Dari dua belas wanita yang Rasulullah saw nikahi, hanya Khadijah binti Khuwalid dan Mariah Al-Qabtiyya yang memberi beliau keturunan. Pernikahan Nabi Muhammad saw dengan Khadijah dikaruniai tujuh orang anak, diantaranya tiga putra (Al Qasim, Abdullah, dan Tayyib) yang meninggal dunia sewaktu masih kecil dan empat putri (Zainab, Ruqayyah,Ummi Kaltsum, dan Fatimah). Sedangkan dari pernikahan beliau dengan Mariah Al-Qabtiyya dikarunia seorang anak bernama Ibrahim yang meninggal sewaktu masih kecil.
Dengan demikian, jumlah anak Nabi Muhammad asaw dalah delapan orang, empat laki-laki yang kesemuanya meninggal sewakti masih kecil, serta empat wanita. Putranya yang bernama Ibrahim hanya hidup selama 18 bulan. Nabi saw menyaksikan ketika dia menghembuskan nafas yang terakhir sambil meneteskan air mata, beliau berkata “mata boleh meneteskan air, hati boleh bersedih, tapi kita tidak boleh mengucapkan kalimat yang tidak diridhoi Allah”.
Zainab binti Muhammad adalah putrid sulung Rasulullah saw. Zainab dipersunting oleh Abul Ash bin Rabi’. Dia memeluk agama Islam dan ikut hijrah ke Madinah, sementara suaminya bertahan dalam agamanya di Mekah sampai dia tertawan dalam perang Badar. Di saat itu, Nabi Muhammad saw meminta kepadanya untuk menceraikan Zainab, lalu diceraikannya. Setelah dia masuk Islam, Rasulullah saw menikahkan mereka kembali. Zainab binti Muhammad wafat di tahun 8 H.
Ruqayyah dipersunting oleh Utbah bin Abu Lahab sewaktu Jahiliah. Setelah munculnya Islam dan turunnya ayat yang berarti “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (QS. al-Lahab : 1) dia langsung dicerai oleh suaminya atas perintah Abu Lahab. Dia memeluk Islam bersama ibunya. Kemudian dia dinikahi oleh Usman bin Affan dan ikut bersama suaminya hijrah ke Abessina (habasyah), kemudian mereka kembali dan menetap di Madinah dan seterusnya meninggal di kota itu pula. Sepeninggal Ruqayyah di tahun 2 H, adiknya yang bernama Ummi Kaltsum dinikahi oleh Usman bin Affan dan ikut berhijrah ke Madinah. Ummi Kaltsum wafat di tahun 9 H/639 M.
Putri bungsu Nabi Muhammad saw adalah Fatimah Az-Zahra. Fatimah adalah putri kesayangan Nabi Muhammad saw. Selain itu, ia juga merupakan seorang putri Nabi saw yang paling terkenal di dunia Islam. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di Mekah sehingga mengalami secara langsung tekanan dan penyiksaan yang menimpa keluarganya, karena pada masa itu Nabi Muhammad saw baru memulai perjuangannya mensyiarkan Islam. Sedangkan masa remaja dan dewasanya, Fatimah tinggal di Madinah.
Fatimah binti Muhammad menikah dengan Ali bin Abu Thalib. Dari pernikahannya itu, dikaruniai lima orang keturunan, tiga putra (Hasan, Husein, dan Muhassin) dan dua putri (Ummi Kultsum dan Zainab). Fatimah adalah seorang wanita yang pintar dan ikut pula dalam perjuangan syiar Islam. Ia meninggal pada tahun 11 H.
"Al Islam adalah agama Allah yang diperintahkan mempelajari aqidah dan syariatnya kepada Nabi Muhammad dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia, serta mengajak mereka untuk menganutnya. "Aqidah artinya sesuatu yang menjadi pengikat hati dan batin manusia. "Syari'at adalah undang-undang yang diturunkan Allah yang mengatur hubungan Allah dengan manusia, mengatur hubungan sesama muslim,dgn manusia lainnya, dgn kehidupan dan alam semesta.
Sabtu, 30 Juli 2011
Peran Istri Dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah
Keluarga yang sakinah merupakan dambaan bagi setiap orang. Karena dalam keluarga yang sakinah, seseorang akan dapat mengecap kebahagiaan yang tiada taranya. Dalam keluarga sakinah, seorang anak akan dapat tumbuh dengan baik, serta keharmonisan akan terus terjaga.
Banyak factor yang mendasari terbentuknya sebuah keluarga yang sakinah. Peran dari masing-masing anggota juga sangat penting untuk dapat mewujudkan keluarga yang sakinah. Suami, istri, dan anggota keluarga lain memilii peranan masing-masing.
Selain suami, peran seorang istri berpengaruh cukup besar untuk mampu menciptakan sebuah keluarga sakinah. Hal ini karena tanggung jawab utama seorang istri (bersama suami) adalah menciptakan keutuhan dalam rumah tangga.lantas, bagaimanakah cara seorang istri untuk meciptakan keluarga sakinah? Jawabnya adalah banyak!!! Diantara sekian banyak peran istri, beberapa hal yang cukup penting, dan kadang terlupakan oleh seorang istri adalah:
1. Memberikan Sambutan yang Menyenangkan
Tugas utama seorang suami adalah mencari nafkah untuk keluarganya. Suami akan berusaha semaksimal mungkin menafkahi keluarganya, dengan cara yang halal. Setelah seharian bekerja di luar rumah, tentunya rasa penat, lelah, dan capek akan dirasakan oleh suami. Di sinilah peran istri untuk menghilangkan, atau setidaknya mengurangi, rasa penat suaminya.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang istri dalam menyambut pulangnya sang “nahkoda”, diantaranya adalah:
• Menampakkan Wajah Cerah
Sambutlah kedatangan suami dengan wajah yang cerah. Karena menyambut kedatangan suami dengan wajah yang cerah akan mengurangi rasa penat yang ada. Jangan menyambut suami yang baru pulang kerja dengan wajah yang cemberut, apalagi marah-marah. Hal ini akan membuat suami, yang telah lelah bekerja, menjadi kesal.
• Menyampaikan Berita yang Menyenangkan
Apabila istri mempunyai beberapa berita untuk suami, baik itu yang menyenangkan maupun yang kurang mengenakkan hati, jangan langsung memberitahunya sekaligus. Sampaikan berita yang menyenangkan kepada suami. Setelah suami beristirahat dan rasa lelahnya berkurang, atau bahkan hilang, baru sampaikan kepadanya berita yang kurang menyenangkan. Hal ini akan berpengaruh pada respon suami terhadap berita tersebut.
• Mengungkapkan Kerinduan
Ucapkan kata-kata yang manis kepada suami, sebagai tanda kerinduan sang istri pada suaminya. Kata-kata yang mengandung kerinduan dari sang istri akan mampu mengembalikan semangat suami, setelah seharian berpeluh mencari nafkah.
• Menyajikan Hidangan untuk Suami
Alangkah baiknya jika kedatangan suami juga disambut dengan hidangan ringan, sebelum melakukan makan bersama. Hidangan ini dapat berupa minuman hangat, baik itu teh, kopi, atau minuman lain kesukaan suami. Apalagi kalau ditambah dengan cemilan kecil. Dengan menyajikan hidangan ini, suami akan merasa diperhatikan.
2. Memperindah dan Memperlembut Suara
Kita sering menjumpai seorang istri yang menyambut kedatangan suami dengan hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan. Entah itu dengan nada kesal, marah, atau lainnya; terlebih lagi jika suami terlambat pulang. Janganlah hal ini dilakukan, karena hanya akan memancing emosi dari suami. Apapun yang terjadi, bicaralah kepada suami dengan lembut dan santun. Jika istri bicara dengan suami secara lembut, maka suami dengan sendirinya akan menghargai sang istri.
3. Berhias
Sudah menjadi kebiasaan wanita jaman sekarang untuk tampil mempercantik diri dengan berhias. Namun sayangnya mereka (terutama para istri) berhias jika hanya akan keluar rumah. Padahal jelas-jelas dalam sebuah hadist, Rasulullah menganjurkan istri supaya berhias untuk suami mereka. Namun justru istri berhias jika ingin pergi, dan tampil “acak-acakan” jika dirumah, meskipun ada suaminya.
Hal inilah yang harus dirubah. Sebaiknya para istri berhias untuk suami mereka, sehingga suaminya merasa betah di rumah serta bangga dengan istrinya.
4. Melayani kebutuhan Biologis Suami (Jima’)
Soerang istri diwajibkan untuk melayani kebbutuhan biologis suami, kecuali jika sedang ada “halangan”. Dalam melayani suami, seorang istri harus melakukan dengan ikhlas, sehingga suami merasa senang dengan pelayanan sang istri, dan tidak “jajan” di luar rumah.
5. Ikhlas Menerima Keadaan
Seorang istri sebaiknya merasa ikhlas dalam menerima keadaan keluarga. Apapun keadaan keluarganya, istri yang ikhlas dalam menerimanya akan meningkatkan rasa saying suami. Meskipun kekurangan, tapi jika ikhlas menerimanya, insya Allah akan menjadi berkah..
6. Menjaga Kesetiaan
Setia adalah salah satu kunci dalam membina keutuhan sebbuah keluarga. Baik suami atau istri wajib untuk menjaga kesetiaannya terhadap pasangan hidup masing-masing. Dengan menjaga kesetiaan, insya Allah kehidupan keluarga akan bahagia.
7. Meredakan Amarah Suami
Sering karena suatu hal, suami marah, entah terhadap istri, anak-anak, maupun hal-hal lain. Jika suami sedang marah, istri jangan lantas ikutan marah. Hal ini hanya akan berakibat fatal. Redakan amarah suami dengan bujukan dan rayuan, karena bukankah seorang wanita itu pintar dalam mencuri hati laki-laki?
8. Menjaga Kehormatan
Kehormatan disini bukan hanya kehormatan sang istri sendiri. Istri juga harus mampu menjaga kehormatan keluarganya. Jangan umbar aib keluarga kepada orang lain, meskipun itu orang tua sendiri. Hal ini hanya akan membuat kehormatan keluarga tercoreng.
9. Memuliakan Keluarga dan Tamu Suami
Anggaplah keluarga suami sebagai keluarga sendiri. Hormati dan hargai tamu-tamu yang ingin bertemu dengan suami. Jangan lantas tamu itu tamu suami, si istri tidak mau menghargainya. Hal ini hanya akan menimbulkan perpecahan dalam keluarga.
10. Sabar
Bersabarlah dalam menghadapi kehidupan ini. Apapun yang terjadi, sikap sabar merupakan hal yang paling utama.
11. Merapikan Rumah
Rumah yang rapi, bersih, dan nyaman merupakan rumah yang disenangi oleh semua anggota keluarga. Merapikan rumah adalah salah satu tanggung jawab istri. Jangan biarkan rumah dalam keadaan berantakan, karena hanya akan membuat penghuninya tidak merasa betah untuk tinggal di dalamnya.
Jika istri, suami, dan anggota keluarga lain sudah tahu dan menjalankan tugas-tugasnya, insya Allah keluarga sakinah dapat terwujud.
AMIN…………..
Banyak factor yang mendasari terbentuknya sebuah keluarga yang sakinah. Peran dari masing-masing anggota juga sangat penting untuk dapat mewujudkan keluarga yang sakinah. Suami, istri, dan anggota keluarga lain memilii peranan masing-masing.
