1 Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,(QS. 95:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 1
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1)
Di dalam ayat ini Allah bersumpah dengan "tin" yaitu semacam buah-buahan untuk makanan manusia. Dan Allah bersumpah dengan zaitun, yaitu semacam buah-buahan yang dimakan oleh manusia juga.
2 dan demi bukit Sinai,(QS. 95:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 2
وَطُورِ سِينِينَ (2)
Dengan ayat ini Allah memperingatkan kepada manusia akan suatu kejahatan dan tanda kebesaran-Nya yang disaksikan oleh Nabi Musa A.S. dan kaum beliau ketika Dia menurunkan Kitab Taurat kepadanya yang menarik manusia dari kegelapan syirik kepada nur tauhid sesudah segenap pelosok bumi dikotori oleh kekafiran. Sesudah nabi Musa A.S. meninggal, para nabi dan kaum mereka masing-masing berpegang kepada syariat Nabi Musa, kemudian syariat Musa ini mengalami perubahan dan penggantian sehingga datanglah Nabi Isa membersihkan kembali syariat Nabi Musa itu. Sesudah itu terjadi pula perselisihan antara kaum Nabi Isa dalam agama mereka sebagaimana yang terjadi pada umat-umat Nabi sebelum mereka, sehingga Allah berkenan melindungi manusia dengan mengutus Nabi Muhammad SAW. yang ditegaskan dengan firman-Nya berikut ini.
3 dan demi kota (Mekah) ini yang aman,(QS. 95:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 3
وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3)
Allah SWT. menegaskan bahwa Dia memuliakan negeri Mekah karena kelahiran Nabi Muhammad SAW. dan Baitul Haram terdapat di sana Allah bersumpah dengan empat nama tersebut karena empat nama itu tidak asing lagi bagi seluruh umat manusia tentang pengaruh dan peranannya dalam melepaskan manusia dari alam kegelapan kepada cahaya yang terang benderang.
4 sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.(QS. 95:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 4
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4)
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah menjadikan manusia makhluk ciptaan-Nya yang paling baik; badannya lurus ke atas, cantik parasnya, mengambil dengan tangan apa yang dikehendakinya; bukan seperti kebanyakan binatang yang mengambil benda yang dikehendakinya dengan perantaraan mulut. Kepada manusia diberikan-Nya akal dan dipersiapkan untuk menerima bermacam-macam ilmu pengetahuan dan kepandaian; sehingga dapat berkreasi (berdaya cipta) dan sanggup menguasai alam dan binatang.
Tetapi manusia kadang-kadang lupa akan dasar perbedaannya dan mengira bahwa dia tidak berbeda dengan binatang lainnya. Lalu ia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan akal yang sehat dan tidak sesuai dengan fitrahnya. Dikumpulkannya perhiasan dunia dan apa saja yang sanggup dicapainya untuk memenuhi hawa nafsunya. Dilupakan semua yang bermanfaat baginya untuk kebahagiaan hidup di hari kemudian dan tidak dihiraukannya apa yang dianjurkan oleh Tuhannya yang akan menyampaikannya kepada kebahagiaan yang kekal abadi; sesuai dengan maksud firman Allah dalam ayat lain:
يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم
Artinya:
/10 "(Yaitu) pada hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih". (Q.S Asy Syu'ara': 88-99)
5 Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),(QS. 95:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 5
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5)
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa jiwa manusia tersebut telah dikuasai oleh kejahatan, terbenam dalam, kesesatan, lupa akan fitrah kejadiannya, terpengaruh oleh nafsu kebinatangannya dan terjerumus ke dalam jurang keonaran dan dosa. Kecuali orang-orang yang tetap pada fitrahnya, yaitu orang-orang yang dilindungi dan dipelihara oleh Allah.
6 kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.(QS. 95:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 6
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6)
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa manusia yang terpelihara dari keterjerumusannya ke lembah kehinaan dan dosa, hanyalah orang-orang yang jiwanya telah diresapi oleh iman. Serta orang-orang yang mengakui bahwa alam semesta ini ada penciptanya yang mengatur semua urusannya dan membentuk syariat-syariat untuk hamba-Nya yang harus dipatuhi.
Dan mereka yakin pula bahwa bagi setiap kejahatan ada ancamannya, begitu pula bagi kebaikan ada pula ganjarannya. Mereka akan menerima pahala amal saleh bila mereka telah dihidupkan kembali pada, Hari Kiamat setelah dihisab, mereka itu ialah para pengikut Nabi dan orang yang mendapat petunjuk dari para nabi kepada jalan yang benar.
7 Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?(QS. 95:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 7
فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7)
Dalam ayat ini Allah mencemoohkan orang-orang musyrik atas keberanian mereka mendustakan hari pembalasan, atas amal perbuatan manusia setelah nampak dengan jelas kepada mereka tanda-tanda kebenarannya. Apakah sebabnya manusia mendustakan hari pembalasan amal perbuatannya sedangkan bukti-bukti tentang datangnya hari pembalasan itu sudah jelas? Sesungguhnya Allah yang menciptakan manusia dari nutfah (mani) sehingga menjadi manusia yang sempurna kuasa pula untuk menghidupkannya sesudah mati. Barangsiapa yang meyakini, kemudian ia mengingkarinya kembali, maka sungguh ia telah buta mata hatinya dan sesat dalam perjalanannya.
8 Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?(QS. 95:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tiin 8
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8)
Kemudian Allah dalam ayat ini menambah keterangan yang menguatkan penegasan-Nya yang baru lalu dalam bentuk pertanyaan; "Bukankah Allah itu Hakim yang seadil-adilnya?" Itulah sebabnya maka Allah mengadakan hari pembalasan bagi manusia agar manusia itu dapat memelihara kedudukan dan kehormatan yang telah disediakan Allah baginya menurut fitrah, tetapi manusia jatuh ke tempat yang paling rendah karena kebodohannya. Oleh karena kasih sayang Allah maka diutusnya kepada manusia para rasul yang membawa berita gembira dan berita yang menakutkan disertai syariat-syariat yang menunjuki jalan bagi mereka ke jalan yang benar.
"Al Islam adalah agama Allah yang diperintahkan mempelajari aqidah dan syariatnya kepada Nabi Muhammad dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia, serta mengajak mereka untuk menganutnya. "Aqidah artinya sesuatu yang menjadi pengikat hati dan batin manusia. "Syari'at adalah undang-undang yang diturunkan Allah yang mengatur hubungan Allah dengan manusia, mengatur hubungan sesama muslim,dgn manusia lainnya, dgn kehidupan dan alam semesta.
Senin, 11 Juli 2011
[TAFSIR] : AL-'ALAQ
1 Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,(QS. 96:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 1
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dinyatakan bahkan Nabi SAW. datang ke gua Hira' suatu gua yang terletak di atas sebuah bukit di pinggir kota Mekah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembali beliau pulang mengambil bekal dari rumah istri beliau, Khadijah, datanglah jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca.
Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas. Jibril melepaskannya; sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca". Lalu. dirangkulnya lagi dan dilepaskannya sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" sehingga Nabi merasa payah, maka Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5 surah Al `Alaq yang artinya:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari (sesuatu) yang melekat. Bacalah!.
dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Lalu Nabi SAW. dengan gemetar dan ketakutan pulang menemui istri beliau dan mengatakan: "Selimutilah aku! Selimutilah aku!". Nabi terus diselimuti sehingga hilanglah kegelisahannya. Lalu beliau menceritakan kepada Khadijah apa yang terjadi dan beliau menambahkan: "Aku sangat khawatir apa yang akan terjadi atas diriku" Khadijah berkata: "Tak usah khawatir; malah seharusnya engkau gembira; demi Allah, sekali-kali Tuhan tidak akan menyusahkanmu. Engkau menghubungkan silaturrahmi, berbicara benar. membantu orang-orang yang tidak mampu, menghormati tamu dan meringankan kesulitan-kesulitan penderita".
Kemudian Khadijah membawa Nabi SAW. menemui Waraqah bin Naufal (anak paman Khadijah). Waraqah bin Naufal adalah seorang beragama Nasrani. Ia banyak menulis buku yang berbahasa Arab dan bahasa Ibrani yang berasal dari Injil. Ia adalah seorang tua lagi buta.
Khadijah berkata kepadanya: "Wahai anak pamanku, dengarlah cerita dari anak saudaramu ini!". Lalu Waraqah bertanya: "Apakah yang ingin engkau ketahui wahai anak saudaraku?". Lalu Nabi SAW. menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi di gua Hira'. Kemudian Waraqah berkata: "Itu adalah Jibril yang pernah datang menemui Isa A.S.; sekiranya saya ini seorang pemuda yang tangkas dan kiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu", maka Nabi bertanya: "Apakah mereka akan mengusir aku?". Jawab Waraqah: "Ya! hanya sedikit yang mengemban apa yang engkau bawa ini dan banyak yang memusuhinya, maka jika aku masih kuat hidup di waktu itu pasti aku akan membantumu sekuat-kuatnya". Tidak lama sesudah itu Waraqahpun meninggal dunia. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadis tersebut jelaslah bahwa lima ayat pertama surah Al `Alaq ini adalah ayat-ayat Alquran yang pertama kali diturunkan sebagai rahmat dan panggilan Allah yang pertama kali yang dihadapkan kepada Nabi SAW.
Adapun ayat-ayat lainnya diturunkan sesudah tersiarnya berita kerasulan Nabi SAW. dan sesudah Nabi mulai mengajak orang-rang beriman kepadanya. Ajakan Nabi ini pada mulanya disambut oleh sebahagian kecil orang-orang Quraisy, sedang kebanyakan mereka mengejek-ejek orang yang telah beriman dan berusaha agar jangan beriman kepada agama yang di bawa Muhammad dari Tuhannya.
Allah menyuruh Nabi agar membaca sedang beliau tidak pandai membaca dan menulis, maka dengan kekuasaan Allah ini beliau dapat mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan kepadanya suatu Kitab yang akan menjadi petunjuk bagi manusia.
Maksudnya, bahwa Allah yang menjadikan dan menciptakan seluruh makhluk Nya dari tidak ada kepada ada, sanggup menjadikan Nabi-Nya pandai membaca tanpa belajar.
2 Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah.(QS. 96:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 2
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan cara bagaimana ia menjadikan manusia, yaitu manusia sebagai makhluk yang mulia dijadikan Allah dari sesuatu yang melekat dan diberinya kesanggupan untuk menguasai segala sesuatu yang ada di bumi ini serta menundukkannya untuk keperluan hidupnya dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Dan Dia berkuasa pula menjadikan insan kamil di antara manusia, seperti Nabi SAW. yang pandai membaca walaupun tanpa belajar.
3 Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah,(QS. 96:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 3
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kembali Nabi-Nya untuk membaca, karena bacaan tidak dapat melekat pada diri seseorang kecuali dengan mengulang-ngulangi dan membiasakannya, maka seakan-akan perintah mengulangi bacaan itu berarti mengulang-ulangi bacaan yang dibaca dengan demikian isi bacaan itu menjadi satu dengan jiwa Nabi SAW. sesuai dengan maksud firman Allah dalam ayat yang lain:
سنقرئك فلا تنسى
Artinya:
Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa. (Q.S. Al 'Alaq: 6)
Nabi SAW. dapat membaca adalah dengan kemurahan Allah. Dia mengabulkan permintaan orang-orang yang meminta kepada-Nya, maka dengan limpahan karunia-Nya dijadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dengan demikian hilanglah keuzuran Nabi SAW. yang beliau kemukakan kepada Jibril ketika menyuruh beliau membaca: "Saya tidak pandai membaca, karena saya seorang buta huruf yang tak pandai membaca dan menulis".
4 Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.(QS. 96:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat. sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Kalam sebagai benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka apakah sulitnya bagi Allah menjadi Nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
Allah menyatakan bahwa Dia menjadikan manusia dari 'Alaq lalu diajarinya berkomunikasi dengan perantaraan kalam. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu bahan hina dengan melalui proses, sampai kepada kesempurnaan sebagai manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia sesuatu, maka seakan-akan dikatakan kepada mereka, "Perhatikanlah hai manusia bahwa engkau telah berubah dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling mulia, hal mana tidak mungkin terjadi kecuali dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Alaq 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
(Yang mengajar) manusia menulis (dengan qalam) orang pertama yang menulis dengan memakai qalam atau pena ialah Nabi Idris a.s.
5 Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. 96:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 5
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Kemudian dalam ayat ini Allah menambahkan keterangan tentang limpahan karunia-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dialah Tuhan yang mengajar manusia bermacam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya yang menyebabkan dia lebih utama dari pada binatang-binatang, sedangkan manusia pada permulaan hidupnya tidak mengetahui apa-apa. Oleh sebab itu apakah menjadi suatu keanehan bahwa Dia mengajar Nabi-Nya pandai membaca dan mengetahui bermacam-macam ilmu pengetahuan serta Nabi SAW. sanggup menerimanya.
Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikata tidak karena kalam niscaya banyak ilmu pengetahuan yang tidak terpelihara dengan baik. banyak penelitian yang tidak tercatat dan banyak ajaran agama hilang pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat dikenal oleh orang-orang sekarang baik ilmu, seni dan ciptaan-ciptaan mereka.
Demikian pula tanpa pena tidak dapat diketahui sejarah orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat jahat dan tidak ada pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Lagi pula ayat ini sebagai bukti bahwa manusia yang dijadikan dari benda mati yang tidak berbentuk dan tidak berupa dapat dijadikan Allah menjadi manusia yang sangat berguna dengan mengajarinya pandai menulis, berbicara dan mengetahui semua macam ilmu yang tidak pernah diketahuinya.
