Senin, 11 Juli 2011

Tafsir Surat : AL-LAIL

1 Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),(QS. 92:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Lail 1
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى (1)
Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan malam apabila menutupi sesuatu dan menyembunyikannya di dalam kegelapan malam, pada waktu manusia dapat beristirahat dari pekerjaannya dengan tidur dan ketenteraman dan sebagainya.


2 dan siang apabila terang benderang,(QS. 92:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Lail 2
وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى (2)
Allah bersumpah dengan siang apabila terang benderang, di waktu manusia dan binatang bergerak mencari keperluan hidup mereka.


3 dan penciptaan laki-laki dan perempuan,(QS. 92:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


4 sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.(QS. 92:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Lail 4
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى (4)

Allah. menerangkan bahwa perbuatan manusia itu berbeda-beda, sebagian berbuat sesat sebagian yang lain berbuat yang diridai Allah, sebagian patut mendapat ganjaran dan nikmat dan sebahagian lain patut mendapat siksa yang menyedihkan.
Dalam ayat-ayat yang lain yang bersamaan maksudnya Allah berfirman:

أم حسب الذين اجترحوا السيئات أن نجعلهم كالذين آمنوا وعملوا الصالحات سواء محياهم ومماتهم ساء ما يحكمون
Artinya:
Apakah orang-orang yang berbuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Q.S. Al Jasiah: 21)

لا يستوى أصحاب النار وأصحاب الجنة أصحاب الجنة هم الفائزون
Artinya:
"Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung". (Q.S. Al Hasyr: 20)


5 Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,(QS. 92:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Lail 5 - 7
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)
Allah menerangkan bahwa orang yang memberikan hartanya dan mengeluarkannya pada jalan yang baik yang diridai-Nya, berupa yang wajib ataupun sunah dan bertakwa mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya; serta membenarkan adanya pahala yang terbaik, ialah surga. Allah akan menyediakan dan menyiapkan baginya jalan-jalan yang mudah.


6 dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),(QS. 92:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


7 maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.(QS. 92:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


8 Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,(QS. 92:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Lail 8 - 10
وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10)
Dalam ayat-ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang bakhil, yang kikir dan merasa dirinya cukup, tidak memerlukan lagi pertolongan-Nya dan tidak bertakwa kepada-Nya serta mendustakan pahala yang terbaik ialah surga. Bagi mereka akan disediakan-Nya kelak jalan yang sukar, yang merendahkan dirinya, yang membenamkannya ke dalam dosa dan kesalahan.


9 serta mendustakan pahala yang terbaik,(QS. 92:9)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


10 maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.(QS. 92:10)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


11 Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.(QS. 92:11)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Lail 11
وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى (11)

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa hartanya tidak akan berguna bagi dirinya bila ia telah mati. Tidak ada yang akan dibawanya ke dalam liang kubur.
Dalam ayat yang lain yang bersamaan maksudnya Allah berfirman:

ولقد جئتمونا فرادى كما خلقناكم أول مرة وتركتم ما خولناكم وراء ظهوركم
Artinya:
Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri, sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya. dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu. (Q.S. 6 Al-An'am: 94)


12 Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk,(QS. 92:12)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Lail 12 - 13
إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى (12) وَإِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولَى (13)
Allah menerangkan bahwa manusia diciptakan-Nya dengan mempunyai kelebihan yang istimewa ialah dengan diberi-Nya akal dengan akal tersebut mereka dapat membedakan yang baik dan yang buruk, yang hak dan, yang batil.
Kebijaksanaan-Nya-lah memberi petunjuk dengan mengutus Rasul-rasul-Nya untuk menyampaikan agama-Nya yang berisikan perintah dan larangan-Nya, petunjuk kepada jalan yang diridai-Nya serta memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Allahlah pencipta seluruh alam dan sesungguhnya kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada di dunia dan apa-apa yang ada di akhirat.


13 dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.(QS. 92:13)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


14 Maka, Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.(QS. 92:14)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Lail 14 - 16
فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى (14) لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى (15) الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى (16)
Allah mengancam dengan api neraka atas hamba-hamba-Nya yang durhaka yang mendustakan Rasul-Nya; tidak mau beriman kepada Allah; tidak mau menurut dan mengerjakan agama yang dibawa oleh Rasul-Nya; berpaling dari jalan yang hak dan tidak mau kembali ke jalan yang benar; tidak mau bertobat mohon ampunan Allah SWT.


15 Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,(QS. 92:15)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


16 Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).(QS. 92:16)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


17 Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,(QS. 92:17)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Lail 17 - 21
وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى (17) الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى (18) وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (19) إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى (20) وَلَسَوْفَ يَرْضَى (21)
Dalam ayat-ayat ini Allah menerangkan bahwa orang yang paling takwa akan dijauhkan-Nya dari neraka.
Mereka adalah orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah untuk membersihkan dan mendekatkan dirinya kepada Tuhannya.
Pemberiannya itu bukanlah sebagai balas budi atas kebaikan yang telah diterimanya, tetapi karena ia menafkahkan hartanya itu semata-mata mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi dan kemudian di akhirat nanti ia mengharapkan semoga ia akan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT.


18 Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,(QS. 92:18)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


19 padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,(QS. 92:19)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


20 tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.(QS. 92:20)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...

Tafsir Surat : AD-DHUHA

1 Demi waktu matahari sepenggalahan naik,(QS. 93:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Adh Dhuhaa 1 - 3
وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3)
Para ahli hadis sependapat bahwa ayat ini diturunkan pada masa terhentinya turun wahyu (fatratul wahyi), sehingga Rasulullah SAW., bersedih hati. Sedemikian besarnya keinginan beliau menerima wahyu itu, beliau berkali-kali pergi ke gua Hira, dengan harapan dapat menerima wahyu itu seperti beliau menerimanya pada kali yang pertama, namun wahyu itu tidak juga kunjung turun, sehingga beliau merasa dirinya ditinggalkan Allah. Dalam keadaan demikian orang-orang musyrik Quraisy selalu memperolok-olokkan beliau, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari.

عن جندب بن سفيان قال اشتكى رسول الله صلى الله عليه وسلم فلم يقم ليلتين أو ثلاثا فجاءت امرأة فقالت يا محمد إني لأرجو أن يكون شيطانك قد تركك لم أره قربك منذ ليلتين أو ثلاث فأنزل الله عز وجل "والضحى والليل إذا سجى ما ودعك ربك وما قلى"
Artinya:
Dari Jundub bin Sofyan ia berkata: "Rasulullah SAW., mengeluh sehingga beliau tidak mengerjakan qiamul-lail dua atau tiga malam, kemudian datang seorang perempuan mengatakan "Hai Muhammad! Sungguh aku mengharap setan yang menganggu pikiranmu telah meninggalkanmu, aku tidak melihatnya bersamamu selama dua atau tiga malam". Lalu Allah menurunkan ayat-ayat. "Demi waktu matahari naik sepenggalah (tingginya), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu". (H.R. Bukhari)
Dengan turunnya surah Ad Duha ini, hati Rasulullah menjadi tenteram dan menambah semangat beliau menyampaikan agama Allah.
Dalam ayat-ayat ini Allah SWT bersumpah dengan dua macam tanda-tanda kebesaran-Nya. yaitu Duha (waktu matahari naik sepenggalah (tingginya) bersama cahayanya dengan malam beserta kegelapannya; bahwa Dia tidak meninggalkan Rasul-Nya Muhammad dan tidak pula memarahinya, sebagaimana orang-orang mengatakannya atau perasaan Rasulullah sendiri.


2 dan demi malam apabila telah sunyi,(QS. 93:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Adh Dhuhaa 1 - 3
وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3)
Para ahli hadis sependapat bahwa ayat ini diturunkan pada masa terhentinya turun wahyu (fatratul wahyi), sehingga Rasulullah SAW., bersedih hati. Sedemikian besarnya keinginan beliau menerima wahyu itu, beliau berkali-kali pergi ke gua Hira, dengan harapan dapat menerima wahyu itu seperti beliau menerimanya pada kali yang pertama, namun wahyu itu tidak juga kunjung turun, sehingga beliau merasa dirinya ditinggalkan Allah. Dalam keadaan demikian orang-orang musyrik Quraisy selalu memperolok-olokkan beliau, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari.

عن جندب بن سفيان قال اشتكى رسول الله صلى الله عليه وسلم فلم يقم ليلتين أو ثلاثا فجاءت امرأة فقالت يا محمد إني لأرجو أن يكون شيطانك قد تركك لم أره قربك منذ ليلتين أو ثلاث فأنزل الله عز وجل "والضحى والليل إذا سجى ما ودعك ربك وما قلى"
Artinya:
Dari Jundub bin Sofyan ia berkata: "Rasulullah SAW., mengeluh sehingga beliau tidak mengerjakan qiamul-lail dua atau tiga malam, kemudian datang seorang perempuan mengatakan "Hai Muhammad! Sungguh aku mengharap setan yang menganggu pikiranmu telah meninggalkanmu, aku tidak melihatnya bersamamu selama dua atau tiga malam". Lalu Allah menurunkan ayat-ayat. "Demi waktu matahari naik sepenggalah (tingginya), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu". (H.R. Bukhari)
Dengan turunnya surah Ad Duha ini, hati Rasulullah menjadi tenteram dan menambah semangat beliau menyampaikan agama Allah.
Dalam ayat-ayat ini Allah SWT bersumpah dengan dua macam tanda-tanda kebesaran-Nya. yaitu Duha (waktu matahari naik sepenggalah (tingginya) bersama cahayanya dengan malam beserta kegelapannya; bahwa Dia tidak meninggalkan Rasul-Nya Muhammad dan tidak pula memarahinya, sebagaimana orang-orang mengatakannya atau perasaan Rasulullah sendiri.