Selain suami, peran seorang istri berpengaruh cukup besar untuk mampu menciptakan sebuah keluarga sakinah. Hal ini karena tanggung jawab utama seorang istri (bersama suami) adalah menciptakan keutuhan dalam rumah tangga.lantas, bagaimanakah cara seorang istri untuk meciptakan keluarga sakinah? Jawabnya adalah banyak!!! Diantara sekian banyak peran istri, beberapa hal yang cukup penting, dan kadang terlupakan oleh seorang istri adalah:
1. Memberikan Sambutan yang Menyenangkan
Tugas utama seorang suami adalah mencari nafkah untuk keluarganya. Suami akan berusaha semaksimal mungkin menafkahi keluarganya, dengan cara yang halal. Setelah seharian bekerja di luar rumah, tentunya rasa penat, lelah, dan capek akan dirasakan oleh suami. Di sinilah peran istri untuk menghilangkan, atau setidaknya mengurangi, rasa penat suaminya.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang istri dalam menyambut pulangnya sang “nahkoda”, diantaranya adalah:
• Menampakkan Wajah Cerah
Sambutlah kedatangan suami dengan wajah yang cerah. Karena menyambut kedatangan suami dengan wajah yang cerah akan mengurangi rasa penat yang ada. Jangan menyambut suami yang baru pulang kerja dengan wajah yang cemberut, apalagi marah-marah. Hal ini akan membuat suami, yang telah lelah bekerja, menjadi kesal.
• Menyampaikan Berita yang Menyenangkan
Apabila istri mempunyai beberapa berita untuk suami, baik itu yang menyenangkan maupun yang kurang mengenakkan hati, jangan langsung memberitahunya sekaligus. Sampaikan berita yang menyenangkan kepada suami. Setelah suami beristirahat dan rasa lelahnya berkurang, atau bahkan hilang, baru sampaikan kepadanya berita yang kurang menyenangkan. Hal ini akan berpengaruh pada respon suami terhadap berita tersebut.
• Mengungkapkan Kerinduan
Ucapkan kata-kata yang manis kepada suami, sebagai tanda kerinduan sang istri pada suaminya. Kata-kata yang mengandung kerinduan dari sang istri akan mampu mengembalikan semangat suami, setelah seharian berpeluh mencari nafkah.
• Menyajikan Hidangan untuk Suami
Alangkah baiknya jika kedatangan suami juga disambut dengan hidangan ringan, sebelum melakukan makan bersama. Hidangan ini dapat berupa minuman hangat, baik itu teh, kopi, atau minuman lain kesukaan suami. Apalagi kalau ditambah dengan cemilan kecil. Dengan menyajikan hidangan ini, suami akan merasa diperhatikan.
2. Memperindah dan Memperlembut Suara
Kita sering menjumpai seorang istri yang menyambut kedatangan suami dengan hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan. Entah itu dengan nada kesal, marah, atau lainnya; terlebih lagi jika suami terlambat pulang. Janganlah hal ini dilakukan, karena hanya akan memancing emosi dari suami. Apapun yang terjadi, bicaralah kepada suami dengan lembut dan santun. Jika istri bicara dengan suami secara lembut, maka suami dengan sendirinya akan menghargai sang istri.
3. Berhias
Sudah menjadi kebiasaan wanita jaman sekarang untuk tampil mempercantik diri dengan berhias. Namun sayangnya mereka (terutama para istri) berhias jika hanya akan keluar rumah. Padahal jelas-jelas dalam sebuah hadist, Rasulullah menganjurkan istri supaya berhias untuk suami mereka. Namun justru istri berhias jika ingin pergi, dan tampil “acak-acakan” jika dirumah, meskipun ada suaminya.
Hal inilah yang harus dirubah. Sebaiknya para istri berhias untuk suami mereka, sehingga suaminya merasa betah di rumah serta bangga dengan istrinya.
4. Melayani kebutuhan Biologis Suami (Jima’)
Soerang istri diwajibkan untuk melayani kebbutuhan biologis suami, kecuali jika sedang ada “halangan”. Dalam melayani suami, seorang istri harus melakukan dengan ikhlas, sehingga suami merasa senang dengan pelayanan sang istri, dan tidak “jajan” di luar rumah.
5. Ikhlas Menerima Keadaan
Seorang istri sebaiknya merasa ikhlas dalam menerima keadaan keluarga. Apapun keadaan keluarganya, istri yang ikhlas dalam menerimanya akan meningkatkan rasa saying suami. Meskipun kekurangan, tapi jika ikhlas menerimanya, insya Allah akan menjadi berkah..
6. Menjaga Kesetiaan
Setia adalah salah satu kunci dalam membina keutuhan sebbuah keluarga. Baik suami atau istri wajib untuk menjaga kesetiaannya terhadap pasangan hidup masing-masing. Dengan menjaga kesetiaan, insya Allah kehidupan keluarga akan bahagia.
7. Meredakan Amarah Suami
Sering karena suatu hal, suami marah, entah terhadap istri, anak-anak, maupun hal-hal lain. Jika suami sedang marah, istri jangan lantas ikutan marah. Hal ini hanya akan berakibat fatal. Redakan amarah suami dengan bujukan dan rayuan, karena bukankah seorang wanita itu pintar dalam mencuri hati laki-laki?
8. Menjaga Kehormatan
Kehormatan disini bukan hanya kehormatan sang istri sendiri. Istri juga harus mampu menjaga kehormatan keluarganya. Jangan umbar aib keluarga kepada orang lain, meskipun itu orang tua sendiri. Hal ini hanya akan membuat kehormatan keluarga tercoreng.
9. Memuliakan Keluarga dan Tamu Suami
Anggaplah keluarga suami sebagai keluarga sendiri. Hormati dan hargai tamu-tamu yang ingin bertemu dengan suami. Jangan lantas tamu itu tamu suami, si istri tidak mau menghargainya. Hal ini hanya akan menimbulkan perpecahan dalam keluarga.
10. Sabar
Bersabarlah dalam menghadapi kehidupan ini. Apapun yang terjadi, sikap sabar merupakan hal yang paling utama.
11. Merapikan Rumah
Rumah yang rapi, bersih, dan nyaman merupakan rumah yang disenangi oleh semua anggota keluarga. Merapikan rumah adalah salah satu tanggung jawab istri. Jangan biarkan rumah dalam keadaan berantakan, karena hanya akan membuat penghuninya tidak merasa betah untuk tinggal di dalamnya.
Jika istri, suami, dan anggota keluarga lain sudah tahu dan menjalankan tugas-tugasnya, insya Allah keluarga sakinah dapat terwujud.
AMIN…………..
Sholat Tahajud
Salah satu sholat sunnah yang memiliki nilai yang tinggi di mata Allah (insya Allah) adalah sholat tahajud. Sholat tahajud adalah sholat sunnah yang dilaksanakan pada malam hari, setelah bangun tidur. Pelaksanaan sholat tahajud ini akan bernilai lebih jika dilaksanakan pada sepertiga malam terakhir.
Sebelum perintah sholat lima waktu turun, Rasulullah Muhammad saw pernah memerintahkan para pengikutnya untuk melakukan sholat tahajud. Hal ini tersirat dalam beberapa hadist:
Sahabat Abdullah bin Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda : “ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)
Bersabda Nabi Muhammad SAW : “Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )
Selain itu, Allah sendiri juga berfirman: “ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.” (QS : Al-Isro’ : 79)
Dalam hadist lain juga diterangkan mengenai jumlah rakaat pada pelaksanaan sholat tahajud. Pada dasarnya, jumlah rakaat sholat tahajud tidak dibatasi jumlahnya, dengan jumlah minimal 2 rakaat. Sedangkan dalam keterangan Said ibnu Yazib ra, Rasulullah Muhammad saw melakukan sholat tahajud dengan jumlah 13 rakaat, dengan perincian 2 rakaat sholat iftitah, 8 rakaat sholat tahajud, dan ditutup dengan 3 rakaat sholat witir.
Keutamaan Sholat Tahajud
Berdasarkan hadist Rasulullah Muhammad saw, sholat tahajud memiliki 9 keutamaan, yang terbagi menjadi 5 keutamaan di dunia dan 4 keutamaan di akhirat kelak. Hadist yang menjelaskan keutamaan sholat tahajud adalah: “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
Adapun 5 keutamaan sholat tahajud di dunia adalah:
* Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
* Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
* Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh semua manusia.
* Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
* Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.
Selain 5 keutamaan di dunia, sholat tahajud juga memiliki 4 keutamaan di akhirat kelak. Keutamaan sholat tahajud di akhirat kelak adalah:
* Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
* Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
* Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
* Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.
Tata Cara Sholat Tahajjud
Pada dasarnya, gerakan atau tata cara sholat tahajud pun tidak berbeda dengan sholat-sholat sunnah yang lain: berwudhu, niat melakukan sholat sunnah tahajud, kemudian melakukan gerakan sholat seperti biasa mulai dari takbir hingga salam. Biasanya selalu dilakukan dengan 2 rokaat-2 rokaat (setiap 2 rokaat salam). Pada rokaat pertama setelah takbir membaca surah Al Fatihah, kemudian dilanjjutkan dengan surah lainnya. Pada rokaat kedua pun sama, membaca surah Al Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan surah lainnya (yang kita hafal).
Perbedaannya hanyalah terletak pada niatnya saja. Karena untuk mengerjakan sholat tahajud tentu saja niatnya adalah mengerjakan sholat tahajud, bukan niat untuk mengerjakan sholat yang lain.
Jadi berkaitan dengan pertanyaan “bagaimana niat sholat tahajud?”, maka jawabannya adalah berniat di dalam hati untuk mengerjakan sholat sunnah tahajud. Sedangkan masalah “Lafadz niatnya”, hal itu tidak ditentukan, karena tidak ada dalil yang memperkuat atau menerangkannya.
Setelah selesai mengerjakan shalat Tahajjud, perbanyaklah membaca istigfar dan
dzikir kepada Allah SWT serta memohon kepada-Nya, kemudian membaca doa
sebagai berikut (atau doa yang sesuai dengan keinginan kita):
“Bismillaahir rohmaanir roohiim.
Allahumma lakal hamdu anta qoyyimus samaawaati wal ardhi wa man fiihinna.
Walakal hamdu laka mulkus samaawati wal ardhi wa man fii hinna,
Walakal hamdu nuurus samaawaati wal ardh
walakal hamdu antal haqq
wa wa’dukal haqq
wa liqoo-u ka haqq
wa qowluka haqq
wal jannatu haqq
Wannaaru haqq
wan nabiyyuna haqq
wa muhammadun shallallaahu’alaihi wa sallama haqqun
was saa’atu haqqun.
Allahumma laka aslamtu wa bika aamantu
wa’alayka tawakaltu wa ilayka anabtu
wa bika khooshomtu
wa ilayka haakamtu faghfirlii maa qoddamtu
wamaa akhkhortu wamaa asrortu
wamaa a’lantu antal maqoddimu wa antal mu-akhkhir
laa ilaaha illah anta
Laa ilaa ha ghoyruka walaa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim
Walhamdulillaahirobbil’aalamiin “
wallahu a’lam
Sebelum perintah sholat lima waktu turun, Rasulullah Muhammad saw pernah memerintahkan para pengikutnya untuk melakukan sholat tahajud. Hal ini tersirat dalam beberapa hadist:
Sahabat Abdullah bin Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda : “ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)
Bersabda Nabi Muhammad SAW : “Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )
Selain itu, Allah sendiri juga berfirman: “ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.” (QS : Al-Isro’ : 79)
Dalam hadist lain juga diterangkan mengenai jumlah rakaat pada pelaksanaan sholat tahajud. Pada dasarnya, jumlah rakaat sholat tahajud tidak dibatasi jumlahnya, dengan jumlah minimal 2 rakaat. Sedangkan dalam keterangan Said ibnu Yazib ra, Rasulullah Muhammad saw melakukan sholat tahajud dengan jumlah 13 rakaat, dengan perincian 2 rakaat sholat iftitah, 8 rakaat sholat tahajud, dan ditutup dengan 3 rakaat sholat witir.