6 Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,(QS. 96:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 6 - 7
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)
Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan keanehan sikap manusia pada umumnya. Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta, sikapnya berubah dari yang seharusnya. Ia menjadi takabur, segan menghambakan dirinya kepada Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Padahal dia dan orang lain itu adalah anggota satu keluarga yang harus bantu membantu dan tolong-menolong dalam kesenangan dan kesengsaraan serta mengingini kebaikan bagi anggota keluarga lainnya sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya.
Nabi SAW. bersabda:
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا.
Artinya:
"Orang mukmin sesama mukmin lainnya seolah-olah suatu bangunan yang saling kokoh mengokohkan". (H.R. Bukhari)
Telah diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali menasihati anaknya Hasan. Ia berkata: "Inginkanlah kebaikan bagi orang lain sebagaimana engkau menginginkannya untuk dirimu dan jangan menginginkan bagi orang lain apa yang tidak engkau inginkan untuk dirimu".
Pada umumnya manusia itu bila merasa kuat dan mempunyai kekayaan dia berbuat melampaui batas, berlainan dengan orang yang bertakwa, kekayaannya akan menjadi sumber kebaikan dengan tujuan membantu mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka akan menggunakannya menurut keridaan Allah yang kegunaannya bermanfaat untuk agama dan dunia mereka.
7 karena dia melihat dirinya serba cukup.(QS. 96:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 6 - 7
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)
Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan keanehan sikap manusia pada umumnya. Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta, sikapnya berubah dari yang seharusnya. Ia menjadi takabur, segan menghambakan dirinya kepada Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Padahal dia dan orang lain itu adalah anggota satu keluarga yang harus bantu membantu dan tolong-menolong dalam kesenangan dan kesengsaraan serta mengingini kebaikan bagi anggota keluarga lainnya sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya.
Nabi SAW. bersabda:
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا.
Artinya:
"Orang mukmin sesama mukmin lainnya seolah-olah suatu bangunan yang saling kokoh mengokohkan". (H.R. Bukhari)
Telah diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali menasihati anaknya Hasan. Ia berkata: "Inginkanlah kebaikan bagi orang lain sebagaimana engkau menginginkannya untuk dirimu dan jangan menginginkan bagi orang lain apa yang tidak engkau inginkan untuk dirimu".
Pada umumnya manusia itu bila merasa kuat dan mempunyai kekayaan dia berbuat melampaui batas, berlainan dengan orang yang bertakwa, kekayaannya akan menjadi sumber kebaikan dengan tujuan membantu mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka akan menggunakannya menurut keridaan Allah yang kegunaannya bermanfaat untuk agama dan dunia mereka.
8 Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).(QS. 96:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 8
إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8)
Kemudian pada ayat ini Allah memperingatkan bahwa tempat kembali segala urusan adalah kepada Allah. Dialah yang memiliki segala urusan manusia dan segala apa yang dimiliki oleh manusia itu. Perbuatan tipu daya dan kehinaan baik kecil maupun besar yang pernah dilahirkannya akan dipertanggungjawabkannya di akhirat kelak.
Dalam ayat lain yang serupa maksudnya Allah berfirman:
ولا تحسبن الله غافلا عما يعمل الظالمون إنما يؤخرهم ليوم تشخص فيه الأبصار مهطعين مقنعي رءوسهم لا يرتد إليهم طرف وأفئدتهم هواء
Artinya:
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang tergesa-gesa memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.
9 Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,(QS. 96:9)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 9 - 10
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10)
Pada ayat-ayat ini Allah menyatakan ancaman dan kebencian-Nya yang diungkapkan dalam bentuk perintah, supaya memperhatikan keanehan sikap orang bodoh ini; kesombongan, ketakaburan dan kecongkakannya yang sangat hebat sehingga ia berani melarang hamba-hamba Allah mengerjakan salat. Padahal ia bukan pencipta, bukan pula pemberi rezeki. Bagaimana ia berani melakukan yang demikian itu, sedangkan dia sendiri harus tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Telah diriwayatkan bahwa Sayidina Ali Karamallahu wajhah pernah melihat orang-orang salat sebelum salat Id di Suatu lapangan; lalu beliau berkata, "Saya tidak pernah melihat Nabi SAW. mengerjakannya". Mereka bertanya: "Apakah engkau melarang mengerjakannya?" Ali menjawab: "Saya khawatir kalau saya melarang tentu saya termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya, "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melarang hamba Allah apabila ia mengerjakan salat".
10 seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat,(QS. 96:10)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 9 - 10
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10)
Pada ayat-ayat ini Allah menyatakan ancaman dan kebencian-Nya yang diungkapkan dalam bentuk perintah, supaya memperhatikan keanehan sikap orang bodoh ini; kesombongan, ketakaburan dan kecongkakannya yang sangat hebat sehingga ia berani melarang hamba-hamba Allah mengerjakan salat. Padahal ia bukan pencipta, bukan pula pemberi rezeki. Bagaimana ia berani melakukan yang demikian itu, sedangkan dia sendiri harus tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Telah diriwayatkan bahwa Sayidina Ali Karamallahu wajhah pernah melihat orang-orang salat sebelum salat Id di Suatu lapangan; lalu beliau berkata, "Saya tidak pernah melihat Nabi SAW. mengerjakannya". Mereka bertanya: "Apakah engkau melarang mengerjakannya?" Ali menjawab: "Saya khawatir kalau saya melarang tentu saya termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya, "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melarang hamba Allah apabila ia mengerjakan salat".
11 bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,(QS. 96:11)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 11 - 12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)
Dalam ayat-ayat ini Allah menambah keterangan-Nya terhadap orang durhaka ini dalam bentuk pertanyaan, yaitu perhatikanlah, "Kiranya orang berbudi pekerti baik, menyeru kepada kebaikan dan memanggil kepada takwa, bukankah yang demikian itu lebih baik daripada kafir kepada Allah serta melarang orang menaati-Nya? Karena dengan kekafirannya itu akan kehilangan kedudukan yang paling mulia dan jatuh ke lubuk yang paling hina".
Maksudnya, bukankah lebih baik baginya mendapat petunjuk serta dapat pula menyuruh orang lain ke jalan yang benar. Dan ini adalah sikap Nabi SAW. karena usaha beliau ada kalanya membentuk diri sendiri dengan beribadat, seperti mendirikan salat mengerjakan puasa dan lain-lain. Dan ada kalanya pula berusaha memperbaiki keadaan orang lain dengan memanggil mereka kepada jalan yang benar dan kepada takwa.
12 atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?(QS. 96:12)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 11 - 12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)
Dalam ayat-ayat ini Allah menambah keterangan-Nya terhadap orang durhaka ini dalam bentuk pertanyaan, yaitu perhatikanlah, "Kiranya orang berbudi pekerti baik, menyeru kepada kebaikan dan memanggil kepada takwa, bukankah yang demikian itu lebih baik daripada kafir kepada Allah serta melarang orang menaati-Nya? Karena dengan kekafirannya itu akan kehilangan kedudukan yang paling mulia dan jatuh ke lubuk yang paling hina".
Maksudnya, bukankah lebih baik baginya mendapat petunjuk serta dapat pula menyuruh orang lain ke jalan yang benar. Dan ini adalah sikap Nabi SAW. karena usaha beliau ada kalanya membentuk diri sendiri dengan beribadat, seperti mendirikan salat mengerjakan puasa dan lain-lain. Dan ada kalanya pula berusaha memperbaiki keadaan orang lain dengan memanggil mereka kepada jalan yang benar dan kepada takwa.
13 Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?(QS. 96:13)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 13 - 14
أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى (13) أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى (14)
Allah menambahkan keterangan dalam bentuk pertanyaan yaitu: "Perhatikanlah pula keadaan si kafir ini. Jika ia mendustakan dalil-dalil ketauhidan Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan tidak mau juga mempedulikan panggilan Rasul serta membujuk orang agar tidak mendengar panggilan. Apakah ia tidak khawatir akan ditimpa bahaya atau akan turun atasnya azab Allah yang tak dapat dipikulnya? Apakah tidak dipikirkannya bahwa Allah pencipta alam semesta ini memperhatikan tindakan-tindakannya? Dia tidak akan membiarkannya, malah semua kejahatannya akan mendapat balasan.
14 Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?(QS. 96:14)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
15 Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,(QS. 96:15)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 15 - 16
كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ (15) نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ (16)
Allah memperkeras ancaman-Nya dalam bentuk sumpah. Sesungguhnya jika si kafir itu tidak henti-hentinya berdusta, melakukan kebodohan dan melarang orang-orang mengerjakan salat niscaya akan kami tarik ubun-ubunnya dengan keras dan melemparkannya ke dalam neraka.
16 (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.(QS. 96:16)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
17 Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),(QS. 96:17)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 17 - 18
فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ (17) سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ (18)
Allah memperolok-olokkan si kafir itu, Kami suruh mereka memanggil pembantu-pembantunya dari kalangan kaumnya yang mencintainya untuk melindunginya dari azab yang akan menimpanya. Jika si kafir berani melakukan yang demikian itu, yaitu menantang Allah dan menghadapkan dirinya kepada kemarahan-Nya, niscaya Allah akan memanggil pula tentara-tentara-Nya yang gagah perkasa yang tidak ada seorangpun sanggup menghadapinya. Bala tentara Allah itu akan membinasakan si kafir itu bersama pembantu-pembantunya dan akan melemparkannya ke dalam neraka.
Bala tentara Allah adalah malaikat-malaikat yang diutus untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang sesat. Mereka diberi nama dengan Zabaniyah karena mereka menghalau orang-orang kafir ke dalam neraka.
Telah diriwayatkan tentang Abu Jahal bahwa ia pada suatu waktu marah dan berkata kepada Nabi SAW., "Hai Muhammad! Dengan siapa engkau menakut-nakuti saya? Sesungguhnya pembantu-pembantuku banyak sekali memenuhi semenanjung ini" Ia berkata pula. "Jika aku melihat Muhammad melakukan salat di Kakbah aku akan menginjak lehernya". Ketika ucapannya ini sampai ke telinga Nabi SAW. beliau berkata, "Bila ia melakukan yang demikian itu pasti malaikat akan mengambilnya.
18 kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,(QS. 96:18)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
19 sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).(QS. 96:19)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 19
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ (19)
Kemudian dalam ayat ini Allah menguatkan lagi ancaman-Nya kepada orang kafir yang menentang dan takabur itu dengan menegaskan bahwa mereka tidak akan sanggup menghadapi kekuatan Allah; oleh karena orang-orang kafir bersama pembantunya tidak akan sanggup berhadapan dengan kekuatan Allah, maka Ia melarang Nabi-Nya mematuhi si kafir itu, sebagaimana dalam ayat lain yang bersamaan artinya Allah berfirman:
فلا تطع المكذبين
Artinya:
Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).
Sebaliknya beribadat dan bersujud untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan ibadat itu berarti menjauhkan diri dari Allah-dan keadaan seseorang yang paling dekat kepada Allah adalah ketika ia sedang sujud.
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 1
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dinyatakan bahkan Nabi SAW. datang ke gua Hira' suatu gua yang terletak di atas sebuah bukit di pinggir kota Mekah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembali beliau pulang mengambil bekal dari rumah istri beliau, Khadijah, datanglah jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca.
Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas. Jibril melepaskannya; sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca". Lalu. dirangkulnya lagi dan dilepaskannya sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" sehingga Nabi merasa payah, maka Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5 surah Al `Alaq yang artinya:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari (sesuatu) yang melekat. Bacalah!.
dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Lalu Nabi SAW. dengan gemetar dan ketakutan pulang menemui istri beliau dan mengatakan: "Selimutilah aku! Selimutilah aku!". Nabi terus diselimuti sehingga hilanglah kegelisahannya. Lalu beliau menceritakan kepada Khadijah apa yang terjadi dan beliau menambahkan: "Aku sangat khawatir apa yang akan terjadi atas diriku" Khadijah berkata: "Tak usah khawatir; malah seharusnya engkau gembira; demi Allah, sekali-kali Tuhan tidak akan menyusahkanmu. Engkau menghubungkan silaturrahmi, berbicara benar. membantu orang-orang yang tidak mampu, menghormati tamu dan meringankan kesulitan-kesulitan penderita".
Kemudian Khadijah membawa Nabi SAW. menemui Waraqah bin Naufal (anak paman Khadijah). Waraqah bin Naufal adalah seorang beragama Nasrani. Ia banyak menulis buku yang berbahasa Arab dan bahasa Ibrani yang berasal dari Injil. Ia adalah seorang tua lagi buta.
Khadijah berkata kepadanya: "Wahai anak pamanku, dengarlah cerita dari anak saudaramu ini!". Lalu Waraqah bertanya: "Apakah yang ingin engkau ketahui wahai anak saudaraku?". Lalu Nabi SAW. menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi di gua Hira'. Kemudian Waraqah berkata: "Itu adalah Jibril yang pernah datang menemui Isa A.S.; sekiranya saya ini seorang pemuda yang tangkas dan kiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu", maka Nabi bertanya: "Apakah mereka akan mengusir aku?". Jawab Waraqah: "Ya! hanya sedikit yang mengemban apa yang engkau bawa ini dan banyak yang memusuhinya, maka jika aku masih kuat hidup di waktu itu pasti aku akan membantumu sekuat-kuatnya". Tidak lama sesudah itu Waraqahpun meninggal dunia. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadis tersebut jelaslah bahwa lima ayat pertama surah Al `Alaq ini adalah ayat-ayat Alquran yang pertama kali diturunkan sebagai rahmat dan panggilan Allah yang pertama kali yang dihadapkan kepada Nabi SAW.
Adapun ayat-ayat lainnya diturunkan sesudah tersiarnya berita kerasulan Nabi SAW. dan sesudah Nabi mulai mengajak orang-rang beriman kepadanya. Ajakan Nabi ini pada mulanya disambut oleh sebahagian kecil orang-orang Quraisy, sedang kebanyakan mereka mengejek-ejek orang yang telah beriman dan berusaha agar jangan beriman kepada agama yang di bawa Muhammad dari Tuhannya.