3 Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu,(QS. 93:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Adh Dhuhaa 1 - 3
وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3)
Para ahli hadis sependapat bahwa ayat ini diturunkan pada masa terhentinya turun wahyu (fatratul wahyi), sehingga Rasulullah SAW., bersedih hati. Sedemikian besarnya keinginan beliau menerima wahyu itu, beliau berkali-kali pergi ke gua Hira, dengan harapan dapat menerima wahyu itu seperti beliau menerimanya pada kali yang pertama, namun wahyu itu tidak juga kunjung turun, sehingga beliau merasa dirinya ditinggalkan Allah. Dalam keadaan demikian orang-orang musyrik Quraisy selalu memperolok-olokkan beliau, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari.

عن جندب بن سفيان قال اشتكى رسول الله صلى الله عليه وسلم فلم يقم ليلتين أو ثلاثا فجاءت امرأة فقالت يا محمد إني لأرجو أن يكون شيطانك قد تركك لم أره قربك منذ ليلتين أو ثلاث فأنزل الله عز وجل "والضحى والليل إذا سجى ما ودعك ربك وما قلى"
Artinya:
Dari Jundub bin Sofyan ia berkata: "Rasulullah SAW., mengeluh sehingga beliau tidak mengerjakan qiamul-lail dua atau tiga malam, kemudian datang seorang perempuan mengatakan "Hai Muhammad! Sungguh aku mengharap setan yang menganggu pikiranmu telah meninggalkanmu, aku tidak melihatnya bersamamu selama dua atau tiga malam". Lalu Allah menurunkan ayat-ayat. "Demi waktu matahari naik sepenggalah (tingginya), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu". (H.R. Bukhari)
Dengan turunnya surah Ad Duha ini, hati Rasulullah menjadi tenteram dan menambah semangat beliau menyampaikan agama Allah.
Dalam ayat-ayat ini Allah SWT bersumpah dengan dua macam tanda-tanda kebesaran-Nya. yaitu Duha (waktu matahari naik sepenggalah (tingginya) bersama cahayanya dengan malam beserta kegelapannya; bahwa Dia tidak meninggalkan Rasul-Nya Muhammad dan tidak pula memarahinya, sebagaimana orang-orang mengatakannya atau perasaan Rasulullah sendiri.


4 dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.(QS. 93:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Adh Dhuhaa 4
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى (4)
Kemudian dalam ayat ini Allah mengungkapkan sesuatu yang melapangkan dada Nabi SAW. dan menenteramkan jiwa beliau, yaitu dengan menyatakan bahwa keadaan Nabi dalam kehidupannya di hari-hari mendatang lebih baik dari keadaannya di hari-hari yang telah lalu. Kebesarannya akan bertambah dan namanya akan lebih dikenal. Dia akan selalu membimbingnya untuk mencapai kemuliaan dan untuk menuju kepada kebesaran.
Seakan-akan Dia mengatakan kepada Rasul-Nya: "Apakah engkau kira bahwa Aku akan meninggalkanmu? Bahkan kedudukanmu di sisi-Ku sekarang lebih kokoh dan lebih dekat dari masa yang sudah-sudah".
Janji yang dijanjikan Allah kepada Nabi-Nya terus terbukti kenyataannya karena sejak itu nama Nabi SAW., makin bertambah terkenal, kedudukan Nabi makin bertambah kuat, sehingga mencapai tingkat yang tidak pernah dicapai oleh para Rasul sebelumnya. Allah telah menjadikan Nabi-Nya sebagai rahmat petunjuk dan cahaya untuk seluruh alam dan untuk seluruh hamba-Nya. Dijadikan cinta kepada Nabi termasuk cinta kepada-Nya juga; mengikuti Nabi dan mematuhinya adalah jalan untuk memperoleh nikmat-nikmat Nya, dijadikan-Nya umat Nabi sebagai saksi-saksi untuk manusia seluruhnya Nabi SAW. sendiri telah menyiarkan agama Allah sesuai dengan kehendak-Nya sehingga sampai ke pelosok-pelosok dunia.
Ini adalah suatu kebesaran yang tiada bandingnya, suatu keunggulan yang tiada taranya dan suatu kemuliaan yang tidak ada yang dapat mengimbanginya. Semua itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya.


5 Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.(QS. 93:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Adh Dhuhaa 5
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى (5)
Dalam ayat ini Allah menyatakan tambahan berita gembira kepada Nabi-Nya, yaitu dengan pernyataan bahwa Dia akan terus menerus melimpahkan anugerah-Nya kepada Nabi-Nya, sehingga ia menjadi senang dan bahagia. Di antara pemberian-Nya itu ialah turunnya wahyu terus menerus setelah itu sebagai petunjuk baginya dan bagi umatnya untuk mendapat kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di hari kemudian. Dia akan memenangkan agama yang dibawa Nabi-Nya atas seluruh agama lainnya dan Dia akan mengangkat kedudukan Nabi-Nya di atas kedudukan manusia seluruhnya.


6 Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.(QS. 93:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Adh Dhuhaa 6
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى (6)
Dalam ayat ini Allah mengingatkan nikmat yang pernah diterimanya dengan mengatakan, "Bukankah engkau hai Muhammad seorang anak yatim, tidak mempunyai ayah yang bertanggung jawab atas pendidikanmu, menanggulangi kepentinganmu serta membimbingmu, tetapi Aku telah menjagamu, melindungimu dan membimbingmu serta menjauhkanmu dari dosa-dosa perilaku orang-orang jahiliah dan keburukan mereka, sehingga engkau memperoleh julukan mereka "Manusia sempurna".
Nabi SAW. hidup dalam keadaan yatim, karena ayah beliau meninggal dunia sedang beliau masih dalam kandungan ibunda. Ketika beliau lahir Allah memelihara beliau dengan cara menjadikan kakek beliau Abdul Muttalib mengasihi dan menyayanginya sehingga berada dalam asuhan dan bimbingannya sampai dengan wafatnya Abdul Muttalib, sedang umur Nabi ketika itu delapan tahun. Kemudian dengan meninggalnya Abdul Muttalib Nabi menjadi tanggungan paman beliau Abu Talib, berdasarkan wasiat dari Abdul Muttalib. Abu Talib telah mengerahkan semua perhatiannya untuk mengasuh Nabi SAW., sehingga beliau meningkat dewasa dan beliau diangkat menjadi Rasul. Setelah Nabi diangkat menjadi Rasul, orang-orang Quraisy memusuhi Nabi dan menyakiti beliau, tetapi Abu Talib terus membela beliau dari semua ancaman orang musyrik hingga Abu Talib wafat.
Dengan wafatnya Abu Talib bangsa Quraisy mendapat peluang untuk menyakiti Nabi dengan perantaraan orang-orang jahat di kalangan mereka yang menyebabkan beliau terpaksa hijrah.
Betapa hebatnya penggemblengan Allah dan asuhan-Nya terhadap Nabi SAW. Biasanya keyatiman seorang anak adalah sebab kehancuran akhlak karena tidak ada pengasuh dan pembimbing yang bertanggung jawab. Apalagi suasana dan sikap penduduk Mekah lebih dari cukup untuk menyesatkan Nabi bila beliau cenderung kepada mereka. Tetapi perlindungan Allah yang sangat rapi dapat mencegah beliau menemani mereka. Dengan demikian jadilah beliau seorang pemuda yang sangat jujur, tidak pernah tidak terpercaya, tak pernah berdusta dan tidak pernah berlumur dengan dosa orang-orang jahiliah.