Keutamaan Sholat Tahajud
Berdasarkan hadist Rasulullah Muhammad saw, sholat tahajud memiliki 9 keutamaan, yang terbagi menjadi 5 keutamaan di dunia dan 4 keutamaan di akhirat kelak. Hadist yang menjelaskan keutamaan sholat tahajud adalah: “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
Adapun 5 keutamaan sholat tahajud di dunia adalah:
* Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
* Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
* Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh semua manusia.
* Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
* Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.
Selain 5 keutamaan di dunia, sholat tahajud juga memiliki 4 keutamaan di akhirat kelak. Keutamaan sholat tahajud di akhirat kelak adalah:
* Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
* Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
* Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
* Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.
Tata Cara Sholat Tahajjud
Pada dasarnya, gerakan atau tata cara sholat tahajud pun tidak berbeda dengan sholat-sholat sunnah yang lain: berwudhu, niat melakukan sholat sunnah tahajud, kemudian melakukan gerakan sholat seperti biasa mulai dari takbir hingga salam. Biasanya selalu dilakukan dengan 2 rokaat-2 rokaat (setiap 2 rokaat salam). Pada rokaat pertama setelah takbir membaca surah Al Fatihah, kemudian dilanjjutkan dengan surah lainnya. Pada rokaat kedua pun sama, membaca surah Al Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan surah lainnya (yang kita hafal).
Perbedaannya hanyalah terletak pada niatnya saja. Karena untuk mengerjakan sholat tahajud tentu saja niatnya adalah mengerjakan sholat tahajud, bukan niat untuk mengerjakan sholat yang lain.
Jadi berkaitan dengan pertanyaan “bagaimana niat sholat tahajud?”, maka jawabannya adalah berniat di dalam hati untuk mengerjakan sholat sunnah tahajud. Sedangkan masalah “Lafadz niatnya”, hal itu tidak ditentukan, karena tidak ada dalil yang memperkuat atau menerangkannya.
Setelah selesai mengerjakan shalat Tahajjud, perbanyaklah membaca istigfar dan
dzikir kepada Allah SWT serta memohon kepada-Nya, kemudian membaca doa
sebagai berikut (atau doa yang sesuai dengan keinginan kita):
“Bismillaahir rohmaanir roohiim.
Allahumma lakal hamdu anta qoyyimus samaawaati wal ardhi wa man fiihinna.
Walakal hamdu laka mulkus samaawati wal ardhi wa man fii hinna,
Walakal hamdu nuurus samaawaati wal ardh
walakal hamdu antal haqq
wa wa’dukal haqq
wa liqoo-u ka haqq
wa qowluka haqq
wal jannatu haqq
Wannaaru haqq
wan nabiyyuna haqq
wa muhammadun shallallaahu’alaihi wa sallama haqqun
was saa’atu haqqun.
Allahumma laka aslamtu wa bika aamantu
wa’alayka tawakaltu wa ilayka anabtu
wa bika khooshomtu
wa ilayka haakamtu faghfirlii maa qoddamtu
wamaa akhkhortu wamaa asrortu
wamaa a’lantu antal maqoddimu wa antal mu-akhkhir
laa ilaaha illah anta
Laa ilaa ha ghoyruka walaa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim
Walhamdulillaahirobbil’aalamiin “
wallahu a’lam
Kasih Sayang Rasulullah saw
Satu hal yang patut disyukuri oleh setiap umat muslim adalah bahwa mereka memiliki seorang imam yang sangat mulia dan senantiasa mencintai mereka tanpa ada batasnya. Rasulullah saw adalah pemimpin umat yang senantiasa memperjuangkan kepentingan umat.
Kasih sayang Rasulullah saw kepada umat Islam tiada taranya. Banyak fenomena yang dapat dijadikan bukti betapa Rasullah saw teramat menyayangi umatnya. Tentunya kita semua masih ingat bagaimana keadaan bangsa Arab sebelum kedatangan Rasulullah saw yang membawa dan menyebarkan ajaran Islam. Mereka adalah umat yang bejat akhlaknya, rusak moralnya. Bangsa Arab pada masa jahiliyah terbiasa mengubur bayi-bayi perempuan mereka hidup-hidup tanpa belas kasihan karena dianggap sebagai aib. Perjudian, mabuk-mabukan, buka-bukaan aurat, dan segala bentuk kemaksiatan menjadi santapan sehari-hari bangsa Arab pada masa jahiliyah.
Lalu ketika Rasulullah Muhammad saw datang dengan membawa ajaran Islam, bangsa Arab pun berangsur-angsur berubah menjadi bangsa yang berakhlak mulia. Wanita yang dulu senantiasa dianggap rendah, kini menjadi mahkluk yang dimuliakan.
Perjuangan Rasulullah saw dalam menyebarkan Islam di tanah Arab dan memperbaiki akhlak bangsa Arab pun bukanlah satu perjuangan yang mudah dan singkat, tetapi merupakan satu perjuangan panjang yang sangat berat. Hinaan, cacian, makian, terror dan percobaan pembunuan, semua telah dialami oleh Rasulullah saw ketika berdakwah untuk menyebarkan ajaran Islam di tanah Arab tersebut. Dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah saw pernah diludahi, pernah pula gigi beliau patah karena kezaliman orang-orang kafir pada saat itu. Rasulullah saw pun pernah dan sering terlibat peperangan, bahkan peperangan besar yang tidak seimbang, namun Rasulullah saw pantang menyerah dan senantiasa menjadi pemenang hingga terciptalah bangsa Arab yang jauh lebih beradab.
Andaipun pada saat itu Rasulullah saw menyerah untuk menyampaikan ajaran Islam karena berbagai perbuatan zalim yang dilakukan kepada beliau, mungkin saat ini kejahiliyahan dan kemaksiatan masih menjadi santapan utama umat manusia, dan siap menghantarkan mereka ke jurang neraka. Namun Rasulullah saw tidak demikian, kasih sayang beliau kepada umat telah membuat beliau bertahan untuk terus berusaha menyampaikan kalam-kalam Allah swt kepada umat manusia.
Pernah suatu ketika Rasulullah saw mendatangi kota Thoif untuk mengabarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah swt. Namun apa yang terjadi? Penduduk Thoif langsung saja melemparinya dengan batu sebelum Rasulullah saw selesai menyampaikan risalahnya. Akibat perbuatan penduduk Thoif tersebut, Rasulullah saw pun berlari dengan luka-luka yang cukup parah, bahkan Rasulullah saw sampai harus kehilangan giginya karena patah.
Mengetahui hal tersebut, Malaikat Jibril pun segera turun dan menawarkan bantuan kepada Rasulullah saw. Malaikat Jibril berkata, “Wahai kekasih Allah, apa yang kau ingin aku lakukan terhadap mereka. Jika kau mau aku akan membalikkan tanah yang menopang mereka sehingga mereka hilang tertelan bumi?”
Seandainya Rasulullah saw menerima tawaran Malaikat Jibril untuk membalikkan tanah yang menopang wilayah penduduk Thaoif, maka bereslah sudah kejahatan penduduk Thoif tersebut. Namun sekali lagi, kelembutan hati dan besarnya rasa kasih sayang di dalam hati Rasulullah saw kepada umatnya tidak mengizinkan hal tersebut. Rasulullah saw tetap bersabar dan menerima perlakuan penduduk Thoif tanpa rasa benci, kemudian beliau berkata kepada Malaikat Jibril:
“Jangan wahai Jibril. Mereka melakukan itu karena mereka belum tahu. Mungkin hari ini mereka menolak ajaranku, tapi aku berharap anak cucu mereka di kemudian hari akan menjadi pengemban risalahku.”
Subhanallah, betapa besar kasih sayang Rasulullah saw kepada umatnya, sampai-sampai ia pun tidak mau menyakiti orang-orang yang telah menyakitinya, justru ia tetap mengharapkan mereka agar suatu saat dapat berubah (beriman kepada Allah swt).
Sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada umat, Rasulullah saw pun senantiasa berwasiat kepada para sahabat dan umatnya untuk senantiasa berbuat baik. Beliau memberikan contoh dan menjadi contoh. Bahkan dalam peperangan pun Rasulullah saw juga melarang umatnya untuk bertindak berlebihan; membunuh anak-anak, wanita, orang-orang tua (lansia), dan orang-orang yang lemah atau tidak berdaya.
Rasulullah saw adalah seorang pemimpin umat yang senantiasa dapat merasakan penderitaan yang dirasakan oleh umatnya.
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-taubah (9) : 128)
Sebagai bentuk kasih sayang kepada keluarga dan umatnya, Rasulullah saw pun memberikan contoh dalam kehidupan berkeluarga. Meskipun seorang Rasulullah yang dimuliakan dan panglima perang yang disegani oleh kawan dan lawan, namun Rasulullah saw biasa mengerjakan pekerjaan rumah. Beliau terbiasa membantu istri-istri beliau untuk mencuci, menambal, pakaian atau menambal perabot rumah tangga. Beliau melakuan itu tanpa rasa malu sebagai apresiasi kasih sayang beliau kepada istri-istri beliau, dan sebagai contoh bagi umatnya untuk senantiasa saling membantu dan menyayangi. Besarnya kasih sayang Rasulullah saw kepada keluarganya juga terwujud dalam sabda beliau yang memerintahkan kepada umatnya untuk senantiasa bersikap baik kepada keluarganya.
”Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku diantaramu” (H.R. Tirmidzi)
Kasih sayang Rasulullah saw kepada umatnya tidak dapt diukur dengan harta ataupun tahta. Kasih sayang Rasulullah saw sepanjang zaman, hingga pada datik-detik akhir dari kehidupannya pun Rasulullah saw senantiasa memikirkan dan menyebut-nyebut umatnya … Ummati … ummati … Ummati …
Kasih sayang Rasulullah saw kepada umat Islam tiada taranya. Banyak fenomena yang dapat dijadikan bukti betapa Rasullah saw teramat menyayangi umatnya. Tentunya kita semua masih ingat bagaimana keadaan bangsa Arab sebelum kedatangan Rasulullah saw yang membawa dan menyebarkan ajaran Islam. Mereka adalah umat yang bejat akhlaknya, rusak moralnya. Bangsa Arab pada masa jahiliyah terbiasa mengubur bayi-bayi perempuan mereka hidup-hidup tanpa belas kasihan karena dianggap sebagai aib. Perjudian, mabuk-mabukan, buka-bukaan aurat, dan segala bentuk kemaksiatan menjadi santapan sehari-hari bangsa Arab pada masa jahiliyah.
Lalu ketika Rasulullah Muhammad saw datang dengan membawa ajaran Islam, bangsa Arab pun berangsur-angsur berubah menjadi bangsa yang berakhlak mulia. Wanita yang dulu senantiasa dianggap rendah, kini menjadi mahkluk yang dimuliakan.
Perjuangan Rasulullah saw dalam menyebarkan Islam di tanah Arab dan memperbaiki akhlak bangsa Arab pun bukanlah satu perjuangan yang mudah dan singkat, tetapi merupakan satu perjuangan panjang yang sangat berat. Hinaan, cacian, makian, terror dan percobaan pembunuan, semua telah dialami oleh Rasulullah saw ketika berdakwah untuk menyebarkan ajaran Islam di tanah Arab tersebut. Dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah saw pernah diludahi, pernah pula gigi beliau patah karena kezaliman orang-orang kafir pada saat itu. Rasulullah saw pun pernah dan sering terlibat peperangan, bahkan peperangan besar yang tidak seimbang, namun Rasulullah saw pantang menyerah dan senantiasa menjadi pemenang hingga terciptalah bangsa Arab yang jauh lebih beradab.