Allah menyuruh Nabi agar membaca sedang beliau tidak pandai membaca dan menulis, maka dengan kekuasaan Allah ini beliau dapat mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan kepadanya suatu Kitab yang akan menjadi petunjuk bagi manusia.
Maksudnya, bahwa Allah yang menjadikan dan menciptakan seluruh makhluk Nya dari tidak ada kepada ada, sanggup menjadikan Nabi-Nya pandai membaca tanpa belajar.
2 Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah.(QS. 96:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 2
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan cara bagaimana ia menjadikan manusia, yaitu manusia sebagai makhluk yang mulia dijadikan Allah dari sesuatu yang melekat dan diberinya kesanggupan untuk menguasai segala sesuatu yang ada di bumi ini serta menundukkannya untuk keperluan hidupnya dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Dan Dia berkuasa pula menjadikan insan kamil di antara manusia, seperti Nabi SAW. yang pandai membaca walaupun tanpa belajar.
3 Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah,(QS. 96:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 3
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kembali Nabi-Nya untuk membaca, karena bacaan tidak dapat melekat pada diri seseorang kecuali dengan mengulang-ngulangi dan membiasakannya, maka seakan-akan perintah mengulangi bacaan itu berarti mengulang-ulangi bacaan yang dibaca dengan demikian isi bacaan itu menjadi satu dengan jiwa Nabi SAW. sesuai dengan maksud firman Allah dalam ayat yang lain:
سنقرئك فلا تنسى
Artinya:
Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa. (Q.S. Al 'Alaq: 6)
Nabi SAW. dapat membaca adalah dengan kemurahan Allah. Dia mengabulkan permintaan orang-orang yang meminta kepada-Nya, maka dengan limpahan karunia-Nya dijadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dengan demikian hilanglah keuzuran Nabi SAW. yang beliau kemukakan kepada Jibril ketika menyuruh beliau membaca: "Saya tidak pandai membaca, karena saya seorang buta huruf yang tak pandai membaca dan menulis".
4 Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.(QS. 96:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat. sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Kalam sebagai benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka apakah sulitnya bagi Allah menjadi Nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
Allah menyatakan bahwa Dia menjadikan manusia dari 'Alaq lalu diajarinya berkomunikasi dengan perantaraan kalam. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu bahan hina dengan melalui proses, sampai kepada kesempurnaan sebagai manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia sesuatu, maka seakan-akan dikatakan kepada mereka, "Perhatikanlah hai manusia bahwa engkau telah berubah dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling mulia, hal mana tidak mungkin terjadi kecuali dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Alaq 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
(Yang mengajar) manusia menulis (dengan qalam) orang pertama yang menulis dengan memakai qalam atau pena ialah Nabi Idris a.s.
5 Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. 96:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 5
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Kemudian dalam ayat ini Allah menambahkan keterangan tentang limpahan karunia-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dialah Tuhan yang mengajar manusia bermacam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya yang menyebabkan dia lebih utama dari pada binatang-binatang, sedangkan manusia pada permulaan hidupnya tidak mengetahui apa-apa. Oleh sebab itu apakah menjadi suatu keanehan bahwa Dia mengajar Nabi-Nya pandai membaca dan mengetahui bermacam-macam ilmu pengetahuan serta Nabi SAW. sanggup menerimanya.
Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikata tidak karena kalam niscaya banyak ilmu pengetahuan yang tidak terpelihara dengan baik. banyak penelitian yang tidak tercatat dan banyak ajaran agama hilang pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat dikenal oleh orang-orang sekarang baik ilmu, seni dan ciptaan-ciptaan mereka.
Demikian pula tanpa pena tidak dapat diketahui sejarah orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat jahat dan tidak ada pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Lagi pula ayat ini sebagai bukti bahwa manusia yang dijadikan dari benda mati yang tidak berbentuk dan tidak berupa dapat dijadikan Allah menjadi manusia yang sangat berguna dengan mengajarinya pandai menulis, berbicara dan mengetahui semua macam ilmu yang tidak pernah diketahuinya.
6 Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,(QS. 96:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 6 - 7
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)
Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan keanehan sikap manusia pada umumnya. Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta, sikapnya berubah dari yang seharusnya. Ia menjadi takabur, segan menghambakan dirinya kepada Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Padahal dia dan orang lain itu adalah anggota satu keluarga yang harus bantu membantu dan tolong-menolong dalam kesenangan dan kesengsaraan serta mengingini kebaikan bagi anggota keluarga lainnya sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya.
Nabi SAW. bersabda:
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا.
Artinya:
"Orang mukmin sesama mukmin lainnya seolah-olah suatu bangunan yang saling kokoh mengokohkan". (H.R. Bukhari)
Telah diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali menasihati anaknya Hasan. Ia berkata: "Inginkanlah kebaikan bagi orang lain sebagaimana engkau menginginkannya untuk dirimu dan jangan menginginkan bagi orang lain apa yang tidak engkau inginkan untuk dirimu".
Pada umumnya manusia itu bila merasa kuat dan mempunyai kekayaan dia berbuat melampaui batas, berlainan dengan orang yang bertakwa, kekayaannya akan menjadi sumber kebaikan dengan tujuan membantu mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka akan menggunakannya menurut keridaan Allah yang kegunaannya bermanfaat untuk agama dan dunia mereka.
7 karena dia melihat dirinya serba cukup.(QS. 96:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 6 - 7
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)
Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan keanehan sikap manusia pada umumnya. Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta, sikapnya berubah dari yang seharusnya. Ia menjadi takabur, segan menghambakan dirinya kepada Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Padahal dia dan orang lain itu adalah anggota satu keluarga yang harus bantu membantu dan tolong-menolong dalam kesenangan dan kesengsaraan serta mengingini kebaikan bagi anggota keluarga lainnya sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya.
Nabi SAW. bersabda:
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا.
Artinya:
"Orang mukmin sesama mukmin lainnya seolah-olah suatu bangunan yang saling kokoh mengokohkan". (H.R. Bukhari)
Telah diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali menasihati anaknya Hasan. Ia berkata: "Inginkanlah kebaikan bagi orang lain sebagaimana engkau menginginkannya untuk dirimu dan jangan menginginkan bagi orang lain apa yang tidak engkau inginkan untuk dirimu".
Pada umumnya manusia itu bila merasa kuat dan mempunyai kekayaan dia berbuat melampaui batas, berlainan dengan orang yang bertakwa, kekayaannya akan menjadi sumber kebaikan dengan tujuan membantu mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka akan menggunakannya menurut keridaan Allah yang kegunaannya bermanfaat untuk agama dan dunia mereka.
8 Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).(QS. 96:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 8
إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8)
Kemudian pada ayat ini Allah memperingatkan bahwa tempat kembali segala urusan adalah kepada Allah. Dialah yang memiliki segala urusan manusia dan segala apa yang dimiliki oleh manusia itu. Perbuatan tipu daya dan kehinaan baik kecil maupun besar yang pernah dilahirkannya akan dipertanggungjawabkannya di akhirat kelak.
Dalam ayat lain yang serupa maksudnya Allah berfirman:
ولا تحسبن الله غافلا عما يعمل الظالمون إنما يؤخرهم ليوم تشخص فيه الأبصار مهطعين مقنعي رءوسهم لا يرتد إليهم طرف وأفئدتهم هواء
Artinya:
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang tergesa-gesa memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.
9 Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,(QS. 96:9)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 9 - 10
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10)
Pada ayat-ayat ini Allah menyatakan ancaman dan kebencian-Nya yang diungkapkan dalam bentuk perintah, supaya memperhatikan keanehan sikap orang bodoh ini; kesombongan, ketakaburan dan kecongkakannya yang sangat hebat sehingga ia berani melarang hamba-hamba Allah mengerjakan salat. Padahal ia bukan pencipta, bukan pula pemberi rezeki. Bagaimana ia berani melakukan yang demikian itu, sedangkan dia sendiri harus tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Telah diriwayatkan bahwa Sayidina Ali Karamallahu wajhah pernah melihat orang-orang salat sebelum salat Id di Suatu lapangan; lalu beliau berkata, "Saya tidak pernah melihat Nabi SAW. mengerjakannya". Mereka bertanya: "Apakah engkau melarang mengerjakannya?" Ali menjawab: "Saya khawatir kalau saya melarang tentu saya termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya, "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melarang hamba Allah apabila ia mengerjakan salat".
10 seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat,(QS. 96:10)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 9 - 10
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10)
Pada ayat-ayat ini Allah menyatakan ancaman dan kebencian-Nya yang diungkapkan dalam bentuk perintah, supaya memperhatikan keanehan sikap orang bodoh ini; kesombongan, ketakaburan dan kecongkakannya yang sangat hebat sehingga ia berani melarang hamba-hamba Allah mengerjakan salat. Padahal ia bukan pencipta, bukan pula pemberi rezeki. Bagaimana ia berani melakukan yang demikian itu, sedangkan dia sendiri harus tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Telah diriwayatkan bahwa Sayidina Ali Karamallahu wajhah pernah melihat orang-orang salat sebelum salat Id di Suatu lapangan; lalu beliau berkata, "Saya tidak pernah melihat Nabi SAW. mengerjakannya". Mereka bertanya: "Apakah engkau melarang mengerjakannya?" Ali menjawab: "Saya khawatir kalau saya melarang tentu saya termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya, "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melarang hamba Allah apabila ia mengerjakan salat".
11 bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,(QS. 96:11)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 11 - 12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)
Dalam ayat-ayat ini Allah menambah keterangan-Nya terhadap orang durhaka ini dalam bentuk pertanyaan, yaitu perhatikanlah, "Kiranya orang berbudi pekerti baik, menyeru kepada kebaikan dan memanggil kepada takwa, bukankah yang demikian itu lebih baik daripada kafir kepada Allah serta melarang orang menaati-Nya? Karena dengan kekafirannya itu akan kehilangan kedudukan yang paling mulia dan jatuh ke lubuk yang paling hina".
Maksudnya, bukankah lebih baik baginya mendapat petunjuk serta dapat pula menyuruh orang lain ke jalan yang benar. Dan ini adalah sikap Nabi SAW. karena usaha beliau ada kalanya membentuk diri sendiri dengan beribadat, seperti mendirikan salat mengerjakan puasa dan lain-lain. Dan ada kalanya pula berusaha memperbaiki keadaan orang lain dengan memanggil mereka kepada jalan yang benar dan kepada takwa.
12 atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?(QS. 96:12)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 11 - 12
أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)
Dalam ayat-ayat ini Allah menambah keterangan-Nya terhadap orang durhaka ini dalam bentuk pertanyaan, yaitu perhatikanlah, "Kiranya orang berbudi pekerti baik, menyeru kepada kebaikan dan memanggil kepada takwa, bukankah yang demikian itu lebih baik daripada kafir kepada Allah serta melarang orang menaati-Nya? Karena dengan kekafirannya itu akan kehilangan kedudukan yang paling mulia dan jatuh ke lubuk yang paling hina".
Maksudnya, bukankah lebih baik baginya mendapat petunjuk serta dapat pula menyuruh orang lain ke jalan yang benar. Dan ini adalah sikap Nabi SAW. karena usaha beliau ada kalanya membentuk diri sendiri dengan beribadat, seperti mendirikan salat mengerjakan puasa dan lain-lain. Dan ada kalanya pula berusaha memperbaiki keadaan orang lain dengan memanggil mereka kepada jalan yang benar dan kepada takwa.
13 Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?(QS. 96:13)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 13 - 14
أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى (13) أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى (14)
Allah menambahkan keterangan dalam bentuk pertanyaan yaitu: "Perhatikanlah pula keadaan si kafir ini. Jika ia mendustakan dalil-dalil ketauhidan Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan tidak mau juga mempedulikan panggilan Rasul serta membujuk orang agar tidak mendengar panggilan. Apakah ia tidak khawatir akan ditimpa bahaya atau akan turun atasnya azab Allah yang tak dapat dipikulnya? Apakah tidak dipikirkannya bahwa Allah pencipta alam semesta ini memperhatikan tindakan-tindakannya? Dia tidak akan membiarkannya, malah semua kejahatannya akan mendapat balasan.
14 Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?(QS. 96:14)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
15 Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,(QS. 96:15)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 15 - 16
كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ (15) نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ (16)
Allah memperkeras ancaman-Nya dalam bentuk sumpah. Sesungguhnya jika si kafir itu tidak henti-hentinya berdusta, melakukan kebodohan dan melarang orang-orang mengerjakan salat niscaya akan kami tarik ubun-ubunnya dengan keras dan melemparkannya ke dalam neraka.
16 (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.(QS. 96:16)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
17 Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),(QS. 96:17)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 17 - 18
فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ (17) سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ (18)
Allah memperolok-olokkan si kafir itu, Kami suruh mereka memanggil pembantu-pembantunya dari kalangan kaumnya yang mencintainya untuk melindunginya dari azab yang akan menimpanya. Jika si kafir berani melakukan yang demikian itu, yaitu menantang Allah dan menghadapkan dirinya kepada kemarahan-Nya, niscaya Allah akan memanggil pula tentara-tentara-Nya yang gagah perkasa yang tidak ada seorangpun sanggup menghadapinya. Bala tentara Allah itu akan membinasakan si kafir itu bersama pembantu-pembantunya dan akan melemparkannya ke dalam neraka.
Bala tentara Allah adalah malaikat-malaikat yang diutus untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang sesat. Mereka diberi nama dengan Zabaniyah karena mereka menghalau orang-orang kafir ke dalam neraka.
