosial

“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77) Ayat ini merupakan ayat kedua terakhir dari surah yang unik dan istimewa, surah al-Hajj. Dikatakan surah yang unik karena sebagian ulama tafsir menggolongkan surah ini ke dalam kategori surah  Makkiyah, namun sebagian yang lain justru sebaliknya menggolongkannya ke dalam kategori surah Madaniyah. Surah ini juga unik karena di dalamnya ada dua ayat sajdah, yaitu ayat 18 dan ayat ini seperti yang di pahami dari sebuah riwayat dari Uqbah bin Amir:
”Keutamaan surah al-Hajj karena terdapat dua ayat sajdah padanya. Barangsiapa yang tidak bersujud pada keduanya, janganlah ia membaca surah ini.” (HR. at-Tarmidzi dan Abu Dawud)
Ayat ini menggambarkan secara ringkas manhaj Allah SWT untuk manusia dan beban taklif  bagi mereka agar mendapatkan keselamatan dan kemenangan. Ia di awali dengan perintah untuk rukuk dan sujud yang merupakan gambaran gerakan  shalat yang tampak dan jelas, dilanjutkan dengan perintah untuk beribadah secara umum yang meliputi segala gerakan, amal dan pikiran yang di tujukan hanya kepada Allah SWT sehingga segala aktivitas manusia bisa beralih menjadi ibadah bila hati ditujukan hanya kepada Allah SWT bahkan Kenikmatan-kenikmatan dari kelezatan hidup dunia yang dirasakannya dapat bernilai ibadah yang di tulis sebagai  pahala amal baik .
Ayat ini di tutup dengan perintah berbuat baik secara umum dalam hubungan horizontal dengan manusia setelah perintah untuk membangun hubungan vertikal dengan Allah SWT, dalam shalat dan ibadah lainnya. Oleh sebab itu, perintah ibadah dimaksudkan  agar umat Islam selalu terhubung dengan Allah SWT sehingga kehidupan berdiri di atas fondasi yang kukuh dan jalur yang dapat membawa kepada-Nya. Sedangkan perintah untuk melakukan kebaikan, dapat membangkitkan kehidupan yang istiqamah dan kehidupan masyarakat yang penuh dengan suasana kasih sayang.
Perintah ini dipertegas kembali di akhir surah al-Hajj, bahwa umat Islam akan mampu mempertahankan eksistensinya  sebagai umat pilihan dan sebagai  saksi atas umat yang lain manakala mampu membina  hubungan baik dengan Allah SWT dan membina hubungan baik sesama manusia:
”Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (AL-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, Dialah sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong.” (QS. al-Hajj:78)
Pada ayat di atas, Allah SWT memberi perintah kepada orang beriman agar mampu membangun kesalehan personal dan sosial  secara bersamaan agar senantiasa dalam kemenangan, rukuk dan sujud merupakan cermin tertinggi dari pengabdian seseorang kepada Allah SWT, sedang ”berbuatlah kebaikan” merupakan indikasi kesalehan sosial.
Secara redaksional  dalam urutan perintah ayat di atas, ternyata Allah SWT mendahulukan kesalehan personal dari kesalehan sosial. Ini berarti bahwa untuk membangun kesalehan sosial, harus dimulai dengan kesalehan personal. Atau kesalehan personal akan memberikan kekuatan untuk saleh juga secara sosial. Bahkan seluruh perintah beribadah kepada Allah SWT dimaksudkan agar lahir darinya kesalehan sosial, seperti shalat misalnya, bagaimana ia bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar:
“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)  keji dan munkar.” (QS. Al Ankabut : 45)
Kisah yang diabadikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bagaimana seorang wanita yang saleh secara personal yang diwujudkan dengan ibadah shalat, puasa dan ibadah mahdhah lainnya namun ternyata Rasulullah SAW menyatakan bahwa ia dalam neraka. Karena ternyata kesalehan itu tidak membawanya menuju kesalehan sosial, bahkan ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari tidak melukai hati orang lain.
Dalam tataran tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terdapat beberapa hubungan dan korelasi (munasabah) yang sangat erat antara kesalehan personal dan sosial dengan nilai-nilai mulia dari ajaran Islam. Untuk menggapai predikat ihsan misalnya, seseorang dituntut untuk mampu sholeh secara individu dan sosial yang diwakili dengan shalat malam dan berinfak,
“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat : 16-19)
Ibnu Asyur mengomentari ayat ini dengan menjelaskan bahwa dua bentuk amal inilah yang sangat berat untuk dilakukan karena: pertama, bangun malam merupakan sesuatu yang sangat berat karena mengganggu istirahat seseorang. Padahal amal itu merupakan amal yang paling utama untuk membangun kesalehan personal seseorang. Kedua, amal yang melibatkan harta terkadang sangat sukar untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki sifat kikir dengan sangat mencintai hartanya. Di sinilah Allah SWT menguji kesalehan sosial seseorang dengan memintanya untuk mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan.