Andaipun pada saat itu Rasulullah saw menyerah untuk menyampaikan ajaran Islam karena berbagai perbuatan zalim yang dilakukan kepada beliau, mungkin saat ini kejahiliyahan dan kemaksiatan masih menjadi santapan utama umat manusia, dan siap menghantarkan mereka ke jurang neraka. Namun Rasulullah saw tidak demikian, kasih sayang beliau kepada umat telah membuat beliau bertahan untuk terus berusaha menyampaikan kalam-kalam Allah swt kepada umat manusia.
Pernah suatu ketika Rasulullah saw mendatangi kota Thoif untuk mengabarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah swt. Namun apa yang terjadi? Penduduk Thoif langsung saja melemparinya dengan batu sebelum Rasulullah saw selesai menyampaikan risalahnya. Akibat perbuatan penduduk Thoif tersebut, Rasulullah saw pun berlari dengan luka-luka yang cukup parah, bahkan Rasulullah saw sampai harus kehilangan giginya karena patah.
Mengetahui hal tersebut, Malaikat Jibril pun segera turun dan menawarkan bantuan kepada Rasulullah saw. Malaikat Jibril berkata, “Wahai kekasih Allah, apa yang kau ingin aku lakukan terhadap mereka. Jika kau mau aku akan membalikkan tanah yang menopang mereka sehingga mereka hilang tertelan bumi?”
Seandainya Rasulullah saw menerima tawaran Malaikat Jibril untuk membalikkan tanah yang menopang wilayah penduduk Thaoif, maka bereslah sudah kejahatan penduduk Thoif tersebut. Namun sekali lagi, kelembutan hati dan besarnya rasa kasih sayang di dalam hati Rasulullah saw kepada umatnya tidak mengizinkan hal tersebut. Rasulullah saw tetap bersabar dan menerima perlakuan penduduk Thoif tanpa rasa benci, kemudian beliau berkata kepada Malaikat Jibril:
“Jangan wahai Jibril. Mereka melakukan itu karena mereka belum tahu. Mungkin hari ini mereka menolak ajaranku, tapi aku berharap anak cucu mereka di kemudian hari akan menjadi pengemban risalahku.”
Subhanallah, betapa besar kasih sayang Rasulullah saw kepada umatnya, sampai-sampai ia pun tidak mau menyakiti orang-orang yang telah menyakitinya, justru ia tetap mengharapkan mereka agar suatu saat dapat berubah (beriman kepada Allah swt).
Sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada umat, Rasulullah saw pun senantiasa berwasiat kepada para sahabat dan umatnya untuk senantiasa berbuat baik. Beliau memberikan contoh dan menjadi contoh. Bahkan dalam peperangan pun Rasulullah saw juga melarang umatnya untuk bertindak berlebihan; membunuh anak-anak, wanita, orang-orang tua (lansia), dan orang-orang yang lemah atau tidak berdaya.
Rasulullah saw adalah seorang pemimpin umat yang senantiasa dapat merasakan penderitaan yang dirasakan oleh umatnya.
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-taubah (9) : 128)
Sebagai bentuk kasih sayang kepada keluarga dan umatnya, Rasulullah saw pun memberikan contoh dalam kehidupan berkeluarga. Meskipun seorang Rasulullah yang dimuliakan dan panglima perang yang disegani oleh kawan dan lawan, namun Rasulullah saw biasa mengerjakan pekerjaan rumah. Beliau terbiasa membantu istri-istri beliau untuk mencuci, menambal, pakaian atau menambal perabot rumah tangga. Beliau melakuan itu tanpa rasa malu sebagai apresiasi kasih sayang beliau kepada istri-istri beliau, dan sebagai contoh bagi umatnya untuk senantiasa saling membantu dan menyayangi. Besarnya kasih sayang Rasulullah saw kepada keluarganya juga terwujud dalam sabda beliau yang memerintahkan kepada umatnya untuk senantiasa bersikap baik kepada keluarganya.
”Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku diantaramu” (H.R. Tirmidzi)
Kasih sayang Rasulullah saw kepada umatnya tidak dapt diukur dengan harta ataupun tahta. Kasih sayang Rasulullah saw sepanjang zaman, hingga pada datik-detik akhir dari kehidupannya pun Rasulullah saw senantiasa memikirkan dan menyebut-nyebut umatnya … Ummati … ummati … Ummati …
ANTARA SHOLAT DAN PRESTASI
Sholat adalah salah satu bentuk ibadah yang paling vital dan utama setelah seseorang mengikrarkan syahadat atau berada di dalam Islam. Sholat menjadi tumpuan bagi seluruh aktivitas ibadah umat muslim. Sholat juga memegang kendali yang sangat kuat terhadap seluruh aspek kehidupan seorang muslim. Dan percaya atau tidak percaya, ternyata sholat pun memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi seorang muslim.
Sebelumnya, perlu kami sampaikan bahwa prestasi yang dimaksud dalam Islam bukanlah sebatas prestasi akademis yang ditunjukkan oleh nilai atau nominal tertulis saja. Prestasi di dalam Islam adalah kualitas kehidupan yang dijalani oleh seseorang, yang mencakup cara hidup dan hasil dari aktivitas kehidupannya tersebut. Namun, prestasi tersebut pun kemudian juga dapat memompa nilai akademis dalam bentuk nominal tertulis, maupun nilai-nilai kepribadian yang tidak tertulis, misalnya budi pekerti dan akhlak orang tersebut.
Coba kita renungkan sejenak firman Allah swt berikut:
“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)
Lihatlah betapa sholat memiliki peranan penting dalam aktivitas kehidupan sehari-hari seorang muslim. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa sholat merupakan satu-satunya cara yang efektif untuk membawa seseorang atau suatu umat menuju kepada kemulian, perbaikan, segala sesuatu yang bernilai baik. Maka di sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa sesungguhnya sholat itu merupakan salah satu cara untuk meningkatkan prestasi dalam kehidupan seorang muslim.
Setelah kita peroleh kesimpulan di atas, mungkin akan ada pertanyaan menyusul mengenai “benarkah sholat dapat meningkatkan prestasi seseorang?”, “mengapa sholat dapat meningkatkan prestasi seseorang?”, dan “bagaimana sholat dapat meningkatkan prestasi seseorang?”.
Di sini, kami akan mencoba untuk mengupas dan menjawab ketiga pertanyaan di atas secara langsung, dalam satu rangkaian jawaban, tidak terpisah-pisah. Karena, pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan satu kesatuan yang saling berkait.
Insya Allah “BENAR”, bahwa ibadah sholat dapat meningkatkan prestasi seorang muslim yang mengistiqomahkannya dengan ikhlas, baik dan benar. “Mengapa dan bagaimana?”, karena di dalam sholat terdapat beberapa hal yang bersifat mendidik. Unsur-unsur mendidik yang terdapat di dalam sholat tersebut akan mendarah daging di dalam jiwa dan raga orang yang mengistiqomahkannya dengan ikhlas, baik dan benar. Kemudian, nilai-nilai yang telah mendarah daging tersebut akan memacunya kearah yang selalu positif dan lebih baik. Berikut ini adalah beberapa unsur mendidik yang terdapat di dalam ibadah sholat.
Senantiasa mengajarkan kebaikan
“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)
Melalui ayat di atas, dapat kita pahami dengan jelas bahwa Allah swt telah meyampaikan dengan tegas bahwa sholat dapat mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Mengapa demikian? Karena,seseorang yang telah mampu mendirikan dan mengistiqomahkan sholat dengan baik dan benar, dengan khusyuk, maka ia akan selalu mengingat Allah swt. Ia akan selalu merasa bersama Allah swt. Kapanpun, di manapun, dan dalam aktivitas apapun, ia merasa bahwa Allah swt senantiasa bersamanya, melihatnya, mendengarnya, dan mengawasinya. Kalau sudah demikian adanya, maka siapa yang akan berani untuk melakukan maksiat, perbuatan-perbuatan keji dan mungkar? Sebaliknya, ia akan senantiasa terdorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik atau amalan-amalan sholeh untuk mendapatkan rahmat dan ridho-Nya.
Menanamkan kedisiplinan
“… Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa : 103)
Tidak seorang muslim pun dapat mengerjakan sholat dengan semaunya sendiri, yang kapan ia mau maka saat itulah ia mengerjakan sholat. Sholat merupakan salah satu ibadah utama umat muslim yang memang sudah ditetapkan waktunya oleh Allah swt. Tidak ada yang dapat ataupun berhak untuk merubahnya.
Rasulullah SAW bersabda: “sholatlah seperti aku sholat.” (Al Hadits)
Hadits di atas juga menegaskan kepada umat muslim bahwa sholat merupakan satu ibadah yang terikat dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan Rasulullah saw. Aturan-aturan tersebut diantaranya adalah adanya rukun dan syarat sahnya sholat, hal-hal yang membatalkan sholat (perkara yang diharamkan untuk dilakukan ketika sedang sholat), hal-hal yang diwajibkan, dianjurkan dan disunnahkan untuk dikerjakan ketika sholat, dan lain-lain.
Dengan adanya aturan-aturan tersebut, maka diperlukan niat yang kuat dan kesungguhan hati yang mantap untuk mengistiqomahkan ibadah sholat dengan baik dan benar, sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Tentunya, bagi mereka yang telah berhasil mematuhi segala aturan-aturan ketat yang terdapat di dalam ibadah sholat ini, kemudian mampu mengistiqomahkannya dengan baik dan benar, tentu saja akan tertanam kedisiplinan yang mantap dalam dirinya untuk senantiasa bertindak sesuai dengan aturan yang ada. Sikap disiplin akan mendarah daging dalam kehidupannya dan terealisasi dalam setiap aktivitasnya.
Menanamkan kebersihan
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al Maidah : 6)
Melalui firman-Nya, Allah swt telah memerintahkan hambanya yang beriman untuk selalu bersuci terlebih dahulu ketika hendak mengerjakan sholat. Tentu saja perintah tersebut merupakan satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim sebelum ia mengerjakan sholat.
Sholat yang tidak didahului dengan bersuci (berwudhu atau bertayamum) tidak akan diterima oleh Allah swt. Sholat yang demikian tidaklah sah dan justru akan menimbulkan satu dosa bagi pelakunya.
“Allah tidak akan menerima shalat salah seorang dari kamu apabila telah berhadats hingga dia berwudhu.” (HR. Bukhari)
Mengenai perintah bersuci ini, Rasulullah saw juga telah bersabda bahwa bersuci adalah anak kunci dari ibadah sholat. Artinya adalah, bahwa pembukan dari sholat adalah dengan bersuci, untuk mengerjakan sholat harus didahului dengan bersuci terlebih dahulu.
“Anak kunci kepada shalat itu adalah bersuci” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Pada perintah-perintah bersuci di atas tentunya telah jelas bahwa sholat hanya boleh dikerjakan setelah seseorang bersuci, yaitu berwudhu atau bertayamum (jika berhadats kecil). Ini mengisyaratkan bahwa tidak boleh melakukan sholat kecuali bagi orang-orang muslim yang berada dalam keadaan suci. Bersih dari segala bentuk kotoran dan hadas. Dari sini jelaslah bahwa Sholat mengajarkan umat muslim untuk senantiasa menjaga dan memelihara kebersihan, yang tentunya harus diaplikasikan dalam setiap aspek kehidupan, baik jiwa, raga, pakaian, makanan maupun tempat.