Telah diriwayatkan tentang Abu Jahal bahwa ia pada suatu waktu marah dan berkata kepada Nabi SAW., "Hai Muhammad! Dengan siapa engkau menakut-nakuti saya? Sesungguhnya pembantu-pembantuku banyak sekali memenuhi semenanjung ini" Ia berkata pula. "Jika aku melihat Muhammad melakukan salat di Kakbah aku akan menginjak lehernya". Ketika ucapannya ini sampai ke telinga Nabi SAW. beliau berkata, "Bila ia melakukan yang demikian itu pasti malaikat akan mengambilnya.
18 kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,(QS. 96:18)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
19 sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).(QS. 96:19)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Alaq 19
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ (19)
Kemudian dalam ayat ini Allah menguatkan lagi ancaman-Nya kepada orang kafir yang menentang dan takabur itu dengan menegaskan bahwa mereka tidak akan sanggup menghadapi kekuatan Allah; oleh karena orang-orang kafir bersama pembantunya tidak akan sanggup berhadapan dengan kekuatan Allah, maka Ia melarang Nabi-Nya mematuhi si kafir itu, sebagaimana dalam ayat lain yang bersamaan artinya Allah berfirman:
فلا تطع المكذبين
Artinya:
Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).
Sebaliknya beribadat dan bersujud untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan ibadat itu berarti menjauhkan diri dari Allah-dan keadaan seseorang yang paling dekat kepada Allah adalah ketika ia sedang sujud.
[TAFSIR] : AL-QADAR
1 Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al quran) pada malam kemuliaan.(QS. 97:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 1
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1)
Terdapat empat tempat dalam Alquran yang menerangkan tentang masanya turun Alquran kepada Nabi SAW. yaitu:
1. Dalam surah Al Qadr ini.
2. Dalam surah Ad Dukhan, yaitu pada firman-Nya:
حم والكتاب المبين إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين فيها يفرق كل أمر حكيم أمرا من عندنا إنا كنا مرسلين رحمة من ربك أنه هو السميع العليم
Artinya:
Ha Mim. Demi Kitab (Alquran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Ad Dukhan: 1-6)
3. Dalam surah Al Baqarah, yaitu pada firman-Nya:
شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدي والفرقان
Artinya:
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dengan yang batil)". (Q.S. Al-Baqarah: 186)
4. Dalam surah Al Anfal, yaitu pada firman-Nya:
واعلموا إنما غنمتم من شيء فإن لله خمسه وللرسول ولذي القربى واليتامى والمساكين وابن السبيل إن كنتم آمنتم بالله وما أنزلنا على عبدنا يوم الفرقان يوم التقى الجمعان والله على كل شيء قدير
Artinya:
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu di hari pertemuannya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). (Q.S. Al-Anfal: 41)
Ayat surah Al-Qadr menyatakan bahwa turunnya Alquran jelas pada malam Lailatulkadar, ayat surah Ad Dukhan menguatkan turunnya Alquran pada malam yang diberkati, ayat surah Al Baqarah menunjukkan turunnya Alquran pada bulan Ramadan dan ayat surah Al Anfal menerangkan bahwa turunnya Alquran bertepatan pada malam hari terjadinya pertempuran antara tentara Islam dengan tentara musyrikin dalam peperangan Badar, yang membedakan antara yang hak dengan yang batil dan memberi kemenangan kepada tentara Islam atas tentara kafir. Dengan demikian pastilah bahwa malam tersebut adalah malam Jumat 17 Ramadan.
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa Dia menurunkan Alquran pertama kali kepada Nabi SAW. pada malam yang mulia kemudian terus-menerus turunnya secara berangsur-angsur menurut peristiwa dan suasana yang menghendakinya dalam jangka waktu dua puluh dua tahun lebih sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti.
Karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa manusia sangat memerlukannya sebagai pedoman yang menjelaskan sesuatu yang mereka ragukan yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan atau masalah-masalah duniawi mereka serta menerangkan kepada mereka kejadian manusia dan kejadian yang akan datang ketika datangnya hari berbangkit.
Mereka memerlukan pegangan tersebut karena mereka tidak dapat memahami tentang prinsip-prinsip kemaslahatan yang sebenarnya. sehingga mereka dapat membentuk peraturan-peraturan dan undang-undang yang terlepas sama sekali dari petunjuk-petunjuk dan ketentuan-ketentuan agama.
Oleh sebab itu benarlah pendapat yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama dan petunjuk rohani yang menentukan ukuran dan nilai sesuatu setelah mereka mengetahui secara ilmiah keadaan-keadaan dan khasiat-khasiat sesuatu itu; sebagaimana mereka memerlukan kekuatan batin yang tidak dapat diguncangkan oleh bahaya dan percobaan.
2 Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?(QS. 97:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 2
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2)
Kemudian dalam ayat ini Allah menyatakan keutamaan malam Lailatulkadar tetapi keutamaan ini tidak dapat diketahui oleh ahli cerdik cendekiawan walaupun bagaimana tingginya ilmu pengetahuannya. Pengertian dan pengetahuan Nabi-Nya tidak sanggup menentukan kebesaran dan fadilah Lailatulkadar, yang mengetahui hanyalah Allah Yang mengetahui segala hal yang gaib, yang menciptakan alam semesta, yang mewujudkannya dari tidak ada.
3 Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.(QS. 97:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 3
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)
Pada ayat ini Allah menerangkan fadilah Lailatulkadar yang sebenarnya, karena dia adalah suatu malam yang memancarkan nur hidayah sebagai permulaan tasyri yang diturunkan untuk kebahagiaan manusia dan sebagai malam peletakan batu pertama syariat Islam, sebagai agama penghabisan bagi umat manusia, yang sesuai dengan kemaslahatan manusia sepanjang zaman. Malam tersebut lebih utama dari seribu bulan yang mereka lalui dengan bergelimang dosa, kemusyrikan dan kesesatan serta tidak berkesudahan.
Sebutan kata "seribu" dalam ayat ini bukan bermaksud untuk menentukan bilangannya akan tetapi maksudnya untuk menyatakan banyaknya yang tidak terhingga sebagaimana yang dikehendaki dengan firman Allah:
يود أحدهم لو يعمر ألف سنة
Artinya:
Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun. (Q.S. Al-Baqarah: 96)
Apakah ada malam yang lebih mulia daripada malam yang padanya dimulai turunnya nur hidayah untuk manusia setelah berabad-abad lamanya berada dalam kesesatan dan kekafiran?
Apakah ada kemuliaan yang lebih agung daripada malam di mana cahaya purnama ilmu makrifah ketuhanan menerangi jiwa Nabi SAW. yang diutus sebagai rahmat untuk manusia seluruhnya, menyampaikan berita gembira dan ancaman serta memanggil mereka ke jalan yang lurus, menjadikan mereka umat yang melepaskan manusia dari belenggu perbudakan raja-raja dan dari penindasan-penindasan penguasa yang zalim, di timur dan di barat yang mempersatukan mereka sesudah mereka berpecah-belah dan bermusuh-musuhan?.
Maka seyogyanyalah umat Islam menjadikan malam tersebut sebagai hari raya mereka karena malam tersebut-turunnya undang-undang dasar samawi yang mengarahkan manusia ke arah yang bermanfaat bagi mereka, sambil memperbaharui janji mereka dengan Tuhan mereka yang berhubungan dengan jiwa dan harta mereka sebagai tanda syukur atas nikmat pemberian-Nya serta mengharapkan pahala balasan-Nya.
4 Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.(QS. 97:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 4
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4)
Dalam ayat ini Allah menyatakan sebagian dari keistimewaan malam tersebut, yaitu turunnya para malaikat dan malaikat Jibril dari alam rohani sehingga nampak oleh Nabi SAW. terutama Jibril yang menyampaikan wahyu. Penampakan Jibril kepada Nabi SAW. dalam rupanya yang asli adalah perintah Allah SWT. Setelah Ia mempersiapkan Nabi-Nya untuk menerima wahyu yang akan disampaikannya kepada manusia yang mengandung kebaikan dan keberkatan.
Turunnya malaikat ke bumi adalah dengan izin Allah, tidak perlu kita menyelidiki bagaimana cara dan apa rahasianya dan cukuplah kita beriman saja. Adapun yang dapat diketahui manusia tentang rahasia alam ini hanyalah sedikit sekali, sebagaimana Allah menerangkan dalam firman-Nya:
وما أوتيتم من العلم إلا قليلا
Artinya:
Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (Q.S. Al-Isra': 85)
Malam itu (Lailatulkadar) adalah hari raya umat Islam karena turunnya Alquran dan malam bersyukur kepada Allah atas kebaikan dan kenikmatan yang dikaruniakan-Nya pada saat malaikat ikut bersyukur bersama manusia atas kebesaran malam itu, sebagai tanda kemuliaan manusia yang menjadi khalifah Allah di muka bumi.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Qadr 4
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4)
(Turunlah malaikat-malaikat) bentuk asal dari lafal Tanazzalu adalah Tatanazzalu, kemudian salah satu huruf Ta-nya dibuang, sehingga jadilah Tanazzalu (dan Ar-Ruh) yakni malaikat Jibril (di malam itu) artinya pada malam kemuliaan/lailatulkadar itu (dengan izin Rabbnya) dengan perintah dari-Nya (untuk mengatur segala urusan) atau untuk menjalankan ketetapan Allah buat tahun itu hingga tahun berikutnya, hal ini terjadi pada malam kemuliaan itu.
Huruf Min di sini bermakna Sababiyah atau sama artinya dengan huruf Ba; yakni mereka turun dengan seizin Rabbnya dengan membawa segala urusan yang telah menjadi ketetapan-Nya untuk tahun itu hingga tahun berikutnya.
5 Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.(QS. 97:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 5
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa malam tersebut penuh kebaikan dan berkah dari permulaan sampai terbit fajar adalah karena turunnya Alquran yang disaksikan oleh para malaikat ketika Allah melapangkan dada Nabi-Nya dan memudahkan jalan untuk menyampaikan petunjuk dan bimbingan kepada umat.
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 1
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1)
Terdapat empat tempat dalam Alquran yang menerangkan tentang masanya turun Alquran kepada Nabi SAW. yaitu:
1. Dalam surah Al Qadr ini.
2. Dalam surah Ad Dukhan, yaitu pada firman-Nya:
حم والكتاب المبين إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين فيها يفرق كل أمر حكيم أمرا من عندنا إنا كنا مرسلين رحمة من ربك أنه هو السميع العليم
Artinya:
Ha Mim. Demi Kitab (Alquran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Ad Dukhan: 1-6)
3. Dalam surah Al Baqarah, yaitu pada firman-Nya:
شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدي والفرقان
Artinya:
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dengan yang batil)". (Q.S. Al-Baqarah: 186)
4. Dalam surah Al Anfal, yaitu pada firman-Nya:
واعلموا إنما غنمتم من شيء فإن لله خمسه وللرسول ولذي القربى واليتامى والمساكين وابن السبيل إن كنتم آمنتم بالله وما أنزلنا على عبدنا يوم الفرقان يوم التقى الجمعان والله على كل شيء قدير
Artinya:
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu di hari pertemuannya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). (Q.S. Al-Anfal: 41)
Ayat surah Al-Qadr menyatakan bahwa turunnya Alquran jelas pada malam Lailatulkadar, ayat surah Ad Dukhan menguatkan turunnya Alquran pada malam yang diberkati, ayat surah Al Baqarah menunjukkan turunnya Alquran pada bulan Ramadan dan ayat surah Al Anfal menerangkan bahwa turunnya Alquran bertepatan pada malam hari terjadinya pertempuran antara tentara Islam dengan tentara musyrikin dalam peperangan Badar, yang membedakan antara yang hak dengan yang batil dan memberi kemenangan kepada tentara Islam atas tentara kafir. Dengan demikian pastilah bahwa malam tersebut adalah malam Jumat 17 Ramadan.
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa Dia menurunkan Alquran pertama kali kepada Nabi SAW. pada malam yang mulia kemudian terus-menerus turunnya secara berangsur-angsur menurut peristiwa dan suasana yang menghendakinya dalam jangka waktu dua puluh dua tahun lebih sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti.
Karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa manusia sangat memerlukannya sebagai pedoman yang menjelaskan sesuatu yang mereka ragukan yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan atau masalah-masalah duniawi mereka serta menerangkan kepada mereka kejadian manusia dan kejadian yang akan datang ketika datangnya hari berbangkit.
Mereka memerlukan pegangan tersebut karena mereka tidak dapat memahami tentang prinsip-prinsip kemaslahatan yang sebenarnya. sehingga mereka dapat membentuk peraturan-peraturan dan undang-undang yang terlepas sama sekali dari petunjuk-petunjuk dan ketentuan-ketentuan agama.
Oleh sebab itu benarlah pendapat yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama dan petunjuk rohani yang menentukan ukuran dan nilai sesuatu setelah mereka mengetahui secara ilmiah keadaan-keadaan dan khasiat-khasiat sesuatu itu; sebagaimana mereka memerlukan kekuatan batin yang tidak dapat diguncangkan oleh bahaya dan percobaan.
2 Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?(QS. 97:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 2
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2)
Kemudian dalam ayat ini Allah menyatakan keutamaan malam Lailatulkadar tetapi keutamaan ini tidak dapat diketahui oleh ahli cerdik cendekiawan walaupun bagaimana tingginya ilmu pengetahuannya. Pengertian dan pengetahuan Nabi-Nya tidak sanggup menentukan kebesaran dan fadilah Lailatulkadar, yang mengetahui hanyalah Allah Yang mengetahui segala hal yang gaib, yang menciptakan alam semesta, yang mewujudkannya dari tidak ada.
3 Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.(QS. 97:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 3
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)
Pada ayat ini Allah menerangkan fadilah Lailatulkadar yang sebenarnya, karena dia adalah suatu malam yang memancarkan nur hidayah sebagai permulaan tasyri yang diturunkan untuk kebahagiaan manusia dan sebagai malam peletakan batu pertama syariat Islam, sebagai agama penghabisan bagi umat manusia, yang sesuai dengan kemaslahatan manusia sepanjang zaman. Malam tersebut lebih utama dari seribu bulan yang mereka lalui dengan bergelimang dosa, kemusyrikan dan kesesatan serta tidak berkesudahan.