7 Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.(QS. 93:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Adh Dhuhaa 7
وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7)
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan, bahwa Dia telah mendapatkan Nabi dalam keadaan kebingungan tiada mempunyai suatu ketegasan walaupun menurut keyakinannya sendiri bahwa bangsa Quraisy-pun belum mempunyai pegangan yang tepat. Ibadat mereka salah dengan menyembah berhala, akidah mereka rusak sehingga Nabi mau beralih kepada agama Yahudi. Kemudian beliau memperhatikan bangsa Yahudi, mereka bukan pula suatu bangsa yang baik. Mereka memutar balikkan agama mereka di samping menentang tindakan-tindakan Rasul mereka. Kemudian beliau beralih memperhatikan agama Nasrani yang dibawa oleh Nabi Isa A.S. Beliau dapati keadaan mereka lebih buruk dari keadaan orang-orang Yahudi lalu beliau menghentikan penelitiannya. Beliau seorang Rasul yang ummi, tidak pandai membaca dan tidak pula tahu menulis. Maka dengan sendirinya beliau tidak mengetahui apa-apa yang terkandung dalam agama-agama yang terdahulu.
Yang sangat membingungkan Nabi SAW. adalah apa yang dilihatnya di kalangan bangsa Arab sendiri tentang kerendahan akidah mereka, kelemahan pertimbangan mereka disebabkan pengaruh dugaan-dugaan yang salah, kejelekan amal perbuatan mereka dan keadaan mereka yang terpecah-belah dan suka bermusuhan. Mereka menuju kepada kehancuran karena memakai orang-orang asing yang leluasa bertindak di kalangan mereka yang terdiri dari bangsa Persia, Habasyah dan Romawi.
Jalan apakah yang harus ditempuh untuk membetulkan akidah-akidah mereka untuk membebaskan mereka dari pengaruh adat-istiadat yang buruk itu dan cara bagaimana yang harus dijalankan untuk membangunkan mereka dari tidur yang nyenyak itu? Pendek kata, Nabi SAW. yakin bahwa kaumnya telah sesat. Mereka telah menukar agama nenek moyang mereka; Agama Nabi Ibrahim A.S.
Umat-umat Nabi lainpun tidak lebih baik keadaan mereka daripada umatnya. Tetapi walaupun begitu Allah tidak membiarkan Nabi-Nya menjalankan dakwah tanpa bantuan-Nya, bahkan diberikannya wahyu yang menjelaskan kepadanya jalan yang harus ditempuh dalam usaha memperbaiki keadaan kaumnya.
Dalam ayat lain yang hampir bersamaan maksudnya Allah berfirman:

وكذلك أوحينا إليك روحا من أمرنا ما كنت تدري ما الكتاب ولا الإيمان
Artinya:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Al Kitab (Alquran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. (Q.S. Asy Syu'ara': 52)


8 Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.(QS. 93:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Adh Dhuhaa 8
وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8)
Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Nabi-Nya itu adalah seorang miskin. Ayahnya tidak meninggalkan pusaka baginya kecuali seekor unta betina dan seorang hamba sahaya perempuan. Kemudian Allah memberinya harta benda berupa keuntungan yang amat besar dari memperdagangkan harta Khadijah dan ditambah pula dengan harta yang dihibahkan Khadijah kepadanya dalam perjuangan menegakkan agama Allah.
Dari keterangan-keterangan tersebut di atas, sesungguhnya Allah mengatakan kepada Nabi-Nya bahwa Dialah yang memeliharanya dalam keadaan yatim, menghindarkannya dari kebingungan dan menjadikannya berkecukupan dan Dia tidak akan meninggalkannya selama hidupnya.


9 Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.(QS. 93:9)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Adh Dhuhaa 9
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9)
Sesudah Allah menyatakan dalam ayat-ayat terdahulu tentang bermacam-macam nikmat yang diberikan-Nya kepada Nabi-Nya, maka pada ayat ini Dia meminta kepada Nabi-Nya agar mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dan terhadap anak-anak yatim, janganlah menghina dan memperkosa haknya.
Sebaliknya hendaklah mendidik mereka dengan adab dan sopan-santun dan menanamkan akhlak yang mulia dalam jiwa mereka, sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang berguna, tidak akan menjadi bibit kejahatan yang merusak orang-orang yang bergaul dengannya. Barangsiapa yang telah merasa kepahitan hidup pada dirinya dalam serba kekurangan maka selayaknya ia dapat merasakan kepahitan itu pada orang lain. Allah telah menghindarkan Nabi-Nya dari kesengsaraan dun kehinaan, maka selayaknya Nabi memuliakan semua anak yatim sebagai tanda mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepadanya.


10 Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.(QS. 93:10)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Adh Dhuhaa 10
وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10)
Maka dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya agar orang-orang yang meminta sesuatu daripadanya janganlah hendaknya ditolak secara kasar dan dibentak, malah sebaliknya diberi sesuatu atau ditolak secara halus. Ada pendapat bahwa yang dimaksud dengan kata "as sa'ila" adalah orang yang memohon petunjuk, maka hendaknya pemohon ini diladeni dengan lemah-lembut sambil memenuhi permohonannya.


11 Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).(QS. 93:11)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Adh Dhuhaa 11
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11)
Dalam ayat ini Allah menegaskan lagi kepada Nabi-Nya agar ia memperbanyak pemberiannya kepada orang-orang fakir dan miskin serta mensyukuri dan menyebut-nyebut nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Menyebut-nyebut nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita bukanlah untuk membangga-banggakan diri, tetapi untuk mensyukuri dan mengharapkan orang lain mensyukuri pula nikmat yang telah diperolehnya. Adat kebiasaan orang-orang kikir adalah menyembunyikan harta kekayaannya untuk menjadi alasan tidak bersedekah dan selalu mereka mendengarkan kekurangan, tetapi sebaliknya orang-orang dermawan, mereka senantiasa menampakkan pemberian dan pengorbanan mereka dari harta kekayaan yang dianugerahkan Allah kepada mereka dengan menyatakan syukur dan terima kasih kepada Allah atas limpahan karunia-Nya itu.
Banyak hadis yang meriwayatkan bahwa Nabi SAW., banyak bersedekah kepada orang-orang fakir miskin, menyantuni dan berbuat baik kepada mereka, sehingga pada suatu waktu beliau pernah menyedekahkan semua yang beliau miliki kepada orang-orang yang berhajat, sehingga beliau terpaksa tidur tanpa makan.

Tafsir Surat : ALAM-NASYRAH

1 Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,(QS. 94:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Alam Nasyrah 1
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (1)
Hubungan surah Alam Nasyrah ini dengan sebelumnya yakni surah Ad Duha sangat kuat, sehingga Tawus dan Umar bin Abdul Aziz menyatakan bahwa surah Ad Duha dan surah Alam Nasyrah itu satu. Mereka membaca kedua surah tersebut dalam satu rakaat dan tidak membatasinya dengan ucapan basmalah. Tetapi menurut berita yang mutawatir bahwa Ad Duha dan Alam Nasyrah dua surah meskipun terdapat hubungan arti antara keduanya, karena masing-masing surah itu menyebut beberapa nikmat serta meminta agar mensyukurinya.
Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Dia telah melapangkan dada Nabi-Nya dan menyelamatkan dari kebingungan yang merisaukannya akibat kebodohan dan keras kepala kaumnya. Mereka tidak mau mengikuti kebenaran, sedang Nabi SAW. selalu mencari jalan untuk melepaskan mereka dari lembah kebodohan, sehingga ia menemui jalan untuk itu dan untuk menyelamatkan mereka dari kehancuran yang sedang mereka alami.
Maksudnya, Allah telah membersihkan jiwa Nabi SAW. dari segala macam perasaan cemas, sehingga dia tidak gelisah, tidak susah dan tidak pula gusar. Dijadikan-Nya selalu tenang dan percaya akan pertolongan dan bantuan Allah kepadanya serta yakin bahwa Allah yang menugasinya sebagai Rasul sekali-kali tidak akan membantu musuh-musuhnya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Alam Nasyrah 1
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (1)
(Bukankah Kami telah melapangkan) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir atau menetapkan, yakni Kami telah melapangkan (untukmu) hai Muhammad (dadamu?) dengan kenabian dan lain-lainnya.


2 Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,(QS. 94:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Alam Nasyrah 2 - 3
وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (2) الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (3)
Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan bahwa Dia berkenan meringankan beban yang dipikulkan kepada Nabi-Nya dalam menunaikan penyebaran risalah-Nya sehingga dengan mudah ia dapat menyampaikannya kepada manusia, dengan jiwa yang tenteram menghadapi tantangan musuh-musuhnya walaupun kadang-kadang tantangan itu berbahaya.
Setelah Rasulullah SAW. diangkat menjadi Rasul maka mulailah beliau melaksanakan tugas menyampaikan agama Allah kepada orang-orang Quraisy karena timbul reaksi yang kuat dari orang-orang Quraisy, beliau menyiarkan Agama Islam dengan sembunyi-sembunyi, karena itu beliau merasakan amat berat melakukan tugas itu; maka dengan masuk Islamnya beberapa orang pembesar Quraisy seperti Umar bin Khattab, Sayyidina Hamzah dan lain-lain, Rasulullah merasa ringan melaksanakan tugasnya. Hal ini ditambah lagi dengan datangnya perintah Allah untuk menyiarkan Agama Islam dengan terang-terangan dan adanya jaminan Allah untuk menolong beliau sebagaimana firman-Nya:

فاصدع بما تؤمر واعرض عن المشركين إنا كفيناك المستهزئين الذين يجعلون مع الله إلها آخر
Artinya:
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya Tuhan yang lain di samping Allah. (Q.S. Al Hijr: 94-95)