Melatih konsentrasi
Konsentrasi, terpusat, fokus, atau khusyuk, merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi setiap aktivitas. Istilah itulah yang senantiasa ditekankan di dalam pelaksanaan sholat, yaitu khusyuk mengingat Allah swt semata, khusyuk disetiap bacaannya, dan khusyuk disetiap gerakannya. Ketika seseorang tengah mengerjakan sholat, maka ia dituntut untuk mengerahkan segenap jiwa, raga, pikiran, dan hatinya untuk bersatu dalam satu titik, yaitu mengingat Allah swt. Tidak diperbolehkan lagi melakukan kontak dengan hal-hal di luar unsur-unsur yang terdapat atau diperbolehkan di dalam sholat. Mengenai konsentrasi atau khusyuk di dalam sholat ini, Allah swt telah berfirman yang artinya:
“Beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dan yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna”. (QS. Al Mukminun: 1-3)
Selain itu, Rasulullah saw juga telah bersabda mengenai betapa pentingnya unsur kekhusyuk-an di dalam sholat.
”Sholatlah seperti halnya sholat orang yang akan meninggal, yaitu seakan-akan engkau melihat Alloh. Jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Thabrani, Ibnu Majah & Ahmad).
Tekanan untuk melatih kekhusyuk-an ini dilakukan oleh umat muslim setiap hari minimal sebanyak lima waktu, sesuai dengan lima waktu sholat fardhu. Dan latihan ini akan diperkuat lagi dengan melakukan sholat-sholat sunnah yang begitu banyak macamnya. Pelatihan di dalam sholat yang dilakukan setiap hari ini, bahkan berkali-kali dalam sehari tentunya akan membentuk pribadi yang memiliki tingkat konsentrasi yang baik dan semakin baik dalam kehidupannya. Dan hal ini tentu akan mejadi pendukung bagi seorang muslim dalam segala aktivitas kehidupan yang dijalaninya.
Membiasakan ucapan yang baik
Shalat adalah ibadah yang secara langsung berhubungan dengan Allah swt. Di dalam sholat tersebut terdapat bacaan-bacaan yang semuanya bernilai kebaikan. Kalimat-kalimat yang mulia berupa pujian, doa, dan pernyataan penghambaan.
Dengan selalu memuji kepada Allah, insya Allah akan menimbulkan sikap rendah hati. Kalimat yang berupa doa-doa sebagai cermin bahwa manusia adalah makhluk yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali atas kehendak Allah swt semata. Tertanamnya bacaan-bacaan yang bernilai kebaikan dan kemuilaan tersebut di dalam hati seseorang, akan menjadikannya sebagai sosok yang selalu berhati-hati dalam berucap dan selalu menghindarkan diri dari sifat sombong, ujub, dan riya.
Mengajarkan kebersamaan dan persatuan
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku” (QS. Al-Baqarah: 43).
“Suatu ketika datanglah seorang laki-laki buta kepada Rasulullah saw dengan tujuan untuk meminta keringanan dalam sholat berjamaah karena kebutaan yang ada pada dirinya. Lelaki yang buta tersebut berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang yang buta, tidak ada seorang penuntun yang dapat menuntunku ke Masjid, maka bolehkah aku tidak sholat dengan berjamaah dan cukup bagiku sholat di rumah saja?” Seketika Rasulullah saw memberi keringanan kepada lelaki tersebut sebagaimana yang ia pinta, namun ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah saw memanggilnya kembali dan bertanya kepadanya, “Apakah kamu mendengar adzan panggilan sholat?” Orang buta itu menjawab, “Ya”. Maka Rasulullah saw pun bersabda, “Kalau begitu, sambutlah (berangkatlah sholat berjamaah)” (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggamanNya, sungguh aku pernah akan menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan untuk shalat, lalu adzan pun dikumandangkan. setelah itu, aku menyuruh orang untuk menjadi imam shalat berjamaah. Lalu aku pergi ke rumah orang-orang yang tidak memenuhi panggilan shalat, dan aku bakar rumah mereka saat mereka berada di dalamnya. “ (HR. Bukhori Muslim).
“Karena itu shalatlah dengan berjamaah, karena srigala itu hanya menerkam kambing yang jauh terpencil dari kawan-kawannya (jamaahnya)” (HR: Abu Daud).
Di atas merupakan dasar-dasar yang menekankan pentingnya melakukan sholat berjamaah. Dengan demikian, jelaslah bahwa sholat pun mengajarkan kebersamaan, silaturahmi, dan memperkuat persatuan dan kesatuan antar sesama umat muslim.
Sholat berjamaah mengajarkan kepada umat muslim untuk memperkuat tali persaudaraan dan persatuan antar sesama umat muslim, tanpa memandang suku, budaya, kebangsaan, bahasa, warna kulit, latar belakang pendidikan, dan lain-lain. Sholat berjamah akan menyatukan semua perbedaan tersebut. Suku apapun, apapun warna kulitnya, apapun kebangsaannya, apapun bahasa daerahnya, apapun latar belakang pendidikannya, berhak untuk menjadi imam dalam sholat berjamaah, asalkan ia telah mampu memenuhi syarat-syarat sebagai imam (misalnya: hafal banyak surat di dalam Al Quran dengan bacaan yang tartil, mengerti banyak tentang sunnah, beragama Islam). Dan setiap mereka yang menjadi makmum wajib mengikuti gerakan imam dan tidak mendahuluinya, tidak peduli apakah makmum tersebut seorang yang kaya raya, seorang jendral, atau presiden sekalipun.
Di dalam sholat berjamaah juga sangat ditekankan untuk meluruskan dan merapatkan shaf/barisan sholat. Ini merupakan satu isyarat yang senantiasa mengajarkan umat muslim untuk selalu memperkuat ukhuwah islamiyah-nya agar jangan sampai tercerai-berai.
Di sini dapat kita pahami bahwa sholat merupakan serangkaian ibadah utama bagi umat muslim yang di dalamnya sangat menjunjung tinggi adanya suatu ikatan persaudaraan dan persatuan yang kuat. Dengan demikian, seorang muslim yang senantiasa mengistiqomahkan sholat berjamaah dengan baik dan benar, niscaya akan tertanam di dalam dirinya jiwa persatuan yang sangat kuat, semangat persaudaraan yang tak pernah pupus, dan terus menguatnya rasa kebersamaan yang begitu hangat.
Melatih kejujuran
“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)
Sekali lagi bahwa sholat merupakan salah satu rangkaian ibadah umat muslim yang berfungsi sebagai pencegah dari perbuatan keji dan mungkar, jika diistiqomahkan dengan baik dan benar, dan dilakukan dengan segenap jiwa dan raga secara menyeluruh dan ikhlas.
Sholat merupakan ibadah yang masing-masing jumlah rakaat-nya sudah ditetapkan, tidak ada yang boleh mengurangi ataupun menambahkannya. Dan ternyata, melalui jumlah rakaat tersebut kita dapat memetik satu hikmah yang sangat berharga, yaitu kejujuran. Sholat yang rakaatnya telah ditetapkan dan sudah tidak dapat diutak-atik tersebut ternyata secara tidak langsung telah mengajarkan seorang muslim untuk senantiasa berlaku jujur, kapanpun dan dimanapun. Tidak ada seorang muslim yang mengerjakan sholat ‘ashar sebanyak dua atau tiga rakaat karena terburu-buru atau karena ia mengerjakannya ditempat yang tertutup. Dan tidak dibenarkan pula untuk menambahkan jumlah rakaat tertentu semau kita sendiri dengan tujuan agar mendapatkan pahala yang lebih banyak. Kapanpun dan dimanapun, pada waktu malam di dalam gua yang terasing sekalipun, mengerjakan sholat ‘ashar adalah empat rakaat, tidak lebih dan tidak kurang.
Meskipun sholat itu dikerjakan secara tersembunyi (tidak dilihat oleh orang lain), tetap saja rakaat yang boleh dikerjakan adalah yang telah ditetapkan. Tidak dibenarkan untuk menambahkan maupun mengkorupsikan rakaat tersebut.
Menghilangkan sifat malas
Sholat fardhu yang dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari, sholat shubuh yang dilakukan pada bagi buta, sholat tahajud yang dilakukan di sepertiga malam manakala hampir setiap makhluk Allah swt tertidur, keutamaan sholat berjamaah di masjid, semua itu mengandung unsur-unsur yang mendidik bagi seorang muslim. Untuk mengerjakan sholat-sholat tersebut harus melawan satu jenis penyakit yang banyak hinggap dan bersemayam di dalam dada manusia, yaitu rasa malas.
Mustahil bahwa di dalam diri seseorang tidak terdapat sifat malas. Dan hanya orang-orang yang mampu melawan sifat malas itulah, yang akan berhasil terbangun di sepertiga malam atau di pagi buta untuk sholat dan menemui Rabb-nya, Allah swt. Hanya orang-oran yang mampu mengalahkan penyakit malaslah yang mampu mengisitiqomahkan sholat lima waktu dengan baik dan benar. Hanya orang-orang yang berhasil melawan rasa malasnyalah yang istiqomah untuk melangkahkan kakinya ke masjid untuk melaksanakan sholat fardhu berjamaah.
Di sini dapat di ambil kesimpulan bahwa sholat dapat meningkatkan prestasi atau kualitas hidup seorang muslim, minimal mencetak umat muslim dengan kepribadian sebagai berikut:
* Senantiasa mengajarkan kebaikan
* Disiplin
* Bersih
* Penuh konsentrasi
* Selalu bertutur kata yang baik
* Selalu menjaga ukhuwah Islamiyah dan insaniyah
* Jujur
* Tidak malas (rajin)
Subhanallah! Betapa mulianya nilai dari ibadah sholat yang merupakan ibadah yang paling utama bagi umat Islam. Bukankah rangkaian kepribadian yang luhur di atas merupakan satu prestasi yang sangat gemilang di dalam kehidupan? Rasa syukur yang tak terhingga marilah sama-sama kita panjatkan kepada Allah swt yang telah menempatkan kita semua di dalam koridor Islam.
Demikianlah artikel yang cukup sederhana ini, semoga dapat memberikan barokah dan maslahat bagi kita semua. Amin.
Wallahua’lam
Sebelumnya, perlu kami sampaikan bahwa prestasi yang dimaksud dalam Islam bukanlah sebatas prestasi akademis yang ditunjukkan oleh nilai atau nominal tertulis saja. Prestasi di dalam Islam adalah kualitas kehidupan yang dijalani oleh seseorang, yang mencakup cara hidup dan hasil dari aktivitas kehidupannya tersebut. Namun, prestasi tersebut pun kemudian juga dapat memompa nilai akademis dalam bentuk nominal tertulis, maupun nilai-nilai kepribadian yang tidak tertulis, misalnya budi pekerti dan akhlak orang tersebut.
Coba kita renungkan sejenak firman Allah swt berikut:
“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)
Lihatlah betapa sholat memiliki peranan penting dalam aktivitas kehidupan sehari-hari seorang muslim. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa sholat merupakan satu-satunya cara yang efektif untuk membawa seseorang atau suatu umat menuju kepada kemulian, perbaikan, segala sesuatu yang bernilai baik. Maka di sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa sesungguhnya sholat itu merupakan salah satu cara untuk meningkatkan prestasi dalam kehidupan seorang muslim.
Setelah kita peroleh kesimpulan di atas, mungkin akan ada pertanyaan menyusul mengenai “benarkah sholat dapat meningkatkan prestasi seseorang?”, “mengapa sholat dapat meningkatkan prestasi seseorang?”, dan “bagaimana sholat dapat meningkatkan prestasi seseorang?”.
Di sini, kami akan mencoba untuk mengupas dan menjawab ketiga pertanyaan di atas secara langsung, dalam satu rangkaian jawaban, tidak terpisah-pisah. Karena, pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan satu kesatuan yang saling berkait.