Sebutan kata "seribu" dalam ayat ini bukan bermaksud untuk menentukan bilangannya akan tetapi maksudnya untuk menyatakan banyaknya yang tidak terhingga sebagaimana yang dikehendaki dengan firman Allah:
يود أحدهم لو يعمر ألف سنة
Artinya:
Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun. (Q.S. Al-Baqarah: 96)
Apakah ada malam yang lebih mulia daripada malam yang padanya dimulai turunnya nur hidayah untuk manusia setelah berabad-abad lamanya berada dalam kesesatan dan kekafiran?
Apakah ada kemuliaan yang lebih agung daripada malam di mana cahaya purnama ilmu makrifah ketuhanan menerangi jiwa Nabi SAW. yang diutus sebagai rahmat untuk manusia seluruhnya, menyampaikan berita gembira dan ancaman serta memanggil mereka ke jalan yang lurus, menjadikan mereka umat yang melepaskan manusia dari belenggu perbudakan raja-raja dan dari penindasan-penindasan penguasa yang zalim, di timur dan di barat yang mempersatukan mereka sesudah mereka berpecah-belah dan bermusuh-musuhan?.
Maka seyogyanyalah umat Islam menjadikan malam tersebut sebagai hari raya mereka karena malam tersebut-turunnya undang-undang dasar samawi yang mengarahkan manusia ke arah yang bermanfaat bagi mereka, sambil memperbaharui janji mereka dengan Tuhan mereka yang berhubungan dengan jiwa dan harta mereka sebagai tanda syukur atas nikmat pemberian-Nya serta mengharapkan pahala balasan-Nya.
4 Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.(QS. 97:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 4
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4)
Dalam ayat ini Allah menyatakan sebagian dari keistimewaan malam tersebut, yaitu turunnya para malaikat dan malaikat Jibril dari alam rohani sehingga nampak oleh Nabi SAW. terutama Jibril yang menyampaikan wahyu. Penampakan Jibril kepada Nabi SAW. dalam rupanya yang asli adalah perintah Allah SWT. Setelah Ia mempersiapkan Nabi-Nya untuk menerima wahyu yang akan disampaikannya kepada manusia yang mengandung kebaikan dan keberkatan.
Turunnya malaikat ke bumi adalah dengan izin Allah, tidak perlu kita menyelidiki bagaimana cara dan apa rahasianya dan cukuplah kita beriman saja. Adapun yang dapat diketahui manusia tentang rahasia alam ini hanyalah sedikit sekali, sebagaimana Allah menerangkan dalam firman-Nya:
وما أوتيتم من العلم إلا قليلا
Artinya:
Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (Q.S. Al-Isra': 85)
Malam itu (Lailatulkadar) adalah hari raya umat Islam karena turunnya Alquran dan malam bersyukur kepada Allah atas kebaikan dan kenikmatan yang dikaruniakan-Nya pada saat malaikat ikut bersyukur bersama manusia atas kebesaran malam itu, sebagai tanda kemuliaan manusia yang menjadi khalifah Allah di muka bumi.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Qadr 4
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4)
(Turunlah malaikat-malaikat) bentuk asal dari lafal Tanazzalu adalah Tatanazzalu, kemudian salah satu huruf Ta-nya dibuang, sehingga jadilah Tanazzalu (dan Ar-Ruh) yakni malaikat Jibril (di malam itu) artinya pada malam kemuliaan/lailatulkadar itu (dengan izin Rabbnya) dengan perintah dari-Nya (untuk mengatur segala urusan) atau untuk menjalankan ketetapan Allah buat tahun itu hingga tahun berikutnya, hal ini terjadi pada malam kemuliaan itu.
Huruf Min di sini bermakna Sababiyah atau sama artinya dengan huruf Ba; yakni mereka turun dengan seizin Rabbnya dengan membawa segala urusan yang telah menjadi ketetapan-Nya untuk tahun itu hingga tahun berikutnya.
5 Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.(QS. 97:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qadr 5
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa malam tersebut penuh kebaikan dan berkah dari permulaan sampai terbit fajar adalah karena turunnya Alquran yang disaksikan oleh para malaikat ketika Allah melapangkan dada Nabi-Nya dan memudahkan jalan untuk menyampaikan petunjuk dan bimbingan kepada umat.
[TAFSIR] : AL-BAYYINAH
[TAFSIR] : AL-BAYYINAH
Ayat [8]
1 Orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,(QS. 98:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Bayyinah 1
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ (1)
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa orang-orang yang mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW. yang terdiri dari orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik tidak akan melepaskan kekafiran mereka dan tidak mau meninggalkan tradisi nenek moyang mereka. Kedatangan Nabi SAW. menimbulkan kegoncangan-keguncangan dalam akidah mereka dan dalam adat istiadat mereka yang telah berurat berakar dalam diri mereka serta menyatakan bahwa apa yang dibawa oleh Nabi SAW. tidak ada bedanya atau lebih dari apa yang terdapat dalam agama mereka. Maka tidak ada kebaikan mengikuti yang baru dengan meninggalkan yang lama, bahkan mengikuti yang lama lebih menenteramkan jiwa karena tidak bertentangan dengan sikap nenek moyang mereka.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Bayyinah 1
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ (1)
(Tiadalah orang-orang yang kafir dari) huruf Min di sini mengandung makna penjelasan (kalangan ahlulkitab dan orang-orang musyrik) orang-orang musyrik artinya orang-orang yang menyembah berhala; lafal Musyrikiina di'athafkan kepada lafal Ahlilkitaabi (mau meninggalkan) agamanya; lafal Munfakkiina sebagai Khabar dari lafal Yakun; artinya mereka akan tetap memegang agama yang mereka peluk (sebelum datang kepada mereka) artinya sampai datang kepada mereka (bukti yang nyata) berupa hujah yang jelas, yang dimaksud adalah Nabi Muhammad saw.
2 (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al quran),(QS. 98:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Bayyinah 2 - 3
رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً (2) فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ (3)
Dalam ayat-ayat ini Allah menjelaskan pengertian bukti yang meragu-ragukan mereka, bahwa yang dimaksud dengan bukti tersebut adalah diri pribadi Nabi SAW yang membacakan untuk orang kafir halaman-halaman Alquran yang bersih dari campur aduk keterangan manusia, bersih dari segala macam kesalahan dan bersih dari penambahan, yaitu bukti yang memancarkan kebenaran. Dalam ayat lain yang serupa Allah berfirman:
لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه
Artinya:
Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. (Q.S. Fussilat: 42)
Di dalam Alquran itu tersimpul ajaran-ajaran yang benar yang terdapat dalam kitab-kitab para nabi yang terdahulu, seperti Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Ibrahim A.S. Dalam ayat lain yang hampir sama maksudnya Allah berfirman:
وإنه لفي زبر الأولين
Artinya:
Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang terdahulu. (Q.S. Asy Syu'ara': 196)
dan firman-Nya:
إن هذا لفي الصحف الأولى صحف إبراهيم وموسى
Artinya:
Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Kitab-kitab yang terdahulu (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (Q.S. Al A'la: 18-19)
Terkadang yang dimaksud dengan Al Kitab ialah surah-surah Alquran dan ayat-ayatnya, karena tiap-tiap surah itu adalah kitab yang kokoh atau hukum-hukum dan peraturan yang terkandung dalam firman-firman Allah yang tidak ada kebatilannya. Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman:
الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا قيما لينذر بأسا شديدا من لدنه ويبشر المؤمنين
Artinya:
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Alquran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang beriman. (Q.S. Al Kahfi: 1-2)
Maksudnya, keadaan orang-orang kafir Yahudi, Nasrani dan musyrikin sesudah datang Nabi SAW berlainan dengan keadaan mereka sebelumnya. Mereka sebelum datang Nabi SAW. dalam keadaan kafir, terbenam dalam kejahilan dan hawa nafsu, tetapi setelah datang Nabi SAW. segolongan dari mereka beriman, maka keadaan mereka tidak seperti dahulu dan segolongan mereka tidak beriman malah mereka meragukan kebenaran apa yang dibawa Nabi SAW. bahkan ada yang tidak percaya kepada kebenarannya sama sekali.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Bayyinah 2
رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً (2)
(Yaitu seorang rasul dari Allah) lafal ayat ini menjadi Badal dari lafal Al-Bayyinah, yang dimaksud adalah Nabi Muhammad saw. (yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan) dari segala bentuk kebatilan.
3 di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus.(QS. 98:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
4 Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.(QS. 98:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
5 Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS. 98:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Bayyinah 5
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (5)
Karena adanya perpecahan di kalangan mereka maka pada ayat ini dengan nada mencerca Allah menegaskan bahwa mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah. Perintah yang ditujukan kepada mereka adalah untuk kebaikan dunia dan agama mereka, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yang berupa ikhlas lahir dan batin dalam berbakti kepada Allah dan membersihkan amal perbuatan dari syirik serta mematuhi agama Nabi Ibrahim yang menjauhkan dirinya dari kekafiran kaumnya kepada agama tauhid dengan mengikhlaskan ibadat kepada Allah SWT. Dalam ayat lain yang bersamaan maksudnya Allah berfirman:
ثم أوحينا إليك ان اتبع ملة إبراهيم حنيفا
Artinya:
Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" (Q.S. An Nahl: 123)
dan firman-Nya
ما كان إبراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما
Artinya:
"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah)" (Q.S. Ali Imran: 67)
Yang dimaksud mendirikan satat adalah mengerjakan terus-menerus setiap waktu dengan memusatkan jiwa kepada kebesaran Allah ketika salat, untuk membiasakan diri tunduk kepada-Nya. Dan yang dimaksud dengan mengeluarkan zakat yaitu membagi-bagikannya kepada yang berhak menerimanya sebagaimana yang telah ditentukan oleh Alquran Karim.
Keterangan ayat tersebut di atas tentang keikhlasan beribadat serta menjauhkan diri dari syirik, mendirikan salat dan mengeluarkan zakat itulah yang dimaksud dengan agama yang lurus yang tersebut dalam kitab-kitab suci lainnya.
Maksud ungkapan-ungkapan yang telah lalu bahwa orang-orang ahli Kitab berselisih dalam memahami dasar-dasar agama mereka dan furuk-furuknya, padahal mereka diperintahkan untuk memperhambakan diri kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam akidah.
6 Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.(QS. 98:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
7 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.(QS. 98:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
8 Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya.(QS. 98:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
Ayat [8]
1 Orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,(QS. 98:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Bayyinah 1
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ (1)
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa orang-orang yang mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW. yang terdiri dari orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik tidak akan melepaskan kekafiran mereka dan tidak mau meninggalkan tradisi nenek moyang mereka. Kedatangan Nabi SAW. menimbulkan kegoncangan-keguncangan dalam akidah mereka dan dalam adat istiadat mereka yang telah berurat berakar dalam diri mereka serta menyatakan bahwa apa yang dibawa oleh Nabi SAW. tidak ada bedanya atau lebih dari apa yang terdapat dalam agama mereka. Maka tidak ada kebaikan mengikuti yang baru dengan meninggalkan yang lama, bahkan mengikuti yang lama lebih menenteramkan jiwa karena tidak bertentangan dengan sikap nenek moyang mereka.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Bayyinah 1
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ (1)
(Tiadalah orang-orang yang kafir dari) huruf Min di sini mengandung makna penjelasan (kalangan ahlulkitab dan orang-orang musyrik) orang-orang musyrik artinya orang-orang yang menyembah berhala; lafal Musyrikiina di'athafkan kepada lafal Ahlilkitaabi (mau meninggalkan) agamanya; lafal Munfakkiina sebagai Khabar dari lafal Yakun; artinya mereka akan tetap memegang agama yang mereka peluk (sebelum datang kepada mereka) artinya sampai datang kepada mereka (bukti yang nyata) berupa hujah yang jelas, yang dimaksud adalah Nabi Muhammad saw.
2 (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al quran),(QS. 98:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Bayyinah 2 - 3
رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً (2) فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ (3)
Dalam ayat-ayat ini Allah menjelaskan pengertian bukti yang meragu-ragukan mereka, bahwa yang dimaksud dengan bukti tersebut adalah diri pribadi Nabi SAW yang membacakan untuk orang kafir halaman-halaman Alquran yang bersih dari campur aduk keterangan manusia, bersih dari segala macam kesalahan dan bersih dari penambahan, yaitu bukti yang memancarkan kebenaran. Dalam ayat lain yang serupa Allah berfirman:
لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه
Artinya:
Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. (Q.S. Fussilat: 42)
Di dalam Alquran itu tersimpul ajaran-ajaran yang benar yang terdapat dalam kitab-kitab para nabi yang terdahulu, seperti Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Ibrahim A.S. Dalam ayat lain yang hampir sama maksudnya Allah berfirman:
وإنه لفي زبر الأولين
Artinya:
Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang terdahulu. (Q.S. Asy Syu'ara': 196)
dan firman-Nya:
إن هذا لفي الصحف الأولى صحف إبراهيم وموسى
Artinya:
Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Kitab-kitab yang terdahulu (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (Q.S. Al A'la: 18-19)
Terkadang yang dimaksud dengan Al Kitab ialah surah-surah Alquran dan ayat-ayatnya, karena tiap-tiap surah itu adalah kitab yang kokoh atau hukum-hukum dan peraturan yang terkandung dalam firman-firman Allah yang tidak ada kebatilannya. Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman:
الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا قيما لينذر بأسا شديدا من لدنه ويبشر المؤمنين
Artinya:
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Alquran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang beriman. (Q.S. Al Kahfi: 1-2)
Maksudnya, keadaan orang-orang kafir Yahudi, Nasrani dan musyrikin sesudah datang Nabi SAW berlainan dengan keadaan mereka sebelumnya. Mereka sebelum datang Nabi SAW. dalam keadaan kafir, terbenam dalam kejahilan dan hawa nafsu, tetapi setelah datang Nabi SAW. segolongan dari mereka beriman, maka keadaan mereka tidak seperti dahulu dan segolongan mereka tidak beriman malah mereka meragukan kebenaran apa yang dibawa Nabi SAW. bahkan ada yang tidak percaya kepada kebenarannya sama sekali.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Bayyinah 2
رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً (2)
(Yaitu seorang rasul dari Allah) lafal ayat ini menjadi Badal dari lafal Al-Bayyinah, yang dimaksud adalah Nabi Muhammad saw. (yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan) dari segala bentuk kebatilan.