3 Yang memberatkan punggungmu?(QS. 94:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Alam Nasyrah 2 - 3
وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (2) الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (3)
Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan bahwa Dia berkenan meringankan beban yang dipikulkan kepada Nabi-Nya dalam menunaikan penyebaran risalah-Nya sehingga dengan mudah ia dapat menyampaikannya kepada manusia, dengan jiwa yang tenteram menghadapi tantangan musuh-musuhnya walaupun kadang-kadang tantangan itu berbahaya.
Setelah Rasulullah SAW. diangkat menjadi Rasul maka mulailah beliau melaksanakan tugas menyampaikan agama Allah kepada orang-orang Quraisy karena timbul reaksi yang kuat dari orang-orang Quraisy, beliau menyiarkan Agama Islam dengan sembunyi-sembunyi, karena itu beliau merasakan amat berat melakukan tugas itu; maka dengan masuk Islamnya beberapa orang pembesar Quraisy seperti Umar bin Khattab, Sayyidina Hamzah dan lain-lain, Rasulullah merasa ringan melaksanakan tugasnya. Hal ini ditambah lagi dengan datangnya perintah Allah untuk menyiarkan Agama Islam dengan terang-terangan dan adanya jaminan Allah untuk menolong beliau sebagaimana firman-Nya:

فاصدع بما تؤمر واعرض عن المشركين إنا كفيناك المستهزئين الذين يجعلون مع الله إلها آخر
Artinya:
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya Tuhan yang lain di samping Allah. (Q.S. Al Hijr: 94-95)


4 Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu.(QS. 94:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Alam Nasyrah 4
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (4)
Dalam ayat ini Allah menerangkan pula bahwa Dia mengangkat derajat Nabi-Nya, meninggikan kedudukannya dan memperbesar pengaruhnya. Apakah ada pangkat yang lebih mulia dari pangkat nubuwah yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Apakah ada yang lebih utama dari tersebarnya ke seluruh dunia pengikut-pengikut yang setia yang patuh menjalankan perintah-perintahnya serta menjauhi larangan-larangannya.
Mereka melakukan yang demikian itu karena yakin bahwa dalam menjalankan perintah-perintahnya itu terdapat keuntungan yang besar, sedang mendurhakainya adalah kerugian besar. Apakah ada sebutan yang lebih mulia dan dapat membanggakan hati daripada menyebut namanya bersama nama Allah Yang Maha Rahman, sebagai tanda kesempurnaan insani? Sebutan mana lagi yang lebih mulia daripada sebutan yang dijadikan tanda pengakuan kerasulannya dan pengakuan tersebut dijadikan syarat seseorang menjadi penghuni surga.
Selain dari itu Nabi SAW. telah membebaskan umat manusia dari perbudakan, kebodohan dan kerusakan pikiran dan membawa manusia kembali kepada fitrah yang menjamin kebebasan berpikir dan berkehendak sehingga dapat menemukan yang hak dan mengetahui siapakah sebenarnya yang harus disembah. Dengan demikian bersatulah mereka dalam keimanan dan beribadat kepada Allah Yang Maha Esa, sesudah mereka berbeda-beda dalam penyembahan mereka. Beliaulah yang menyingkirkan dari mereka awan-awan kegelapan serta menerangi jalan yang harus ditempuh untuk menuju kepada kejayaan dan kebahagiaan.


5 Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,(QS. 94:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Alam Nasyrah 5
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5)
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa sesungguhnya di dalam setiap kesempitan di situ terdapat kelapangan dan di dalam setiap kekurangan sarana untuk mencapai suatu keinginan di situ pula terdapat jalan keluar, jika seseorang dalam menuntut sesuatu tetap berpegang pada kesabaran dan tawakal kepada Tuhannya. Ini adalah sifat Nabi SAW. baik sebelum beliau diangkat menjadi Rasul maupun sesudahnya, ketika beliau terdesak menghadapi tantangan kaumnya.
Walaupun demikian, beliau tidak pernah gelisah dan tidak pula mengubah tujuan tetapi beliau bersabar menghadapi kejahatan kaumnya dan terus menjalankan dakwah sambil berserah diri dengan tawakal kepada Allah dan mengharap pahala daripada-Nya. Begitulah keadaan Nabi SAW. sejak permulaan dakwahnya. Pada akhirnya Allah memberikan kepadanya pendukung-pendukung yang mencintai beliau sepenuh hati dan bertekad untuk menjaga diri pribadi beliau dan agama yang dibawanya, dengan keyakinan bahwa tidaklah sempurna hidup mereka kecuali dengan menghancurkan dan meleburkan segala sendi kemusyrikan dan kekafiran. Lalu mereka bersedia menebus pahala dan nikmat yang disediakan di sisi Allah bagi orang-orang yang berjihad pada jalan-Nya dengan jiwa dan harta dan semua yang mereka miliki. Maka dengan demikian mereka telah sanggup menghancurkan kubu-kubu pertahanan raja-raja Persia dan Romawi.
Ayat tersebut seakan-akan menyalakan bahwa bila keadaan telah terlalu gawat maka dengan sendirinya kita ingin keluar dengan selamat dari kegawatan tersebut dengan melalui segala jalan yang dapat ditempuh, sambil bertawakal kepada Allah. maka dengan demikian tercapai kemenangan biar bagaimanapun hebatnya rintangan dan percobaan yang dihadapi.
Dengan ini pula Allah memberitahukan kepada Nabi Nya bahwa keadaannya akan berubah, dari miskin menjadi kaya, dari tidak mempunyai teman sampai mempunyai saudara yang banyak dan dari kebencian kaumnya kepada kecintaan yang tidak ada taranya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Alam Nasyrah 5
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5)
(Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu) atau kesukaran itu (ada kelapangan) yakni kemudahan.


6 sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.(QS. 94:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Alam Nasyrah 6
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)
Ayat ini adalah ulangan ayat sebelumnya untuk menguatkan arti yang terkandung dalam ayat yang terdahulu; yakni bila kesulitan itu dihadapi dengan tekad yang sungguh-sungguh dan berusaha dengan sekuat tenaga dan pikiran untuk melepaskan diri daripadanya, tekun dan sabar serta tidak mengeluh atas kelambatan datangnya kemudahan, pasti kemudahan itu akan tiba.


7 Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,(QS. 94:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Alam Nasyrah 7
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7)
Kemudian sesudah Allah menyatakan nikmat-nikmat-Nya kepada Rasul-Nya dan janji-Nya akan menyelamatkannya dari bahaya-bahaya yang menimpanya Dia memerintahkan kepadanya agar mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan tekun beramal saleh sambil bertawakal kepada-Nya. Bila ia telah selesai mengerjakan suatu amal perbuatan lainnya, karena dalam keadaan terus beramal akan menemui ketenangan jiwa dan kelapangan hati. Dan ayat ini menganjurkan agar Nabi SAW. tetap rajin dan terus menerus tekun beramal.


8 dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.(QS. 94:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Alam Nasyrah 8
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8)
Dalam ayat ini Allah menegaskan agar Nabi-Nya jangan mengharapkan pahala dan hasil amal perbuatannya hanya menuntut keridaan Allah semata-mata karena Dialah yang sebenarnya yang dituju dalam amal ibadat dan pada-Nyalah tempat merendahkan diri.

Tafsir Surat : AT-TIIN

1 Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,(QS. 95:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 1
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1)
Di dalam ayat ini Allah bersumpah dengan "tin" yaitu semacam buah-buahan untuk makanan manusia. Dan Allah bersumpah dengan zaitun, yaitu semacam buah-buahan yang dimakan oleh manusia juga.


2 dan demi bukit Sinai,(QS. 95:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 2
وَطُورِ سِينِينَ (2)
Dengan ayat ini Allah memperingatkan kepada manusia akan suatu kejahatan dan tanda kebesaran-Nya yang disaksikan oleh Nabi Musa A.S. dan kaum beliau ketika Dia menurunkan Kitab Taurat kepadanya yang menarik manusia dari kegelapan syirik kepada nur tauhid sesudah segenap pelosok bumi dikotori oleh kekafiran. Sesudah nabi Musa A.S. meninggal, para nabi dan kaum mereka masing-masing berpegang kepada syariat Nabi Musa, kemudian syariat Musa ini mengalami perubahan dan penggantian sehingga datanglah Nabi Isa membersihkan kembali syariat Nabi Musa itu. Sesudah itu terjadi pula perselisihan antara kaum Nabi Isa dalam agama mereka sebagaimana yang terjadi pada umat-umat Nabi sebelum mereka, sehingga Allah berkenan melindungi manusia dengan mengutus Nabi Muhammad SAW. yang ditegaskan dengan firman-Nya berikut ini.


3 dan demi kota (Mekah) ini yang aman,(QS. 95:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 3
وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3)
Allah SWT. menegaskan bahwa Dia memuliakan negeri Mekah karena kelahiran Nabi Muhammad SAW. dan Baitul Haram terdapat di sana Allah bersumpah dengan empat nama tersebut karena empat nama itu tidak asing lagi bagi seluruh umat manusia tentang pengaruh dan peranannya dalam melepaskan manusia dari alam kegelapan kepada cahaya yang terang benderang.