Insya Allah “BENAR”, bahwa ibadah sholat dapat meningkatkan prestasi seorang muslim yang mengistiqomahkannya dengan ikhlas, baik dan benar. “Mengapa dan bagaimana?”, karena di dalam sholat terdapat beberapa hal yang bersifat mendidik. Unsur-unsur mendidik yang terdapat di dalam sholat tersebut akan mendarah daging di dalam jiwa dan raga orang yang mengistiqomahkannya dengan ikhlas, baik dan benar. Kemudian, nilai-nilai yang telah mendarah daging tersebut akan memacunya kearah yang selalu positif dan lebih baik. Berikut ini adalah beberapa unsur mendidik yang terdapat di dalam ibadah sholat.
Senantiasa mengajarkan kebaikan
“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)
Melalui ayat di atas, dapat kita pahami dengan jelas bahwa Allah swt telah meyampaikan dengan tegas bahwa sholat dapat mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Mengapa demikian? Karena,seseorang yang telah mampu mendirikan dan mengistiqomahkan sholat dengan baik dan benar, dengan khusyuk, maka ia akan selalu mengingat Allah swt. Ia akan selalu merasa bersama Allah swt. Kapanpun, di manapun, dan dalam aktivitas apapun, ia merasa bahwa Allah swt senantiasa bersamanya, melihatnya, mendengarnya, dan mengawasinya. Kalau sudah demikian adanya, maka siapa yang akan berani untuk melakukan maksiat, perbuatan-perbuatan keji dan mungkar? Sebaliknya, ia akan senantiasa terdorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik atau amalan-amalan sholeh untuk mendapatkan rahmat dan ridho-Nya.
Menanamkan kedisiplinan
“… Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa : 103)
Tidak seorang muslim pun dapat mengerjakan sholat dengan semaunya sendiri, yang kapan ia mau maka saat itulah ia mengerjakan sholat. Sholat merupakan salah satu ibadah utama umat muslim yang memang sudah ditetapkan waktunya oleh Allah swt. Tidak ada yang dapat ataupun berhak untuk merubahnya.
Rasulullah SAW bersabda: “sholatlah seperti aku sholat.” (Al Hadits)
Hadits di atas juga menegaskan kepada umat muslim bahwa sholat merupakan satu ibadah yang terikat dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan Rasulullah saw. Aturan-aturan tersebut diantaranya adalah adanya rukun dan syarat sahnya sholat, hal-hal yang membatalkan sholat (perkara yang diharamkan untuk dilakukan ketika sedang sholat), hal-hal yang diwajibkan, dianjurkan dan disunnahkan untuk dikerjakan ketika sholat, dan lain-lain.
Dengan adanya aturan-aturan tersebut, maka diperlukan niat yang kuat dan kesungguhan hati yang mantap untuk mengistiqomahkan ibadah sholat dengan baik dan benar, sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Tentunya, bagi mereka yang telah berhasil mematuhi segala aturan-aturan ketat yang terdapat di dalam ibadah sholat ini, kemudian mampu mengistiqomahkannya dengan baik dan benar, tentu saja akan tertanam kedisiplinan yang mantap dalam dirinya untuk senantiasa bertindak sesuai dengan aturan yang ada. Sikap disiplin akan mendarah daging dalam kehidupannya dan terealisasi dalam setiap aktivitasnya.
Menanamkan kebersihan
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al Maidah : 6)
Melalui firman-Nya, Allah swt telah memerintahkan hambanya yang beriman untuk selalu bersuci terlebih dahulu ketika hendak mengerjakan sholat. Tentu saja perintah tersebut merupakan satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim sebelum ia mengerjakan sholat.
Sholat yang tidak didahului dengan bersuci (berwudhu atau bertayamum) tidak akan diterima oleh Allah swt. Sholat yang demikian tidaklah sah dan justru akan menimbulkan satu dosa bagi pelakunya.
“Allah tidak akan menerima shalat salah seorang dari kamu apabila telah berhadats hingga dia berwudhu.” (HR. Bukhari)
Mengenai perintah bersuci ini, Rasulullah saw juga telah bersabda bahwa bersuci adalah anak kunci dari ibadah sholat. Artinya adalah, bahwa pembukan dari sholat adalah dengan bersuci, untuk mengerjakan sholat harus didahului dengan bersuci terlebih dahulu.
“Anak kunci kepada shalat itu adalah bersuci” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Pada perintah-perintah bersuci di atas tentunya telah jelas bahwa sholat hanya boleh dikerjakan setelah seseorang bersuci, yaitu berwudhu atau bertayamum (jika berhadats kecil). Ini mengisyaratkan bahwa tidak boleh melakukan sholat kecuali bagi orang-orang muslim yang berada dalam keadaan suci. Bersih dari segala bentuk kotoran dan hadas. Dari sini jelaslah bahwa Sholat mengajarkan umat muslim untuk senantiasa menjaga dan memelihara kebersihan, yang tentunya harus diaplikasikan dalam setiap aspek kehidupan, baik jiwa, raga, pakaian, makanan maupun tempat.
Melatih konsentrasi
Konsentrasi, terpusat, fokus, atau khusyuk, merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi setiap aktivitas. Istilah itulah yang senantiasa ditekankan di dalam pelaksanaan sholat, yaitu khusyuk mengingat Allah swt semata, khusyuk disetiap bacaannya, dan khusyuk disetiap gerakannya. Ketika seseorang tengah mengerjakan sholat, maka ia dituntut untuk mengerahkan segenap jiwa, raga, pikiran, dan hatinya untuk bersatu dalam satu titik, yaitu mengingat Allah swt. Tidak diperbolehkan lagi melakukan kontak dengan hal-hal di luar unsur-unsur yang terdapat atau diperbolehkan di dalam sholat. Mengenai konsentrasi atau khusyuk di dalam sholat ini, Allah swt telah berfirman yang artinya:
“Beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dan yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna”. (QS. Al Mukminun: 1-3)
Selain itu, Rasulullah saw juga telah bersabda mengenai betapa pentingnya unsur kekhusyuk-an di dalam sholat.
”Sholatlah seperti halnya sholat orang yang akan meninggal, yaitu seakan-akan engkau melihat Alloh. Jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Thabrani, Ibnu Majah & Ahmad).
Tekanan untuk melatih kekhusyuk-an ini dilakukan oleh umat muslim setiap hari minimal sebanyak lima waktu, sesuai dengan lima waktu sholat fardhu. Dan latihan ini akan diperkuat lagi dengan melakukan sholat-sholat sunnah yang begitu banyak macamnya. Pelatihan di dalam sholat yang dilakukan setiap hari ini, bahkan berkali-kali dalam sehari tentunya akan membentuk pribadi yang memiliki tingkat konsentrasi yang baik dan semakin baik dalam kehidupannya. Dan hal ini tentu akan mejadi pendukung bagi seorang muslim dalam segala aktivitas kehidupan yang dijalaninya.
Membiasakan ucapan yang baik
Shalat adalah ibadah yang secara langsung berhubungan dengan Allah swt. Di dalam sholat tersebut terdapat bacaan-bacaan yang semuanya bernilai kebaikan. Kalimat-kalimat yang mulia berupa pujian, doa, dan pernyataan penghambaan.
Dengan selalu memuji kepada Allah, insya Allah akan menimbulkan sikap rendah hati. Kalimat yang berupa doa-doa sebagai cermin bahwa manusia adalah makhluk yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali atas kehendak Allah swt semata. Tertanamnya bacaan-bacaan yang bernilai kebaikan dan kemuilaan tersebut di dalam hati seseorang, akan menjadikannya sebagai sosok yang selalu berhati-hati dalam berucap dan selalu menghindarkan diri dari sifat sombong, ujub, dan riya.
Mengajarkan kebersamaan dan persatuan
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku” (QS. Al-Baqarah: 43).
“Suatu ketika datanglah seorang laki-laki buta kepada Rasulullah saw dengan tujuan untuk meminta keringanan dalam sholat berjamaah karena kebutaan yang ada pada dirinya. Lelaki yang buta tersebut berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang yang buta, tidak ada seorang penuntun yang dapat menuntunku ke Masjid, maka bolehkah aku tidak sholat dengan berjamaah dan cukup bagiku sholat di rumah saja?” Seketika Rasulullah saw memberi keringanan kepada lelaki tersebut sebagaimana yang ia pinta, namun ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah saw memanggilnya kembali dan bertanya kepadanya, “Apakah kamu mendengar adzan panggilan sholat?” Orang buta itu menjawab, “Ya”. Maka Rasulullah saw pun bersabda, “Kalau begitu, sambutlah (berangkatlah sholat berjamaah)” (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggamanNya, sungguh aku pernah akan menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan untuk shalat, lalu adzan pun dikumandangkan. setelah itu, aku menyuruh orang untuk menjadi imam shalat berjamaah. Lalu aku pergi ke rumah orang-orang yang tidak memenuhi panggilan shalat, dan aku bakar rumah mereka saat mereka berada di dalamnya. “ (HR. Bukhori Muslim).
“Karena itu shalatlah dengan berjamaah, karena srigala itu hanya menerkam kambing yang jauh terpencil dari kawan-kawannya (jamaahnya)” (HR: Abu Daud).
Di atas merupakan dasar-dasar yang menekankan pentingnya melakukan sholat berjamaah. Dengan demikian, jelaslah bahwa sholat pun mengajarkan kebersamaan, silaturahmi, dan memperkuat persatuan dan kesatuan antar sesama umat muslim.
Sholat berjamaah mengajarkan kepada umat muslim untuk memperkuat tali persaudaraan dan persatuan antar sesama umat muslim, tanpa memandang suku, budaya, kebangsaan, bahasa, warna kulit, latar belakang pendidikan, dan lain-lain. Sholat berjamah akan menyatukan semua perbedaan tersebut. Suku apapun, apapun warna kulitnya, apapun kebangsaannya, apapun bahasa daerahnya, apapun latar belakang pendidikannya, berhak untuk menjadi imam dalam sholat berjamaah, asalkan ia telah mampu memenuhi syarat-syarat sebagai imam (misalnya: hafal banyak surat di dalam Al Quran dengan bacaan yang tartil, mengerti banyak tentang sunnah, beragama Islam). Dan setiap mereka yang menjadi makmum wajib mengikuti gerakan imam dan tidak mendahuluinya, tidak peduli apakah makmum tersebut seorang yang kaya raya, seorang jendral, atau presiden sekalipun.
Di dalam sholat berjamaah juga sangat ditekankan untuk meluruskan dan merapatkan shaf/barisan sholat. Ini merupakan satu isyarat yang senantiasa mengajarkan umat muslim untuk selalu memperkuat ukhuwah islamiyah-nya agar jangan sampai tercerai-berai.
Di sini dapat kita pahami bahwa sholat merupakan serangkaian ibadah utama bagi umat muslim yang di dalamnya sangat menjunjung tinggi adanya suatu ikatan persaudaraan dan persatuan yang kuat. Dengan demikian, seorang muslim yang senantiasa mengistiqomahkan sholat berjamaah dengan baik dan benar, niscaya akan tertanam di dalam dirinya jiwa persatuan yang sangat kuat, semangat persaudaraan yang tak pernah pupus, dan terus menguatnya rasa kebersamaan yang begitu hangat.
Melatih kejujuran
“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)
Sekali lagi bahwa sholat merupakan salah satu rangkaian ibadah umat muslim yang berfungsi sebagai pencegah dari perbuatan keji dan mungkar, jika diistiqomahkan dengan baik dan benar, dan dilakukan dengan segenap jiwa dan raga secara menyeluruh dan ikhlas.