3 di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus.(QS. 98:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
4 Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.(QS. 98:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
5 Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS. 98:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Bayyinah 5
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (5)
Karena adanya perpecahan di kalangan mereka maka pada ayat ini dengan nada mencerca Allah menegaskan bahwa mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah. Perintah yang ditujukan kepada mereka adalah untuk kebaikan dunia dan agama mereka, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yang berupa ikhlas lahir dan batin dalam berbakti kepada Allah dan membersihkan amal perbuatan dari syirik serta mematuhi agama Nabi Ibrahim yang menjauhkan dirinya dari kekafiran kaumnya kepada agama tauhid dengan mengikhlaskan ibadat kepada Allah SWT. Dalam ayat lain yang bersamaan maksudnya Allah berfirman:
ثم أوحينا إليك ان اتبع ملة إبراهيم حنيفا
Artinya:
Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" (Q.S. An Nahl: 123)
dan firman-Nya
ما كان إبراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما
Artinya:
"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah)" (Q.S. Ali Imran: 67)
Yang dimaksud mendirikan satat adalah mengerjakan terus-menerus setiap waktu dengan memusatkan jiwa kepada kebesaran Allah ketika salat, untuk membiasakan diri tunduk kepada-Nya. Dan yang dimaksud dengan mengeluarkan zakat yaitu membagi-bagikannya kepada yang berhak menerimanya sebagaimana yang telah ditentukan oleh Alquran Karim.
Keterangan ayat tersebut di atas tentang keikhlasan beribadat serta menjauhkan diri dari syirik, mendirikan salat dan mengeluarkan zakat itulah yang dimaksud dengan agama yang lurus yang tersebut dalam kitab-kitab suci lainnya.
Maksud ungkapan-ungkapan yang telah lalu bahwa orang-orang ahli Kitab berselisih dalam memahami dasar-dasar agama mereka dan furuk-furuknya, padahal mereka diperintahkan untuk memperhambakan diri kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam akidah.
6 Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.(QS. 98:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
7 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.(QS. 98:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
8 Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya.(QS. 98:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
Kamis, 21 April 2011
Sehatnya Qalbu, Lurusnya Amal
Sehatnya Qalbu, Lurusnya Amal
Posted by: K Aburidza (Asifa’uqolbi) on: April 13, 2011
• In: Hikmah
Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar
Kebagusan amalan anggota badan seorang hamba tergantung pada kebagusan qalbunya. Apabila qalbunya salim (sehat), tidak ada di dalamnya melainkan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kecintaan kepada apa yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, takut kepada-Nya, takut terjatuh pada apa yang dibenci oleh-Nya, akan baguslah seluruh amalan anggota badannya. Akan tumbuh pula pada dirinya perasaan untuk menghindarkan diri dari segala perkara yang haram dan syubhat.
Namun apabila qalbunya rusak, dikuasai oleh hawa nafsunya, mencari apa yang diinginkan hawa nafsunya meski dalam perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala benci, akan rusaklah seluruh amalan anggota badannya. Selain itu, akan menyeret pula kepada segala bentuk kemaksiatan dan syubhat, sesuai dengan kadar penguasaan hawa nafsu terhadap qalbunya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
أَلاَ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik, seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 52, dan Muslim no. 4070)
Apabila seorang hamba memiliki qalbu yang salim akan muncul darinya amalan-amalan yang shalih dan kesungguhan dalam beramal guna mencapai kebahagiaan di kehidupan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوْرًا
“Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra`: 19)
Dengan demikian, untuk mendorong dan menumbuhkan amalan-amalan shalih, setiap hamba wajib menjaga qalbunya agar tetap salim (sehat) dan terhindar dari penyakit-penyakit yang merusaknya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yang menentang tauhid, bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yang menyelisihi perintah, kelalaian yang menyelisihi dzikir, dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 138)
Hamba yang memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia, yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan tempatnya di surga. Berbeda dengan orang yang mengutamakan kehidupan dunia yang akan membawanya kepada neraka Al-Jahim.
فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى. يَوْمَ يَتَذَكَّرُ اْلإِنْسَانُ مَا سَعَى. وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَرَى. فَأَمَّا مَنْ طَغَى. وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. فَإِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوَى. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 34-41)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Posted by: K Aburidza (Asifa’uqolbi) on: April 13, 2011
• In: Hikmah
Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar
Kebagusan amalan anggota badan seorang hamba tergantung pada kebagusan qalbunya. Apabila qalbunya salim (sehat), tidak ada di dalamnya melainkan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kecintaan kepada apa yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, takut kepada-Nya, takut terjatuh pada apa yang dibenci oleh-Nya, akan baguslah seluruh amalan anggota badannya. Akan tumbuh pula pada dirinya perasaan untuk menghindarkan diri dari segala perkara yang haram dan syubhat.
Namun apabila qalbunya rusak, dikuasai oleh hawa nafsunya, mencari apa yang diinginkan hawa nafsunya meski dalam perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala benci, akan rusaklah seluruh amalan anggota badannya. Selain itu, akan menyeret pula kepada segala bentuk kemaksiatan dan syubhat, sesuai dengan kadar penguasaan hawa nafsu terhadap qalbunya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
أَلاَ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik, seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 52, dan Muslim no. 4070)
Apabila seorang hamba memiliki qalbu yang salim akan muncul darinya amalan-amalan yang shalih dan kesungguhan dalam beramal guna mencapai kebahagiaan di kehidupan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوْرًا
“Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra`: 19)
Dengan demikian, untuk mendorong dan menumbuhkan amalan-amalan shalih, setiap hamba wajib menjaga qalbunya agar tetap salim (sehat) dan terhindar dari penyakit-penyakit yang merusaknya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yang menentang tauhid, bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yang menyelisihi perintah, kelalaian yang menyelisihi dzikir, dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 138)
Hamba yang memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia, yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan tempatnya di surga. Berbeda dengan orang yang mengutamakan kehidupan dunia yang akan membawanya kepada neraka Al-Jahim.
فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى. يَوْمَ يَتَذَكَّرُ اْلإِنْسَانُ مَا سَعَى. وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَرَى. فَأَمَّا مَنْ طَغَى. وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. فَإِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوَى. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 34-41)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Kisah Ashabul Kahfi
Kisah Ashabul Kahfi
Posted by: Asifa’uqolbi on: April 21, 2011
• In: Hikmah
Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Kisah ini begitu kesohor. Dengan kekuasaan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menidurkan sekelompok pemuda yang berlindung di sebuah gua selama 309 tahun. Apa hikmah di balik ini semua?
Ashhabul Kahfi adalah para pemuda yang diberi taufik dan ilham oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mereka beriman dan mengenal Rabb mereka. Mereka mengingkari keyakinan yang dianut oleh masyarakat mereka yang menyembah berhala. Mereka hidup di tengah-tengah bangsanya sembari tetap menampakkan keimanan mereka ketika berkumpul sesama mereka, sekaligus karena khawatir akan gangguan masyarakatnya. Mereka mengatakan:
رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُوْنِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
“Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.” (Al-Kahfi: 14)
Yakni, apabila kami berdoa kepada selain Dia, berarti kami telah mengucapkan suatu شَطَطًا (perkataan yang jauh), yaitu perkataan palsu, dusta, dan dzalim.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perkataan mereka selanjutnya:
هَؤُلاَءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُوْنِهِ آلِهَةً لَوْلاَ يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا
“Kaum kami ini telah mengambil sesembahan-sesembahan selain Dia. Mereka tidak mengajukan alasan yang terang (tentang keyakinan mereka?) Siapakah yng lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)
Ketika mereka sepakat terhadap persoalan ini, mereka sadar, tidak mungkin menampakkannya kepada kaumnya. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memudahkan urusan mereka:
رَبَّنَاآتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“Wahai Rabb kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (Al-Kahfi: 10)
Mereka pun menyelamatkan diri ke sebuah gua yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan bagi mereka. Gua itu cukup luas dengan pintu menghadap ke utara sehingga sinar matahari tidak langsung masuk ke dalamnya. Kemudian mereka tertidur dengan perlindungan dan pegawasan dari Allah selama 309 tahun. Allah Subhanahu wa Ta’ala buatkan atas mereka pagar berupa rasa takut meskipun mereka sangat dekat dengan kota tempat mereka tinggal. Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menjaga mereka selama di dalam gua. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَذَاتَ الشِّمَالِ
“Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi: 18)
Demikianlah agar jasad mereka tidak dirusak oleh tanah. Setelah tertidur sekian ratus tahun lamanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan mereka لِيَتَسَاءَلُوا (agar mereka saling bertanya), dan supaya mereka pada akhirnya mengetahui hakekat yang sebenarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِْينَةِ
“Berkatalah salah seorang dari mereka: ‘Sudah berapa lama kalian menetap (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Yang lain berkata pula: ‘Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota membawa uang perakmu ini’.” (Al-Kahfi: 19)
Di dalam kisah ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang nyata. Di antaranya:
1. Walaupun menakjubkan, kisah para penghuni gua ini bukanlah ayat Allah yang paling ajaib. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai ayat-ayat yang menakjubkan yang di dalamnya terdapat pelajaran berharga bagi mereka yang mau memerhatikannya.
2. Sesungguhnya siapa saja yang berlindung kepada Allah, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dan lembut kepadanya, serta menjadikannya sebagai sebab orang-orang yang sesat mendapat hidayah (petunjuk). Di sini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bersikap lembut terhadap mereka dalam tidur yang panjang ini, untuk menyelamatkan iman dan tubuh mereka dari fitnah dan pembunuhan masyarakat mereka. Allah menjadikan tidur ini sebagai bagian dari ayat-ayat (tanda kekuasaan)-Nya yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan berlimpahnya kebaikan-Nya. Juga agar hamba-hamba-Nya mengetahui bahwa janji Allah itu adalah suatu kebenaran.
3. Anjuran untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat sekaligus mencarinya. Karena sesungguhnya Allah mengutus mereka adalah untuk hal itu. Dengan pembahasan yang mereka lakukan dan pengetahuan manusia tentang keadaan mereka, akan menghasilkan bukti dan ilmu atau keyakinan bahwa janji Allah adalah benar, dan bahwa hari kiamat yang pasti terjadi bukanlah suatu hal yang perlu disangsikan.
4. Adab kesopanan bagi mereka yang mengalami kesamaran atau ketidakjelasan akan suatu masalah ilmu adalah hendaklah mengembalikannya kepada yang mengetahuinya. Dan hendaknya dia berhenti dalam perkara yang dia ketahui.
5. Sahnya menunjuk wakil dalam jual beli, dan sah pula kerjasama dalam masalah ini. Karena adanya dalil dari ucapan mereka dalam ayat:
فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِيْنَة
“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota membawa uang perakmu ini.” (Al-Kahfi: 19)
6. Boleh memakan makanan yang baik dan memilih makanan yang disenangi atau sesuai selera, selama tidak berbuat israf (boros atau berlebihan) yang terlarang, berdasarkan dalil:
فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ
“Hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu.” (Al-Kahfi: 19)
7. Melalui kisah ini kita dianjurkan untuk berhati-hati dan mengasingkan diri atau menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah dalam agama. Dan hendaknya seseorang menyimpan rahasia sehingga dapat menjauhkannya dari suatu kejahatan.
8. Diterangkan dalam kisah ini betapa besar kecintaan para pemuda yang beriman itu terhadap ajaran agama mereka. Dan bagaimana mereka sampai melarikan diri, meninggalkan negeri mereka demi menyelamatkan diri dari segenap fitnah yang akan menimpa agama mereka, untuk kembali pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
9. Disebutkan dalam kisah ini betapa luasnya akibat buruk dari kemudaratan dan kerusakan yang menumbuhkan kebencian dan upaya meninggalkannya. Dan sesungguhnya jalan ini adalah jalan yang ditempuh kaum mukminin.
10. Bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ الَّذِيْنَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا
“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: ‘Sungguh kami tentu akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atas mereka’.” (Al-Kahfi: 21)
Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa masyarakat di mana mereka hidup (setelah bangun dari tidur panjang) adalah orang-orang yang mengerti agama. Hal ini diketahui karena mereka sangat menghormati para pemuda itu sehingga sangat berkeinginan membangun rumah ibadah di atas gua mereka. Dan walaupun ini dilarang –terutama dalam syariat agama kita– tetapi tujuan diceritakannya hal ini adalah sebagai keterangan bahwa rasa takut yang begitu besar yang dirasakan oleh para pemuda tersebut akan fitnah yang mengancam keimanannya, serta masuknya mereka ke dalam gua telah Allah Subhanahu wa Ta’ala gantikan sesudah itu dengan keamanan dan penghormatan yang luar biasa dari manusia. Dan ini adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang yang menempuh suatu kesulitan karena Allah, di mana Dia jadikan baginya akhir perjalanan yang sangat terpuji.