Nilai lain yang terkait dengan dua kesalehan ini, adalah sebab utama yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka karena tidak mampu membentengi diri dengan dua kesalehan tersebut, seperti pernyataan jujur penghuni neraka yang diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya,
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab, ’Kami dahulu tidak termasuk  orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak pula memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” (QS. Al-Mudatsir : 42-45)
Resep agar tidak bersifat keluh kesah lagi kikir juga sangat terkait dengan kemampuan seseorang membangun dalam dirinya dua kesalehan tersebut secara simultan. Allah SWT memberi jaminan,
“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak memiliki apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij : 22-25)
Berapa banyak dari umat ini yang hanya mementingkan saleh secara sosial tapi lupa akan hubungan baik dengan Allah SWT. Sebaliknya, banyak juga yang saleh secara personal namun ketika berhadapan dengan sosial, ia larut dan tidak mampu membangun kesalehan di tengah-tengah  mereka. Sungguh umat ini sangat membutuhkan kehadiran komunitas yang saleh secara personal, dalam arti mampu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Saleh secara sosial dalam arti mampu memelihara hubungan baik dan memberi kebaikan dan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. (Allahu a’lam) (dkwt)

Menggagas Konsep Pendidikan Berbasis Tauhid

Menggagas Konsep Pendidikan Berbasis Tauhid

Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan hari ini masih belum bisa dikatakan baik.  Hari ini manusia menemukan diri mereka berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks dan multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi, dan politik. Krisis tersebut merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual; suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnyaa dalam catatan sejarah umat manusia. Pendapat Capra ini tidaklah berlebihan, utamanya jika dikomparasikan dengan situasi terakhir pada beberapa negara di dunia, lebih khusus bangsa Indonesia.
Semua orang tentu sangat terkejut dengan kondisi bangsa hari ini. Bagaimana tidak, ahli hukum justru melanggar hukum. Belum lagi situasi perekonomian global yang cenderung memburuk. Padahal seperti kita ketahui bersama, ahli di berbagai bidang tersebut juga tidak sedikit jumlahnya.
Korupsi merajalela, pergaulan bebas membudaya, ketidakjujuran menggurita, dan beragam bentuk tindakan tidak manusiawi lainnya. Ini adalah dampak terkecil ketika manusia menjadikan akalnya sebagai Tuhan dan menegasikan wahyu sebagai petunjuk (Anthropocentrism). Dan, semua fakta, data, maupun peristiwa yang membuat akal sehat dan nurani kita hari ini tercabik-cabik adalah akibat manusia berpaham anthropocentris.
Modernitas tak mampu menjadi penyejuk kemanusiaan. Justru ia merusak hakikat hidup dan kemanusiaan sekaligus. Maka layak kita menggugat, mengapa di dunia modern, yang selalu mengidentikkan diri dengan kekuatan ilmu, rasionalitas, dan efektivitas, justru tidak berkutik melihat pengeroposan nilai-nilai kemanusiaan yang kian memburuk?
Tauhid sebagai Azas Pendidikan
Dari sudut pandang Islam, problematika besar yang melanda kemanusiaan di abad ini disebabkan oleh gerakan pemujaan akal dan pengabaian secara sengaja terhadap mu’jizat akhir zaman yakni al-Qur’an. Atas situasi tersebut Prof. Dr. M. Naquib Al-Attas menjabarkan secara cermat dan menyeluruh, perlunya penerapan gagasan Islamisasi Ilmu.
Ilmu yang hari ini ada tidak saja telah rusak tetapi juga sangat berperan dalam menggiring manusia pada kesesatan berpikir yang sangat berbahaya. Kesesatan yang berakibat pada hilangnya dasar-dasar kemanusiaan dan menjadikan manusia hidup dalam hukum kebinatangan.
Secara historis-normatif, apa yang terjadi hari ini merupakan satu keberhasilan upaya Iblis, musuh nyata seluruh umat manusia dalam menjauhkan mereka semua dari jalan wahyu.
Sejak pertama kali diciptakan sebagai seorang khalifah, Allah telah memberikan penegasan kepada Adam bahwa Iblis adalah musuh yang nyata baginya dan seluruh keturunan umat manusia. Bahkan dalam al-Qur’an telah jelas sekali mengapa Iblis yang lebih senior daripada Adam, justru terlempar dari surga dan hidup dalam kutukan Allah. Tiada lain dan tiada bukan karena Iblis gagal memanfaatkan akalnya dengan baik.
Akal yang diberikan Allah kepada Iblis ia gunakan untuk mendebat perintah Allah. Dengan argumentasi rasionalitasnya, Iblis berkeyakinan protesnya kepada Allah untuk tidak hormat kepada Adam akan dibenarkan. Ternyata tidak, Allah langsung murka kepada Iblis dan mengutuknya hingga akhir zaman, kemudian akan disiksa selama-lamanya di dalam neraka.