Sholat merupakan ibadah yang masing-masing jumlah rakaat-nya sudah ditetapkan, tidak ada yang boleh mengurangi ataupun menambahkannya. Dan ternyata, melalui jumlah rakaat tersebut kita dapat memetik satu hikmah yang sangat berharga, yaitu kejujuran. Sholat yang rakaatnya telah ditetapkan dan sudah tidak dapat diutak-atik tersebut ternyata secara tidak langsung telah mengajarkan seorang muslim untuk senantiasa berlaku jujur, kapanpun dan dimanapun. Tidak ada seorang muslim yang mengerjakan sholat ‘ashar sebanyak dua atau tiga rakaat karena terburu-buru atau karena ia mengerjakannya ditempat yang tertutup. Dan tidak dibenarkan pula untuk menambahkan jumlah rakaat tertentu semau kita sendiri dengan tujuan agar mendapatkan pahala yang lebih banyak. Kapanpun dan dimanapun, pada waktu malam di dalam gua yang terasing sekalipun, mengerjakan sholat ‘ashar adalah empat rakaat, tidak lebih dan tidak kurang.
Meskipun sholat itu dikerjakan secara tersembunyi (tidak dilihat oleh orang lain), tetap saja rakaat yang boleh dikerjakan adalah yang telah ditetapkan. Tidak dibenarkan untuk menambahkan maupun mengkorupsikan rakaat tersebut.
Menghilangkan sifat malas
Sholat fardhu yang dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari, sholat shubuh yang dilakukan pada bagi buta, sholat tahajud yang dilakukan di sepertiga malam manakala hampir setiap makhluk Allah swt tertidur, keutamaan sholat berjamaah di masjid, semua itu mengandung unsur-unsur yang mendidik bagi seorang muslim. Untuk mengerjakan sholat-sholat tersebut harus melawan satu jenis penyakit yang banyak hinggap dan bersemayam di dalam dada manusia, yaitu rasa malas.
Mustahil bahwa di dalam diri seseorang tidak terdapat sifat malas. Dan hanya orang-orang yang mampu melawan sifat malas itulah, yang akan berhasil terbangun di sepertiga malam atau di pagi buta untuk sholat dan menemui Rabb-nya, Allah swt. Hanya orang-oran yang mampu mengalahkan penyakit malaslah yang mampu mengisitiqomahkan sholat lima waktu dengan baik dan benar. Hanya orang-orang yang berhasil melawan rasa malasnyalah yang istiqomah untuk melangkahkan kakinya ke masjid untuk melaksanakan sholat fardhu berjamaah.
Di sini dapat di ambil kesimpulan bahwa sholat dapat meningkatkan prestasi atau kualitas hidup seorang muslim, minimal mencetak umat muslim dengan kepribadian sebagai berikut:
* Senantiasa mengajarkan kebaikan
* Disiplin
* Bersih
* Penuh konsentrasi
* Selalu bertutur kata yang baik
* Selalu menjaga ukhuwah Islamiyah dan insaniyah
* Jujur
* Tidak malas (rajin)
Subhanallah! Betapa mulianya nilai dari ibadah sholat yang merupakan ibadah yang paling utama bagi umat Islam. Bukankah rangkaian kepribadian yang luhur di atas merupakan satu prestasi yang sangat gemilang di dalam kehidupan? Rasa syukur yang tak terhingga marilah sama-sama kita panjatkan kepada Allah swt yang telah menempatkan kita semua di dalam koridor Islam.
Demikianlah artikel yang cukup sederhana ini, semoga dapat memberikan barokah dan maslahat bagi kita semua. Amin.
Wallahua’lam
Mengingat Allah dengan Dzikir
Dzikir adalah mengingat Allah swt dengan menyebut dan memuji nama-Nya. Orang beriman yang senantiasa mengingat Allah swt akan merasa tenang dan tenteram, karena Allah selalu ada dalam hati dan pikirannya. Allah swt berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar’rad:28).
Bagi orang yang sedang merasakan kesusahan atau sedang dirundung suatu masalah besar, dzikir dapat membantu hatinya agar merasa tenang, serta berikhtiar dan mengembalikannya kepada Allah swt.
Berbeda dengan orang yang tidak pernah berdzikir, ia tidak pernah mengingat Allah, ia hanya memikirkan kehidupan di dunia, tanpa ingat siapa yang memberikan kenikmatan di dunia itu. Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dengan yang mati“. (HR. Bukhari). Maka sudah semestinya kita hidup di dunia ini selalu bersyukur kepada Allah swt.
Salah satu perwujudan rasa syukur kita yaitu dengan berdzikir (mengingat Allah). Dzikir juga merupakan ibadah seorang muslim yang sarat akan pahala. Allah swt memerintahkan kita untuk berdzikir sebanyak-banyaknya sebagai ibadah dan ketakwaan kepada-Nya, Firman swt:“Hai orang–orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak–banyaknya. Dan bertasbihlah kepada- Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al Ahzab : 41–42).
Selain itu, terdapat beberapa faedah dzikir, antara lain:
* Mendapatkan ridho Allah swt, pahala, dan ampunan-Nya. Firman Allah swt: “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab : 35).
* Dengan mengingat Allah, Allah pun akan mengingat kita pula. Allah swt berfirman: “Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan)”. (Al Baqarah : 152)
* “Barangsiapa mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU LAHUL MULKU , WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR” (tidak ada ilah kecuali Allah, yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pula segala pujian. Dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu) setiap hari 100x, niscaya ucapannya itu menyamai pahala membebaskan sepuluh budak. Juga, ditulis baginya 100 kebaikan, dan dihapus darinya 100 kejelekan. Juga, dalam sehari itu dia dijaga setan sampai sore harinya. Tidak ada seorang pun yang mengamalkan sesuatu yang lebih baik darinya selain orang yang mengucapkan lebih banyak darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
* “Barangsiapa mengucapkan “SUBHAANALLOH WABIHAMDIHI” (Maha Suci Allah dengan segala pujian bagi-Nya) niscaya ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di surga. (Hadist Shahih diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
* Dzikir dapat menjauhkan kita dari lisan yang tidak bermanfaat seperti ghibah dan sebagainya yang diharamkan oleh Allah swt, serta terhindar dari segala jenis penyakit hati. Dengan dzikir mulut kita selalu mengucapkan asma-Nya dan hati kita selalu mengingat-Nya.
* Dengan berdzikir berarti banyak menyebut nama Allah, dan kita akan beruntung. Firman Allah swt: “Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al Anfal : 45).
Bagi orang yang sedang merasakan kesusahan atau sedang dirundung suatu masalah besar, dzikir dapat membantu hatinya agar merasa tenang, serta berikhtiar dan mengembalikannya kepada Allah swt.
Berbeda dengan orang yang tidak pernah berdzikir, ia tidak pernah mengingat Allah, ia hanya memikirkan kehidupan di dunia, tanpa ingat siapa yang memberikan kenikmatan di dunia itu. Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dengan yang mati“. (HR. Bukhari). Maka sudah semestinya kita hidup di dunia ini selalu bersyukur kepada Allah swt.
Salah satu perwujudan rasa syukur kita yaitu dengan berdzikir (mengingat Allah). Dzikir juga merupakan ibadah seorang muslim yang sarat akan pahala. Allah swt memerintahkan kita untuk berdzikir sebanyak-banyaknya sebagai ibadah dan ketakwaan kepada-Nya, Firman swt:“Hai orang–orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak–banyaknya. Dan bertasbihlah kepada- Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al Ahzab : 41–42).
Selain itu, terdapat beberapa faedah dzikir, antara lain:
* Mendapatkan ridho Allah swt, pahala, dan ampunan-Nya. Firman Allah swt: “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab : 35).
* Dengan mengingat Allah, Allah pun akan mengingat kita pula. Allah swt berfirman: “Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan)”. (Al Baqarah : 152)
* “Barangsiapa mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU LAHUL MULKU , WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR” (tidak ada ilah kecuali Allah, yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pula segala pujian. Dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu) setiap hari 100x, niscaya ucapannya itu menyamai pahala membebaskan sepuluh budak. Juga, ditulis baginya 100 kebaikan, dan dihapus darinya 100 kejelekan. Juga, dalam sehari itu dia dijaga setan sampai sore harinya. Tidak ada seorang pun yang mengamalkan sesuatu yang lebih baik darinya selain orang yang mengucapkan lebih banyak darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
* “Barangsiapa mengucapkan “SUBHAANALLOH WABIHAMDIHI” (Maha Suci Allah dengan segala pujian bagi-Nya) niscaya ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di surga. (Hadist Shahih diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
* Dzikir dapat menjauhkan kita dari lisan yang tidak bermanfaat seperti ghibah dan sebagainya yang diharamkan oleh Allah swt, serta terhindar dari segala jenis penyakit hati. Dengan dzikir mulut kita selalu mengucapkan asma-Nya dan hati kita selalu mengingat-Nya.
* Dengan berdzikir berarti banyak menyebut nama Allah, dan kita akan beruntung. Firman Allah swt: “Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al Anfal : 45).
MENATA HATI
Betapa indahnya sekiranya kita memiliki qolbu yang senantiasa tertata, terpelihara, terawat dengan sebaik-baiknya. Ibarat taman bunga yang pemiliknya mampu merawatnya dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Alur-alur penanamannya tertata rapih. Pengelompokan jenis dan warna bunganya berkombinasi secara artistik. Yang ditanam hanya tanaman bunga yang memiliki warna-warni yang indah atau bahkan yang menyemerbakan keharuman yang menyegarkan.
Rerumputan liar yang tumbuh dibawahnya senantiasa disiangi. Parasit ataupun hama yang akan merusak batang dan daunnya dimusnahkan. Tak lupa setiap hari disiraminya dengan merata, dengan air yang bersih. Tak akan dibiarkan ada dahan yang patah atau ranting yang mengering.
Walhasil, tanahnya senantiasa gembur, tanaman bunga pun tumbuh dengan subur. Dedaunannya sehat menghijau. Dan, subhanallah, bila pagi tiba manakala sang matahari naik sepenggalah, dan saat titik-titik embun yang bergelayutan di ujung dedaunan menagkap kilatan cahayanya, bunga-bunga itu, dengan aneka warnanya, mekar merekah. Wewangian harumnya semerbak ke seantero taman, tak hanya tercium oleh pemiliknya, tetapi juga oleh siapapun yang kebetulan berlalu dekat taman. Sungguh, alangkah indah dan mengesankan.
Begitu pun qolbu yang senantiasa tertata, terpelihara, serta terawat dengan sebaik-baiknya. Pemiliknya akan senantiasa merasakan lapang, tenteram, tenang, sejuk, dan indahnya hidup di dunia ini. Semua ini akan tersemburat pula dalam setiap gerak-geriknya, perilakunya, tutur katanya, sunggingan senyumnya, tatapan matanya, riak air mukanya, bahkan diamnya sekalipun.
Orang yang hatinya tertata dengan baik tak pernah merasa resah gelisah, tak pernah bermuram durja, tak pernah gundah gulana. Kemana pun pergi dan dimana pun berada, ia senantiasa mampu mengendalikan hatinya. Dirinya senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan, tenteram dan menenteramkan. Hatinya bagai embun yang menggelayut di dedaunan di pagi hari, jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Hatinya tertambat bukan kepada barang-barang yang fana, melainkan selalu ingat dan merindukan Zat yang Maha Memberi Ketenteraman, Allah Azza wa Jalla.
Ia yakin dengan keyakinan yang amat sangat bahwa hanya dengan mengingat dan merindukan Allah, hanya dengan menyebut-nyebut namanya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya, maka hatinya menjadi tenteram. Tantangan apapun dihadapinya, seberat apapun, diterimanya dengan ikhlas. Dihadapinya dengan sunggingan senyum dan lapang dada. Baginya tak ada masalah sebab yang menjadi masalah hanyalah caranya yang salah dalam menghadapi masalah.