11. Pembahasan yang berbelit-belit dan tidak bermanfaat adalah suatu hal yang tidak pantas untuk ditekuni, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَلاَ تُمَارِ فِيْهِمْ إلاَّ مِرَاءً ظَاهِرًا
“Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang keadaan mereka, kecuali pertengkaran lahir saja.” (Al-Kahfi: 22)
12. Faedah lain dari kisah ini bahwasanya bertanya kepada yang tidak berilmu tentang suatu persoalan atau kepada orang yang tidak dapat dipercaya, adalah perbuatan yang dilarang. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:
وَلاَ تَسْتَفْتِ فِيْهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا
“Dan jangan pula bertanya mengenai mereka (para pemuda itu) kepada salah seorang di antara mereka itu.” (Al-Kahfi: 22)
Wallahu a’lam.
(Diambil dari Taisirul Lathifil Mannan karya Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu)
Posted by: Asifa’uqolbi on: April 21, 2011
• In: Hikmah
Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Kisah ini begitu kesohor. Dengan kekuasaan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menidurkan sekelompok pemuda yang berlindung di sebuah gua selama 309 tahun. Apa hikmah di balik ini semua?
Ashhabul Kahfi adalah para pemuda yang diberi taufik dan ilham oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mereka beriman dan mengenal Rabb mereka. Mereka mengingkari keyakinan yang dianut oleh masyarakat mereka yang menyembah berhala. Mereka hidup di tengah-tengah bangsanya sembari tetap menampakkan keimanan mereka ketika berkumpul sesama mereka, sekaligus karena khawatir akan gangguan masyarakatnya. Mereka mengatakan:
رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُوْنِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
“Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.” (Al-Kahfi: 14)
Yakni, apabila kami berdoa kepada selain Dia, berarti kami telah mengucapkan suatu شَطَطًا (perkataan yang jauh), yaitu perkataan palsu, dusta, dan dzalim.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perkataan mereka selanjutnya:
هَؤُلاَءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُوْنِهِ آلِهَةً لَوْلاَ يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا
“Kaum kami ini telah mengambil sesembahan-sesembahan selain Dia. Mereka tidak mengajukan alasan yang terang (tentang keyakinan mereka?) Siapakah yng lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)
Ketika mereka sepakat terhadap persoalan ini, mereka sadar, tidak mungkin menampakkannya kepada kaumnya. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memudahkan urusan mereka:
رَبَّنَاآتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“Wahai Rabb kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (Al-Kahfi: 10)
Mereka pun menyelamatkan diri ke sebuah gua yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan bagi mereka. Gua itu cukup luas dengan pintu menghadap ke utara sehingga sinar matahari tidak langsung masuk ke dalamnya. Kemudian mereka tertidur dengan perlindungan dan pegawasan dari Allah selama 309 tahun. Allah Subhanahu wa Ta’ala buatkan atas mereka pagar berupa rasa takut meskipun mereka sangat dekat dengan kota tempat mereka tinggal. Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menjaga mereka selama di dalam gua. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَذَاتَ الشِّمَالِ
“Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi: 18)
Demikianlah agar jasad mereka tidak dirusak oleh tanah. Setelah tertidur sekian ratus tahun lamanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan mereka لِيَتَسَاءَلُوا (agar mereka saling bertanya), dan supaya mereka pada akhirnya mengetahui hakekat yang sebenarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِْينَةِ
“Berkatalah salah seorang dari mereka: ‘Sudah berapa lama kalian menetap (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Yang lain berkata pula: ‘Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota membawa uang perakmu ini’.” (Al-Kahfi: 19)
Di dalam kisah ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang nyata. Di antaranya:
1. Walaupun menakjubkan, kisah para penghuni gua ini bukanlah ayat Allah yang paling ajaib. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai ayat-ayat yang menakjubkan yang di dalamnya terdapat pelajaran berharga bagi mereka yang mau memerhatikannya.
2. Sesungguhnya siapa saja yang berlindung kepada Allah, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dan lembut kepadanya, serta menjadikannya sebagai sebab orang-orang yang sesat mendapat hidayah (petunjuk). Di sini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bersikap lembut terhadap mereka dalam tidur yang panjang ini, untuk menyelamatkan iman dan tubuh mereka dari fitnah dan pembunuhan masyarakat mereka. Allah menjadikan tidur ini sebagai bagian dari ayat-ayat (tanda kekuasaan)-Nya yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan berlimpahnya kebaikan-Nya. Juga agar hamba-hamba-Nya mengetahui bahwa janji Allah itu adalah suatu kebenaran.
3. Anjuran untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat sekaligus mencarinya. Karena sesungguhnya Allah mengutus mereka adalah untuk hal itu. Dengan pembahasan yang mereka lakukan dan pengetahuan manusia tentang keadaan mereka, akan menghasilkan bukti dan ilmu atau keyakinan bahwa janji Allah adalah benar, dan bahwa hari kiamat yang pasti terjadi bukanlah suatu hal yang perlu disangsikan.
4. Adab kesopanan bagi mereka yang mengalami kesamaran atau ketidakjelasan akan suatu masalah ilmu adalah hendaklah mengembalikannya kepada yang mengetahuinya. Dan hendaknya dia berhenti dalam perkara yang dia ketahui.
5. Sahnya menunjuk wakil dalam jual beli, dan sah pula kerjasama dalam masalah ini. Karena adanya dalil dari ucapan mereka dalam ayat:
فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِيْنَة
“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota membawa uang perakmu ini.” (Al-Kahfi: 19)
6. Boleh memakan makanan yang baik dan memilih makanan yang disenangi atau sesuai selera, selama tidak berbuat israf (boros atau berlebihan) yang terlarang, berdasarkan dalil:
فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ
“Hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu.” (Al-Kahfi: 19)
7. Melalui kisah ini kita dianjurkan untuk berhati-hati dan mengasingkan diri atau menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah dalam agama. Dan hendaknya seseorang menyimpan rahasia sehingga dapat menjauhkannya dari suatu kejahatan.
8. Diterangkan dalam kisah ini betapa besar kecintaan para pemuda yang beriman itu terhadap ajaran agama mereka. Dan bagaimana mereka sampai melarikan diri, meninggalkan negeri mereka demi menyelamatkan diri dari segenap fitnah yang akan menimpa agama mereka, untuk kembali pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
9. Disebutkan dalam kisah ini betapa luasnya akibat buruk dari kemudaratan dan kerusakan yang menumbuhkan kebencian dan upaya meninggalkannya. Dan sesungguhnya jalan ini adalah jalan yang ditempuh kaum mukminin.
10. Bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ الَّذِيْنَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا
“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: ‘Sungguh kami tentu akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atas mereka’.” (Al-Kahfi: 21)
Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa masyarakat di mana mereka hidup (setelah bangun dari tidur panjang) adalah orang-orang yang mengerti agama. Hal ini diketahui karena mereka sangat menghormati para pemuda itu sehingga sangat berkeinginan membangun rumah ibadah di atas gua mereka. Dan walaupun ini dilarang –terutama dalam syariat agama kita– tetapi tujuan diceritakannya hal ini adalah sebagai keterangan bahwa rasa takut yang begitu besar yang dirasakan oleh para pemuda tersebut akan fitnah yang mengancam keimanannya, serta masuknya mereka ke dalam gua telah Allah Subhanahu wa Ta’ala gantikan sesudah itu dengan keamanan dan penghormatan yang luar biasa dari manusia. Dan ini adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang yang menempuh suatu kesulitan karena Allah, di mana Dia jadikan baginya akhir perjalanan yang sangat terpuji.
11. Pembahasan yang berbelit-belit dan tidak bermanfaat adalah suatu hal yang tidak pantas untuk ditekuni, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَلاَ تُمَارِ فِيْهِمْ إلاَّ مِرَاءً ظَاهِرًا
“Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang keadaan mereka, kecuali pertengkaran lahir saja.” (Al-Kahfi: 22)
12. Faedah lain dari kisah ini bahwasanya bertanya kepada yang tidak berilmu tentang suatu persoalan atau kepada orang yang tidak dapat dipercaya, adalah perbuatan yang dilarang. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:
وَلاَ تَسْتَفْتِ فِيْهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا
“Dan jangan pula bertanya mengenai mereka (para pemuda itu) kepada salah seorang di antara mereka itu.” (Al-Kahfi: 22)
Wallahu a’lam.
(Diambil dari Taisirul Lathifil Mannan karya Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu)
Ketenangan Hati Dengan Berdzikir
Ketenangan Hati Dengan Berdzikir
Posted by: Asifa’uqolbi on: April 21, 2011
Al-Ustadz Jauhari, Lc
Termasuk sifat Al-Qur`an adalah Al-Matsani. Artinya, Al-Qur`an adalah kitab yang menyebutkan sesuatu dengan pasangannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan:
اللهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللهِ ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur`an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Az-Zumar: 23)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu menyatakan, ﭮ artinya diulang-ulang padanya cerita dan hukum-hukum, janji dan ancaman, sifat-sifat orang yang baik dan orang yang jelek. Diulang-ulang padanya nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini termasuk bukti keagungan Al-Qur`an dan keindahannya. Karena, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui kebutuhan makhluk-Nya terhadap Al-Qur`an yang akan menyucikan hati serta menyempurnakan akhlak, dan bahwasanya makna-makna itu bagi hati bagaikan air bagi tanaman. Maka sebagaimana tanaman (pohon), ketika lama tidak disirami, ia akan layu bahkan mungkin mati. Sedangkan manakala selalu disirami maka dia akan baik dan berbuah dengan berbagai macam buah yang bermanfaat. Demikian pula hati. Ia selalu memerlukan pengulangan makna-makna Kalamullah. Seandainya suatu makna dari Al-Qur`an hanya disampaikan sekali pada seluruh Al-Qur`an, maka tidak akan tepat sasaran dan tidak akan membuahkan hasil.
Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Adh-Dhahhak berkata: ﭮ, yaitu mengulang kata-kata agar mereka paham dari Allah tabaraka wata’ala. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: ﭮ, yang diulang-ulang. Telah diulang-ulang kisah Nabi Musa, Hud, dan nabi-nabi yang lain, ‘alaihimussalam.”
Kemudian Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Diriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyainah bahwa makna ﭮ adalah menyebutkan sesuatu dan lawannya (kebalikannya). Seperti menyebutkan orang-orang mukmin kemudian orang-orang kafir, menyebutkan sifat surga kemudian sifat neraka.”
Jadi dengan diulang-ulang beberapa kali dan disebutkannya sesuatu bersama kebalikannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan agar kita paham apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki dari kita, para hamba-Nya. Sebagaimana dikatakan:
وَبِضِدِّهَا تَتَمَيَّزُ الْأَشْيَاءُ
“Dan dengan kebalikannya, sesuatu dapat dibedakan.”
Dalam masalah musik pun demikian. Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan bagaimana jalan orang-orang yang baik, berakal, dan beruntung. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan bagaimana jalan orang-orang yang dzalim dan sesat, serta yang akan menyesal pada hari kiamat nanti. Mari kita simak paparan Al-Qur`an dalam hal ini, semoga menjadi ibrah bagi kita.
Orang yang Baik, Berakal, dan Beruntung
1. Orang-orang cerdik (ulul albab) selalu berdzikir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Ali-Imaran: 191)
Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan: “Seluruh ahli tafsir berkata bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah terus menerus berdzikir, dalam semua keadaan, karena manusia tidak akan lepas dari tiga keadaan ini.”
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu mengatakan, ini mencakup seluruh dzikir dengan perkataan dan hati. Termasuk di dalamnya shalat dengan berdiri, kalau tidak mampu dengan duduk, kalau tidak mampu maka dengan berbaring.
Maka pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kepada kita jalan orang yang baik dan beruntung. Yaitu, mereka selalu berdzikir, memanfaatkan waktu mereka dalam perkara-perkara yang bermanfaat, baik, dan mendatangkan pahala. Mereka adalah orang-orang yang bakhil terhadap waktunya. Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia.
2. Orang-orang beriman tenang hati mereka dan tentram dengan berdzikir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu menyatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat orang-orang beriman, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.”
Maksudnya, akan hilang gundah gulana dan kegoncangannya, serta akan datang kebahagiaan dan ketentramannya.
أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”
Maka lebih pantas baginya untuk tidak tentram dengan sesuatu selain mengingat-Nya. Karena tidak ada sesuatu yang lebih lezat, lebih disukai, dan lebih manis bagi hati daripada kecintaan kepada Penciptanya.
3. Orang yang beruntung adalah orang yang menjauhi perbuatan sia-sia yang tidak berguna
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Telah beruntung orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia.” (Al-Mu`minun: 1-3)
Maknaﭞ telah dijelaskan oleh para ulama.
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu dalam tafsirnya mengatakan: “Az-Zajjaj berkata, ﭞ adalah semua kebatilan, perkara sia-sia dan tidak serius, kemaksiatan, serta segala perbuatan dan ucapan yang tidak baik.” Adh-Dhahhak mengatakan, “Sesungguhnya ﭞ di sini maknanya adalah kesyirikan.” Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Ia (ﭞ) adalah seluruh kemaksiatan.”
Makna ﭟ (berpaling darinya) adalah menjauhi dan tidak melirik kepadanya.
Inilah beberapa sifat dan kriteria orang-orang yang beriman. Mereka selalu menjaga waktu dan berupaya untuk memanfaatkannya untuk perkara yang membawa maslahat, baik untuk urusan duniawi maupun ukhrawi. Mereka selalu berdzikir dengan membaca Al-Qur`an atau dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mencari ketenangan dan ketentraman dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka pantas sekali bila mereka menjadi orang yang beruntung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Orang-Orang yang Tidak Terbimbing
Adapun orang-orang yang tidak terbimbing ke jalan yang benar, mereka menjauh dari dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan larut dalam godaan-godaan setan. Bahkan mereka membeli perkataan sia-sia tersebut serta rela membayarnya dengan harga mahal. Hal ini akan menjadi penyesalan mereka pada hari kiamat nanti. Tapi sayang, penyesalan pada hari itu tiada berguna. Bila mereka di dunia ini mencari kesenangan dan ketenangan hati dengan cara-cara seperti itu, maka ini adalah hal yang kontradiktif. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit….” (Thaha: 124)
Kalimat ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ (berpaling dari peringatan-Ku), dijelaskan Ibnu Katsir rahimahullahu, artinya adalah: “Menyelisihi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, menjauh darinya, dan pura-pura lupa, dan ia justru mengambil bimbingan dari yang lain.”