4 sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.(QS. 95:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 4
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4)
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah menjadikan manusia makhluk ciptaan-Nya yang paling baik; badannya lurus ke atas, cantik parasnya, mengambil dengan tangan apa yang dikehendakinya; bukan seperti kebanyakan binatang yang mengambil benda yang dikehendakinya dengan perantaraan mulut. Kepada manusia diberikan-Nya akal dan dipersiapkan untuk menerima bermacam-macam ilmu pengetahuan dan kepandaian; sehingga dapat berkreasi (berdaya cipta) dan sanggup menguasai alam dan binatang.
Tetapi manusia kadang-kadang lupa akan dasar perbedaannya dan mengira bahwa dia tidak berbeda dengan binatang lainnya. Lalu ia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan akal yang sehat dan tidak sesuai dengan fitrahnya. Dikumpulkannya perhiasan dunia dan apa saja yang sanggup dicapainya untuk memenuhi hawa nafsunya. Dilupakan semua yang bermanfaat baginya untuk kebahagiaan hidup di hari kemudian dan tidak dihiraukannya apa yang dianjurkan oleh Tuhannya yang akan menyampaikannya kepada kebahagiaan yang kekal abadi; sesuai dengan maksud firman Allah dalam ayat lain:

يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم
Artinya:
/10 "(Yaitu) pada hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih". (Q.S Asy Syu'ara': 88-99)


5 Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),(QS. 95:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 5
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5)
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa jiwa manusia tersebut telah dikuasai oleh kejahatan, terbenam dalam, kesesatan, lupa akan fitrah kejadiannya, terpengaruh oleh nafsu kebinatangannya dan terjerumus ke dalam jurang keonaran dan dosa. Kecuali orang-orang yang tetap pada fitrahnya, yaitu orang-orang yang dilindungi dan dipelihara oleh Allah.


6 kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.(QS. 95:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 6
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6)
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa manusia yang terpelihara dari keterjerumusannya ke lembah kehinaan dan dosa, hanyalah orang-orang yang jiwanya telah diresapi oleh iman. Serta orang-orang yang mengakui bahwa alam semesta ini ada penciptanya yang mengatur semua urusannya dan membentuk syariat-syariat untuk hamba-Nya yang harus dipatuhi.
Dan mereka yakin pula bahwa bagi setiap kejahatan ada ancamannya, begitu pula bagi kebaikan ada pula ganjarannya. Mereka akan menerima pahala amal saleh bila mereka telah dihidupkan kembali pada, Hari Kiamat setelah dihisab, mereka itu ialah para pengikut Nabi dan orang yang mendapat petunjuk dari para nabi kepada jalan yang benar.


7 Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?(QS. 95:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 7
فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7)
Dalam ayat ini Allah mencemoohkan orang-orang musyrik atas keberanian mereka mendustakan hari pembalasan, atas amal perbuatan manusia setelah nampak dengan jelas kepada mereka tanda-tanda kebenarannya. Apakah sebabnya manusia mendustakan hari pembalasan amal perbuatannya sedangkan bukti-bukti tentang datangnya hari pembalasan itu sudah jelas? Sesungguhnya Allah yang menciptakan manusia dari nutfah (mani) sehingga menjadi manusia yang sempurna kuasa pula untuk menghidupkannya sesudah mati. Barangsiapa yang meyakini, kemudian ia mengingkarinya kembali, maka sungguh ia telah buta mata hatinya dan sesat dalam perjalanannya.


8 Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?(QS. 95:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 8
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8)
Kemudian Allah dalam ayat ini menambah keterangan yang menguatkan penegasan-Nya yang baru lalu dalam bentuk pertanyaan; "Bukankah Allah itu Hakim yang seadil-adilnya?" Itulah sebabnya maka Allah mengadakan hari pembalasan bagi manusia agar manusia itu dapat memelihara kedudukan dan kehormatan yang telah disediakan Allah baginya menurut fitrah, tetapi manusia jatuh ke tempat yang paling rendah karena kebodohannya. Oleh karena kasih sayang Allah maka diutusnya kepada manusia para rasul yang membawa berita gembira dan berita yang menakutkan disertai syariat-syariat yang menunjuki jalan bagi mereka ke jalan yang benar.

[TAFSIR] : AL-'ALAQ

1 Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,(QS. 96:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 1
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dinyatakan bahkan Nabi SAW. datang ke gua Hira' suatu gua yang terletak di atas sebuah bukit di pinggir kota Mekah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembali beliau pulang mengambil bekal dari rumah istri beliau, Khadijah, datanglah jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca.
Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas. Jibril melepaskannya; sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca". Lalu. dirangkulnya lagi dan dilepaskannya sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" sehingga Nabi merasa payah, maka Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5 surah Al `Alaq yang artinya:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari (sesuatu) yang melekat. Bacalah!.
dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Lalu Nabi SAW. dengan gemetar dan ketakutan pulang menemui istri beliau dan mengatakan: "Selimutilah aku! Selimutilah aku!". Nabi terus diselimuti sehingga hilanglah kegelisahannya. Lalu beliau menceritakan kepada Khadijah apa yang terjadi dan beliau menambahkan: "Aku sangat khawatir apa yang akan terjadi atas diriku" Khadijah berkata: "Tak usah khawatir; malah seharusnya engkau gembira; demi Allah, sekali-kali Tuhan tidak akan menyusahkanmu. Engkau menghubungkan silaturrahmi, berbicara benar. membantu orang-orang yang tidak mampu, menghormati tamu dan meringankan kesulitan-kesulitan penderita".
Kemudian Khadijah membawa Nabi SAW. menemui Waraqah bin Naufal (anak paman Khadijah). Waraqah bin Naufal adalah seorang beragama Nasrani. Ia banyak menulis buku yang berbahasa Arab dan bahasa Ibrani yang berasal dari Injil. Ia adalah seorang tua lagi buta.
Khadijah berkata kepadanya: "Wahai anak pamanku, dengarlah cerita dari anak saudaramu ini!". Lalu Waraqah bertanya: "Apakah yang ingin engkau ketahui wahai anak saudaraku?". Lalu Nabi SAW. menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi di gua Hira'. Kemudian Waraqah berkata: "Itu adalah Jibril yang pernah datang menemui Isa A.S.; sekiranya saya ini seorang pemuda yang tangkas dan kiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu", maka Nabi bertanya: "Apakah mereka akan mengusir aku?". Jawab Waraqah: "Ya! hanya sedikit yang mengemban apa yang engkau bawa ini dan banyak yang memusuhinya, maka jika aku masih kuat hidup di waktu itu pasti aku akan membantumu sekuat-kuatnya". Tidak lama sesudah itu Waraqahpun meninggal dunia. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadis tersebut jelaslah bahwa lima ayat pertama surah Al `Alaq ini adalah ayat-ayat Alquran yang pertama kali diturunkan sebagai rahmat dan panggilan Allah yang pertama kali yang dihadapkan kepada Nabi SAW.
Adapun ayat-ayat lainnya diturunkan sesudah tersiarnya berita kerasulan Nabi SAW. dan sesudah Nabi mulai mengajak orang-rang beriman kepadanya. Ajakan Nabi ini pada mulanya disambut oleh sebahagian kecil orang-orang Quraisy, sedang kebanyakan mereka mengejek-ejek orang yang telah beriman dan berusaha agar jangan beriman kepada agama yang di bawa Muhammad dari Tuhannya.
Allah menyuruh Nabi agar membaca sedang beliau tidak pandai membaca dan menulis, maka dengan kekuasaan Allah ini beliau dapat mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan kepadanya suatu Kitab yang akan menjadi petunjuk bagi manusia.
Maksudnya, bahwa Allah yang menjadikan dan menciptakan seluruh makhluk Nya dari tidak ada kepada ada, sanggup menjadikan Nabi-Nya pandai membaca tanpa belajar.


2 Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah.(QS. 96:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 2
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan cara bagaimana ia menjadikan manusia, yaitu manusia sebagai makhluk yang mulia dijadikan Allah dari sesuatu yang melekat dan diberinya kesanggupan untuk menguasai segala sesuatu yang ada di bumi ini serta menundukkannya untuk keperluan hidupnya dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Dan Dia berkuasa pula menjadikan insan kamil di antara manusia, seperti Nabi SAW. yang pandai membaca walaupun tanpa belajar.


3 Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah,(QS. 96:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 3
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kembali Nabi-Nya untuk membaca, karena bacaan tidak dapat melekat pada diri seseorang kecuali dengan mengulang-ngulangi dan membiasakannya, maka seakan-akan perintah mengulangi bacaan itu berarti mengulang-ulangi bacaan yang dibaca dengan demikian isi bacaan itu menjadi satu dengan jiwa Nabi SAW. sesuai dengan maksud firman Allah dalam ayat yang lain:

سنقرئك فلا تنسى

Artinya:
Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa. (Q.S. Al 'Alaq: 6)
Nabi SAW. dapat membaca adalah dengan kemurahan Allah. Dia mengabulkan permintaan orang-orang yang meminta kepada-Nya, maka dengan limpahan karunia-Nya dijadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dengan demikian hilanglah keuzuran Nabi SAW. yang beliau kemukakan kepada Jibril ketika menyuruh beliau membaca: "Saya tidak pandai membaca, karena saya seorang buta huruf yang tak pandai membaca dan menulis".


4 Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.(QS. 96:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat. sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Kalam sebagai benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka apakah sulitnya bagi Allah menjadi Nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
Allah menyatakan bahwa Dia menjadikan manusia dari 'Alaq lalu diajarinya berkomunikasi dengan perantaraan kalam. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu bahan hina dengan melalui proses, sampai kepada kesempurnaan sebagai manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia sesuatu, maka seakan-akan dikatakan kepada mereka, "Perhatikanlah hai manusia bahwa engkau telah berubah dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling mulia, hal mana tidak mungkin terjadi kecuali dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Alaq 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
(Yang mengajar) manusia menulis (dengan qalam) orang pertama yang menulis dengan memakai qalam atau pena ialah Nabi Idris a.s.