Adalah kebalikannya dengan orang yang berhati semrawut dan kusut masai. Ia bagaikan kamar mandi yang kumuh dan tidak terpelihara. Lantainya penuh dengan kotoran. Lubang WC-nya masih belepotan sisa kotoran. Dindingnya kotor dan kusam. Gayungnya bocor, kotor, dan berlendir. Pintunya tak berselot. Krannya susah diputar dan air pun sulit untuk mengalir. Tak ada gantungan. Baunya membuat setiap orang yang menghampirinya menutup hidung. Sudah pasti setiap orang enggan memasukinya. Kalaupun ada yang sudi memasukinya, pastilah karena tak ada pilihan lain dan dalam keadaan yang sangat terdesak. Itu pun seraya menutup hidung dan menghindarkan pandangan sebisa-bisanya.
Begitu pun keadaannya dengan orang yang berhati kusam. Ia senantiasa tampak resah dan gelisah. Hatinya dikotori dengan buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain berbahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan.
Sungguh, orang yang berhati busuk seperti itu akan mendapatkan kerugian yang berlipat-lipat. Tidak saja hatinya yang selalu gelisah, namun juga orang lain yang melihatnya pun akan merasa jijik dan tidak akan menaruh hormat sedikit pun jua. Ia akan dicibir dan dilecehkan orang. Ia akan tidak disukai, sehingga sangat mungkin akan tersisih dari pergaulan. Terlepas siapa orangnya. Adakah ia orang berilmu, berharta banyak, pejabat atau siapapun; kalau berhati busuk, niscaya akan mendapat celaan dari masyarakat yang mengenalnya. Derajatnya pun mungkin akan sama atau, bahkan, lebih hina dari pada apa yang dikeluarkan dari perutnya.
Bagi orang yang demikian, selain derajat kemuliannya, akan jatuh di hadapan manusia, juga di hadapan Allah. Ini dikarenakan hari-harinya selalu diwarnai dengan aneka perbuatan yang mengundang dosa. Allah tidak akan pernah berlaku aniaya terhadap makhluk-makhluknya. Sesungguhnyalah apa yang didapatkan seseorang itu, tidak bisa tidak, merupakan buah dari apa yang diusahakannya.
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاء الْأَوْفَى
“Dan bahwasannya manusia tidak akan memperoleh (sesuatu), selain dari apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasannya kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberikan balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (QS. An Najm {53} : 39-41).
Kebaikan yang ditunaikan dan kejahatan yang diperbuat seseorang pastilah akan kembali kepada pelakunya. Jika berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sesuai dengan takaran yang telah dijanjikan-Nya. Sebaliknya, jika berbuat kejahatan, niscaya ia akan mendapatkan balasan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukannya. Sedangkan kebaikan dan kejahatan tidaklah bisa berhimpun dalam satu kesatuan.
Orang yang hatinya tertata rapih adalah orang yang telah berhasil merintis jalan ke arah kebaikan. Ia tidak akan tergoyahkan dengan aneka rayuan dunia yang tampak menggiurkan. Ia akan melangkah pada jalan yang lurus. Dititinya tahapan kebaikan itu hingga mencapai titik puncak. Sementara itu ia akan berusaha sekuat-kuatnya untuk berusaha sekuat-kuatnya untuk memelihara dirinya dari sikap riya, ujub, dan perilaku rendah lainnya. Oleh karenanya, surga sebaik-baiknya tempat kembali, tentulah telah disediakan bagi kepulangannya ke yaumil akhir kelak. Bahkan ketika hidup di dunia yang singkat ini pun ia akan menikmati buah dari segala amal baiknya.
Dengan demikian, sungguh betapa beruntungnya orang yang senantiasa bersungguh-sungguh menata hatinya karena berarti ia telah menabung aneka kebaikan yang akan segera dipetik hasilnya dunia akhirat. Sebaliknya alangkan malangnya orang yang selama hidupnya lalai dan membiarkan hatinya kusut masai dan kotor. Karena, jangankan akhirat kelak, bahkan ketika hidup di dunia pun nyaris tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup tenteram, nyaman, dan lapang.
Marilah kita senantiasa melatih diri untuk menyingkirkan segala penyebab yang potensial bisa menimbulkan ketidaknyamanan di dalam hati ini. Karena, dengan hati yang nyaman, indah, dan lapang, niscaya akan membuat hidup ini terasa damai, karena berseliwerannya aneka masalah sama sekali tidak akan pernah membuat dirinya terjebak dalam kesulitan hidup karena selalu mampu menemukan jalan keluar terbaiknya, dengan izin Allah. Insya Allah!
Rerumputan liar yang tumbuh dibawahnya senantiasa disiangi. Parasit ataupun hama yang akan merusak batang dan daunnya dimusnahkan. Tak lupa setiap hari disiraminya dengan merata, dengan air yang bersih. Tak akan dibiarkan ada dahan yang patah atau ranting yang mengering.
Walhasil, tanahnya senantiasa gembur, tanaman bunga pun tumbuh dengan subur. Dedaunannya sehat menghijau. Dan, subhanallah, bila pagi tiba manakala sang matahari naik sepenggalah, dan saat titik-titik embun yang bergelayutan di ujung dedaunan menagkap kilatan cahayanya, bunga-bunga itu, dengan aneka warnanya, mekar merekah. Wewangian harumnya semerbak ke seantero taman, tak hanya tercium oleh pemiliknya, tetapi juga oleh siapapun yang kebetulan berlalu dekat taman. Sungguh, alangkah indah dan mengesankan.
Begitu pun qolbu yang senantiasa tertata, terpelihara, serta terawat dengan sebaik-baiknya. Pemiliknya akan senantiasa merasakan lapang, tenteram, tenang, sejuk, dan indahnya hidup di dunia ini. Semua ini akan tersemburat pula dalam setiap gerak-geriknya, perilakunya, tutur katanya, sunggingan senyumnya, tatapan matanya, riak air mukanya, bahkan diamnya sekalipun.
Orang yang hatinya tertata dengan baik tak pernah merasa resah gelisah, tak pernah bermuram durja, tak pernah gundah gulana. Kemana pun pergi dan dimana pun berada, ia senantiasa mampu mengendalikan hatinya. Dirinya senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan, tenteram dan menenteramkan. Hatinya bagai embun yang menggelayut di dedaunan di pagi hari, jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Hatinya tertambat bukan kepada barang-barang yang fana, melainkan selalu ingat dan merindukan Zat yang Maha Memberi Ketenteraman, Allah Azza wa Jalla.
Ia yakin dengan keyakinan yang amat sangat bahwa hanya dengan mengingat dan merindukan Allah, hanya dengan menyebut-nyebut namanya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya, maka hatinya menjadi tenteram. Tantangan apapun dihadapinya, seberat apapun, diterimanya dengan ikhlas. Dihadapinya dengan sunggingan senyum dan lapang dada. Baginya tak ada masalah sebab yang menjadi masalah hanyalah caranya yang salah dalam menghadapi masalah.
Adalah kebalikannya dengan orang yang berhati semrawut dan kusut masai. Ia bagaikan kamar mandi yang kumuh dan tidak terpelihara. Lantainya penuh dengan kotoran. Lubang WC-nya masih belepotan sisa kotoran. Dindingnya kotor dan kusam. Gayungnya bocor, kotor, dan berlendir. Pintunya tak berselot. Krannya susah diputar dan air pun sulit untuk mengalir. Tak ada gantungan. Baunya membuat setiap orang yang menghampirinya menutup hidung. Sudah pasti setiap orang enggan memasukinya. Kalaupun ada yang sudi memasukinya, pastilah karena tak ada pilihan lain dan dalam keadaan yang sangat terdesak. Itu pun seraya menutup hidung dan menghindarkan pandangan sebisa-bisanya.
Begitu pun keadaannya dengan orang yang berhati kusam. Ia senantiasa tampak resah dan gelisah. Hatinya dikotori dengan buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain berbahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan.
Sungguh, orang yang berhati busuk seperti itu akan mendapatkan kerugian yang berlipat-lipat. Tidak saja hatinya yang selalu gelisah, namun juga orang lain yang melihatnya pun akan merasa jijik dan tidak akan menaruh hormat sedikit pun jua. Ia akan dicibir dan dilecehkan orang. Ia akan tidak disukai, sehingga sangat mungkin akan tersisih dari pergaulan. Terlepas siapa orangnya. Adakah ia orang berilmu, berharta banyak, pejabat atau siapapun; kalau berhati busuk, niscaya akan mendapat celaan dari masyarakat yang mengenalnya. Derajatnya pun mungkin akan sama atau, bahkan, lebih hina dari pada apa yang dikeluarkan dari perutnya.
Bagi orang yang demikian, selain derajat kemuliannya, akan jatuh di hadapan manusia, juga di hadapan Allah. Ini dikarenakan hari-harinya selalu diwarnai dengan aneka perbuatan yang mengundang dosa. Allah tidak akan pernah berlaku aniaya terhadap makhluk-makhluknya. Sesungguhnyalah apa yang didapatkan seseorang itu, tidak bisa tidak, merupakan buah dari apa yang diusahakannya.
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاء الْأَوْفَى
“Dan bahwasannya manusia tidak akan memperoleh (sesuatu), selain dari apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasannya kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberikan balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (QS. An Najm {53} : 39-41).
Kebaikan yang ditunaikan dan kejahatan yang diperbuat seseorang pastilah akan kembali kepada pelakunya. Jika berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sesuai dengan takaran yang telah dijanjikan-Nya. Sebaliknya, jika berbuat kejahatan, niscaya ia akan mendapatkan balasan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukannya. Sedangkan kebaikan dan kejahatan tidaklah bisa berhimpun dalam satu kesatuan.
Orang yang hatinya tertata rapih adalah orang yang telah berhasil merintis jalan ke arah kebaikan. Ia tidak akan tergoyahkan dengan aneka rayuan dunia yang tampak menggiurkan. Ia akan melangkah pada jalan yang lurus. Dititinya tahapan kebaikan itu hingga mencapai titik puncak. Sementara itu ia akan berusaha sekuat-kuatnya untuk berusaha sekuat-kuatnya untuk memelihara dirinya dari sikap riya, ujub, dan perilaku rendah lainnya. Oleh karenanya, surga sebaik-baiknya tempat kembali, tentulah telah disediakan bagi kepulangannya ke yaumil akhir kelak. Bahkan ketika hidup di dunia yang singkat ini pun ia akan menikmati buah dari segala amal baiknya.
Dengan demikian, sungguh betapa beruntungnya orang yang senantiasa bersungguh-sungguh menata hatinya karena berarti ia telah menabung aneka kebaikan yang akan segera dipetik hasilnya dunia akhirat. Sebaliknya alangkan malangnya orang yang selama hidupnya lalai dan membiarkan hatinya kusut masai dan kotor. Karena, jangankan akhirat kelak, bahkan ketika hidup di dunia pun nyaris tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup tenteram, nyaman, dan lapang.
Marilah kita senantiasa melatih diri untuk menyingkirkan segala penyebab yang potensial bisa menimbulkan ketidaknyamanan di dalam hati ini. Karena, dengan hati yang nyaman, indah, dan lapang, niscaya akan membuat hidup ini terasa damai, karena berseliwerannya aneka masalah sama sekali tidak akan pernah membuat dirinya terjebak dalam kesulitan hidup karena selalu mampu menemukan jalan keluar terbaiknya, dengan izin Allah. Insya Allah!
Langganan:
Postingan (Atom)