Jadi, orang yang mendengarkan musik dan lagu-lagu, berarti ia telah berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarangnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah melarangnya.
Adapun ﯹ ﯺ (penghidupan yang sempit), para ahli tafsir berbeda pendapat tentangnya. Ada yang menafsirkan bahwa adalah kehidupan yang sempit, seperti dinukil dari Ibnu ‘Abbas c. Ada juga yang menyatakan bahwa maknanya adalah amalan dan rizki yang jelek, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dari Adh-Dhahhak, ‘Ikrimah, dan Malik bin Dinar. Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah adzab kubur. Ini dinukil dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahkan ada yang mengatakan bahwa (pendapat) ini marfu’ sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Bazzar rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hujairah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala ﯺ (yang sempit), beliau menjelaskan: “Kehidupan yang sempit yang Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan adalah bahwa orang tersebut akan disiksa dengan 99 ekor ular yang memakan dagingnya sampai hari kiamat.” Riwayat ini dikuatkan oleh Al-Imam Asy-Syaukani t.
Al-Bazzar rahimahullahu juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menyatakan adalah adzab kubur. Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan sanad hadits ini hasan.
Kaidah tafsir menyatakan: “Manakala ada penafsiran yang banyak dan tidak bertolak belakang, serta bisa dicakup oleh suatu ayat, maka ayat itu dibawa kepada semua makna yang ada.”
Walhasil, Ibnu Katsir rahimahullahu menyimpulkan bahwa tidak ada ketenangan dan kelapangan dada bagi orang yang menjauh dari syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Orang yang Menjauh dari Dzikir akan Ditemani Setan yang Menyesatkannya
Termasuk hukuman yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan atas orang yang menjauh dari dzikir –dan orang yang senang dengan lagu dan musik termasuk dalam hal ini– adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengirim setan dan membiarkannya menyesatkan orang tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Dzat Yang Maha Pemurah (Al-Qur`an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf: 36)
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu mengatakan, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang hukuman yang keras bagi orang yang berpaling dari peringatan-Nya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan: ﭦ ﭧ artinya, “dan barangsiapa yang berpaling dan menghalangi”, ﭨ ﭩ ﭪ yaitu Al-Qur`an yang agung, yang merupakan nikmat yang terbesar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Maka, siapa yang menerimanya berarti dia telah menerima pemberian yang terbaik, dan beruntung mendapatkan hasil yang terbesar. Sebaliknya, siapa yang menjauh darinya atau menolaknya, maka dia telah gagal dan merugi, serta tidak akan berbahagia selamanya. Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kirimkan kepadanya setan yang membangkang untuk menemani dan menyertainya, memberikan janji-janji dan angan-angan, serta mendorongnya berbuat maksiat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari hal ini.
Dari paparan Al-Qur`an yang sangat jelas tadi, orang yang berakal tentunya akan memilih perkara yang jelas membawa manfaat, yaitu selalu berdzikir, membaca Al-Qur`an, dan mengamalkan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik shalat maupun yang lain, yang akan menentramkan hati dan membawa kebahagiaan ukhrawi. Dia juga akan berusaha keras meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang telah menciptakannya, meskipun perkara ini telah mendarah daging pada dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membimbing kita kepada jalan yang benar sebagaimana telah ditegaskan:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberikan motivasi, bahwa ketika semakin besar kesulitan yang dihadapi seseorang dalam suatu perkara, maka balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala juga lebih besar. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ
“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya cobaan.” (HR. At-Tirmidzi, Kitab Az-Zuhd, no. 57, Ibnu Majah, Kitabul Fitan, no. 23. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits hasan gharib.” Hadits ini dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 110)
Wallahu a’lam.
Posted by: Asifa’uqolbi on: April 21, 2011
Al-Ustadz Jauhari, Lc
Termasuk sifat Al-Qur`an adalah Al-Matsani. Artinya, Al-Qur`an adalah kitab yang menyebutkan sesuatu dengan pasangannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan:
اللهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللهِ ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur`an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Az-Zumar: 23)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu menyatakan, ﭮ artinya diulang-ulang padanya cerita dan hukum-hukum, janji dan ancaman, sifat-sifat orang yang baik dan orang yang jelek. Diulang-ulang padanya nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini termasuk bukti keagungan Al-Qur`an dan keindahannya. Karena, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui kebutuhan makhluk-Nya terhadap Al-Qur`an yang akan menyucikan hati serta menyempurnakan akhlak, dan bahwasanya makna-makna itu bagi hati bagaikan air bagi tanaman. Maka sebagaimana tanaman (pohon), ketika lama tidak disirami, ia akan layu bahkan mungkin mati. Sedangkan manakala selalu disirami maka dia akan baik dan berbuah dengan berbagai macam buah yang bermanfaat. Demikian pula hati. Ia selalu memerlukan pengulangan makna-makna Kalamullah. Seandainya suatu makna dari Al-Qur`an hanya disampaikan sekali pada seluruh Al-Qur`an, maka tidak akan tepat sasaran dan tidak akan membuahkan hasil.
Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Adh-Dhahhak berkata: ﭮ, yaitu mengulang kata-kata agar mereka paham dari Allah tabaraka wata’ala. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: ﭮ, yang diulang-ulang. Telah diulang-ulang kisah Nabi Musa, Hud, dan nabi-nabi yang lain, ‘alaihimussalam.”
Kemudian Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Diriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyainah bahwa makna ﭮ adalah menyebutkan sesuatu dan lawannya (kebalikannya). Seperti menyebutkan orang-orang mukmin kemudian orang-orang kafir, menyebutkan sifat surga kemudian sifat neraka.”
Jadi dengan diulang-ulang beberapa kali dan disebutkannya sesuatu bersama kebalikannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan agar kita paham apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki dari kita, para hamba-Nya. Sebagaimana dikatakan:
وَبِضِدِّهَا تَتَمَيَّزُ الْأَشْيَاءُ
“Dan dengan kebalikannya, sesuatu dapat dibedakan.”
Dalam masalah musik pun demikian. Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan bagaimana jalan orang-orang yang baik, berakal, dan beruntung. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan bagaimana jalan orang-orang yang dzalim dan sesat, serta yang akan menyesal pada hari kiamat nanti. Mari kita simak paparan Al-Qur`an dalam hal ini, semoga menjadi ibrah bagi kita.
Orang yang Baik, Berakal, dan Beruntung
1. Orang-orang cerdik (ulul albab) selalu berdzikir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Ali-Imaran: 191)
Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan: “Seluruh ahli tafsir berkata bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah terus menerus berdzikir, dalam semua keadaan, karena manusia tidak akan lepas dari tiga keadaan ini.”
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu mengatakan, ini mencakup seluruh dzikir dengan perkataan dan hati. Termasuk di dalamnya shalat dengan berdiri, kalau tidak mampu dengan duduk, kalau tidak mampu maka dengan berbaring.
Maka pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kepada kita jalan orang yang baik dan beruntung. Yaitu, mereka selalu berdzikir, memanfaatkan waktu mereka dalam perkara-perkara yang bermanfaat, baik, dan mendatangkan pahala. Mereka adalah orang-orang yang bakhil terhadap waktunya. Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia.
2. Orang-orang beriman tenang hati mereka dan tentram dengan berdzikir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu menyatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat orang-orang beriman, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.”
Maksudnya, akan hilang gundah gulana dan kegoncangannya, serta akan datang kebahagiaan dan ketentramannya.
أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”
Maka lebih pantas baginya untuk tidak tentram dengan sesuatu selain mengingat-Nya. Karena tidak ada sesuatu yang lebih lezat, lebih disukai, dan lebih manis bagi hati daripada kecintaan kepada Penciptanya.
3. Orang yang beruntung adalah orang yang menjauhi perbuatan sia-sia yang tidak berguna
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Telah beruntung orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia.” (Al-Mu`minun: 1-3)
Maknaﭞ telah dijelaskan oleh para ulama.
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu dalam tafsirnya mengatakan: “Az-Zajjaj berkata, ﭞ adalah semua kebatilan, perkara sia-sia dan tidak serius, kemaksiatan, serta segala perbuatan dan ucapan yang tidak baik.” Adh-Dhahhak mengatakan, “Sesungguhnya ﭞ di sini maknanya adalah kesyirikan.” Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Ia (ﭞ) adalah seluruh kemaksiatan.”
Makna ﭟ (berpaling darinya) adalah menjauhi dan tidak melirik kepadanya.
Inilah beberapa sifat dan kriteria orang-orang yang beriman. Mereka selalu menjaga waktu dan berupaya untuk memanfaatkannya untuk perkara yang membawa maslahat, baik untuk urusan duniawi maupun ukhrawi. Mereka selalu berdzikir dengan membaca Al-Qur`an atau dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mencari ketenangan dan ketentraman dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka pantas sekali bila mereka menjadi orang yang beruntung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Orang-Orang yang Tidak Terbimbing
Adapun orang-orang yang tidak terbimbing ke jalan yang benar, mereka menjauh dari dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan larut dalam godaan-godaan setan. Bahkan mereka membeli perkataan sia-sia tersebut serta rela membayarnya dengan harga mahal. Hal ini akan menjadi penyesalan mereka pada hari kiamat nanti. Tapi sayang, penyesalan pada hari itu tiada berguna. Bila mereka di dunia ini mencari kesenangan dan ketenangan hati dengan cara-cara seperti itu, maka ini adalah hal yang kontradiktif. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit….” (Thaha: 124)
Kalimat ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ (berpaling dari peringatan-Ku), dijelaskan Ibnu Katsir rahimahullahu, artinya adalah: “Menyelisihi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, menjauh darinya, dan pura-pura lupa, dan ia justru mengambil bimbingan dari yang lain.”
Jadi, orang yang mendengarkan musik dan lagu-lagu, berarti ia telah berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarangnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah melarangnya.
Adapun ﯹ ﯺ (penghidupan yang sempit), para ahli tafsir berbeda pendapat tentangnya. Ada yang menafsirkan bahwa adalah kehidupan yang sempit, seperti dinukil dari Ibnu ‘Abbas c. Ada juga yang menyatakan bahwa maknanya adalah amalan dan rizki yang jelek, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dari Adh-Dhahhak, ‘Ikrimah, dan Malik bin Dinar. Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah adzab kubur. Ini dinukil dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahkan ada yang mengatakan bahwa (pendapat) ini marfu’ sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Bazzar rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hujairah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala ﯺ (yang sempit), beliau menjelaskan: “Kehidupan yang sempit yang Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan adalah bahwa orang tersebut akan disiksa dengan 99 ekor ular yang memakan dagingnya sampai hari kiamat.” Riwayat ini dikuatkan oleh Al-Imam Asy-Syaukani t.
Al-Bazzar rahimahullahu juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menyatakan adalah adzab kubur. Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan sanad hadits ini hasan.
Kaidah tafsir menyatakan: “Manakala ada penafsiran yang banyak dan tidak bertolak belakang, serta bisa dicakup oleh suatu ayat, maka ayat itu dibawa kepada semua makna yang ada.”
Walhasil, Ibnu Katsir rahimahullahu menyimpulkan bahwa tidak ada ketenangan dan kelapangan dada bagi orang yang menjauh dari syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Orang yang Menjauh dari Dzikir akan Ditemani Setan yang Menyesatkannya
Termasuk hukuman yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan atas orang yang menjauh dari dzikir –dan orang yang senang dengan lagu dan musik termasuk dalam hal ini– adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengirim setan dan membiarkannya menyesatkan orang tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Dzat Yang Maha Pemurah (Al-Qur`an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf: 36)
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu mengatakan, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang hukuman yang keras bagi orang yang berpaling dari peringatan-Nya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan: ﭦ ﭧ artinya, “dan barangsiapa yang berpaling dan menghalangi”, ﭨ ﭩ ﭪ yaitu Al-Qur`an yang agung, yang merupakan nikmat yang terbesar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Maka, siapa yang menerimanya berarti dia telah menerima pemberian yang terbaik, dan beruntung mendapatkan hasil yang terbesar. Sebaliknya, siapa yang menjauh darinya atau menolaknya, maka dia telah gagal dan merugi, serta tidak akan berbahagia selamanya. Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kirimkan kepadanya setan yang membangkang untuk menemani dan menyertainya, memberikan janji-janji dan angan-angan, serta mendorongnya berbuat maksiat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari hal ini.
Dari paparan Al-Qur`an yang sangat jelas tadi, orang yang berakal tentunya akan memilih perkara yang jelas membawa manfaat, yaitu selalu berdzikir, membaca Al-Qur`an, dan mengamalkan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik shalat maupun yang lain, yang akan menentramkan hati dan membawa kebahagiaan ukhrawi. Dia juga akan berusaha keras meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang telah menciptakannya, meskipun perkara ini telah mendarah daging pada dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membimbing kita kepada jalan yang benar sebagaimana telah ditegaskan:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberikan motivasi, bahwa ketika semakin besar kesulitan yang dihadapi seseorang dalam suatu perkara, maka balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala juga lebih besar. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ
“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya cobaan.” (HR. At-Tirmidzi, Kitab Az-Zuhd, no. 57, Ibnu Majah, Kitabul Fitan, no. 23. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits hasan gharib.” Hadits ini dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 110)
Wallahu a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)