5 Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. 96:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 5
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Kemudian dalam ayat ini Allah menambahkan keterangan tentang limpahan karunia-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dialah Tuhan yang mengajar manusia bermacam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya yang menyebabkan dia lebih utama dari pada binatang-binatang, sedangkan manusia pada permulaan hidupnya tidak mengetahui apa-apa. Oleh sebab itu apakah menjadi suatu keanehan bahwa Dia mengajar Nabi-Nya pandai membaca dan mengetahui bermacam-macam ilmu pengetahuan serta Nabi SAW. sanggup menerimanya.
Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikata tidak karena kalam niscaya banyak ilmu pengetahuan yang tidak terpelihara dengan baik. banyak penelitian yang tidak tercatat dan banyak ajaran agama hilang pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat dikenal oleh orang-orang sekarang baik ilmu, seni dan ciptaan-ciptaan mereka.
Demikian pula tanpa pena tidak dapat diketahui sejarah orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat jahat dan tidak ada pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Lagi pula ayat ini sebagai bukti bahwa manusia yang dijadikan dari benda mati yang tidak berbentuk dan tidak berupa dapat dijadikan Allah menjadi manusia yang sangat berguna dengan mengajarinya pandai menulis, berbicara dan mengetahui semua macam ilmu yang tidak pernah diketahuinya.


6 Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,(QS. 96:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 6 - 7
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)
Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan keanehan sikap manusia pada umumnya. Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta, sikapnya berubah dari yang seharusnya. Ia menjadi takabur, segan menghambakan dirinya kepada Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Padahal dia dan orang lain itu adalah anggota satu keluarga yang harus bantu membantu dan tolong-menolong dalam kesenangan dan kesengsaraan serta mengingini kebaikan bagi anggota keluarga lainnya sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya.
Nabi SAW. bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا.
Artinya:
"Orang mukmin sesama mukmin lainnya seolah-olah suatu bangunan yang saling kokoh mengokohkan". (H.R. Bukhari)
Telah diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali menasihati anaknya Hasan. Ia berkata: "Inginkanlah kebaikan bagi orang lain sebagaimana engkau menginginkannya untuk dirimu dan jangan menginginkan bagi orang lain apa yang tidak engkau inginkan untuk dirimu".
Pada umumnya manusia itu bila merasa kuat dan mempunyai kekayaan dia berbuat melampaui batas, berlainan dengan orang yang bertakwa, kekayaannya akan menjadi sumber kebaikan dengan tujuan membantu mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka akan menggunakannya menurut keridaan Allah yang kegunaannya bermanfaat untuk agama dan dunia mereka.


7 karena dia melihat dirinya serba cukup.(QS. 96:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 6 - 7
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)
Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan keanehan sikap manusia pada umumnya. Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta, sikapnya berubah dari yang seharusnya. Ia menjadi takabur, segan menghambakan dirinya kepada Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Padahal dia dan orang lain itu adalah anggota satu keluarga yang harus bantu membantu dan tolong-menolong dalam kesenangan dan kesengsaraan serta mengingini kebaikan bagi anggota keluarga lainnya sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya.
Nabi SAW. bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا.
Artinya:
"Orang mukmin sesama mukmin lainnya seolah-olah suatu bangunan yang saling kokoh mengokohkan". (H.R. Bukhari)
Telah diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali menasihati anaknya Hasan. Ia berkata: "Inginkanlah kebaikan bagi orang lain sebagaimana engkau menginginkannya untuk dirimu dan jangan menginginkan bagi orang lain apa yang tidak engkau inginkan untuk dirimu".
Pada umumnya manusia itu bila merasa kuat dan mempunyai kekayaan dia berbuat melampaui batas, berlainan dengan orang yang bertakwa, kekayaannya akan menjadi sumber kebaikan dengan tujuan membantu mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka akan menggunakannya menurut keridaan Allah yang kegunaannya bermanfaat untuk agama dan dunia mereka.


8 Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).(QS. 96:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 8
إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8)
Kemudian pada ayat ini Allah memperingatkan bahwa tempat kembali segala urusan adalah kepada Allah. Dialah yang memiliki segala urusan manusia dan segala apa yang dimiliki oleh manusia itu. Perbuatan tipu daya dan kehinaan baik kecil maupun besar yang pernah dilahirkannya akan dipertanggungjawabkannya di akhirat kelak.
Dalam ayat lain yang serupa maksudnya Allah berfirman:

ولا تحسبن الله غافلا عما يعمل الظالمون إنما يؤخرهم ليوم تشخص فيه الأبصار مهطعين مقنعي رءوسهم لا يرتد إليهم طرف وأفئدتهم هواء
Artinya:
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang tergesa-gesa memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.


9 Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,(QS. 96:9)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 9 - 10
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10)
Pada ayat-ayat ini Allah menyatakan ancaman dan kebencian-Nya yang diungkapkan dalam bentuk perintah, supaya memperhatikan keanehan sikap orang bodoh ini; kesombongan, ketakaburan dan kecongkakannya yang sangat hebat sehingga ia berani melarang hamba-hamba Allah mengerjakan salat. Padahal ia bukan pencipta, bukan pula pemberi rezeki. Bagaimana ia berani melakukan yang demikian itu, sedangkan dia sendiri harus tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Telah diriwayatkan bahwa Sayidina Ali Karamallahu wajhah pernah melihat orang-orang salat sebelum salat Id di Suatu lapangan; lalu beliau berkata, "Saya tidak pernah melihat Nabi SAW. mengerjakannya". Mereka bertanya: "Apakah engkau melarang mengerjakannya?" Ali menjawab: "Saya khawatir kalau saya melarang tentu saya termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya, "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melarang hamba Allah apabila ia mengerjakan salat".


10 seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat,(QS. 96:10)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 9 - 10
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10)
Pada ayat-ayat ini Allah menyatakan ancaman dan kebencian-Nya yang diungkapkan dalam bentuk perintah, supaya memperhatikan keanehan sikap orang bodoh ini; kesombongan, ketakaburan dan kecongkakannya yang sangat hebat sehingga ia berani melarang hamba-hamba Allah mengerjakan salat. Padahal ia bukan pencipta, bukan pula pemberi rezeki. Bagaimana ia berani melakukan yang demikian itu, sedangkan dia sendiri harus tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Telah diriwayatkan bahwa Sayidina Ali Karamallahu wajhah pernah melihat orang-orang salat sebelum salat Id di Suatu lapangan; lalu beliau berkata, "Saya tidak pernah melihat Nabi SAW. mengerjakannya". Mereka bertanya: "Apakah engkau melarang mengerjakannya?" Ali menjawab: "Saya khawatir kalau saya melarang tentu saya termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya, "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melarang hamba Allah apabila ia mengerjakan salat".


11 bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,(QS. 96:11)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 11 - 12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)
Dalam ayat-ayat ini Allah menambah keterangan-Nya terhadap orang durhaka ini dalam bentuk pertanyaan, yaitu perhatikanlah, "Kiranya orang berbudi pekerti baik, menyeru kepada kebaikan dan memanggil kepada takwa, bukankah yang demikian itu lebih baik daripada kafir kepada Allah serta melarang orang menaati-Nya? Karena dengan kekafirannya itu akan kehilangan kedudukan yang paling mulia dan jatuh ke lubuk yang paling hina".
Maksudnya, bukankah lebih baik baginya mendapat petunjuk serta dapat pula menyuruh orang lain ke jalan yang benar. Dan ini adalah sikap Nabi SAW. karena usaha beliau ada kalanya membentuk diri sendiri dengan beribadat, seperti mendirikan salat mengerjakan puasa dan lain-lain. Dan ada kalanya pula berusaha memperbaiki keadaan orang lain dengan memanggil mereka kepada jalan yang benar dan kepada takwa.


12 atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?(QS. 96:12)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 11 - 12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)
Dalam ayat-ayat ini Allah menambah keterangan-Nya terhadap orang durhaka ini dalam bentuk pertanyaan, yaitu perhatikanlah, "Kiranya orang berbudi pekerti baik, menyeru kepada kebaikan dan memanggil kepada takwa, bukankah yang demikian itu lebih baik daripada kafir kepada Allah serta melarang orang menaati-Nya? Karena dengan kekafirannya itu akan kehilangan kedudukan yang paling mulia dan jatuh ke lubuk yang paling hina".
Maksudnya, bukankah lebih baik baginya mendapat petunjuk serta dapat pula menyuruh orang lain ke jalan yang benar. Dan ini adalah sikap Nabi SAW. karena usaha beliau ada kalanya membentuk diri sendiri dengan beribadat, seperti mendirikan salat mengerjakan puasa dan lain-lain. Dan ada kalanya pula berusaha memperbaiki keadaan orang lain dengan memanggil mereka kepada jalan yang benar dan kepada takwa.