Paparan Allah dalam al-Qur’an itu mengindikasikan satu kehendak kuat bahwa semestinya manusia benar-benar tunduk, patuh, dan taat kepada Allah semata, seperti apapun akal memandang perintah tersebut. Suka tidak suka, perintah Allah harus dilaksanakan dan segala larangan harus ditinggalkan.
Termasuk dalam dunia pendidikan. Tujuan pendidikan hendaknya tidak direduksi hanya pada aspek material semata. Pendidikan seharusnya justru mengintegrasikan kekuatan besar manusia, yaitu akal dan jiwa. Akal membutuhkan informasi, dan jiwa sangat membutuhkan petunjuk (wahyu). Oleh karena itu kita perlu satu konsep pendidikan yang berbasis tauhid.
Sebuah konsep pendidikan yang mengantarkan peserta didik mengenal dirinya sekaligus mengenal Allah, tumbuh spirit belajarnya, tampil dengan semangat etos kerja yang membanggakan, dengan niat semata-mata karena Allah demi umat Islam.
Penyebab Kekalahan Umat Islam
Sekalipun setiap kita mengamini gagasan perlunya pendidikan berbasis tauhid, tetapi dalam ranah praktik sebagian besar mungkin masih ada yang ragu atau bahkan mungkin memilih untuk tidak terlalu pusing dengan masalah konsep tauhid. Padahal jelas sekali, fenomena kemanusiaan yang buruk hari ini akibat diterapkannya konsep pendidikan yang dikotomik.
Hampir semua pemikir Muslim kontemporer sepakat bahwa kemunduran yang terjadi ini adalah akibat dari umat Islam yang tidak lagi antusias dalam menjalankan ajaran agama Islam. Bahkan mentadabburinya pun boleh dibilang sudah cukup redup. Sejauh ini kita tidak salah jika berpendapat bahwa hampir setiap hari umat Islam membaca koran tapi tidak demikian dalam membaca al-Qur’an.
Strategi Konsep Pendidikan Berbasis Tauhid
Tugas membangun pendidikan berbasis tauhid ini bukan monopoli atau tanggung jawab para guru semata. Ini adalah tugas kita bersama. Bagaimana kita mewujudkannya? Beberapa langkah berikut diharapkan mampu memberikan satu jawaban konsepsional dan praktik sekaligus.
Pertama, bermujahadah dalam mentadabburi, mentafakkuri kandungan kitab suci al-Qur’an dan mengamalkannya secara massal bahkan kolossal. Tidak bisa hanya pribadi, atau kelompok semata. Tetapi harus serempak dan sinergis berkesinambungan.
Kedua, meninggalkan paham anthroposentris dan segera menuju pada paham tauhidi. Sebagaimana atsar sayyidina Ali bahwa, akal dan wahyu ibarat dua tanduk yang tidak bisa dipisahkan apalagi dipertentangkan. Maka, tidak ada ruang bagi jargon, agama jangan pakai akal, atau pun akal tidak perlu agama, sebagaimana kampanye para pemikir Barat kontemporer yang dipelopori oleh Rene Descartes dengan cogito ergo sum-nya.
Ketiga, seluruh umat Islam berkewajiban meningkatkan kepekaan atau sensitivitas terhadap kondisi umat Islam secara menyeluruh, sehingga lahir kepedulian yang tinggi untuk bersama-sama mengambil peran dalam menjawab tantangan zaman.
Keempat, mulailah satu gerakan walau kecil untuk mencintai dan memakmurkan masjid. Setidaknya dengan cara meramaikan pelaksanaan sholat jama’ah di masjid lima waktu, meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan keilmuan di masjid, bahkan mungkin kegiatan ekonomi di masjid.
Kelima, setiap muslim hendaknya meningkatkan kualitas diri dengan mempertajam bekal keilmuan ukhrowi dan duniawi sekaligus. Kita tidak boleh hanya paham satu ilmu dan lali terhadap ilmu yang lain. Bukankah para nabi kita adalah orang yang ahli dalam ilmu-ilmu ukhrowi dan duniawi sekaligus?
Nabi Nuh ahli perkapalan. Nabi Ibrahim seorang arsitek pembangunan. Nabi Yusuf seorang pakar ekonomi yang berhasil menyelamatkan umatnya dari ancaman kelaparan. Nabi Isa juga ahli kesehatan. Dan, nabi kita, rasulullah Muhammad saw juga seorang pakar ekonomi, pakar bisnis, bahkan pakar dalam segala bidang.
Begitu pula para alim ulama kita di masa lalu. Ibn Sina pakar kesehatan juga ahli hadis. Fakhruddin al-.Razi pakar sastra, tafsir, bahkan juga logika. Imam Ghzali pakar filsafat sekaligus seorang sufi. Nah, saatnya beralih menuju pendidikan berbasis tauhid.