13 Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?(QS. 96:13)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 13 - 14
أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى (13) أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى (14)
Allah menambahkan keterangan dalam bentuk pertanyaan yaitu: "Perhatikanlah pula keadaan si kafir ini. Jika ia mendustakan dalil-dalil ketauhidan Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan tidak mau juga mempedulikan panggilan Rasul serta membujuk orang agar tidak mendengar panggilan. Apakah ia tidak khawatir akan ditimpa bahaya atau akan turun atasnya azab Allah yang tak dapat dipikulnya? Apakah tidak dipikirkannya bahwa Allah pencipta alam semesta ini memperhatikan tindakan-tindakannya? Dia tidak akan membiarkannya, malah semua kejahatannya akan mendapat balasan.


14 Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?(QS. 96:14)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


15 Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,(QS. 96:15)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 15 - 16
كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ (15) نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ (16)
Allah memperkeras ancaman-Nya dalam bentuk sumpah. Sesungguhnya jika si kafir itu tidak henti-hentinya berdusta, melakukan kebodohan dan melarang orang-orang mengerjakan salat niscaya akan kami tarik ubun-ubunnya dengan keras dan melemparkannya ke dalam neraka.


16 (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.(QS. 96:16)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


17 Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),(QS. 96:17)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 17 - 18
فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ (17) سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ (18)
Allah memperolok-olokkan si kafir itu, Kami suruh mereka memanggil pembantu-pembantunya dari kalangan kaumnya yang mencintainya untuk melindunginya dari azab yang akan menimpanya. Jika si kafir berani melakukan yang demikian itu, yaitu menantang Allah dan menghadapkan dirinya kepada kemarahan-Nya, niscaya Allah akan memanggil pula tentara-tentara-Nya yang gagah perkasa yang tidak ada seorangpun sanggup menghadapinya. Bala tentara Allah itu akan membinasakan si kafir itu bersama pembantu-pembantunya dan akan melemparkannya ke dalam neraka.
Bala tentara Allah adalah malaikat-malaikat yang diutus untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang sesat. Mereka diberi nama dengan Zabaniyah karena mereka menghalau orang-orang kafir ke dalam neraka.
Telah diriwayatkan tentang Abu Jahal bahwa ia pada suatu waktu marah dan berkata kepada Nabi SAW., "Hai Muhammad! Dengan siapa engkau menakut-nakuti saya? Sesungguhnya pembantu-pembantuku banyak sekali memenuhi semenanjung ini" Ia berkata pula. "Jika aku melihat Muhammad melakukan salat di Kakbah aku akan menginjak lehernya". Ketika ucapannya ini sampai ke telinga Nabi SAW. beliau berkata, "Bila ia melakukan yang demikian itu pasti malaikat akan mengambilnya.


18 kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,(QS. 96:18)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


19 sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).(QS. 96:19)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 19
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ (19)
Kemudian dalam ayat ini Allah menguatkan lagi ancaman-Nya kepada orang kafir yang menentang dan takabur itu dengan menegaskan bahwa mereka tidak akan sanggup menghadapi kekuatan Allah; oleh karena orang-orang kafir bersama pembantunya tidak akan sanggup berhadapan dengan kekuatan Allah, maka Ia melarang Nabi-Nya mematuhi si kafir itu, sebagaimana dalam ayat lain yang bersamaan artinya Allah berfirman:

فلا تطع المكذبين
Artinya:
Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).
Sebaliknya beribadat dan bersujud untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan ibadat itu berarti menjauhkan diri dari Allah-dan keadaan seseorang yang paling dekat kepada Allah adalah ketika ia sedang sujud.

[TAFSIR] : AL-QADAR

1 Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al quran) pada malam kemuliaan.(QS. 97:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 1
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1)
Terdapat empat tempat dalam Alquran yang menerangkan tentang masanya turun Alquran kepada Nabi SAW. yaitu:
1. Dalam surah Al Qadr ini.
2. Dalam surah Ad Dukhan, yaitu pada firman-Nya:

حم والكتاب المبين إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين فيها يفرق كل أمر حكيم أمرا من عندنا إنا كنا مرسلين رحمة من ربك أنه هو السميع العليم
Artinya:
Ha Mim. Demi Kitab (Alquran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Ad Dukhan: 1-6)
3. Dalam surah Al Baqarah, yaitu pada firman-Nya:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدي والفرقان
Artinya:
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dengan yang batil)". (Q.S. Al-Baqarah: 186)
4. Dalam surah Al Anfal, yaitu pada firman-Nya:

واعلموا إنما غنمتم من شيء فإن لله خمسه وللرسول ولذي القربى واليتامى والمساكين وابن السبيل إن كنتم آمنتم بالله وما أنزلنا على عبدنا يوم الفرقان يوم التقى الجمعان والله على كل شيء قدير
Artinya:
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu di hari pertemuannya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). (Q.S. Al-Anfal: 41)
Ayat surah Al-Qadr menyatakan bahwa turunnya Alquran jelas pada malam Lailatulkadar, ayat surah Ad Dukhan menguatkan turunnya Alquran pada malam yang diberkati, ayat surah Al Baqarah menunjukkan turunnya Alquran pada bulan Ramadan dan ayat surah Al Anfal menerangkan bahwa turunnya Alquran bertepatan pada malam hari terjadinya pertempuran antara tentara Islam dengan tentara musyrikin dalam peperangan Badar, yang membedakan antara yang hak dengan yang batil dan memberi kemenangan kepada tentara Islam atas tentara kafir. Dengan demikian pastilah bahwa malam tersebut adalah malam Jumat 17 Ramadan.
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa Dia menurunkan Alquran pertama kali kepada Nabi SAW. pada malam yang mulia kemudian terus-menerus turunnya secara berangsur-angsur menurut peristiwa dan suasana yang menghendakinya dalam jangka waktu dua puluh dua tahun lebih sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti.
Karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa manusia sangat memerlukannya sebagai pedoman yang menjelaskan sesuatu yang mereka ragukan yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan atau masalah-masalah duniawi mereka serta menerangkan kepada mereka kejadian manusia dan kejadian yang akan datang ketika datangnya hari berbangkit.
Mereka memerlukan pegangan tersebut karena mereka tidak dapat memahami tentang prinsip-prinsip kemaslahatan yang sebenarnya. sehingga mereka dapat membentuk peraturan-peraturan dan undang-undang yang terlepas sama sekali dari petunjuk-petunjuk dan ketentuan-ketentuan agama.
Oleh sebab itu benarlah pendapat yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama dan petunjuk rohani yang menentukan ukuran dan nilai sesuatu setelah mereka mengetahui secara ilmiah keadaan-keadaan dan khasiat-khasiat sesuatu itu; sebagaimana mereka memerlukan kekuatan batin yang tidak dapat diguncangkan oleh bahaya dan percobaan.


2 Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?(QS. 97:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 2

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2)

Kemudian dalam ayat ini Allah menyatakan keutamaan malam Lailatulkadar tetapi keutamaan ini tidak dapat diketahui oleh ahli cerdik cendekiawan walaupun bagaimana tingginya ilmu pengetahuannya. Pengertian dan pengetahuan Nabi-Nya tidak sanggup menentukan kebesaran dan fadilah Lailatulkadar, yang mengetahui hanyalah Allah Yang mengetahui segala hal yang gaib, yang menciptakan alam semesta, yang mewujudkannya dari tidak ada.


3 Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.(QS. 97:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 3
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)
Pada ayat ini Allah menerangkan fadilah Lailatulkadar yang sebenarnya, karena dia adalah suatu malam yang memancarkan nur hidayah sebagai permulaan tasyri yang diturunkan untuk kebahagiaan manusia dan sebagai malam peletakan batu pertama syariat Islam, sebagai agama penghabisan bagi umat manusia, yang sesuai dengan kemaslahatan manusia sepanjang zaman. Malam tersebut lebih utama dari seribu bulan yang mereka lalui dengan bergelimang dosa, kemusyrikan dan kesesatan serta tidak berkesudahan.
Sebutan kata "seribu" dalam ayat ini bukan bermaksud untuk menentukan bilangannya akan tetapi maksudnya untuk menyatakan banyaknya yang tidak terhingga sebagaimana yang dikehendaki dengan firman Allah:

يود أحدهم لو يعمر ألف سنة
Artinya:
Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun. (Q.S. Al-Baqarah: 96)
Apakah ada malam yang lebih mulia daripada malam yang padanya dimulai turunnya nur hidayah untuk manusia setelah berabad-abad lamanya berada dalam kesesatan dan kekafiran?
Apakah ada kemuliaan yang lebih agung daripada malam di mana cahaya purnama ilmu makrifah ketuhanan menerangi jiwa Nabi SAW. yang diutus sebagai rahmat untuk manusia seluruhnya, menyampaikan berita gembira dan ancaman serta memanggil mereka ke jalan yang lurus, menjadikan mereka umat yang melepaskan manusia dari belenggu perbudakan raja-raja dan dari penindasan-penindasan penguasa yang zalim, di timur dan di barat yang mempersatukan mereka sesudah mereka berpecah-belah dan bermusuh-musuhan?.
Maka seyogyanyalah umat Islam menjadikan malam tersebut sebagai hari raya mereka karena malam tersebut-turunnya undang-undang dasar samawi yang mengarahkan manusia ke arah yang bermanfaat bagi mereka, sambil memperbaharui janji mereka dengan Tuhan mereka yang berhubungan dengan jiwa dan harta mereka sebagai tanda syukur atas nikmat pemberian-Nya serta mengharapkan pahala balasan-Nya.


4 Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.(QS. 97:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 4
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4)
Dalam ayat ini Allah menyatakan sebagian dari keistimewaan malam tersebut, yaitu turunnya para malaikat dan malaikat Jibril dari alam rohani sehingga nampak oleh Nabi SAW. terutama Jibril yang menyampaikan wahyu. Penampakan Jibril kepada Nabi SAW. dalam rupanya yang asli adalah perintah Allah SWT. Setelah Ia mempersiapkan Nabi-Nya untuk menerima wahyu yang akan disampaikannya kepada manusia yang mengandung kebaikan dan keberkatan.
Turunnya malaikat ke bumi adalah dengan izin Allah, tidak perlu kita menyelidiki bagaimana cara dan apa rahasianya dan cukuplah kita beriman saja. Adapun yang dapat diketahui manusia tentang rahasia alam ini hanyalah sedikit sekali, sebagaimana Allah menerangkan dalam firman-Nya:

وما أوتيتم من العلم إلا قليلا
Artinya:
Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (Q.S. Al-Isra': 85)
Malam itu (Lailatulkadar) adalah hari raya umat Islam karena turunnya Alquran dan malam bersyukur kepada Allah atas kebaikan dan kenikmatan yang dikaruniakan-Nya pada saat malaikat ikut bersyukur bersama manusia atas kebesaran malam itu, sebagai tanda kemuliaan manusia yang menjadi khalifah Allah di muka bumi.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Qadr 4
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4)
(Turunlah malaikat-malaikat) bentuk asal dari lafal Tanazzalu adalah Tatanazzalu, kemudian salah satu huruf Ta-nya dibuang, sehingga jadilah Tanazzalu (dan Ar-Ruh) yakni malaikat Jibril (di malam itu) artinya pada malam kemuliaan/lailatulkadar itu (dengan izin Rabbnya) dengan perintah dari-Nya (untuk mengatur segala urusan) atau untuk menjalankan ketetapan Allah buat tahun itu hingga tahun berikutnya, hal ini terjadi pada malam kemuliaan itu.
Huruf Min di sini bermakna Sababiyah atau sama artinya dengan huruf Ba; yakni mereka turun dengan seizin Rabbnya dengan membawa segala urusan yang telah menjadi ketetapan-Nya untuk tahun itu hingga tahun berikutnya.


5 Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.(QS. 97:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 5
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa malam tersebut penuh kebaikan dan berkah dari permulaan sampai terbit fajar adalah karena turunnya Alquran yang disaksikan oleh para malaikat ketika Allah melapangkan dada Nabi-Nya dan memudahkan jalan untuk menyampaikan petunjuk dan bimbingan kepada umat.

[TAFSIR] : AL-BAYYINAH

[TAFSIR] : AL-BAYYINAH
Ayat [8]

1 Orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,(QS. 98:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Bayyinah 1
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ (1)
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa orang-orang yang mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW. yang terdiri dari orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik tidak akan melepaskan kekafiran mereka dan tidak mau meninggalkan tradisi nenek moyang mereka. Kedatangan Nabi SAW. menimbulkan kegoncangan-keguncangan dalam akidah mereka dan dalam adat istiadat mereka yang telah berurat berakar dalam diri mereka serta menyatakan bahwa apa yang dibawa oleh Nabi SAW. tidak ada bedanya atau lebih dari apa yang terdapat dalam agama mereka. Maka tidak ada kebaikan mengikuti yang baru dengan meninggalkan yang lama, bahkan mengikuti yang lama lebih menenteramkan jiwa karena tidak bertentangan dengan sikap nenek moyang mereka.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Bayyinah 1
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ (1)
(Tiadalah orang-orang yang kafir dari) huruf Min di sini mengandung makna penjelasan (kalangan ahlulkitab dan orang-orang musyrik) orang-orang musyrik artinya orang-orang yang menyembah berhala; lafal Musyrikiina di'athafkan kepada lafal Ahlilkitaabi (mau meninggalkan) agamanya; lafal Munfakkiina sebagai Khabar dari lafal Yakun; artinya mereka akan tetap memegang agama yang mereka peluk (sebelum datang kepada mereka) artinya sampai datang kepada mereka (bukti yang nyata) berupa hujah yang jelas, yang dimaksud adalah Nabi Muhammad saw.


2 (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al quran),(QS. 98:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Bayyinah 2 - 3
رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً (2) فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ (3)
Dalam ayat-ayat ini Allah menjelaskan pengertian bukti yang meragu-ragukan mereka, bahwa yang dimaksud dengan bukti tersebut adalah diri pribadi Nabi SAW yang membacakan untuk orang kafir halaman-halaman Alquran yang bersih dari campur aduk keterangan manusia, bersih dari segala macam kesalahan dan bersih dari penambahan, yaitu bukti yang memancarkan kebenaran. Dalam ayat lain yang serupa Allah berfirman:

لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه
Artinya:
Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. (Q.S. Fussilat: 42)
Di dalam Alquran itu tersimpul ajaran-ajaran yang benar yang terdapat dalam kitab-kitab para nabi yang terdahulu, seperti Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Ibrahim A.S. Dalam ayat lain yang hampir sama maksudnya Allah berfirman:

وإنه لفي زبر الأولين
Artinya:
Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang terdahulu. (Q.S. Asy Syu'ara': 196)
dan firman-Nya:

إن هذا لفي الصحف الأولى صحف إبراهيم وموسى
Artinya:
Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Kitab-kitab yang terdahulu (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (Q.S. Al A'la: 18-19)
Terkadang yang dimaksud dengan Al Kitab ialah surah-surah Alquran dan ayat-ayatnya, karena tiap-tiap surah itu adalah kitab yang kokoh atau hukum-hukum dan peraturan yang terkandung dalam firman-firman Allah yang tidak ada kebatilannya. Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman:

الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا قيما لينذر بأسا شديدا من لدنه ويبشر المؤمنين
Artinya:
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Alquran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang beriman. (Q.S. Al Kahfi: 1-2)
Maksudnya, keadaan orang-orang kafir Yahudi, Nasrani dan musyrikin sesudah datang Nabi SAW berlainan dengan keadaan mereka sebelumnya. Mereka sebelum datang Nabi SAW. dalam keadaan kafir, terbenam dalam kejahilan dan hawa nafsu, tetapi setelah datang Nabi SAW. segolongan dari mereka beriman, maka keadaan mereka tidak seperti dahulu dan segolongan mereka tidak beriman malah mereka meragukan kebenaran apa yang dibawa Nabi SAW. bahkan ada yang tidak percaya kepada kebenarannya sama sekali.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Bayyinah 2
رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً (2)
(Yaitu seorang rasul dari Allah) lafal ayat ini menjadi Badal dari lafal Al-Bayyinah, yang dimaksud adalah Nabi Muhammad saw. (yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan) dari segala bentuk kebatilan.


3 di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus.(QS. 98:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


4 Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.(QS. 98:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


5 Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS. 98:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Bayyinah 5
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (5)
Karena adanya perpecahan di kalangan mereka maka pada ayat ini dengan nada mencerca Allah menegaskan bahwa mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah. Perintah yang ditujukan kepada mereka adalah untuk kebaikan dunia dan agama mereka, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yang berupa ikhlas lahir dan batin dalam berbakti kepada Allah dan membersihkan amal perbuatan dari syirik serta mematuhi agama Nabi Ibrahim yang menjauhkan dirinya dari kekafiran kaumnya kepada agama tauhid dengan mengikhlaskan ibadat kepada Allah SWT. Dalam ayat lain yang bersamaan maksudnya Allah berfirman:

ثم أوحينا إليك ان اتبع ملة إبراهيم حنيفا
Artinya:
Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" (Q.S. An Nahl: 123)
dan firman-Nya

ما كان إبراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما
Artinya:
"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah)" (Q.S. Ali Imran: 67)
Yang dimaksud mendirikan satat adalah mengerjakan terus-menerus setiap waktu dengan memusatkan jiwa kepada kebesaran Allah ketika salat, untuk membiasakan diri tunduk kepada-Nya. Dan yang dimaksud dengan mengeluarkan zakat yaitu membagi-bagikannya kepada yang berhak menerimanya sebagaimana yang telah ditentukan oleh Alquran Karim.
Keterangan ayat tersebut di atas tentang keikhlasan beribadat serta menjauhkan diri dari syirik, mendirikan salat dan mengeluarkan zakat itulah yang dimaksud dengan agama yang lurus yang tersebut dalam kitab-kitab suci lainnya.
Maksud ungkapan-ungkapan yang telah lalu bahwa orang-orang ahli Kitab berselisih dalam memahami dasar-dasar agama mereka dan furuk-furuknya, padahal mereka diperintahkan untuk memperhambakan diri kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam akidah.


6 Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.(QS. 98:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


7 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.(QS. 98:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


8 Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya.(QS. 98:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...